Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Selasa, 09 Oktober 2012

Rahasia anti miskin >> Jaga Daya beli anda...



Di dunia ini selalu saja berpasang-pasangan, jika Alloh SWT menciptakan siang, pasti ada malam, jika ada laki-laki begitu pula pasti ada perempuan. Nah jika kita mengenal istilah kaya pasti andapun akan menyebutkan bahwa pasangan katanya adalah miskin.

Pembicaraan kita akan bermula dari sini. Sebetulnya apa sih kriteria orang itu dikatakan kaya atau miskin? apakah rumah mewah? mobil mewah? jabatan tinggi? Stop. Mari kita berhenti menilai semua itu. Karena ternyata hal mendasar yang memilah kedua istilah tersebut adalah bukan kriteria-kriteria tadi, melainkan hanya dua kata “daya beli“.



Orang dikatakan kaya (dalam bidang finansial) jika di saat tertentu, dia bisa membeli segala hal yang dia inginkan. Dan sebaliknya, orang juga akan dikatakan miskin jika dia tidak mampu membeli apa yang dia inginkan pula pada saat tertentu. Disini putaran waktu ternyata menentukan.

Anda mungkin masih ingat seorang Qarun? Seseorang yang kaya raya juga pelit nan kikir dalam sejarah Islam? Kekayaannya ternyata telah menenggelamkan dia kedalam perut bumi ini. Sehingga hingga kini istilah harta karun masih menjadi perbincangan di khalayak ramai. Namun bukan itu yang saya akan dibahas. Tapi saya akan membahas berapa banyak sebetulnya uang yang ia miliki saat itu? Banyak? Tentu. Tapi seandainya dia saat ini masih ada, apakah uang-uang tersebut masih akan memproteksi kemampuan daya belinya? Anda tidak usah menjawab pertanyaan tersebut saat ini. Kita akan masuk ke cerita kedua..

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah tempat koleksi uang rupiah milik ayah saya. Satuan uang sepuluh ribu rupiah-an begitu banyak disana. Namun terlepas dari nilai sejarah jika dihitung ternyata jumlahnya seandainya kita kalkulasikan dan kita belikan barang di saat sekarang tidak mencukupi untuk membeli sepotong baju-pun. Loh kok bisa?



Ini yang saya katakan di awal, ternyata seiring waktu, daya beli kita tidak bisa bertahan seiring dengan kita mengumpulkan nilai-nilai tabungan dalam satuan mata uang. Tentunya anda juga mengetahui apa penyebabnya. Inflasi.



Sebuah solusi untuk mempertahankan daya beli kita dari masa ke masa adalah investasikan uang kita, dalam apapun itu. Saat sekarang banyak piliha bagi anda berinvestasi, dari mulai saham, tanah, hingga ke emas (logam mulia, perhiasan ataupun dinar emas). InsyaAlloh, beberapa tahun kemudian anda tidak akan miskin terhadap kemampuan daya beli dengan berinvestasi tersebut.

Dengan berdasar pada hadist Rasul;ullah SAW, bahwasannya 1 koin dinar emas cukup untuk membeli satu ekor kambing yang layak, maka harga tersebut 1500 tahun yang lalu..Insya Allah cukup hingga hari ini, besok dan hari ke depan nanti...dengan harga per kepingnya hari ini sekitar 2,4 juta rupiah Insya Allah kita bisa membeli seekor kambing yang layak....artinya harga jual emas tetap stabil dis epanjang masa...



Semoga bermanfaat.



Wallahu’alam bish-shawab

Senin, 08 Oktober 2012

Gue Harus Bilang WOUWWWW gitchuuu????



By : Muhaimin Iqbal _ gerai dinar..

Ungkapan ini mewabah di kalangan anak muda Jakarta untuk menggambarkan situasi seorang yang kalah namun berat untuk mengakui kelebihan pesaingnya. Bayangan saya orang terkaya no  3 dunia Warren Buffett yang dianggap ‘dewa’-nya investasi barat – juga akan bilang “Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu ?” seandainya dia membaca tulisan tentang kalahnya investasi saham warren buffet dengan dinar emas, yang mengungkapkan bahwa ternyata sejak 6 tahun terakhir  tidak pernah sekalipun investasi yang dikelolanya bisa mengalahkan diam-nya emas.



Bahkan bukan hanya Warren Buffett sebenarnya yang harus dengan berat hati mengakui keunggulan emas ini, tetapi juga seluruh pemain di bursa saham dunia. Perhatikan grafik Dow Jones di bawah sebagai buktinya.

 

Untuk bursa saham saya ambilkan data 10 tahun terakhir  Dow Jones Industrial Average (DJIA), yaitu index yang paling banyak dirujuk di dunia. Sepuluh tahun lalu, DJIA itu berada pada kisaran angka 7,850. Saat ini DJIA itu berada pada kisaran 13,610 atau mengalami peningkatan 73 %.

Sebagai pembanding saya gunakan grafik  harga emas yang saya ambilkan dari datanya Kitco – juga merupakan referensi yang paling banyak dirujuk. Kinerja emas pada periode yang sama dapat dilihat pada grafik di bawah.



Sepuluh tahun lalu harga emas berada di kisaran  angka US$ 320/Ozt, kini harga emas itu berada pada kisaran angka US$ 1,780/Ozt atau mengalami pertumbuhan lebih dari 450 %.

Dengan perbandingan ini, lagi-lagi saya tidak bermaksud men-discourage Anda yang berinvestasi di bursa saham baik langsung maupun tidak langsung (melalui dana asuransi, unit link , reksa dana dlsb).  Kaidah umum dunia investasi adalah jangan menaruh semua telur pada keranjang yang sama. Maka sebagian tetap di saham dan produk-produk turunannya, kemudian mulai sebagian kecil di emas terus bertambah sesuai dengan pemahaman dan pengalaman Anda.

Selain saham dan emas, investasi di sektor riil hendaknya menjadi fokus utama. Bukan hanya sektor riil ini memiliki dampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan juga menggerakkan putaran ekonomi di sekeliling Anda – hasil investasi sektor riil yang dikelola dengan baik umumnya juga lebih unggul, meskipun ada faktor resiko besar dalam proses mengasah keterampilannya.

Sebagai contoh salah satu investasi sektor riil itu saya ambilkan tanah yang ditanami tanaman sengon misalnya. Diluar harga tanah biaya tanam sengon sampai panen ( 5 tahun) berkisar Rp 20,000 – Rp 30,000 per pohon. Setelah lima tahun dipanen harga pohon tersebut berkisar antara Rp 200,000 s/d Rp 300,000/pohon atau memberikan hasil di kisaran 900 % per lima tahun atau 1,800 % untuk 10 tahun. Katakanlah dikenakan faktor resiko 50% sekalipun, maka hasil ini masih akan berada di kisaran 900 % atau masih 12 kali lebih tinggi dari saham-saham di DJIA dan masih di kisaran dua kali lebih tinggi dari apresiasi emas.



Bagaimana dengan faktor biaya tanah ?, Selain hasil dari panenannya, tanah yang produktif akan memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang terlantar. Jadi tanahnya sendiri juga merupakan investasi yang tidak kalah menariknya bila dia bener-bener diproduktifkan. Belum dampak lain yang tidak ternilai dengan uang seperti mengamankan cadangan air jangka panjang, menunjang ketersediaan udara bersih, lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, dlsb.

Kalau saja Warren Buffett dan orang-orang sebangsanya yang terbiasa berinvestasi di dunia finansial, saham dan sejenisnya itu adalah anak-anak mudah Jakarta – kemudian mereka mau jujur mengakui kinerja emas dan juga kinerja sektor riil seperti contoh sengon tersebut diatas – mungkin mereka akan serentak berucap “Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu ?”.


Choose u'r option, please...

Lucunya IMF..melarang pakai uang emas..malah menimbun emas...



Di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.

Standardisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, ”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud).

Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham. Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram. 1 Dinar senilai emas 22 karat 4.25 gram. sekarang 1 dinar senilai dengan Rp 2.400.000, 1 dirham senilai Rp 74.000

Fungsi uang

Dalam teori ekonomi, uang memiliki tiga fungsi yaitu :
1. sebagai Alat Tukar (Medium of Exchange),
2. sebagai Penyimpan Nilai (Store of Value) dan
3. sebagai Satuan Perhitungan/Timbangan (Unit of Account).




ketiga fungsi ini seharusnya melekat pada uang yang kita gunakan, namun penggunaan uang kertas justru tidak dapat memenuhi ketiga fungsi tersebut sekaligus. Uang kertas hanya berfungsi secara optimal sebagai Alat Tukar atau Medium of Exchange. Sebagai Store of Value, nilainya tergerus oleh inflasi dari waktu ke waktu. Karena nilainya yang terus menurun ini maka uang kertas juga tidak bisa secara konsisten dipakai sebagai Unit of Account.

Secara formal system keuangan global yang dikomandoi IMF masih melarang penggunaan emas dalam salah satu Article of Agreement-nya yang mengikat pada seluruh anggota IMF, namun rupanya secara diam-diam emas telah kembali masuk kedalam system keuangan global yang dikelola oleh IMF sendiri. Tepatnya melalui jalur Bank for International Settlement (BIS), yaitu ‘bank’-nya bank-bank sentral dunia yang bermarkas di Basel – Switzerland.

Uang emas dibenci oleh bank-bank sentral dunia dengan alasan yang tidak jelas – konon kalau uang emas dibiarkan exist – uang fiat (uang kertas) akan kelihatan tidak bernilainya. Bahkan bukan hanya dibenci, dalam Article of Agreement of the IMF ada larangan bagi negara-negara anggotanya untuk menggunakan emas sebagai dasar nilai tukar uangnya (Article IV, Section 2. B).

Lantas siapa yang merindukan uang emas ?, bagi kita umat Islam – uang emas ini bukan hanya sekedar uang untuk kepentingan transaksi, tetapi juga sebagai alat untuk implementasi beberapa ketentuan syariah seperti nishab zakat, nishab hukuman bagi pencuri, nilai uang diyat dlsb. Jadi kita tentu merindukan kehadiran uang yang adil ini.

Namun ternyata umat diluar Islam-pun yang cerdas dan memahami betul problem yang terbawa dengan uang kertas, mereka juga mulai merindukan hadirnya kembali uang emas ini. Di Amerika ada Gold Anti Trust Action Committee (GATA) dan Foundation of Advance Monetary Education (FAME) , keduanya gencar mengkritisasi ketidak beresan uang kertas mereka dan pentingnya kembali ke emas.



Yang lebih hebat adalah di Eropa ada United Future World Currency (UFWC) yang sangat serius mempersiapkan uang baru berbasis emas ini; Akses mereka ke para pemimpin dunia juga sangat baik sehingga dalam pertemuan G-8 yang berlangsung di Italy sejak tiga hari lalu – mereka berhasil secara symbolic menyerahkan uang emas mereka kepada para pemimpin dunia tersebut.



Lagi-lagi kita umat Islam sebenarnya punya solusi yang sudah sangat terbukti keunggulannya selama ribuan tahun – kalau saja kita mau kembali ke uang kita sendiri. Kita tidak perlu kebingungan mencari nama baru bagi uang kita karena uang kita namanya sudah disebut di Al-Qur’an (QS 3:75) dan berbagai hadits Rasulullah SAW.

Jadi kalau kita kembali kepada solusi Islam; justru kita akan berada di depan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Ketika bangsa-bangsa lain masih sibuk mencari nama dan bentuk uang baru mereka, kita sudah diberi tahu nama dan bentuk uang kita dari dua pegangan utama kita yaitu Al-Qur’an dan Hadits.



Choose u'r option..have a gold day!!!

Jumat, 05 Oktober 2012

Alasan memiliki dinar emas


Apa bedanya dengan menabung biasa? toh dari semenjak kecil bukankah orang tua kita telah membiasakan kita untuk menabung? Dari mulai celengan tanah liat sampai ke bambu mungkin pernah menjadi media kita untuk kita menabung. Namun, sekarang kok ada istilah menabung dinar emas? Mengapa orang-orang kini memilih untuk menabung di dinar emas?


Dinar Emas

Ada 3 alasan utama yang menjadikan orang-orang menabung dinar emas, berikut catatan saya mengenai hal ini.

Alasan yang pertama, karena dinar emas memiliki nilai investasi. Sesuatu akan dikatakan bernilai investasi jika ada harapan akan memberikan keuntungan di kemudian hari. Nah begitu juga dengan dinar emas, belajar dari pengalaman memang dinar emas memberikan nilai keuntungan yang cukup signifikan dari masa ke masa.

Namun satu hal yang patut diingat adalah, setiap investasi akan memakan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu dikatakan bahwa dinar emas juga termasuk kedalam jenis long time investment. Jadi jangan berharap mendapatkan keuntungan cepat dari setiap investasi.

Alasan kedua, karena dinar emas memiliki nilai proteksi atau perlindungan terhadap kemampuan daya beli kita. Anda mungkin masih ingat jika dulu kita diberi uang jajan ketika mau berangkat sekolah sebesar Rp. 100,-, itu bisa kita belikan 4 buah permen seharga Rp. 25,- Namun apa yang terjadi hari ini? Uang Rp. 100,- tak cukup untuk kita membeli permen tersebut lagi. Kenapa? Karena ketika kita menyimpan uang, maka uang tersebut tidak akan memberikan perlindungan atas kemampuan daya beli kita dari masa ke masa.

Lain halnya ketika kita menyimpan dinar emas, dari dahulu sejak zaman Khalifah Umar Bin Khattab, ketika awal mula dinar emas ini di buat dan dijadikan alat transaksi. Nilai jual dari dinar emas itu bisa digunakan untuk membeli seekor kambing. Jika saat ini harga dinar emas berkisar di angka Rp. 2.4 juta, maka cocok sekali, harga tersebut masih bisa dibelikan untuk seekor kambing bukan?

Kemudian, alasan yang ketiga, karena dinar emas memiliki nilai dakwah. Bagaimanapun sejarah Islam mencatat bahwa penggunaan dinar emas islam ini pernah dan sangat memudahkan ummat dalam bertransaksi. Namun seiiring dengan berjalannya waktu, kini dinar emas memang lebih banyak dijadikan sebagai media investasi, tidak lagi sebagai media transaksi. Untuk itu, kita bercita-cita semoga di kemudian hari masyarakat akan paham kembali akan makna dan keberadaan dinar emas dalam menunjang perekonomian ummat Islam.

Wallahu’alam bish-shawab
Have a gold day!!!!!
Petamburan city...oct 5th 2012

Kamis, 04 Oktober 2012

Bangun ketahanan ekonomi keluarga dengan dinar emas...jangan menimbun emas

Melihat judul ini mungkin Anda bingung, bagaimana kita menggunakan Dinar dan bahkan juga menyimpannya tetapi tidak menimbunnya ?. Bagaimana caranya ?, apa batasannya ? dlsb.
Intinya adalah menjadi kewajiban kita untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga, mengantisipasi kebutuhan dharurat dan, meninggalkan keturunan yang kuat.

Bahkan Al-Qur’an mengajarkan bagaimana kita mengantisipasi kebutuhan dharurat tersebut melalui surat Yusuf 47-48 berikut :
“Dia (Yusuf) berkata:’Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit yang kamu makan. Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang sangat sulit yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit). kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan”.

Ayat diatas adalah ayat yang menjadi dasar sekaligus menjadi metode (minhaj) bagaimana seorang muslim mempersiapkan diri menghadapi masa sulit. Apa bentuk masa sulit umat jaman sekarang ?. Secara luas masa sulit ini bagi kita yang hidup di zaman ini bisa berupa krisis moneter seperti yang kita alami puncaknya tahun 1997-1998. masa banyak musibah kekeringan, gempa bumi, banjir – semuanya menjadi trigger masa sulit bagi umat.

Kemudian secara individu masa sulit ini bisa berarti kehilangan pekerjaan/penghasilan, pensiun, sakit, ditinggal mati kepala keluarga dlsb.

Lantas bagaimana mengatasinya ? Simpan sebagian penghasilan di ‘tangkainya’. Maksud menyimpan gandum ditangkainya adalah agar tidak cepat busuk atau menurun kwalitas dan nilainya, agar tetap bisa menjadi bibit yang bisa ditanam kembali kapan saja.

Harta dan penghasilan umat jaman sekarang mayoritas tentu bukan gandum, melainkan mayoritas berupa uang. Nah bagaimana mempertahankan uang agar tidak mengalami pembusukan nilainya dari waktu-ke waktu ? Jawabannya sederhana – itulah mengapa uang dalam Islam harus sesuati yang memiliki nilai yang riil (nilai intrinsik) seperti emas, perak, gandum, kurma dst. Dari komoditi riil tersebut untuk saat ini tentu emas yang berupa Dinar paling praktis penyimpanannya. Emas batangan juga aman, namun tidak terlalu likwuid dan tidak memiliki fleksibilitas dalam penjumlahan maupun pembagian. Misalnya Anda punya 100 gram emas. Anda hendak butuhkan 10 gram untuk kebutuhan bulan ini – tidak mudah bukan untuk memecahnya ?. Lain halnya dengan Dinar, Anda punya 100 Dinar, hendak di konsumsi 10 Dinar – tinggal dilepas yang 10 Dinar dan dipertahankan yang 90 Dinar.

Menyimpan Dinar hanya perlu secukupnya – setiap kita diilhami untuk bisa mengetahui kecukupan kita masing-masing ( tanya hati kecil kita – pasti kita tahu), kita diberi ilham oleh Allah untuk mengetahui “Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya” (QS 91:8).

Apa risikonya kalau kita menyimpan harta – dalam bentuk apapun baik itu uang kertas, rumah, mobil, saham, maupun emas- secara berlebihan dan tidak menafkahkan di jalan Allah?. Ancamannya adalah Azab yang pebih bagi penimbun harta. (QS 9:34-35).

Jadi menyimpan harta secukupnya untuk memenuhi kewajiban kita terhadap diri, keluarga dan keturunan adalah sesuatu yang boleh dan ada tuntunannya karena ini bagian dari ketahanan ekonomi umat – dalam AlQuran surat Yusuf tersebut diatas disebut Yuhsinun (Tuhsinun untuk orang kedua).

Sebaliknya menyimpan diluar yang dibutuhkan dan tidak menafkahkan di jalan Allah adalah perilaku menimbun yang amat sangat dilarang – di AlQuran disebut Yaknizun.

Perbedaan antara Yuhsinun dan Yaknizun inilah yang kita harus tahu karena kita diilhami olehNya untuk mampu membedakannya. Wallahu A’lam.
Have a gold day!!!!!


By Muhaimin Iqbal

Selasa, 02 Oktober 2012

Ketika Amerika sudah tidak percaya dollar..mereka berpaling ke mata uang emas dan perak..



Berawal dari Ketidakpercayaan Akan sistem Perbankan
Di Amerika Serikat, setidaknya ada selusin komunitas yang dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan sendiri mata uangnya, dengan kata lain tidak menggunakan US Dollar. Bagi yang tidak terbiasa mungkin akan beranggapan bahwa mereka sedang menggunakan uang monopoli. Salah satu tujuan dari penggunaan uang alternatif ini adalah menstimulus perekonomian dan melindungi mereka dari ketidakadilan ekonomi.

salah satunya adalah komunitas The Cascadia Hour Exchange, yang menggunakan mata uang yang bernama CHE. John poling, pendiri komunitas ini, mengatakan dalam video CNNMoney bahwa "Kita tidak percaya dengan sistem perbankan".

Emas Sebagai Alat Tukar
Hukum di Amerika serikat memang membolehkan komunitas masyarakat untuk menciptakan sendiri alat tukarnya--menggunakan mata uang selain US Dollar--tapi untuk negara bagian, mencetak uang kertas atau mengeluarkan mata uang sendiri merupakan sesuatu yang dilarang.



Khawatir Bank Sentral Amerika Serikat dan dolar AS berada di ambang kehancuran, anggota parlemen dari 13 negara bagian, termasuk Minnesota, Tennessee, Iowa, South Carolina dan Georgia, sedang mencari persetujuan dari pemerintah negara mereka untuk mengeluarkan mata uang alternatif untuk mereka sendiri. tiga tahun yang lalu, hanya tiga negara bagian memiliki proposal seperti ini. ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah negara bagian yang sedang mencari mata uang alternatif pengganti US Dollar.

Salah satu celah hukum yang dapat dimanfaatkan atas UU mata uang Amerika Serikat adalah dibolehkannya penggunaan koin emas dan perak.

Utah menjadi negara bagian pertama yang memperkenalkan mata uang alternatif sendiri, ketika Gubernur Gary Herbert menandatangani RUU menjadi undang-undang. UU tersebut mengakui koin emas dan perak yang dikeluarkan oleh US Mint sebagai bentuk yang dapat diterima sebagai alat pembayaran. Berdasarkan hukum, koin - yang meliputi American Gold dan Silver Eagles - diperlakukan sama dengan dolar AS untuk tujuan perpajakan.

Sebenarnya krisis ekonomi di AS menyadarkan banyak negara di dunia untuk mengevaluasi kembali keberadaan Dollar AS sebagai mata uang dunia. Mulai dengan melakukan perjanjian bilateral menggunakan mata uang negara masing-masing dalam perdagangan internasional, bahkan sampai pada pemikiran menggantinya kembali dengan emas. Tetapi AS tetaplah AS, karena 2/3 cadangan emas di dunia berada di AS. Masyarakat dunia hanya bisa berharap nilai cadangan emas yang dimiliki AS mampu ”menjamin” nilai dollarnya. 

Jadi, bagaimana dengan kita??...buatlah komunitas-komunitas kecil di keluarga anda, di lingkungan RT anda, di lingkungan masyarakat , di lingkungan kantor, lingkungan instansi, lingkungan kegiatan dan sosial..ajak teteh, aa, Mama, Papa..dan seluruh yang anda cintai untuk beralih ke dinar emas dan dirham perak.

Have a gold day!!!!

Senin, 01 Oktober 2012

Buat Gubernur Jokowi...Tirulah Gubernur Utah >> Gary Herbert,,yang mengaktifkan dinar-dirham


















Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara

Gubernur DKI terpilih dapat menyelesaikan masalah mendasar bila mengikuti jejak Gubernur Utah Gary Herber: menerapkan koin emas dan perak sebagai uang.

Kemenangan Jokowi-Ahok sebagai Gubernur DKI merupakan wujud keinginan warga Jakarta akan perubahan. Rasa frustasi karena kesemrawutan di Jakarta yang tidak lagi bisa ditolerir memberi andil kekalahan Foke-Nara. Maka, meski tidak didukung oleh mayoritas partai politik, yang tak lagi dipercaya masyarakat itu, Jokowi-Ahok tetap terpilih. Harapan besar kini diletakkan di pundak tokoh populer dari Solo ini. Mampukah Jokowi memenuhi janji kampanyenya dan menuntaskan persoalan Jakarta?

Karakter dan kemampuan Jokowi boleh jadi modal utamanya untuk menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Pengalamannya membenahi Solo jadi rujukan. Tetapi, ada sejumlah faktor yang akan membuatnya sulit bergerak, yaitu politisi, birokrasi, dan korporasi. Ketiganya merupakan kesatuan sistem yang akan memenjara bukan cuma Jokowi, tapi semua pemimpin yang terpilih secara demokratis.

Terpenjara Sistem
Pemahaman mendasar itulah yang perlu dimiliki oleh Jokowi dan seluruh masyarakat. Segala keruwetan kasat mata seperti macet, banjir, kemiskinan, rusaknya tata ruang, mahalnya pendidikan dan kesehatan, dan segala persoalan yang mengikutinya, hanyalah simptom dari akar masalah yang sangat mendasar. Yaitu kanker ekonomi yang merupakan produk dari sistem itu sendiri, yakni kapitalisme, yang dilandasi oleh sistem finansial berbasis kredit berbunga. Agar bertahan hidup sistem ini memaksa penggelembungan, ibarat kanker liar, yang merambat dan menggerogoti seluruh tubuh masyarakat. Kebijakan negara telah menjadi jaminannya. Birokrasi dan politisi adalah pelindungnya. Masyarakat korbannya.

Berapa banyak sudah gubernur di DKI, termasuk sosok kuat seperti Bang Ali Sadikin, bukan saja gagal membenahi Jakarta, tapi selalu mewariskan keadaan yang lebih buruk dan parah dari sebelumnya? Tentu ada hal sangat mendasar yang harus dirombak, dan tak cukup hanya dirubah.

Pemimpin sejati yang betul-betul ingin melindungi kepentingan masyarakat harus mampu berpikir dan bertindak ke luar sistem, meski ia berada di dalamnya. Jalan ini bukan saja tersedia, tapi juga telah diterapkan, paling tidak oleh dua pemimpin di dunia yang, seperti Pak Jokowi, adalah para gubernur. Yang pertama Gubernur Gary R Herbert dari Nagara Bagian Utah, Amerika Serikat. Yang kedua Menteri Besar Nik Abdul Aziz dari Negara Bagian Kelantan, Malaysia. Gary Herbert mewakili negara bagian super kapitalis dan demokratis di Barat (Utah, AS) memiliki landasan sangat sekuler-rasional, Nik Abdul Aziz dari negara bagian yang dikuasai partai Islam di Timur (Kelantan, Malaysia) memiliki landasan sangat ideologis. Dari sisi ini keduanya ibarat air dan minyak, tidak dapat dipertemukan. Tetapi keduanya mampu melihat akar masalah dan bertindak dalam jalan serupa. Ini mengindikasikan validitas pilihan mereka, keluar dari sistem yang tak lain adalah sumber masalah itu sendiri.

Kembali pada Ekonomi Riil
Dua gubernur yang tak saling kenal, tak pernah bertemu, bahkan sekadar berkomunikasi itu, telah memilih jalan serupa yang tidak lazim saat ini: kembali kepada model ekonomi riil yang sejati. Keduanya kembali memberlakukan koin emas dan koin perak sebagai alat tukar dalam perekonomian. Gubernur Gary Herbert, sekitar enam bulan lalu, menandatangani Bill 157 yang diajukan oleh senator Partai Republik, Brad J Galvez, setahun sebelumnya, mensahkan koin emas dan koin perak sebagai mata uang di Utah. Tindakan ini mendorong dua belas gubernur lain di AS untuk mengikuti langkahnya. Sementara pemerintah federal terus dirundung persoalan.

Adapun Nik Abdul Azis telah melangkah lebih jauh. Selain merestui pencetakan dan pengedaran koin emas dan perak Kelantan, ia menawarkan penggajian pegawai negeri Kelantan (sampai 25%) dalam koin (Dinar) emas atau (Dirham) perak. Sejumlah badan usaha daerah yang melayani masyarakat, seperti PAM, telekomunikasi dan listrik, menerima pembayaran dengan keduanya. Dan, sebagai pemimpin negara bagian yang diperintah oleh partai Islam (PAS), Nik Abdul Aziz menarik dan membagikan zakat dalam Dinar dan Dirham. Beberapa menteri besar lain di Malaysia pun akan mengikutinya.

Secara operasional, tentu, kebijakan kedua gubernur ini banyak beda. Tapi, secara mendasar, keduanya sama: hendak keluar dari kanker kapitalisme yang perlahan tapi pasti membunuh kehidupan masyarakat. Keduanya bermata hati bening hingga dapat melihat akar persoalan yang orang lain tidak melihatnya. Keduanya memahami bahwa sistem kehidupan yang didasarkan pada kapitalisme bukan saja terus merongrong masyarakat, tetapi juga tengah meruntuhkan dirinya sendiri.

Penting dipahami bahwa jalan di luar sistem ini hampir mustahil dilakukan oleh para presiden dan perdana menteri, entah itu Barrack Obama atau Mahathir Mohammad, juga Soesilo Bambang Yoedoyono, karena cengkeraman sistem. Tapi, para gubernur, seperti dibuktikan oleh Gary Herbert dan Nik Abdul Aziz, tentunya juga oleh Jokowi, akan mampu mengatasinya. Sambil jalan, tentu saja, berbagai masalah simtomatik di atas terus dibenahi.

Ukirlah sejarah penting ini, Pak Jokowi. Tirulah Gary Herbert dan Nik Abdul Azis. Rakyat banyak pasti mendukungmu!

*Artikel ini juga telah dimuat di harian Republika, Senin 24 September 2012.