- Berupa logam berharga (emas dan perak) atau komoditas lainnya seperti gandum, tepung, kurma dan garam yang tersedia secara bebas di pasar dan tahan lama;
- Bernilai intrinsik; dan
- merupakan ciptaan Alloh dengan nilai yang sudah Alloh tentukan kepadanya.
Rabu, 14 November 2012
The matrix sesungguhnya adalah uang kertas...SEMU...SEMU..
Anda pernah menonton film Matrix? Film fiksi tahun 1999 yang dibintangi oleh Keanu Reeves tersebut memang tergolong menarik.
Dalam film tersebut digambarkan seorang Neo (Keanu Reeves) yang tiba-tiba merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan dunia yang dia jalani. Merasa ada sesuatu yang salah , tetapi tidak tahu apakah itu. Perasaan itulah yang membawa Neo bertemu dengan Morpheus. Morpheus berusaha untuk meyakinkan Neo bahwa dunia yang selama ini dijalani hanyalah tampilan yang disajikan di hadapan mata untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Morpheus memberinya pilihan, meminum pil merah atau biru. Ketika Neo memilih, hidupnya pun berubah. Dia akhirnya mengetahui bahwa kehidupan yang dijalani selama ini adalah palsu. Semua itu ternyata perbuatan sebuah mesin raksasa dengan programnya yang bernama Matrix.
Ternyata kehidupan Neo selama ini sebagai orang kantoran hanya semu belaka. Fakta sesungguhnya adalah bahwa fisik Neo dihubungkan dengan chip dan peralatan yang membuat dirinya seakan-akan hidup dalam kehidupan nyata yang nyaman. Padahal, dirinya selama ini terpenjara dalam mesin raksasa. Boro-boro dia menjalani kehidupan normal seperti pergi ke kantor, untuk bergerak saja dia tidak bisa karena dirinya terhubung dengan kabel-kabel besi yang menjeratnya.
Kelompok pejuang yang dipimpin Morpheus akhirnya bisa melepaskan semua kabel-kabel yang menyandera tubuh Neo dan mengamankan Neo ke markas pejuang. Akhirnya, Neo bergabung dengan para pemberontak untuk menghadapi penjajahan kaum mesin. Dengan kesadaran barunya, Neo menghadapi kenyataan pahit dalam dunia nyatanya. Akan tetapi dia lebih memilih hal tersebut daripada terjajah oleh mesin dan hidup dalam imajinasi.
Film Matrix tentu saja hanyalah fiksi semata. Akan tetapi, bila kita renungkan, ada sisi kehidupan kita yang mirip dengan dunia 'matrix'. Selama ratusan tahun kita terbelenggu dengan kesejahteraan semu dengan penggunaan uang kertas tanpa kita menyadari bahwa dengan sistem fiat money tersebut, secara pasti kesejahteraan kita terampok oleh inflasi dan tatanan kehidupan kita rusak karena riba yang merajalela.
Uang Bernilai Nyata
Orang berargumen bahwa uang kertas itu nyaman tetapi sebenarnya ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan. Uang yang seharusnya bernilai intrinsik sehingga nilainya ada di dalam uang tersebut, bukan di luar uang, tergeserkan oleh kertas yang nilainya dipaksakan oleh kekuatan perundangan. Ratusan tahun kita telah terperdaya dengan sistem uang kertas sehingga kita sudah tidak ingat lagi sejarah uang yang sesungguhnya. Uang sejak zaman sebelum Nabi Muhammad , sallalahu alayhi wa sallam terbuat dari logam mulia dan juga dari komoditas lainnya. Begitu kejayaan Islam runtuh, mulailah muncul uang yang terbuat dari kertas yang kini benar-benar berupa kertas tanpa kaitan dengan cadangan emas.
Ketika ada sekelompok orang yang mengingatkan bahwa sistem uang kertas hanya membawa kesengsaraan, susah bagi kita untuk menerimanya. Seperti susahnya Neo untuk menerima penjelasan Morpheus pada awalnya. Itu karena tipuan yang telah begitu lama telah menutupi pandangan kita sehingga kita tidak bisa lagi berpikir jernih. Beberapa orang mengilustrasikan kondisi uang kertas saat ini seperti kisah 'Baju Baru Kaisar'. Setiap orang menyangka Sang Kaisar memakai baju yang sangat indah, padahal nyatanya dia tidak memakai baju. Hingga ada seorang anak kecil berteriak,'Lihat, Kaisar tidak memakai baju!'.
Hal yang sama terjadi pada uang kertas. Kita diberitahu bahwa uang kertas adalah kesejahteraan, karena ada nilai di dalamnya, hingga ada yang berkata,'Ini hanyalah kertas biasa, tidak ada nilai sebesar itu di dalamnya'.
Untuk membuktikan hal tersebut, cobalah menyobek uang Rp 100.000,- menjadi dua, maka uang tersebut menjadi tidak laku, yang berarti uang tersebut telah lenyap. Ajaibnya, ketika keduanya disatukan dengan perekat, uang tersebut bisa laku kembali, alias menjadi ada lagi. Tentu saja kondisi tersebut bukanlah yang seharusnya. Uang sejati tidak bisa dengan mudah menghilang dan muncul hanya dengan cara disobek/direkatkan.
Imran N Hosein, ulama Trinidad menyebutkan bahwa uang dalam Islam haruslah:
Kita Punya Pilihan
Sistem fiat money saat ini diterima begitu saja sebagai satu-satunya sistem yang terbaik, padahal sistem tersebut tidak bisa bertahan, tidak adil dan akan collapse. Lihatlah bahwa Rupiah Indonesia telah mengalami penurunan daya beli tiap tahunnya. Setiap orang yang menyimpan uangnya dalam bentuk Rupiah (dan uang kertas lainnya) akan mengalami penurunan daya beli dari tahun ke tahun. Hasil kerja keras kita yang kita simpan dalam wujud rupiah bisa tiba-tiba menghilang daya belinya ketika terjadi krisis moneter. Bahkan dolar pun yang selama ini menjadi acuan, daya belinya juga telah melorot tajam.
Kita harus menyediakan sistem alternatif yang lebih baik daripada itu. Kalau kita berlarut-larut dalam sistem uang kertas maka lama kelamaan kita tidak bisa keluar dari sistem itu, dan kita hidup dalam penjara seperti kehidupan Neo sebelum bertemu dengan Morpheus. Kehidupan semu di dunia matrix yang kelihatannya nyaman tapi sebenarnya memenjarakan. Kesejahteraan yang dibawa oleh uang kertas sebenarnya adalah kesejahteraan semu dan uang kertas adalah uang semu yang terasa manfaaatnya hanya di dunia 'matrix'.
Kita punya dua pilihan: keluar dari dunia matrix uang kertas lalu berjuang melawannya atau membiarkan diri kita selamanya terjajah dan hidup dalam imajinasi uang di dunia matrix. Silahkan memilih.
Have a gold day
Marsono - Al Wakil Wakala At Tawazun
Selasa, 13 November 2012
Bukti Bahwa Uang Kertas Itu Memiskinkan Dunia…
By: Muhaimin iqbal - gerai dinar
Konon ada kekuatan di dunia ini yang menghendaki mayoritas umat manusia itu harus miskin dan membiarkan segelintir orang saja yang bisa kaya, maka kekuatan itu telah berhasil mengimplementasikan strateginya dengan sangat baik dalam setengah abad terakhir. Strategi yang digunakan tersebut adalah – apa yang sangat digemari umumnya manusia, yaitu uang kertas ! berikut buktinya.
Untuk bisa memahami apakah manusia didunia tambah makmur atau tambah miskin, pertama kita harus menyepakati dahulu tolok ukurnya. Bila tolok ukurnya yang digunakan adalah uang kertas – yaitu yang digunakan di dunia saat ini, maka betul seolah telah terjadi lompatan kemakmuran di dunia.
GDP per capita masyarakat di dunia telah melonjak dari US$ 2,756 tahun 1950, menjadi US$ 11,071 tahun 2011 lalu. Ini rata-rata dunia, rata-rata Indonesia masih kurang dari 1/3 rata-rata dunia atau di kisaran US$ 3,250 tahun 2011. Fokus tulisan kali ini adalah masyarakat dunia karena untuk masyarakat Indonesia sudah saya buat tulisannya melalui tulisan http://www.golddinarjameela.com/2012/11/kita-tidak-akan-pernah-makmur-di-system.html
Masalahnya adalah ketika tahun 1950 rata-rata orang di dunia bisa membeli 581 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya, kemudian tahun 2011 hanya mampu membeli kurang dari 1/10-nya yaitu hanya mampu membeli 52 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya – apa bisa dikatakan mereka tambah makmur ? tentu tidak, malah yang sebaliknya yang terjadi – rata-rata mereka bertambah miskin !.
Penglihatan itu semakin jelas manakala kita sandingkan antara kacamata Dollar dengan kacamata Dinar – saya gunakan Dinar karena harga emas datanya tersedia selama dua abad terakhir, sedangkan harga kambing kurang lebih mengikuti harga emas ini selama lebih dari 1400-tahun.
Saya selalu ingin menyandingkan Dinar dengan kambing ini, supaya orang tidak berargumen bahwa telah terjadi bubble yang tidak wajar di harga emas. 1 Dinar tetap hanya cukup untuk membeli seekor kambing besar, tidak cukup untuk membeli sapi atau unta. Dia juga tidak turun sehingga hanya cukup untuk membeli sate, membeli ayam atau telur – sebagaimana yang terjadi pada uang kertas.
Sekarang perhatikan pada grafik disamping yang menggambarkan bagaimana kinerja pendapatan penduduk dunia sejak tahun 1950. Saya tarik ke tahun 1950 supaya Anda bisa melihat – bahwa pasca Perang Dunia II sampai tahun 1970 memang terjadi peningkatan kemakmuran di dunia – baik dari kacamata Dollar maupun kacamata Dinar.
Tetapi mulai tahun 1971 ketika Amerika mulai mengingkari perjanjian yang dipimpinnya sendiri – perjanjian Breton Woods , dimana semua uang yang kertas seharusnya dikaitkan dengan emas tetapi mulai tahun 1971 uang kertas tidak lagi dikaitkan dengan emas – maka sejak saat itu pulalah kacamata dunia menjadi bias manakala melihat kemakmuran.
Dan siapa yang sengaja membiaskan penglihatan manusia di dunia ini ? bersyukurlah kita semua yang mendapatkan petunjuk langsung dari uswatun hasanah kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya : “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal mengenai dajjal ? suatu yang belum pernah dikabarkan oleh seorang nabipun kepada kaumnya : Sesungguhnya dajjal itu buta sebelah matanya, ia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Dan sungguh aku memperingatkannya atas kalian sebagaimana Nabi Nuh mengingatkannya atas kaumnya” (HR. Muslim)
Dan siapakah dajjal itu ?, dijawab pula melalui hadits beliau lainnya : “…bahwa ia (dajjal) itu adalah Yahudi…” (HR Muslim).
Dunia yang mengira bahwa selama ini telah teradi pertumbuhan ekonomi – karena diukur dalam US$, ternyata tidak mampu meningkatkan kemakmuran penduduknya kecuali terhadap sedikit orang yang memang dimungkinkan dalam system yang mereka buat.
Bila grafik sebelumnya memperlihatkan pendapatan per capita penduduknya, grafik disamping memperlihatkan Gross World Product yang mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia, dunia mengira tumbuh padahal susut – lha memang itulah yang dikehendaki dajjal !.
Belajar dari sudut pandang ini, maka dibidang apapun, bukan hanya dari urusan ekonomi, tetapi juga dalam urusan pendidikan, budaya, politik, system hidup, peradaban dst – umat ini memang harus mengembangkan tolok ukurnya sendiri. Jangan terkecoh tolok ukur dajjal yang seolah mengajak penduduk dunia ke surga kemakmuran padalah sesungguhnya mereka telah menjerumuskan penduduk dunia ke neraka kemiskinan.
Kita diajari untuk berlindung dari dajjal, maka selain menghafal sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi – kita juga harus bisa memahaminya dan mengimplementasikannya dalam bentuk perlindungan dari segala system yang mereka paksakan di dunia ini. InsyaAllah kita bisa, insyaAllah !.
Senin, 12 November 2012
Gold Wars >> Perang terhadap emas
07.00
No comments
Tulisan ini saya sarikan dari buku Gold Wars : The Battle Against Sound Money As Seen From Swiss Perspective , karya Ferdinand Lips (Foundation for Advancement of Monetary Education, 2001). Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang Swiss Banker - yang bahkan sempat mendirikan bank sendiri menggunakan namanya – yang sangat tahu seluk beluk permainan terhadap emas dunia.
Menutut Lips ini perang terhadap emas dimulai tahun 1933 ketika President Amerika waktu itu Franklin D Roosevelt menyita seluruh emas yang dimiliki warga negaranya, dan menaikan harga emas di negeri itu dari US$ 20.67/ounce ke US$ 35.00/Ounce. Perang ini menjadi semakin serius sejak ditinggalkannya Breton Woods Agreement 1971 – dimana sejak saat itu praktis tidak ada satu uang-pun di dunia yang dikaitkan dengan emas – kecuali Swiss.
Swiss merupakan negara yang bertahan mengkaitkan uangnya dengan emas sampai tahun 1992 – itulah sebabnya sampai tahun tersebut mata uang Swiss yaitu Swiss Franc adalah yang paling kuat di dunia. Swiss dahulu juga merupakan surga bagi warga dunia yang ingin mengamankan asetnya.
Namun sejak tahun 1992, Swiss juga menjadi anggota IMF, dan sebagai anggota IMF mereka wajib tunduk pada aturan-aturan IMF yang antara lain melarang anggota IMF mengkaitkan uangnya dengan emas. Uang boleh dikaitkan dengan hasil-hasil peternakan, pertanian dan lain sebagainya atau apapun tetapi tidak boleh dikaitkan terhadap emas.
Lantas mengapa bank-bank sentral dunia dalam koordinasi IMF ini memerangi emas ?. Menurut Ferdinand Lips ini adalah karena emas merupakan barometer standar yang dengan mudah dapat mendeteksi bila ada yang salah dalam system keuangan yang ada di dunia – dan para otoritas keuangan dunia tentu tidak suka kesalahannya mudah dibaca hanya dengan melihat harga emas !.
Dia mencontohkan apa yang terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Awal kesalahan system keuangan negeri itu terbaca dari naiknya harga emas dari US$ 35/Ounce ke US$ 40/Ounce pada masa pemerintahan Kennedy. Situasi kemudian memburuk pada akhir dasawarsa 60-an tersebut ketika Amerika terjerumus dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkannya yaitu perang Vietnam.
Puncaknya tahun 1971 ketika Amerika benar-benar tidak bisa mengendalikan system keuangannya dan terpaksa melepaskan kaitan antara US$ dengan emas. Hari-hari yang mencekam dalam system keuangan Amerika yang belakangan menular keseluruh dunia ini – terekam dari cerita para pelaku langsung yang ditulis oleh Ferdinand Lips ini sebagai berikut :
“Pada tanggal 10 Agustus 1971 sekolompok bankers dan economist berkumpul membicarakan krisis moneter yang genting di negeri itu, termasuk diantara yang hadir adalah Paul Volker yang saat itu menjabat Under-secretary of the Treasury for Monetary Affairs.
Ada dua opsi solusi yang saat itu dibicarakan; pertama menaikkan suku bunga atau menaikkan harga emas – namun nampaknya Paul Volker tidak mengambil salah satunya. Dia mengambil solusi yang tidak terbayangkan waktu itu yaitu meninggalkan emas sama sekali dari referensi uang US$ Amerika. Sepekan kemudian keputusan ini dimumumkan oleh presiden AS saat itu Nixon yang kemudian menimbulkan kejadian yang mengguncang dunia yang dikenal sebagai Nixon Shock 1971.”
Sejak saat itu perang terhadap emas semakin hari semakin meningkat yang digambarkan digambarkan oleh Lips (meninggal 2005, konon meninggal tidak wajar karena terlalu banyak tahu !) antara lain sebagai berikut :
“Dengan bantuan pemerintahan-pemerintahan dunia, di tahun 1990-an, perang terhadap emas memasuki fase yang sangat destructive. Bank-bank central menjual atau meminjamkan emasnya untuk menghancurkan harga emas...”.
Bila ‘perang’ yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips tersebut benar adanya – kemungkinannya memang begitu karena sebagai ‘orang dalam’ dari system perbankan dunia tentu apa yang ditulisnya memiliki dasar yang kuat – maka dalam ‘perang’ ini hanya ada dua pihak, yaitu system uang yang adil berbasis emas dan system uang yang destructive yang berbasis uang kertas. Hati kecil kitalah yang bisa menjawab, system yang mana yang seharusnya kita bela...Wa Allahu A’lam. (M. Iqbal)
Kamis, 08 November 2012
Emas ibarat kaca...yaitu adil terhadap dirinya sendiri..
22.25
No comments
Sekitar sembilan abad yang lalu Imam Al Ghazali (1058-1111) dengan kejernihan pemikirannya mengungkapkan bahwa sejatinya emas sebagai timbangan yang adil, dirinya sendiri ibarat cermin yang dengannya barang-barang dapat ditentukan nilainya dengan akurat.
Sekarang saya akan gunakan cermin Imam Ghazali ini untuk melihat krisis yang sekarang sedang menghebohkan dunia. Kita lihat krisis tersebut dari kacamata harga emas yang mencerminkan daya beli uang negara-negara di dunia. Saya ambil case negara kita dibandingkan negara yang menjadi epicentrum krisis sekarang ini yaitu Yunani secara khusus dan European Union secara umum.
Dari kacamata kenaikan harga emas ini kita bisa tahu bahwa krisis yang melanda Yunani beberapa tahun terakhir memang sangat parah, sehingga daya beli uangnya terhadap emas anjlog sekitar 30 % (100%/141%). Karena emas ini cerminan harga barang-barang di sekitarnya – maka daya beli uang mereka terhadap barang-barang juga turun kurang lebih pada persentase yang sama. Bisa dibayangkan penderitaan rakyat negeri itu sebagai dampak dari penurunan daya beli uangnya ini.
Namun ternyata Yunani tidak sendirian mengalami krisis ini, secara bersama-sama negara-negara yang tergabung dalam European Union – juga lagi tenggelam bersama. Ini bisa dilihat dari kenaikan harga emas dalam Euro bahkan lebih tinggi ketimbang dalam Drachmas – yaitu mencapai 44%, atau daya beli Euro mengalami penurunan sekitar 31%.
Kita yang di Indonesia, juga tentu tidak terlepas dari masalah ini; tetapi dalam Rupiah rata-rata harga emas setahun terakhir hanya naik sekitar 16% saja. Maka bersyukur memang sudah sepatutnya bahwa ekonomi kita lagi perkasa, namun untuk berbangga dengan kinerja kita – ini yang tidak boleh.
Selain berbangga menimbulkan kesombongan yang dilarang agama, kenyataannya memang belum ada yang bisa kita banggakan. Mengapa demikian ?, coba kita bercermin kembali dengan cerminnya Imam Ghazali tersebut diatas – sekarang kita lihat harga emas sepuluh tahun terakhir.
Dalam sepuluh tahun terakhir,hingga tahun 2010 di Yunani yang menjadi epicentrum krisis saja - harga emasnya hanya naik sebesar 253% (dalam Drachmas) ; dalam Euro kenaikan ini hanya 249 % ; dalam Rupiah kenaikan ini mencapai 800%. Bila pada Januari 2000 kita bisa membeli emas 1 gram sehargaRp 66,000,- ; kini harga emas tersebut di tahun 2012 menjadi Rp 550,000 per gram.
Maka bercermin dengan cermin yang utuh kita perlu – agar kita tahu seperti apa kinerja kita sesungguhnya; dengan cermin itu pula kita bisa memperbaiki diri – agar dari waktu-kewaktu semakin indah wajah kita.
Jangan pula sampai terjadi ‘Buruk Muka Cermin Dibelah’ ; bahwa bank-bank central dari negara-negara di dunia memerangi emas karena ingin membelah cermin ini; mereka tidak mau wajahnya terlihat buruk di depan cermin yang adil. Wa Allahu A’lam. (Muhaimin Iqbal)
Senin, 05 November 2012
Gonjang-ganjing pemilihan presiden Amerika...dan pengaruhnya ke nilai emas
By : Muhaimin iqbal - gerai dinar
Dunia dalam dua hari kedepan akan memusatkan perhatian pada hasil pemilu presiden Amerika yang dijadwalkan akan mulai bisa diketahui besuk sore (6/11/2012) waktu setempat atau lusa pagi waktu kita. Hasil pemilu ini menarik perhatian begitu banyak pihak, termasuk para pemain perdagangan emas dunia – karena pengaruhnya memang bisa significant. Seperti apa harga emas pasca pemilu presiden AS tersebut ? berikut kira-kira scenario-nya.
Pemilu kali ini akan ketat dan bahkan mungkin tidak segera bisa diketahui hasilnya. Bila terjadi saling claim kemenangan seperti yang pernah terjadi dalam persaingan antara George W Bush vs Al-Gore tahun 2000, maka dampak langsungnya akan buruk bagi ekonomi Amerika – buruk bagi Dollar – dan harga emas bisa terkatrol naik.
Bila Obama menang, tidak akan banyak perubahan terjadi. Ben Bernanke tetap akan menjabat sebagai Chairman of the Fed, kebijakan Quantitative Easing akan terus berlanjut – harga emas akan naik turun sejalan dengan hasil pertemuan FOMC yang berlangsung sekitar 8 kali dalam setahun.
Hasil FOMC ini biasanya juga sejalan dengan perkembangan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dlsb. Ketika ekonomi membaik, lapangan kerja tumbuh melebihi harapan – maka Quantitative Easing yang sudah dijadwalkan bulanan sekitar US$ 40 milyar – bisa saja tidak di realisir. Bila ini terjadi maka harga emas akan turun.
Bila Mitt Romney yang menang, kemungkinan besar dia akan mengganti Chairman of the Fed dari Ben Bernanke dengan orangnya sendiri. Pasar akan berpersepsi bahwa akan ada perubahan besar dalam kebijakan moneter AS.Quantitative Easing bisa tidak dilanjutkan. Persepsi ini saja akan bisa membawa pada kejatuhan harga emas dalam waktu dekat. Harga emas yang sudah rendah kini, bisa terus menurun dalam satu sampai dua bulan kedepan – bila Mitt Romney yang menang.
Dalam jangka yang sedikit lebih panjang, siapapun yang dipasang Mitt Romney untuk menggantikan Ben Bernanke sebagai Chairman of the Fed – kemungkinannya akan tetap mencetak uang dari awang-awang meskipun namanya bisa berbeda dari Quantitative Easing. Lebih-lebih sejak kampanye Mitt Romney sudah keburu nge-cap China sebagai melakukan currency manipulator, dia pasti melawannya dengan cara yang kurang lebih sama – yaitu menurunkan daya beli Dollar agar bisa bersaing dengan China.
Setelah dua bulan berlalu atau tepatnya akhir 2012 sampai awal 2013, siapapun yang menang akan menghadapi masalah yang sama – dilemma yang luar biasa berat yang oleh Ben Bernanke sendiri disebutnya sebagai Fiscal Cliff atau Jurang Fiskal.
Fiscal Cliff yang akan terjadi pada akhir tahun 2012/awal 2013 tersebut adalah karena saat itu akan berakhir undang-undang insentif pajak (Tax Relief), re-otorisasi jaminan terhadap pengangguran (Unemployment Insurance Reauthorization), undang-undang penciptaan lapangan kerja 2010 (Job Creation Act 2010) dan undang-undang penurunan anggaran (Budget Control Act 2010).
Bila sejumlah undang-undang tersebut berakhir dengan sendirinya, maka akan terjadi kondisi dimana belanja masyarakat menurun ditengah meningkatnya pajak. Para analis memperkirakan akan terjadi konstraksi ekonomi Amerika antara US$ 400 Milyar sampai US$ 600 Milyar. Dampak Fiscal Cliff ini adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi AS bahkan bisa kearah depresi, nilai US$ akan terseret jatuh dan harga emas dalam US$ akan melonjak.
Diperkirakan akan terjadi negosiasi yang alot antara pemerintah Amerika saat itu – siapapun presidennya dengan congress. Lebih-lebih negosiasi itu harus dilakukan hanya selang kurang dari dua bulan setelah pemilu. Trauma kekalahan dalam pemilu (siapapun yang kalah) akan berpengaruh pada proses negosiasi. Selama negosiasi ini harga emas akan cenderung naik.
Bila negosiasi ketemu, seluruh undang-undang tersebut sebagian atau keseluruhannya bisa diperpanjang – maka Fiscal Cliff tidak terjadi. Lantas dengan apa pemerintah AS akan membiayai pertumbuhan ekonominya ?.
Mungkin namanya bisa saja berbeda dengan Quantitative Easing, tetapi intinya sama yaitu mencetak uang dari awang-awang. Dampak dari inipun adalah penurunan daya beli Dollar dan berarti harga emas juga naik.
Jadi bila di awal pekan ini harga emas sudah jatuh, kemungkin berlanjut sampai bulan depan – maka ini akan menjadi kesempatan baik bagi yang ingin mengamankan aset-nya sebelum Fiscal Cliff terjadi di AS yang akan menyeret seluruh ekonomi dunia dalam pusaran krisisnya, atau bila Fiscal Cliff bisa dihindari mereka akan terus melanggengkan rezim penurunan daya beli uang mereka dengan Quantitative Easing atau apapun namanya. Wa Allahu A’lam.
Sabtu, 03 November 2012
Kelola dana haji dengan dinar emas...Insya Allah berkah
23.15
No comments
By : Zain Saidi- Direktur wakala nusantara
Menteri Agama RI memegang tanggung jawab dan amanah besar dari jutaan calon jamaah haji. Pasalnya calon jamaah haji diwajibkan setor uang muka beberapa tahun sebelum berangkat. Dengan jumlah 210 ribu orang/tahun, dengan setoran Rp 25 juta/orang, total dana awal ini mencapai Rp 5.25 triliun/tahun. Sementara waktu tunggu telah mencapai 3-5 tahun. Maka selama itu pulalah dana Rp 5.25 triliun ini menganggur.
Maka, dana tersebut dirasa perlu dikelola untuk 'diproduktifkan' dan menghasilkan tambahan. Pembenarnya hasil investasi tersebut diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat, antara lain dalam bentuk Dana Abadi Umat. Selain itu sebagian lagi dikembalikan kepada jamaah haji dalam bentuk 'subsidi', berupa layanan.
Bentuk Investasi
Saat ini Menteri Agama mengambil jalan paling 'aman' dalam menginvestasikan dana tersebut. Uang tersebut 'dititipkan' ke Menteri Keuangan dalam bentuk sukuk berjangka. Dari sukuk triliunan rupiah uang jamaah tersebut didapat imbalan enam persen/tahun. Masalahnya selama mengendap bertahun-tahun nilai uang tersebut terus merosot terdepresiasi. Meski mendapat tambahan sebesar enam persen kenyataannya biaya ibadah haji dari tahun ke tahun masih terus naik cukup besar.
Di sini ada dua kemungkinan.
Pertama, hasil perolehan dari sukuk yang dibeli dari uang jamaah tersebut hanya sebagian kecil yang dikembalikan kepada yang berhak, bentuknya pun 'layanan' yang tidak terukur.
Kedua, nilai perolehan tersebut tidak mengimbangi besar depresiasi mata uang mengendap yang semakin lama semakin besar merosotanya. Alhasil biaya naik haji makin mahal, sementara layanan tidak membaik.
Masalah lain muncul karena kita dipaksa membelanjakan sebagian besar dana dalam bentuk dolar AS dan riyal Saudi-yang keduanya sebenarnya sama, riyal Saudi diikat secara tetap terhadap dolar AS. Hal ini berisiko besar sewaktu-waktu nilai kurs dolar AS berubah, dengan kecenderungan rupiahlah yang selalu merosot terhadap dolar AS, dan bukan sebaliknya.
Tentang investasi sukuk itu sendiri juga mengandung masalah mendasar.
Pertama, instrumen finansial ini tidak bebas dari riba, meski disebut sebagai sukuk atau obligasi syariat. Semua tetap mengacu dan menginduk pada industri finansial berbasis riba lainnya.
Kedua, terutama belakangan ini, industri keuangan jatuh-bangun, instrumen ini sama sekali tidak aman dan dapat leleh sewaktu-waktu, meski 'dijamin' oleh pemerintah.
Karena itu harus dicari cara yang bukan saja benar-benar aman, tetapi juga membawa berkah. Ukurannya ada tiga: bebas depresiasi, bebas riba, dan memberi keuntungan terbaik. Instrumen yang memenuhi ini adalah: wujudkan dan kelola dana haji dalam Dinar emas dan Dirham perak.
Dana Haji Dinar Dirham
Usulan ini didasari oleh penelitian dan perhitungan yang sangat meyakinkan secara empiris. Dari data selama sepuluh tahun (2000-2010) terbukti bahwa biaya ibadah haji dalam dolar AS rata-rata naik 3.5%, dalam rupiah naik 5%, tetapi dalam Dinar emas turun (-) 8%/tahun. Artinya kalau rupiah dan dolar AS terus terdepresiasi, Dinar emas justru terapresiasi.
Dalam rupiah keuntungan atas apresiasi Dinar emas untuk biaya ibadah haji ini totalnya 13%/tahun, dalam dolar AS 11.5%/tahun. Angka ini lebih dari dua kali lipat perolehan sukuk yang hanya 6 %, dengan hampir tidak ada risiko, dan sama sekali bebas dari riba. Dari data empiris ini juga terbukti Dinar emas jauh lebih baik dan aman ketimbang dolar AS.
Data empiris ini pun telah divalidasi dengan hitungan proyeksi sampai 2020. Di sini kita ambil empat titik waktu saja, yakni 2011 dan 2012 yang sudah kita lewati, serta 2015 dan 2020. Sesuai dengan proyeksi biaya ibadah haji (BPIH) dalam rupiah pada 2011 dan 2012, terus naik dibanding 2010. Dalam Dinar, juga sesuai proyeksi, terbukti turun, bahkan lebih besar dari proyeksi semula.
Pada 2012 ini BPIH cukup dibayar dengan 16 Dinar, padahal proyeksi semula 19 Dinar (pada 2010 masih 23 Dinar, 2011 seharga 21 Dinar). Kurs Dinar saat ini sekitar Rp 2.340.000/Dinar.
Untuk masa depan kita ambil saja dua titik, yaitu 2015,
1. BPIH akan mencapai sekitar Rp 44.4 juta dan
2. 2020 akan menjadi Rp 56.7 juta.
Dalam dolar AS kita peroleh BPIH sebesar 4.218 dolar (2015) dan menjadi 4.890 dolar (2020). Dalam Dinar, sebaliknya, kita peroleh BPIH yang terus-menerus makin murah secara signifikan, yakni 15.1 Dinar (2015), dan turun lagi jadi hanya 9.9 dinar (2020). Ini kalau keadaannya stabil. Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa depreasiasi semua mata uang kertas semakin besar angkanya.
Butuh Keteguhan
Secara matematis, baik dari prakiraan di atas kertas maupun hitungan empiris, pengelolaan dana haji dalam Dinar emas adalah pilihan terbaik. Cara ini aman dari risiko finansial, terbebas dari riba, dan memberi manfaat dan keuntungan jauh lebih besar. Penggunaan Dinar emas, dan pasangannya Dirham perak, untuk keperluan dana haji juga akan mengeskalasi penerapan Dinar emas dan Dirham perak yang telah berlangsung selama ini secara signifikan untuk memperkokoh perekonomian bangsa ini.
Secara teknis penerapan Dinar dan Dirham sudah berlangsung dengan sangat baik di masyarakat, meski masih dalam skala kecil. Tentu, ada beberapa hal teknis lain yang perlu disiapkan untuk keperluan pengelolaan dana haji ini, misalnya soal volume pencetakan dan distribusinya, mekanisme penyimpanannya, mekanisme pembayaran, dan sebagainya. Tetapi ini soal kecil. Yang dibutuhkan hanyalah keteguhan Menteri Agama menjalankan perintah Allah, subhanahu wa ta'ala, dan Rasul, sallalahu alayhi wa sallam, untuk meninggalkan riba dan menjaga amanah umat.
Sekarang ada tidaknya keputusan ini ada di tangan Pak Suryadarma Ali. Buatlah sejarah penting ini, Pak Darma, demi kemaslahatan dunia dan akhirat.
*)Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Harian Umum�Republika, 25 Oktober 2012
Kamis, 01 November 2012
Kita tidak akan pernah makmur di System Dajjal
By: Muhaimin iqbal-gerai dinar
Di awal Orde Baru tahun 1966, konon Indonesia berada di puncak keterpurukannya dengan pendapatan per kapita hanya US$ 200. Selama 32 tahun kemudian dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di sekitar 5 % pendapatan per kapita itu tahun 1997 menjadi US$ 900. Lima belas tahun kemudian tahun 2012 sekarang ini pendapatan per kapita kita berada di kisaran US$ 3,250. Benarkah kita telah mengalami peningkatan kemakmuran yang luar biasa ?
Bila Dollar yang menjadi ukurannya sebagaimana dunia mengukur tingkat kemakmurannya, maka betul seolah kita telah mengalami lompatan kemakmuran yang luar biasa – lebih dari 16 kalinya selama 46 tahun ini. Atau kemakmuran penduduk negeri ini berlipat menjadi dua kalinya setiap 11.5 tahun – WOW !
Peningkatan kemakmuran yang luar biasa semacam ini memang terjadi di ekonomi kapitalisme, tetapi umumnya hanya berlaku pada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki akses-akses sumber daya ekonomi seperti modal, pasar, ilmu pengetahuan, resources dlsb. Bagi sebagian besar penduduk yang memiliki keterbatasan akses, maka kemakmuran itu sulit menyertainya.
Pemerintah-pemerintah di dunia yang fokus pada pertumbuhan atau peningkatan GDP per capita dalam Dollar, akan tertipu dalam pencapaiannya – karena meskipun dalam Dollar peningkatan pendapatan itu nampak sangat significant – tetapi tidak dalam daya beli yang sesungguhnya, yang sebaliknyalah yang terjadi.
Saya coba konversikan pendapatan-pendapatan tersebut kedalam Dinar atau kambing - karena sepanjang jaman 1 Dinar setara dengan harga 1 ekor kambing yang baik, hasilnya nampak dalam grafik dibawah :
Tahun 1966 ketika pendapatan per kapita kita masih di angka US$ 200 , itu setara dengan 42 ekor kambing saat itu. Ketika pendapatan per kapita kita mencapai US$ 900 dalam 32 tahun kemudian tahun 1997, itu setara dengan 20 ekor kambing. Tahun ini, pendapatan per kapita kita meningkat menjadi di kisaran US$ 3,250 , tetapi ini hanya setara sekitar 14 ekor kambing kelas baik atau setara sekitar 14 Dinar saja !
Jadi kemakmuran yang dihitung dengan angka Dollar itu hanya semu semata karena tidak mencerminkan daya beli yang sesungguhnya. Tetapi mengapa seluruh dunia, orang menggunakan angka Dollar untuk melihat tingkat kemakmurannya ?
Pasti bukan kebetulan kalau uang satu Dollar itu bergambar mata satu seperti pada gambar dibawah.
Bukan kebetulan pula kalau umat ini diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits shahihnya untuk mewaspadai si mata satu ini sebagai berikut : “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal mengenai dajjal ? suatu yang belum pernah dikabarkan oleh seorang nabipun kepada kaumnya : Sesungguhnya dajjal itu buta sebelah matanya, ia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Dan sungguh aku memperingatkannya atas kalian sebagaimana Nabi Nuh mengingatkannya atas kaumnya” (HR. Muslim)
Yang disampaikan oleh dunia bahwa kemakmuran itu telah menghampiri kita, karena daya beli kita sudah US$ 8.9 per hari – jauh dari standar kemiskinan dunia yang US$ 2/hari – itu seperti kabar surga tetapi sesungguhnya neraka sebagaimana diungkap dalam hadits tersebut diatas. Neraka karena daya beli riil kita terhadap kambing saja ternyata turun tinggal 1/3-nya (dari 42 ke 14) dari 1966 hingga 2012 ini.
Menariknya dalam hadits tersebut disebutkan bahwa peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang dajjal ini adalah seperti peringatan Nabi Nuh ‘Alaihi Salam terhadap kaumnya. Kita tahu bahwa kaum Nabi Nuh ‘Alaihi Salam yang tidak mengindahkan peringatan nabinya ditenggelamkan dalam banjir sampai musnah.
Demikian pula dengan peringatan tentang dajjal ini, bila kita tidak mengindahkan peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – kita harus mewaspadai konsekwensinya. Umat ini bisa ditenggelamkan dalam kemiskinan yang sangat yang membawa kemusnahan.
Bila daya beli terhadap kambing rata-rata penduduk ini turun tinggal 1/3-nya dalam 46 tahun terakhir, tidak takutkah kita dengan apa yang terjadi dalam setengah abad kedepan ketika daya beli umat ini tinggal sekitar 4.5 ekor kambing meskipun dalam Dollar kita akan nampak sangat makmur di atas US$ 50,000,- per kapita ?.
Alhamdulillah kita dikarunia dua mata untuk melihat secara sempurna, tidak bias. Bahkan kita dikarunia mata hati untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat dengan mata fisik kita. Saya sungguh berharap para pemegang otoritas negeri ini, para pemimpin, para pengambil keputusan, para pembuat undang-undang, para penegak hukum - semuanya juga menggunakannya.
Agar kita terbebas dari bias penglihatan, melihat neraka seolah surga atau sebaliknya melihat surga padahal neraka – sebagimana yang diungkapkan oleh hadits tersebut di atas. Agar kita dan anak cucu kita juga tidak musnah tenggelam – sebagaimana ditenggelamkannya umat nabi Nuh ‘Alaihi Salam yang tidak mengindahkan peringatan nabinya.
Bahkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu begitu ceto ke welo- welo (amat sangat jelas) tentang siapa dajjal itu : “…bahwa ia (dajjal) itu adalah Yahudi…” (HR Muslim). Dan kita kini tahu bahwa system Yahudi telah merasuki hampir keseluruhan aspek kehidupan kita, tentang pengelolaan uang/modal melalui berbagai bank dan lembaga keuangannya, tentang pasarnya, tentang eksploitasi sumber daya alamnya, tentang pemikirannya, budayanya, peradabannya dlsb.dlsb.
Lantas bagaimana kita bisa terlepas diri dari system dajjal yang bila kita tidak hiraukan akan menenggelamkan kita sebagimana umat nabi Nuh ‘Alaihi Salam ditenggelamkan oleh banjir ?. Lagi-lagi petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu ceto ke welo-welo : “Siapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surat Al Kahfi, maka dia akan terpelihara dari kejahatan dajjal” (HR Muslim).
Petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut disampaikan kepada para sahabat beliau. Melalui sejarah kita tahu kebiasaan para sahabat, yaitu setiap menerima Al-Qur’an dari Nabi, 10 ayat demi 10 ayat dihafalkan dan diamalkan, kemudian 10 ayat berikutnya dst.
Artinya adalah untuk bisa benar-benar terbebas dari fitnah dajjal sebagaimana petunjuk dalam hadits tersebut, kita juga tidak boleh berhenti pada sekedar menghafalkannya. Kita harus bisa sampai pada tataran semaksimal mungkin memahami kemudian juga mengamalkannya.
Apa yang bisa kita pahami dan amalkan dari 10 ayat awal dari surat Al-Kahfi ini ?, di dalamnya terdapat kisah para pemuda yang berusaha mengikuti petunjuk yang lurus, menjaga aqidahnya, dan membentengi diri , masuk gua untuk bisa terlepas dari pengaruh yang sangat buruk dan kejahatan penguasa dunia saat itu.
Maka hanya dengan cara inilah generasi muda dari anak cucu kita harus kita siapkan untuk melepaskan diri dari system dajjal itu, kita harus mampu membangun benteng yang kuat agar system pendidikan kita, ekonomi kita, uang kita, pengelolaan sumber daya kita, pasar kita, ilmu pengetahuan kita dlsb. semuanya mampu untuk berlepas diri dari system-nya penguasa dunia saat ini yang begitu jelasnya – bahwa mereka adalah si mata satu sebagaimana mereka deklarasikan dalam satu (an) mata uang mereka !. Wa Allahu A’lam.





























