Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Jumat, 20 Januari 2012

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur'an dan Al- Hadits

 

M. Iqbal
Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur'an yang agung, Allah berfirman :"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun". (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 210,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 70,000) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 2.200.000) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 33 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A'lam bi showab.

M Iqbal

Masa Tua >> Masa Pensiun >> Dalam Perspektif Dinar

 

Berapa Penghasilan Dalam Dinar Yang Kita Butuhkan Setelah Pensiun...?

M Iqbal
Bagaimana menghitung kebutuhan penghasilan atau biaya rutin dalam Dinar sekian tahun yang akan datang ( masa pensiun), dengan struktur penghasilan dan biaya yang kita rencanakan dari sekarang. Prinsip dasar bahwa Dinar tidak terpengaruh inflasi akan sangat memudahkan kita membuat perencanaan kebutuhan jangka panjang ini.

Secara garis besar misalnya saat ini kita hidup cukup longgar dengan biaya 10 Dinar sebulan, maka selama pensiun nanti belasan tahun yang akan datang kita insyaallah tetap akan dapat menikmati kwalitas hidup yang sama dengan 10 Dinar per bulan ini – hal yang sama tidak akan pernah bisa apabila uang kita Rupiah, US$ ataupun mata uang kertas lainnya.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa elemen-elemen penghasilan dan biaya saat itu kemungkinan besar berubah. Perubahan –perubahan inilah yang harus kita antisipasi dan kita gunakan untuk melakukan adjutment dari kebutuhan biaya kita sekarang. Berikut adalah butir-butir yang perlu dipersiapkan dari sekarang :

1) Pada saat pensiun, dari mana penghasilan rutin kita. dari tabungan ?, dari dana pensiun tempat kerja kita ? atau dari usaha yang kita sudah rintis ? . Apabila penghasilan tersebut dari tabungan atau dari dana pensiun, maka lebih cepat Anda menukarnya dengan Dinar akan lebih baik – karena apabila tetap tersimpan dalam mata uang kertas nilainya akan terus menyusut...Beruntunglah Anda apabila saat ini telah merintis usaha, karena investasi terbaik – bahkan lebih baik dari Dinar – adalah usaha riil yang berjalan baik.
2) Semakin tua tentu kita ingin semakin banyak beramal, bukan sebaliknya. jadi dana untuk beramal dalam bentuk apapun juga harus kita rencanakan. Idealnya kalau kita bisa sampai mengalokasikan sepertiga dari penghasilan/kekayaan kita untuk infaq/sedeqah.
3) Sedapat mungkin tidak ada pinjaman yang harus dibayar/dicicil selama kita pensiun. Usahakan seluruh hutang jangka panjang untuk beli rumah misalnya – tidak melewati usia pensiun.

4) Akan ada biaya yang turun setelah kita pensiun, misalnya biaya telepon, kendaraan, pakaian, perjalanan dslb.

5) Sebaliknya ada biaya yang pasti naik setelah kita berangkat tua yaitu biaya kesehatan. Secara umum biaya kesehatan bagi kita semua mengalami kenaikan karena tiga faktor yaitu faktor usia (makin tua makin sering sakit), faktor memburuknya lingkungan (penyakit-penyakit baru bermunculan), dan faktor inflasi – yang terakhir ini tidak berlaku karena yang kita gunakan Dinar.

Dari faktor-faktor tersebut, kita bisa perkirakan berapa dana dalam Dinar yang kita butuhkan selama kita pensiun misalnya dari usia 55 – 71 tahun (usia harapan hidup orang Indonesia). Pendekatan kasarnya tinggal dikalikan kebutuhan Dinar per bulan kali jumlah tahun.


Senin, 16 Januari 2012

Dinar-Dirham >> Perangi Riba



Akan datang suatu masa kepada umat manusia ketika tidak akan ada yang tersisa kecuali akan menggunakan dinar (emas) dan dirham (perak)
(Muhammad SAW, HR Imam Ahmad ibn Hambal)

Apa Dinar dan Dirham?



Dinar adalah emas dengan kadar 22 karat seberat 4,25 gram
Dirham adalah perak murni dengan berat 2,975 gram
Dinar yang dimaksud bukanlah uang kertas di negara Irak.

Emas dan perak tersebut telah digunakan sebagai mata uang sebelum Islam dan setelah Islam datang.

Dinar adalah satuan yang digunakan dalam menghitung zakat mal sehingga menghidupkan dinar sebagai bentuk syariat Islam tentunya akan mendapatkan balasan dari Alloh SWT.

Kekuatan dinar dan dirham sebagai mata uang (store value)
Pada zaman Rasulullah, seekor kambing bisa dibeli dengan satu dinar. Saat ini pun seekor kambing masih bisa dihargai dengan 1 Dinar (Nilai 1 Dinar per januari 2012 adalah Rp 2.250.000)

Pada Bulan mei 2011 saya membeli dinar dengan harga Rp 1.700.000,-. Andai saat itu saya tidak jadi membeli dinar dan memilih untuk menyimpan uang rupiah tersebut maka saat ini uang saya telah menurun daya belinya karena inflasi., sekarang hanya bernilai sekitar tiga perempat dinar (harga 1 Dinar per januari 2012  adalah Rp 2.250.000). Segala puji bagi Alloh yang telah mengenalkan dinar kepada kehidupanku.

Dengan kekuatan dinar dan dirham maka perlu dipertimbangkan untuk mengganti kebiasaan menabung uang kertas di bank dengan kebiasaan menabung secara bertahap koin dinar dan dirham. Kecuali untuk dana jangka pendek, uang kertas masih diperlukan. Sedangkan untuk kebutuhan jangka panjang seperti biaya perjalanan ibadah haji, biaya pendidikan anak dan tabungan pensiun perlu dipertimbangkan menabung dalam bentuk dinar.



Meskipun demikian, dinar dan dirham bukanlah untuk ditimbun sehingga tidak berputar dalam masyarakat. Niatkan pula untuk mengedarkan dinar ke dalam masyarakat sehingga tercipta keadilan dan bebas dari riba. Untuk membuat masyarakat menerima dinar dan dirham, terlebih dulu kenalkanlah mereka dengan dinar dan dirham.

Mahar Pernikahan Dengan Dinar Emas


Mahar Dinar Emas  >> Dari Berbagai Sumber

Jika selama ini kita mengenal mahar pernikahan berbentuk perhiasan emas, uang dan seperangkat alat sholat atau yang belakangan tengah tren adalah mahar uang hias, maka sudah saatnya bagi Anda yang hendak menikah untuk melihar dinar emas dan dirham perak sebagai mahar pernikahan yang insyaAllah baik, berkah dan membawa manfaat.

Pada hakekatnya, mahar pernikahan  adalah sesuatu yang sebaiknya berharga, mempunyai nominal, membawa manfaat dan membahagiakan calon istri karena mahar pernikahan memang hak sepenuhnya calon istri.

Dinar dan dirham adalah sesuatu yang insyaAllah berharga, tentu saja mempunyai nominal yang cukup tinggi, mudah-mudahan mampu membahagiakan calon istri (terlebih kalau mahar dinar dan dirhamnya dalam jumlah yang banyak) dan mempunyai manfaat yang panjang.

Dinar emas dan dirham perak mempunyai manfaat dalam jangka waktu yang panjang dikarenakan sifat nominalnya yang tidak tergerus inflasi. Jadi semisal mahar dinar dan dirham ini disimpan, baik dalam lemari maupun dibuat sebagai hiasan cinderamata berpigura, maka sewaktu-waktu perlu untuk diuangkan, nilainya masih tetap tinggi dan menyesuaikan harga emas dan perak pada saat itu.

Hal ini tentu berbeda dengan mahar uang hias yang tengah tren saat ini. Jika semisal 10 tahun yang akan datang kita perlu uang dan akan menggunakan uang mahar ini, maka nilainya dapat dipastikan telah meluruh lebih dari separuhnya karena gerusan inflasi.

Semisal tahun 2012 ini Anda memberikan mahar uang hias sejumlah 10.000.000 rupiah, maka 10 tahun yang akan datang (2022), dengan uang 10.000.000 rupiah tadi Anda tidak akan mampu membeli barang sebanyak ketika uang mahar tersebut diserahkan pada 2012.

Dakam suatu kisah diceritakan ,k etika berhijrah ke Madinah 'Abdurrahman bin 'Auf r.a, salah satu sahabat terdekat Rasulullah sallallahu alaihi wassalam, meninggalkan seluruh harta dan kekayannya di Mekah. Setiba di Madinah ia cuma minta ditunjukkan letak pasar dan merintis usaha yang baru, berdagang minyak samin dan keju. Dan ketika ia menikah tak lama kemudian, Rasulullah sallallhu alaihi wassalam, bertanya kepadanya:
"Berapa mahar yang engkau berikan kepada istrimu?"
"Sekeping (Dinar) emas," jawabnya.
Sebagaimana kita ketahui kemudian 'Abdurrahman bin 'Auf menjadi seorang pengusaha yang sangat kaya raya dan sangat dermawan. Ketika ia wafat, kepada empat istrinya, ia mewariskan harta masing-masing sebesar 80.000 Dinar emas.

Dari kisah ini kita mengetahui pula bahwa memberikan mahar kepada calon istri berupa Dinar emas merupakan sunah. Soal besarnya tidak ada ketentuan. Rasulullah sallallahu alaihi wassalam tidak pernah menetapkannya, bahkan menyatakan agar pihak mempelai perempuan tidak memberatkan mempelai pria. Namun demikian, 'amal penduduk Madinah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik, dalam kitabnya Muwatta, dapat dijadikan sebagai rujukan. Dalam bab 28 tentang Pernikahan, Imam Malik meriwayatkan, Malik berkata: "Aku tidak setuju jika wanita dapat dinikahi dengan [mas kawin] kurang dari seperempat Dinar. Itu adalah jumlah terendah, yang [juga jumlah terendah] untuk mewajibkan pemotongan tangan [karena mencuri]".
Jadi, mahar kepada mempelai wanita, menurut 'amal Madinah, sekurang-kurangnya adalah seperempat Dinar emas.
Selanjutnya bagi yang belum menikah atau akan menikah lagi, belum terlambat untuk ikut serta melestarikan sunnah yang berkah ini. Sempurnakan sunnah pernikahan anda dengan mahar dinar. Semoga dengan amalan ini keluarga Anda akan semakin diberkahi oleh Allah SWT. (Insya Allah).

Sabtu, 14 Januari 2012

Mengapa Memilih Investasi Dinar Emas?

<><><><>
Ada berbagai pertimbangan untuk memilih investasi dalam dinar emas. Beberapanya dapat kami uraikan di bawah ini. 

1. Dinar Emas Untuk Syiar Islam 

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, "Tidak ada kewajiban zakat atas harta emas yang belum sampai 20 dinar. Apabila telah sampai 20 dinar, maka zakatnya adalah setengah dinar. Demikian juga perak tidak diambil zakatnya sebelum sampai 200 dirham yang dalam hal ini zakatnya adalah 5 dirham."
(1 dinar= 4,25 gram, jadi 20 dinar=85 gram)
(1 dirham=2,975 gram, jadi 200 dirham=595 gram)
 "Dipotong tangan seorang pencuri pada pencurian seperempat dinar ke atas." (HR. Bukhari)
Kalaulah dinar emas tidak tersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat, tentu kita akan bertanya-tanya “1 dinar itu berapa rupiah?” 

2. Zero Inflation Effect 
Harga dinar emas tidak selamanya naik melainkan fluktuatif terhadap mata uang (grafik harga dinar dapat dilihat di halaman utama website ini). Namun secara jangka panjang harga dinar emas selalu mempunyai kecenderungan meningkat. 
Ketika harga dinar emas turun, pastilah harga komoditi yang lain seperti minyak, gandum dll juga ikut turun.

Diriwayatkan dari ‘Urwa : “Bahwa Nabi memberinya satu Dinar untuk membeli domba untuk beliau. ‘Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu Dinar, dan membawa satu Dinar tersebut bersama satu ekor dombanya kepada Nabi. Atas dasar ini Nabi berdoa kepada Allah untuk memberkahi transaksi ‘Urwa. Sehingga ‘Urwa selalu memperoleh keuntungan (dari setiap perdagangannya) – bahkan seandainya dia membeli debu” (HR Ahmad) 



Pada zaman Rasulullah harga kambing di kisaran 1-2 dinar, sekarangpun dgn 1-2 dinar (saat ini Rp 2,2 jutaan) masih bisa untuk membeli kambing. 
Bandingkan dengan rupiah yang 40 tahun lalu harga kambing di kisaran Rp 800, sekarang sudah jutaan rupiah, menurut data statistik dan prediksi 40 tahun yg akan datang harga kambing akan berada di kisaran Rp 5,5 milyar! 

3. Dinar Emas Sangat Cocok Untuk Investasi/Tabungan Jangka Panjang 
Tabungan Pendidikan Anak 

“Saya seorang yang merasakan langsung tak berdayanya nilai pertanggungan asuransi dalam rupiah yang pernah saya ikuti. Saya ikut asuransi pendidikan mulai tahun 1988. Pada 2006 saya mendapatkan nilai tebus yang dijanjikan pihak asuransi yaitu Rp 22,5 juta. Sebuah nilai yang saya anggap besar ketika pertama kali join di asuransi pendidikan dulu. 
Ternyata uang itu tak bernilai ketika anak saya harus masuk ITB yang uang masuknya ketika itu Rp 45 juta. 

Setelah mengenal Dinar Islam sebagai penyimpan asset dan instrument investasi, saya kembali menghitung. Seandainya premi asuransi saya secara bertahap saya alihkan dalam bentuk Dinar, maka pada tahun 2006 itu saya akan memiliki 227 keping Dinar yang setara dengan Rp 161.000.000 !! 

Tabungan Haji
Haji ONH biasa
Tahun 2000 – 70 dinar
Tahun 2009 – 26 dinar
Tahun 2015 – 15 dinar (prediksi)


4. Dinar Emas Mudah Didapat dan Sangat Liquid
Properti mungkin bisa dijadikan pilihan untuk investasi jangka panjang, tetapi kelebihan dinar adalah sangat liquid. Berbeda dengan properti yang terkadang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjualnya, dinar emas bisa ditukar uang hari itu juga. 
Bahkan dengan semakin banyaknya pengguna dinar, transaksi dapat dilakukan dengan sesama pengguna. 



5. Tabungan m-dinar.com 
Tabungan m-dinar.com memungkinkan kita semua pengguna dinar untuk mencicil tabungan, tidak harus dalam kelipatan 1 dinar. 
Contoh:
Bulan Januari kita menabung Rp. 1.050.000,-  (misalkan harga dinar saat ini Rp. 2.100.000), maka saldo m-dinar kita 0,5 dinar. Bulan Februari kita menabung lagi Rp. 550 ribu (harga dinar Rp. 2.200.000), tabungan m-dinar bertambah 0,25 dinar. Bulan Maret kita menabung lagi Rp. 600 ribu (harga dinar Rp. 2.400.000), tabungan m-dinar bertambah 0,25 dinar. Jadi totalnya 1,0 dinar. 
Januari - Rp. 1.050.000/2.100.000 – 0,5 dinar
Februari - Rp. 550.000/2.200.000 – 0,25 dinar
Maret - Rp. 600.000/2.400.000 – 0,25 dinar
Total  - 1,0 dinar (fisik dinar dapat diambil/dikirim) 

Antara Kambing, Minyak dan Emas...

Antara Kambing, Minyak dan Emas...
PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal    ( Geraidinar )
Dalam banyak kesempatan ketika saya menjelaskan tentang stabilitas daya beli emas atau Dinar terhadap kebutuhan pokok manusia, saya sering menggunakan bukti kambing ukuran baik standar qurban yang selalu bisa dibeli dengan satu koin Dinar sejak lebih dari 1400 tahun lalu. Meskipun bukti ini berdasarkan hadits dan data empiris jaman ini, temen-temen saya para ekonom sering menganggap bukti berdasarkan harga kambing tersebut agak ndeso – sehingga ada keengganan mereka untuk mengakuinya sebagai bukti yang ilmiah.

Tetapi karena kambing hanyalah salah satu representasi kebutuhan pokok manusia (mewakili kebutuhan makanan), kestabilan daya beli emas ini sesungguhnya juga bisa dibuktikan berdasarkan statistik modern. Hanya statistik harga kambing yang panjang tidak mudah diperoleh, maka saya ingin membuktikan kestabilan daya beli emas ini terhadap kebutuhan pokok lainnya yang lebih available data statistik-nya.

Untuk ini saya gunakan data statistik harga minyak mentah dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II – yaitu sejak 1946 hingga 2011 ini. Harga minyak kemudian kita sandingkan antara harga dalam US$ dengan harga dalam satuan gram emas. Hasilnya dapat kita lihat pada grafik dibawah.
 
Dari grafik diatas kita bisa lihat bahwa ketika harga emas dan minyak keduanya terbentuk oleh mekanisme pasar yang mendekati sempurna, maka harga minyak dalam mata uang kertas (US$) cenderung meningkat secara parabolic – sebaliknya harga minyak dalam gram emas cenderung menuju titik stabilitas pada harga tertentu.

Dalam rezim Breton Woods (1946-1971) ketika harga emas dipaksakan setara dengan daya beli mata uang kertas US Dollar, maka terjadi ilusi stabilitas harga minyak. Ilusi ini berakhir bersamaan dengan berakhirnya rezim Breton Woods tersebut. Perhatikan  tahun-tahun semenjak dibubarkannya kesepakatan Breton Woods (1971), daya beli uang kertas terhadap kebutuhan pokok manusia yang dalam hal ini diwakili oleh harga minyak - menunjukkan jati diri yang sesungguhnya yaitu terus menurun. Itulah sebabnya, mengapa saya mengkategorikan uang kertas sebagai aset yang akan menurunkan kemakmuran pemegangnya – Wealth Reducing Asset.

Sebaliknya juga terjadi, ketika harga emas tidak lagi dipaksakan terkendali dalam rezim Breton Woods tersebut diatas – fluktuasi harga emas cenderung beriringan dengan fluktuasi harga-harga komoditi kebutuhan manusia. Walhasil bila kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut dibeli dengan emas – maka harganya akan cenderung stabil dalam jangka panjang. Jangka pendeknya tetap berfluktuasi karena faktor supply and demand,  tidak ada daya dorong parabolic seperti yang terjadi bila mata uang kertas yang digunakan.

Sebenarnya bukan hanya emas yang memiliki kecenderungan daya beli stabil jangka panjang ini, seluruh komoditi kebutuhan manusia akan memiliki kecenderungan yang sama. Satu komoditi sama komditi lain harganya berfluktuasi dalam jangka pendek – tetapi mekanisme pasar yang akan mendorongnya stabil dalam jangka panjang. Ketika supply melebihi demand, harga turun – orang mengurangi produksi; sampai titik tertentu demand akan melebihi supply dan menarik harga ke atas begitu seterusnya.

Jadi ketika berbicara tentang satbilitas daya beli emas atau Dinar, kini kita tidak lagi hanya terpaku pada harga 1 ekor kambing yang setara 1  Dinar – tetapi juga harga minyak dalam emas atau Dinar ataupun harga-harga komoditi lain yang dibutuhkan oleh manusia sepanjang jaman. Wa Allahu A’lam.
Oil Price in US$ and in Gold

All About Dinar dan Dirham....History About Real Money!!!!....UhuYYYY!!!!



Uang dalam berbagai bentuk adalah sebagai alat tukar perdagangan yang telah dikenal ribuan tahun lalu seperti dalam sejarah Mesir kuno sekitar 4000 SM – 2000 SM. Dalam bentuk yang lebih standar, uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar 46 SM. Sang raja inilah yang juga memperkenalkan standar konversi dari uang emas ke uang perak dan sebaliknya dengan perbandingan 12 : 1 untuk perak terhadap emas. Standar Julius Ceasar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204.

Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya ke Khalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.

Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW. “ Timbangan adalah timbangan penduduk Mekkah dan takaran adalah takaran penduduk Madinah “ (HR. Abu Daud).

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 624 Masehi terciptalah standar hubungan berat antara uang emas dan perak yang dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham.
Dari dinar-dinar yang tersimpan di museum setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka diketahui bahwa timbangan berat 1 Dinar yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma.

Sampai pertengahan abad ke 13 baik di negeri Islam maupun negeri non Islam sejarah menunjukkan bahwa mata uang emas yang relatif standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal perkembangannya mata uang emas tersebut mulai diberlakukan di banyak belahan Dunia, seperti Republic Florence di Italy pada tahun 1252 mencetak uangnya sendiri yang disebut emas Florin, kemudian diikuti oleh Republik Venesia dengan nama Ducat.



Pada akhir abad ke 13 tersebut Islam mulai merambah ke Eropa dengan berdirinya khalifah Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel. Selama 7 abad dari abad ke 13 sampai awal abad 20, Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan. Penggunaan Dinar dan Dirham meliputi seluruh wilayah kekuasaan Usmaniyah yang meliputi tiga benua yaitu Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara dan sebagian Asia.



Apabila ditambah dengan masa kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai dari awal kenabian Rasulullah SAW (610) maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.

Di Indonesia sekarang ini, Dinar dan Dirham diproduksi oleh Logam Mulia PT. Aneka Tambang Tbk dan PERURI  yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan kadar dan berat sesuai dengan standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.



Standar kadar dan beratnya pun tidak hanya disertifikasi secara nasional oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia dengan stadarisasi Internasional yaitu London Bullion Market Association (LBMA).