| Oleh Muhaimin Iqbal |
Pertanyaan yang terus sampai ke saya , khususnya dari para pengguna Dinar baru adalah “...kapan membeli Dinar yang paling tepat ?”. Pertanyaan sejenis pada saat harga lagi rendah seperti sekarang adalah “...apakah harga akan turun lagi ?” , kemudian pada saat harga lagi tinggi pertanyaannya adalah “...apakah harga akan terus naik ?” dan seterusnya. Jawaban saya selalu sama yaitu Wa Allahu A’lam – dan Allah-lah yang Maha Tahu, karena seberapa ahli-pun kita, kita tidak akan bisa mengetahui apa yang akan terjadi esuk hari. Yang paling banter adalah kita memahami apa yang sudah terjadi sampai saat ini, kemudian menduga-duga apa yang selanjutnya akan terjadi. Berbagai teknik forecasting dikembangkan orang, tetap saja tidak ada yang menjamin keakuratan hasilnya. Dari sekian banyak teknik ‘duga-menduga’ tersebut yang saya suka menggunakannya adalah analisa trendline, karena selain sederhana – di standar grafik Excel ada fasilitas ini. Anda juga bisa mengolahnya sendiri berdasarkan harga-harga emas dan nilai tukar Rupiah yang ada di pasar. Perhatikan dua grafik dibawah contohnya yang saya olah berdasarkan data harga emas dalam US$/Oz dan harga dalam Rupiah/Gram. Grafik pertama saya ambil dari data dua tahun terakhir, trendline untuk harga emas dalam Rupiah cembung kebawah yang dapat diartikan bahwa untuk dua tahun terakhir cenderung stabil atau bahkan menurun. Sebaliknya trendline dalam US$, cekung keatas yang dapat diartikan bahwa harga dalam US$ cenderung naik secara significant. Grafik kedua saya ambilkan data yang sama, hanya untuk periode yang lebih panjang yaitu 10 tahun terakhir. Perhatikan sekarang trendline-nya baik dalam US$ maupun dalam Rupiah; keduanya menunjukkan cekung keatas secara tajam. Artinya dalam sepuluh tahun terakhir harga emas baik dalam US$ maupun dalam Rupiah mengalami kecenderungan naik yang significant. Lantas apa makna dari kedua grafik tersebut pada keputusan kita ?. Untuk dana-dana jangka panjang seperti tabungan untuk pergi haji, biaya anak sekolah, dana pensiun, tabungan untuk membeli atau memperbaiki rumah, tabungan modal usaha dlsb. insyallah akan selalu cocok untuk dikonversikan ke Dinar kapan saja. Untuk dana jangka menengah, seperti rencana anak masuk sekolah dalam setahun dua tahun ini misalnya – maka dapat dikonversikan ke Dinar atau tetap dalam Rupiah, tidak terlalu banyak perbedaannya dari sisi daya beli – meskipun dari sisi ketenangan pikiran bisa jadi berbeda. Untuk dana jangka pendek yaitu biaya kebutuhan rutin bulanan misalnya, atau biaya lain yang akan digunakan kurang dari setahun ini – kecuali kebutuhan tersebut dapat dibeli/dibayar dengan Dinar – maka untuk dana jangka pendek ini tetap dipertahankan dalam Rupiah akan lebih ekonomis. Bila uang Anda saat ini masih dalam US$ ceritanya lain lagi; saya termasuk yang sangat tidak menganjurkan Anda memegang US$ baik untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang. Dua grafik diatas menyampaikan pesan yang loud and clear (suara keras dan sangat jelas) bahwa ibarat pilot tempur dengan pesawat Dollar, kini saatnya Anda menekan tombol penyelamat dan tinggalkan pesawat Dollar Anda. Pesan yang sama-pun disampaikan PBB sebulan lalu; jadi bukan pendapat saya yang subjektif. Pesan inipun juga tidak terlepas dari realita US$ sendiri yang di – “cetak” dalam berbagai bentuknya dengan jumlah yang sangat-sangat berlebihan dua tahun terakhir seperti ditunjukkan oleh grafik dibawah. Lagi pula kita-pun tidak membutuhkan US$ sebagai alat tukar, untuk apa pula kita pegang ?. Jadi, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas sangat tergantung dari rencana investasi Anda atau kapan dana-dana tersebut Anda akan gunakan, dan tergantung pula dengan currency uang yang sekarang Anda pegang. Wa Allahu A’lam. |
Kamis, 05 Januari 2012
Trend Harga Emas : Sejauh Mana Mata Memandang...
Pilihan Investasi : Saham Atau Emas...?
| Oleh M. Iqbal |
Ini adalah salah satu pertanyaan yang sangat sering sampai ke saya, yaitu pembaca yang menanyakan pilihan investasi antara bermain saham atau investasi emas. Jawaban saya adalah tergantung dengan tujuan investasi Anda; bila Anda suka yang bergejolak jangka pendek – bisa untung besar tetapi juga rugi besar – barangkali saham pilihannya. Tetapi bila Anda menghendaki pertumbuhan nilai asset jangka panjang – emas-lah jawabannya. Biasanya pertanyaan berikutnya adalah, lho emas kan sama juga bergejolak – bisa untung besar dan rugi besar juga kan...?. Disinilah bedanya !, untuk jangka pendek emas memang bergejolak sama dengan saham, tetapi trend jangka panjangnya jelas keatas. Sebaliknya saham, dia bergejolak di tempat tanpa diiringi oleh trend jangka panjang keatas. Untuk menjelaskan hal ini saya tampilkan data 10 tahun terakhir dari pasar internasional , karena harga emas kita maupun harga saham di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh pasar dunia. Data emas saya ambilkan dari Kitco, sedangkan untuk representasi data saham saya ambilkan dari Index yang paling terkenal di dunia yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA). Hasilnya saya sajikan pada grafik dibawah. Perhatikan gejolak saham selama sepuluh tahun terakhir, dia bergejolak sangat significant. Pernah mencapai angka 13,930 bulan October 2007 dan turun tinggal 7,062 pada bulan Februari 2009 – nyaris tinggal separuh dari angka tertingginya. Bila ditarik garis dari Januari 2000 (10,940) , angka rata-rata bulanan DJIA saat ini masih turun sekitar 8 %, yaitu pada angka 10,138. Artinya apa angka-angka ini ?, bila Anda invest saham di pasar saham internasional sejak Januari tahun 2000, dan Anda pertahankan sampai sekarang – secara rata-rata kurang lebih asset Anda tersebut tidak mengalami pertumbuhan dan bahkan mengalami sedikit penurunan. Lantas bagaimana dengan emas; well untuk jangka pendek sama bergejolak-nya. Tetapi trend kenaikan jangka panjangnya sangat jelas. Bila Anda investasi emas januari 2000, bareng dengan investasi saham Anda tersebut diatas. Yang disaham nilainya kurang lebih sama atau bahkan turun sedangkan yang di emas nilainya naik lebih dari empat kalinya; dari rata-rata bulanan di kisaran US$ 284/oz (Januari 2000) ke angka US$ 1,204 (rata-rata bulanan saat ini – Juli 2010). Lebih jelas lagi adalah apa yang disebut Dow Gold Ratio (DGR) yang saya sajikan dengan menggunakan basis data yang sama dengan grafik diatas. Bila pada Januari 2000 angka DGR berada pada kisaran 38 , saat ini angka tersebut tinggal di kisaran 8.45. Artinya seandainya 1 gram emas tahun 2000 mendapatkan 1 lembar saham PT. XYZ yang merupakan perusahaan rata-rata di tingkat dunia ; maka 1 gram emas yang sama saat ini dapat untuk membeli kurang lebih 4.5 lembar saham perusahaan tersebut pada harganya saat ini. Beda analis tentu bisa sangat beda pendapatnya mengenai pilihan investasi ini; tetapi data yang reliable dari sumber yang terpercaya – insyallah akan lebih memudahkan Anda dalam menentukan pilihan investasi Anda !. Meskipun pilihan antara dua investasi tersebut diatas jelas , ada pilihan investasi lain yang bisa jadi lebih baik lagi - seperti sektor riil yang Anda kelola langsung dengan baik - bukan hanya untung, insyaallah juga lebih barakah !. Wa Allahu A'lam. |
Selasa, 03 Januari 2012
Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...?
Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...? |
| Oleh Muhaimin Iqbal |
Sekitar dua bulan lalu ketika harga emas dunia mendekati US$ 1,300/Oz yang menurut sebagian orang sudah ketinggian, saat itu saya membuat tulisan dengan judul Harga Emas Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian. Pagi ini harga emas dunia sudah mencapai US$ 1,424/Oz atau naik sekitar US$ 125/Oz sejak tulisan tersebut saya buat, pertanyaanya adalah apakah kini harga emas tersebut sudah menjadi ketinggian ?. Jawaban saya tetap belum. Lantas bagaimana caranya mengetahui kapan harga emas dunia menjadi terlalu tinggi untuk dibeli ?. Begini, emas adalah uang hakiki sepanjang zaman. Saat ini uang hakiki tersebut nilainya - secara keliru – ditakar dengan uang fiat yang bisa dengan begitu mudah dicetak atau diketik dari awang-awang. Tetapi bolehlah untuk sementara karena uang fiat yang saat ini digunakan untuk membeli apapun di dunia – termasuk untuk membeli emas – maka untuk keperluan menjawab pertanyaan tersebut diatas saya gunakan uang kertas juga untuk menakar harga emas. Saya mencoba mencari formula yang lebih baru, namun sejak kejadian Nixon Shock 1971 rupanya tidak ada lagi yang mengembangkan teori hubungan antara uang kertas dengan emas. Maka saya gunakan teori pra 1971 untuk melihat hubungan ini, saya gunakan apa yang disebut persamaan Breton Woods yaitu The Value of Money = (Monetary Base : Official Gold Holdings ). Monetary base adalah uang yang beredar plus reserve. Reserve adalah uang bank yang ada di bank sentral dan uang yang ada di brankas perbankan. Official Gold Holdings adalah cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral. Nah sekarang kita akan menggunakan formula tersebut untuk menentukan pada tingkat berapa harga emas menjadi terlalu tinggi untuk dibeli dengan uang kertas. Untuk mengaplikasikan teori tersebut saya perlu data Monetary base US Dollars dan cadangan emas yang dimiliki Amerika. Untuk monetary base saya lebih bercaya data dari Shadow Government Statistic seperti pada grafik dibawah. Posisinya saat ini berada di kisaran US$ 2 trilyun. Untuk cadangan emas resmi pemerintah saya ambil dari datanya World Gold Council yang untuk AS saat ini menunjukkan angka 8,133.5 ton atau 261 juta Oz. Jadi untuk US$ , the value of Money-nya saat ini adalah = US$ 2 trilyun/261 juta Oz atau 7,663 US$/Oz. Artinya apa angka ini ?. Bila harga emas tersebut saat ini dapat melampaui angka US$ 7,663/Oz – baru harga emas dunia menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$. Tetapi karena angka ini dinamis, pembilangnya (monetary base) cenderung bertambah sedangkan penyebutnya cenderung tetap (Official Gold Holdings) ; maka angka tersebut diatas akan cenderung naik terus dari waktu ke waktu. Perhatikan grafik dibawah yang dibuat oleh perusahaan asset management terkenal QB Assets management. Dalam sejarah dunia modern, hanya pernah sekali harga emas ini terlalu mahal untuk dibeli dengan uang US$ yaitu pada tahun 1980 (perhatikan grafik biru yang berada dibawah grafik kuning tahun 1980 ). Dari grafik tersebut diatas kita juga bisa melihat, bahwa sejauh mata kita memandang – kita belum bisa melihat harga emas ini akan ketinggian untuk dibeli dengan US$. Saya kesulitan menyimpulkannya dalam bahasa Indonesia, tetapi ada bahasa jawa yang pas untuk ini yaitu tangeh lamun – untuk menggambarkan sesuatu yang amat sangat kecil peluangnya. Jadi tangeh lamun (sangat-sangat kecil peluangnya) harga emas menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$ kapan-pun. Lantas bagaimana dengan harga emas dalam Rupiah ?, ya sami mawon – lha wong US$ dan Rupiah ini satu guru satu ilmu... Wa Allahu A’lam. |
Senin, 02 Januari 2012
Gaji Dalam Dinar, Mengapa Tidak...?
| Oleh M. Iqbal |
Bagi Anda yang berpenghasilan US$ namun pengeluaran dalam Rupiah, setahun terakhir Anda mungkin merasakan uang Anda lebih cepat habis karena biaya hidup yang bertambah mahal. Hal ini adalah karena penghasilan Anda dalam US$ bila dikonversikan ke Rupiah setahun terakhir mengalami penurunan sekitar sekitar 5 % dari US$ 1 = Rp 9,450 (oct’ 09) ke US$ 1 = Rp 8,940 (oct’ 10). Tetapi bagi kita yang berpenghasilan Rupiah dan pengeluaran juga dalam Rupiah, mengapa biaya hidup juga tetap bertambah berat ?. Inilah efek dari pengukuran relatif. Bila Anda mengemudi kendaraan mundur, kemudian disamping Anda ada mobil lain yang juga mundur dengan kecepatan lebih tinggi – maka mobil Anda terasa relatif berjalan maju ketimbang mobil lain yang mundur lebih cepat tersebut. Inilah yang terjadi mengapa para ekonom sekalipun, saat ini mengira bahwa Rupiah sedang menguat – tidak ada yang mengatakan melemah – dalam setahun terakhir karena acuannya selalu US$ - yang lagi melaju mundur dengan kecepatan lebih tinggi. Untuk mengetahui kearah mana mobil Anda berjalan, tidak bisa membandingkannya dengan arah mobil lain yang juga sedang berjalan. Anda harus melihat ke-arah pohon, bangunan atau benda lain yang tidak bergerak, baru Anda tahu apakah mobil Anda sedang berjalan mundur atau maju. Dalam hal mata uang seharusnya melemah atau menguatnya tidak diukur relatif terhadap mata uang lain, tetapi diukur dari daya belinya terhadap benda riil yang kita butuhkan. Ketika Rupiah saat ini dikatakan menguat sekitar 5 %, ternyata Indek Harga Konsumen (IHK) menunjukkan kenaikan sampai 5.8 % (year on year sept’09 – Sept’10 ). Jadi menurut data resmi pemerintah sekalipun, beban biaya hidup kita semua setahun terakhir 5.8% lebih berat karena faktor inflasi ini. Inipun bisa jadi belum mencerminkan kenaikan biaya hidup yang sesungguhnya yang kita hadapi, karena perhitungan Indeks Harga Konsumen memang dihitung dari sejumlah barang yang belum tentu semuanya terkait langsung dengan yang kita butuhkan sehari-hari. Sebagai pembanding, emas atau Dinar per pagi ini misalnya mengalami kenaikan diatas 21 % dibandingkan harga emas setahun terakhir seperti nampak pada grafik tahunan yang selalu tampil up-to date di www.geraidinar.com, padahal pada periode yang sama data resmi inflasi masih akan di kisaran 6 % atau kurang. Karena harga emas atau Dinar terbukti stabil untuk mengukur harga benda riil (kambing) selama lebih dari 14 Abad, maka harga emas-pun semestinya akurat untuk mendeteksi harga-harga benda riil lain yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari hingga kini. Grafik dibawah menunjukkan perbandingan harga emas bila dihitung dengan data inflasi dengan harga emas riil di pasar. Jadi beban hidup kita terasa berat semua selama setahun terakhir ini karena rata-rata penghasilan kita dalam Rupiah ataupun Dollar. Kemudian biasanya penghasilan ini disesuaikan (dinaikan) secara berkala oleh perusahaan – menyesuaikan tingkat inflasi. Namun karena tingkat inflasi ini belum tentu mencerminkan kenaikan harga yang sesungguhnya terhadap benda riil yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari, maka bisa jadi kenaikan penghasilan secara reguler tersebut belum juga memadai untuk mengimbangi kenaikan harga-harga yang riil di pasar. Lantas apa kira kira solusinya ?, agar win-win antara pekerja dengan pemberi kerja solusi yang terbaik adalah para pekerja bekerja lebih keras untuk meningkatkan produktifitas perusahaan/instansi tempatnya bekerja ; sedemikian rupa sehingga pemberi kerja yang adil akan mampu memberikan gaji dalam bentuk setara emas atau Dinar; atau kalau gaji masih dalam Rupiah/Dollar – kenaikan berkalanya merefer pada kenaikan harga emas. Gaji dalam Dinar ...Siapa mau ?. Insyaallah kami siap membantu mengimplementasikannya bila perusahaan atau instansi Anda memerlukannya. |
Minggu, 01 Januari 2012
Gold Based Capital (II) : Bijak Investasi Menggunakan Emas…
21.31
No comments
Oleh Muhaimin Iqbal |
Setiap kali harga emas jatuh seperti beberapa hari ini saya selalu dihujani banyak pertanyaan dari pembaca, para vendor dan mitra kerja. Rata-rata pertanyaan mereka adalah seputar sampai kemana harga emas akan turun , mengapa turun, kapan akan naik lagi, apa yang harus kita lakukan dlsb. Tulisan ini barangkali bisa merangkum secara garis besar , jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus. Pertama yang ingin saya sampaikan adalah tidak ada seorang-pun yang bisa tahu persis apa yang akan terjadi, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menduga-duga berdasarkan peristiwa dan data startistik sebelumnya . Pengalaman harga emas anjlog beberapa bulan setelah angka tertingginya ini memang bukan untuk pertama kalinya terjadi. Pada bulan Juli 2009 harga emas sempat jatuh ke angka Rp 297,000/gram atau turun 20% dari harga tertinggi lima bulan sebelumnya di bulan Februari tahun yang sama yang sempat mencapai angka Rp 370,000/gram. Pagi ini harga emas akan berada di kisaran Rp 497,000/gram atau ‘baru’ turun sekitar 9 % dari angka tertinggi September lalu yang sempat mencapai kisaran Rp 545,000/gram. Lantas apakah pola penurunan sekarang akan mengikuti pola penurunan 2009 yang mencapai 20 % ?, Wa Allahu A’lam , tetapi kemungkinan itu ada saja. Dari statistic jangka pendek beberapa bulan terakhir memang trend itu masih akan menurun – lihat grafik dibawah. Trend penurunan ini utamanya disebabkan oleh peristiwa krisis global khususnya yang terjadi di Uni Eropa. Karena kepercayaan pasar terhadap Uni Eropa terus merosot, Euro hancur dan bahkan sudah ada wacana untuk membubarkannya. Krisis Euro ini menguatkan demand terhadap Dollar – karena berkurangnya daya tarik salah satu rival terkuatnya. Ketika US Dollar naik, harga emas dunia dalam US$ jatuh – bukan karena harga emasnya yang rendah, tetapi daya beli US$-nya yang menguat. Pada saat harga emas cenderung turun dalam jangka pendek seperti ini, lantas apakah kita harus rame-rame menjual emas kita saat ini ?. Tidak demikian saran saya. Karena bisa jadi pola recovery seperti 2009 diatas juga berulang. Yaitu ketika harga emas sempat anjlog dalam jangka pendek (kurang dari 6 bulan), harga pulih ke angka tertinggi sebelumnya dalam 1.5 tahun dan bahkan jauh melampauinya hingga kini. Grafik harga emas setahun terakhir yang masih menunjukkan trend menaik dibawah menconfirm hal ini, setahun terakhir harga emas masih mengalami kenaikan di kisaran 27 %. Trend kenaikan ini menjadi lebih nyata bila kita tarik dalam jangka yang lebih panjang lagi, misalnya untuk 3 tahun seperti pada grafik dibawah. Tiga tahun terakhir harga emas mengalami kenaikan lebih dari 74 %. Dari tiga grafik diatas, bisa kita simpulkan begini : Bila Anda investasi di emas untuk orientasi jangka panjang – satu tahun keatas, kemungkinan terbesarnya hingga kini Anda masih mengalami keuntungan yang significant – dikisaran 27 % atau sekitar 4 kali dari hasil deposito Anda. Tetapi bila orientasi Anda jangka pendek seperti 4 bulan terahir misalnya, memang bisa jadi investasi Anda telah mengalami kerugian yang sangat berarti. Perhitungan saya kerugian Anda berada di kisaran 9 % dalam 3-4 bulan terakhir. Kerugian ini bisa menjadi lebih besar lagi bila Anda investasi emas menggunakan uang gadai/pinjaman dari bank/pegadaian. Bila diambil rata-rata biaya gadai 1.5% per bulan misalnya; maka kerugian Anda dalam 4 bulan terakhir bisa mencapai 15 % yaitu 9 % dari penurunan harga dan 6 % dari biaya gadai 4 bulan. Lantas bagaimana yang seharusnya berinvestasi di emas, agar Anda tidak mengalami kerugian besar seperti dalam ilustrasi tersebut diatas ? Tiga ‘jangan’ berikut barangkali membantu : 1. Pertama jangan berspekluasi dengan harga emas. Statistik jangka panjang memang menunjukkan trend kenaikan yang kuat, tetapi bukan berarti tidak bisa turun juga – khususnya dalam jangka pendek. 2. Kedua jangan menggunakan uang pinjaman/gadai untuk membeli emas, karena ini akan menambah kerugian Anda ketika harga emas turun seperti sekarang. 3. Ketiga jangan terjebak anut grubyuk dalam investasi – termasuk investasi emas sekalipun. Mayoritas orang yang ikut anut grubyuk – mereka membeli emas justru pada harga tertingginya karena mendengar cerita baiknya saja dari orang-orang sekitarnya, sebaliknya ketika harga rendah seperti sekarang mereka malah jarang yang membeli – karena hanya mendengar cerita buruknya saja dari yang telah mengalaminya. Yang benar adalah dengarkan cerita baiknya, tetapi juga perhatikan cerita buruknya seperti yang terilustrasi melalui tiga grafik diatas. Dengan menyampaikan poin-poin tersebut diatas, khususnya poin 2 ; bukan berarti produk-produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas dari perusahaan pegadaian ataupun perbankan tidak baik untuk investasi. Produk-produk ini adalah produk yang baik dan telah lolos verifikasi para Dewan Pengawas Syariahnya masing-masing, jadi mestinya seluruh aspek produk ini telah dipikirkan matang-matang. Hanya saja penggunaannya yang seharusnya bijaksana. Salah satu penggunaan produk gadai emas atau pinjaman dengan jaminan emas yang saya sarankan adalah dengan konsep Gold Based Capital yang pernah saya tulis di situs ini. Emas sebagai jaminan atas modal untuk proses penciptaan nilai tambah (value creation), sehingga dari nilai yang di-create ini – biaya modal (biaya gadai misalnya) dapat terkompensasi dengan cukup bahkan ketika harga emas turun sekalipun. Penggunaan gadai emas untuk Gold Based Capital dapat menjadi peluang baru bagi bank-bank syariah karena mereka akan dapat menggerakkan sektor riil dengan jaminan yang sangat likwid yaitu emas – peluang ini tidak dimiliki oleh pesaing-pesaing mereka dari bank-bank konvensional. Contoh aplikasinya begini : Kalau saya punya pabrik krupuk misalnya, untuk membeli mesinnya saya dapat dibiayai oleh bank syariah dengan dua cara, pertama dengan aqad murabahah terhadap mesin tersebut misalnya , dan yang kedua dibiayainya dengan menggadaikan emas saya – kemudian dananya saya pakai untuk membeli mesin. Bank kemungkinan besarnya akan lebih suka cara yang kedua karena ‘jaminan’nya lebih likwid , lebih mudah menentukan nilainya dan proses pembiayaan akan sangat cepat – sehari cair. Proses pembiayaan sehari cair ini tidak bisa disaingi oleh proses-proses pembiayaan yang konvensional !. Pertanyaan spontan Anda mungkin adalah, kalau punya emas cukup untuk membeli mesin – mengapa masih perlu pinjam/gadai ke bank ?. Bila Anda memiliki usaha yang produktif seperti contoh pabrik krupuk tersebut diatas, Anda akan perlu memiliki dana-dana cadangan yang terakumulasi seperti keuntungan yang belum diambil, cadangan penggantian mesin (penyusutan), cadangan dana pengembangan usaha, cadangan pesangon karyawan dlsb. Dana-dana ini bila Anda simpan dalam Rupiah atau Dollar sekalipun akan terus tergerus nilainya, maka disimpannya dalam bentuk emas/Dinar. Bila waktunya dana ini digunakan-pun tidak harus dijual tetapi bisa melalui proses gadai atau penjaminan tersebut diatas, dengan demikian Anda dapat melakukan wealth preserving sekaligus wealth producing melalui proses nilai tambah di sektor riil tersebut. Hanya memang penggunaan akad rahn atau gadai sebagi instrumen Gold Based Capital menuntut bank selektif dalam menerima gadai. Tidak bisa lagi orang menggadaikan emas hanya untuk membeli emas berikutnya, yang bisa adalah orang menggadaikan emas untuk keperluan yang riil yaitu untuk proses nilai tambah – atau sekalian untuk keperluan dharurat seperti pembiayaan orang sakit dlsb. Karena delicate-nya produk berbasis emas ini, saya sendiri tidak pernah menganjurkan produk ini dijual secara masal. Situs ini dan para agen Gerai Dinar-pun misi utamanya bukan untuk menjual Dinar ataupun produk turunannya - tetapi membuat masyarakat paham dahulu. Bahkan prinsip yang kami tekankan adalah membuat orang paham lebih penting dari membuat orang membeli. Wa Allahu A’lam. |











