'Malik berkata bahwa adalah tidak baik ketika bertukar [dilakukan] dengan memberikan koin-koin lama yang bagus dan menambahkan bersama mereka batangan emas dalam pertukaran untuk emas Kuffic*) yang telah aus, yang tidak populer ('makruha' yang orang tidak suka), dan kemudian mengangapnya sebagai pertukaran dengan setara untuk setara. '*Emas dari Kufah adalah koin rusak atau aus dengan berat kurang dari apa yang seharusnya dan mereka tidak disukai.
Selasa, 11 Desember 2012
Dinar emas itu 22 karat,,bukan 24 KARAT!!!!
Umar Ibrahim Vadillo - World Islamic Mint-World Islamic Trading Organization
Penjelasan tentang mengapa Dinar emas WIM adalah emas 22 karat dan bukan 24 karat dari Haji Umar Ibrahim Vadillo
Belum lama ini ada pihak yang menerbitkan fatwa, yang menyatakan bahwa Dinar seharusnya terbuat dari emas 24 karat dan beratnya adalah 4.44 gr, dan bukan 4.25 gr. Konsekuensinya, karena ketetapan rasio antara Dinar dan Dirham adalah baku, yaitu 7/10 dalam berat, maka berat Dirham mereka pun tidak lagi 2.975 gr, tetapi 3.11 gr.
Karena itu, perlu diberikan penjelasan tentang alasan dan dasar nya, menggunakan standar emas 22 karat dan berat 4.25 gr ini. Haji Umar Ibrahim Vadillo, sebagai pihak yang bertanggung jawab telah memberikan tanggapan terbuka mengenai hal ini. Haji Umar menyatakan bahwa berdasarkan percobaan yang dia telah lakukan, dan dari hasil konsultasi dengan ulama dan ahli metalurgi, selama hampir dua dasawarsa ini, ia berkesimpulan:'kita tidak bisa menggunakan koin 24k.'
Menurut Haji Umar Vadillo ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan standar ini, yaitu 'amal (praktek yang pernah ada) dan lainnya adalah kepraktisan (yaitu daya tahan) dari koin. Dari 'amal kita mencari cara mencetak koin yang paling orisinil. Sementara, persoalan daya tahan koin tidak akan terlihat pada awal ketika koin baru dicetak, dan hanya akan terlihat kepentingannya saat koin itu telah kita gunakan untuk berbagai keperluan, artinya ketika koin telah berpindah dari tangan ke tangan.
Dan di sinilah persoalannya: koin dengan emas berkadar 22k memiliki daya tahan rata-rata 15 tahun, tetapi koin dengan emas 24k hanya memiliki daya tahan 3 tahun. Ini berarti setiap 3 tahun kita harus menarik koin-koin tersebut, karena harus dicetak ulang, akibat aus. Tentu saja hal ini sangat mahal, dan tidak praktis, dan karenanya menjadi tidak ada gunanya mencetak koin.
Untuk penjelasan yang lebih detil, berikut ini adalah argumentasi dari Haji Umar Ibrahim Vadillo, yang di sini dikutip sepenuhnya. Dimulai dari dua pertimbangan di atas, yaitu 'amal dan daya tahan:
***
1. 'AMAL
Pada masa awal Islam teknologi emas 24k tidak ada. Kadar emas modern, 999.9, belum ditemukan sampai 1874 oleh Emil Wohlwill, melalui proses Wohlwill. Jadi, ketika kita berbicara tentang emas murni seperti yang kita mengerti hari ini, kita harus menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang disebut emas murni pada masa-masa awal. Proses metalurgi yang paling umum di Zaman Romawi untuk memurnikan logam mulia terdiri atas perlakuan bijih pada temperatur tinggi dengan operasi yang dikontrol secara hati-hati untuk memisahkan emas dan perak dari logam dasar yang mungkin hadir dalam bijih. Logam mulia tidak mudah teroksidasi seperti halnya logam dasar. Masalahnya adalah ketika mau memisahkan emas dari peraknya. Mereka menggunakan teknik yang disebut 'sementasi garam', untuk lebih lanjut memisahkan emas dari perak dengan berbagai tingkat keberhasilan tergantung pada mint tersebut. Oleh karena itu kualitas koinnya tergantung pada dua faktor utama: kualitas bijih asli dan kemampuan teknis mereka sendiri. Dinar asli yang ditemukan melalui proses arkeologi adalah antara 20k dan 23k.
Inilah proses yang paling mungkin digunakan pada saat Dinar dan Dirham pertama dicetak oleh Khalifah Abdulmalik dan sepanjang seluruh Periode Umayyah. Tidak diragukan lagi bahwa NIAT mereka adalah untuk menghasilkan koin 'emas murni' tetapi mereka TIDAK BISA seperti yang kita mengerti hari ini. Ironisnya kandungan kotoran yang tidak mereka niatkan itu memberikan ketahanan pada koin. Hal ini membawa kita kepada masalah yang kedua.
2. KETAHANAN
Emas 24k begitu lunak hingga dengan tekanan tangan Anda, Anda dapat menekuk satu dinar menjadi fusilli (pasta). Jika jatuh ke lantai yang keras koin itu akan penyok. Jika Anda menyimpannya di saku Anda bersama dengan koin lain (yang lebih keras) untuk jangka waktu lama, akan menghapus berbagai fitur, tanda, gerigi tepi, dll. Semua ini terjadi dengan konsekuensi koin kehilangan beratnya. Berapa jumlah penurunan berat koin yang dapat ditoleransi sebelum koin tersebut tidak lagi menjadi satu dinar (berat)?kira-kira 1%, yaitu, apabila berat dinar jatuh di bawah 4.20gr, maka koin ini tidak lagi merupakan dinar. Pada titik itu, koin ini harus ditarik dan dicetak ulang. Ini adalah bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan.
Sedikit pengetahuan metalurgi: bila Anda menambahkan 10 persen perak untuk koin emas 24k Anda menlipatduakan kekuatannya. Bila Anda menambahkan 10 persen tembaga Anda meningkatkan kekuatannya 20 kali. Campuran 50/50 dengan perak dan tembaga dalam koin 917 (22 k) memberikan lebih dari 5 kali kekuatan aslinya.
PENILAIAN SAYA
Koin berkadar 24k tidak ada di Madinah. Koin 24k bagus untuk ditempatkan dalam lemari besi atau safe deposit box, tetapi tidak untuk bersirkulasi. . Koin 24k lebih mudah dicetak ketimbang koin 22k, jadi adalah normal bila beberapa orang yang tidak bertanggung jawab akan mengambil keuntungan dari hal ini, dan memasarkan koin 24k. Mereka berpura-pura memiliki koin 'lebih baik'.
Koin 24k adalah koin yang tidak lebih baik, SEBENARNYA ini adalah koin yang buruk. Dalam fiqh Imam Malik kita mendengar 'koin tidak populer' (makruha). Makruha berarti 'orang tidak mau'. Ini bukan pernyataan yang terkait dengan kemurnian, tetapi pernyataan pada penerimaannya oleh masyarakat. Orang memilih sesuai dengan apa yang mereka temukan lebih handal.
Apa yang penting tentang ini adalah bahwa Imam Malik tidak bisa menerima perlakuan 'setara untuk setara' ini karena menganggap bahwa koin makruha tidak lagi dalam 'standar' dinar. Hal ini penting untuk memahami argumentasi kita.
Beberapa orang pikir untuk jawaban masalah ketahanan dan penerimaan ini adalah dengan membuat koin dengan berat emas yang tepat (4,25 gr atau 1 mithqal) dan kemudian menambahkan beberapa materi penguat, maka koin akan bertambah beratnya menjadi 4.5 atau yang serupa. Ini tidak mungkin. Sebuah Dinar adalah ukuran berat yang sama dengan 1 mithqal. Anda tidak dapat meningkatkan berat dari dinar untuk menjaga 4.25gr dari 24k emas. Ini salah. Berat tidak dapat diubah.
Wallahu alam bissahwab
Senin, 10 Desember 2012
Redenominasi : Ketika Mata Uang Di-reset Angkanya…
By: muhaimin iqbal-gerai dinar
Mata uang kertas itu berjalan seperti trip-meter yang ada di kendaraan Anda untuk mengukur jarak tempuh perjalanan yang telah Anda lalui. Dari waktu ke waktu Anda perlu me-reset trip-meter tersebut ketika Anda sampai tujuan Anda, atau trip-meter tersebut secara otomatis me-reset dirinya sendiri ketika jatah digit angka yang ada sudah mentok.
Redenominasi adalah me-reset ulang angka di ‘tripmeter’ uang kertas kita ketika ekonomi dalam kondisi relatif normal seperti sekarang ini. Lain dengan sanering seperti yang terjadi di negeri ini tahun 1965/1966, yaitu ketika ‘tripmeter’ tersebut mentok di angka maksimal oleh inflasi yang sangat tinggi – sehingga mau nggak mau harus di-reset ke angka awal, kalau tidak dilakukan saat itu Rupiah tidak akan bernilai apa-apa dan tidak dipercayai masyarakat.
Meskipun redenominasi dan sanering berbeda, keduanya memiliki sebab yang sama yaitu inflasi. Redenominsai timbul karena inflasi yang gradual, sedangkan sanering terpaksa dilakukan karena inflasi yang sangat tinggi. Uang kertas bisa turun drastis nilainya dalam waktu cepat sehingga perlu sanering, atau secara perlahan tetapi pasti terus menurun daya belinya sedikit demi sedikit – lama kelamaan angka di uang kita menjadi terlalu besar, saat itulah redenominasi perlu di lakukan.
Bila tahun 1970 Anda bisa membeli kambing dengan harga Rp 2,000,- ; kini (2012) Anda harus membayar kambing yang sama dengan Rp 2,000,000,- maka memang ada yang salah dengan angka uang kita. Wajar kalau pemerintah waktunya menghilangkan tiga angka nol dari uang Rupiah kita.
Bila hal itu dilakukan sekarang, maka daya beli Rupiah kita akan kembali mirip dengan Rupiah tahun 1970 yaitu Rp 2,000,- untuk satu ekor kambing dan bukan lagi Rp 2,000,000,-. Bila redenominasi itu dilakukan sekarang, maka jarak tempuh Rupiah kita yang tercatat di ‘trip-meter’ adalah 42 tahun.
Dari sini kita tahu bahwa usia uang modern seperti Rupiah ternyata tidak sampai setengah abad. Dan bukan hanya Rupiah, Dollar-pun yang ada sekarang usianya baru 41 tahun – yaitu dihitung dari Agustus 1971 ketika Dollar dilepaskan kaitannya dengan emas. Saya juga tidak yakin apakah Dollar yang ada sekarang akan bisa melampaui ulang tahun emasnya pada tahun 2021, lha wong sekarang saja sudah mulai dihancurkan melalui serangkaian Quantitative Easing.
Bahwa tidak ada pemerintah di dunia modern yang bisa mempertahankan daya beli mata uangnya dalam jangka panjang, ini sudah diprediksi oleh pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 1974 yaitu Friedrich August Von Hayek. Intinya dia menyatakan bahwa tidak ada penguasa di dunia yang bisa menunjukkan disiplin yang diperlukan dalam pengeluaran uang kertas. Menurutnya pula, uang yang baik yang terus bisa dipercaya oleh masyarakat justru bukan uang pemerintah tetapi uang swasta.
Sejalan dengan pendapat Von Hayek ini adalah pendapat ‘dewa’-nya ekonom futurolog barat John Naisbitt yang menyatakan dalam bukunya Mind Set ! (2008) : “Monopoli terakhir yang akan ditinggalkan umat manusia adalah monopoli uang nasional (sekarang uang fiat). Umat manusia akan meninggalkan uang nasionalnya – uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik – dan menggantinya dengan uang private yaitu benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik”.
Saya sendiri tidak sepenuhnya sependapat dengan Von Hayek maupun John Naisbitt atas uang swasta yang lebih unggul dari uang pemerintah. Uang khususnya dalam arti alat tukar sebaiknya tetap harus penguasa yang menerbitkannya. Hanya saja penguasa ini harus pandai menjaga amanahnya sehingga seperti yang diingatkan oleh Ibnu Taimiyah bahwa “hendaklah mereka tidak mencetak fulus (uang kertas kini) yang melebihi kebutuhan transaksi di negerai kekuasaannya, karena bila mereka mencetak berlebih maka rakyat yang sudah memegang fulus tersebut yang akan dirugikan (oleh inflasi)”.
Lantas bagaimana kalau situasi ideal tidak tercapai ?, penguasa yang mencetak uang tidak bisa mengendalikan jumlah uang yang dicetaknya dan inflasi menggerus daya beli uang yang ada di masyarakat ?.
Masyarakat dapat berpegang pada panduan ulama-ulama terdahulu. Salah satunya adalah Imam Ghazali yang menyatakan bahwa : “Allah Yang Maha Besar telah menciptakan perak (Dirham) dan emas (Dinar) sebagai hakim dan perantara bagi seluruh komoditi sehingga harta kekayaan manusia bisa dinilai dengannya…perak dan emas adalah seperti cermin yang dirinya sendiri tidak memiliki warna, tetapi dia bisa menampilkan semua warna dari benda-benda yang ada”.
Jadi ketika redenominasi harus dilakukan oleh pemerintah, agar kita tidak ter-disorientasi terhadap nilai uang yang baru – yang kita butuhkan adalah hakim yang adil atau cermin itu. Untuk barang yang berilai besar sudah kita perkenalkan Dinar lima tahun terakhir – masyarakat bisa tahu bahwa harga kambing tetap dalam kisaran satu Dinar, berapapun nilai Rupiahnya !.
Dengan hakim yang adil atau cermin tersebut di atas, insyaAllah kita akan siap menyongsong redenominasi – kapan saja penguasa negeri ini melakukannya !.
Wallahu alam bisshawab
Kamis, 06 Desember 2012
10 Alasan kenapa saya menyukai dinar emas
Dari sekian sejuta alasan, kenapa menyukai dinar emas kami klasifikasikan 10 alasan kenapa dinar emas ataupun koin emas begitu disukai dan digandrungi:...berikut alasannya>>>
Alasan No.10: Negara negara Berkembang Menyukai Emas
Coba anda bayangkan 50 tahun mendatang. Apakah
amerika akan tetap menjadi negara super power yang mendominasi dunia
sama seperti
sekarang ini ? Kemungkinan besar tidak. Negara negara berkembang seperti India
dan China sedang berkembang dengan giat giatnya. Mereka semakin cerdas,mampu
menyediakan tenaga kerja murah dan jumlah penduduk yang besar. Mereka akan
mengambil alih pekerjaan dari masyarakat amerika untuk waktu yang panjang.
Ada 2 hal penting lain yang dimiliki India dan Cina yang tidak lagi dimiliki oleh amerika. Warga negara India dan Cina secara tradisi menyukai dan menyimpan emas dan perak. Populasi mereka yang bertambah sepanjang tahun turut membuat permintaan akan emas dan perak meningkat. Yang kedua adalah pengetahuan. Kedua bangsa tersebut sudah berabad abad berpengalaman untuk mencari keuntungan dari jual beli emas dan perak. Pengetahuan ini akan membuat negara mereka semakin kaya.
Ada 2 hal penting lain yang dimiliki India dan Cina yang tidak lagi dimiliki oleh amerika. Warga negara India dan Cina secara tradisi menyukai dan menyimpan emas dan perak. Populasi mereka yang bertambah sepanjang tahun turut membuat permintaan akan emas dan perak meningkat. Yang kedua adalah pengetahuan. Kedua bangsa tersebut sudah berabad abad berpengalaman untuk mencari keuntungan dari jual beli emas dan perak. Pengetahuan ini akan membuat negara mereka semakin kaya.
Alasan No. 9: Semua Uang Kertas dan Digital Akan Berakhir
Uang kertas dan uang digital dalam rekening anda
disebut sebagai fiat money. Fiat Money adalah istilah yang merujuk pada uang
yang dicetak atau
diciptakan tanpa jaminan emas,cuma oleh dekrit dari pemerintah negara dimana
uang itu dicetak. Dalam sejarah, semua negara yang menggunakan uang fiat dalam
menjalankan sistim ekonomi mere ka, tidak mampu bertahan lama. Uang fiat memberikan
kemudahan kepada pemerintah untuk bertindak ceroboh dengan mencetak uang lebih
banyak lagi. Uang yang beredar terlalu banyak membuat nilainya turun dan
menaikkan harga pangan dan lainnya. Dikondisi inilah emas adalah penyelamat.
Emas tempat yang paling tepat untuk mempertahankan kekayaan anda karena emas
tidak dapat diciptakan begitu saja dan punya nilai instrinsik.
Alasan No. 8: Dinar Emas
Cukup Kecil dan Mudah Dibawa
Sebelum dunia mengenal uang kertas dan uang digital,
perdagangan dilakukan dengan koin emas dan perak.Perdagangan dengan koin emas
dan perak sudah terjadi beribu ribu tahun.Kalau anda pernah mendengar dengan
cerita jalur sutera dimana banyak pedagang pedagang arab datang ke india untuk
berdagang, mereka menggunakan dinar emas. Dinar emas adalah koin emas. Dibentuk
sebagai koin emas karena dengannya dapat digunakan dengan mudah sebagai alat
transaksi. Namun dalam kasus ini saya tidak menyarankan anda untuk membawa koin
emas anda kemana mana. Saran saya adalah untuk menyimpannya di deposit box di
bank. Akan tetapi dalam keadaan darurat, koin emas lebih mudah untuk dibawa dan
dijual belikan sesuai kebutuhan.

Alasan No. 7: Dinar Emas Adalah
Jaminan Terhadap Inflasi
Seperti yang pernah saya utarakan di
atas, uang fiat memiliki kelemahan, yaitu membuat pemerintah begitu ceroboh
mencetak uang tanpa terkendali. Hal ini menyebabkan inflasi yang ditandai dengan
turunnya nilai uang fiat tersebut terhadap harga barang barang kebutuhan. Gaji
anda yang setahun lalu dapat digunakan untuk membeli sepeda motor, dengan
inflasi nilainya akan menjadi jauh berkurang. Walau pun setiap tahun anda
mendapatkan kenaikan gaji, tapi daya beli uang yang anda kumpulkan tidak akan
bisa mengejar inflasi. Karena itu dari pada menyimpan uang anda di bank yang
juga memberikan bunga dalam bentuk uang fiat, mengapa tidak menginvestasikan
uang anda dalam bentuk koin emas. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi nilai
emas yang anda miliki.
Alasan No. 6: Dinar Emas Dapat Disimpan Tanpa Batas Waktu
Kebijakan pemerintahan selalu berganti dan ada suatu
titik dimana pemerintah akan mendevaluasi uang fiat yang mereka ciptakan demi
kemudahan. Pernah mendengar negara Zimbabwe ? Beberapa tahun lalu,pemerintah
negara tersebut mencetak begitu banyak uang fiat sehingga nilai nominalnya
menjadi begitu besar. Bahkan mereka sempat mengeluarkan lembaran matauang dengan
nilai nominal satu milyar. Bayangkan ketika anda harus membawa uang dalam
nominal 1 jutaan hanya untuk membeli seekor ayam yang berharga 1 milyar ? Berapa
banyak lembaran uang fiat yang anda harus bawa ? Kemudian kebijakan baru muncul
, pemerintah negara tersebut memangkas uang fiat yang ada lebih dari
setengahnya. Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dengan koin emas. Koin
emas memiliki nilai intrinsik yang tetap. Bahkan koin emas tidak bisa membusuk
seperti uang fiat.
Alasan No.5 :Dinar Emas adalah Aset Murni
Koin
emas adalah satu satunya aset murni di dunia. Bandingkan dengan uang fiat
seperti dolar amerika. Dolar amerika tidak bisa dikategorikan sebagai aset
karena nilainya hanya berdasarkan janji yang keluarkan atau didekrit oleh
pemerintah amerika. Setiap dolar amerika yang anda miliki adalah tanggung jawab
yang dipikul pemerintah amerika. Contoh lain adalah rumah anda. Rumah anda
membuat anda harus mengeruk uang dari saku anda untuk membayar pajak properti ke
pemerintah. Kalau anda tidak bayar pajak properti anda, anda akan kehilangan
aset anda tersebut. Demikian pula dengan tabungan anda di bank adalah tanggung
jawab Bank. Bank meminjamkan uang anda ke klien mereka dan bila klien itu
bangkrut, bank akan bergantung pada pemerintah untuk menjamin aset anda. Lain
halnya koin emas,benda ini memiliki intrinsik value. Koin emas tidak menjadi
tanggungjawab siapa pun. Anda tidak perlu membayar pajak kecuali anda
menjualnya.
Alasan No.4: Dinar Emas Memaksa Anda Untuk Menabung
Tidak ada yang salah untuk menginvestasikan uang anda
dengan membeli saham saham perusahaan tambang emas. Namun banyak orang mudah
tergoda untuk memperdagangkannya ketika pasar saham mulai tidak stabil dan
berakhir merugi. Membeli dan menyimpan koin emas dalam kotak deposit
memaksa anda untuk menabung.
Alasan No. 3: Dinar Emas Itu Langka
Sementara
utang nasional amerika semakin tidak terkendali. Menurut Gal Marley, jumlah emas
yang telah ditambang manusia bernilai kira kira 1.8 trilyun dolar. Semua emas
yang masih tersisa belum ditambang adalah 40 persen dari total yang telah
ditambang,membuat total nilai emas sebesar 2.5 trilyun dolar. Dengan kenaikan
harga emas akhir akhir ini membuat angka tersebut naik menjadi 5 trilyun dolar.
Kalau anda bandingkan dengan utang nasional amerika yang jumlahnya 9 trilyun
dolar ditambah utang utang yang dimiliki negara negara lain, bisa dipastikan
dunia kekurangan stok emas. Bila suatu saat seluruh negara di dunia kembali ke
mata uang emas, harga emas akan melambung tidak terkira.
Alasan No.2: Dinar Emas Membawa Keberuntungan
Robert Kiyosaki, pengarang buku Rich Dad, Poor Dad
percaya bahwa koin emas dan perak membawa keberuntungan bagi pemilikinya. Dia
menceritakan bagaimana dia mampu mengumpulkan lebih banyak koin emas sebelum
perusahaan perusahaan lain mulai melakukannya.dia percaya koin emas sebagai
Spiritual Money yang memberikan keberuntungan bagi pemiliknya.
Alasan No.1: Mengumpulkan Dinar Emas Itu Mengasyikan !
Mengumpulkan dan mengoleksi aneka ragam koin emas
sangat mengasyikan. Anda bisa menghabiskan waktu berjam jam mengagumi nilai
numesmatik koin emas yang anda miliki. Tiap negara seperti australia,amerika dan
cina memiliki koleksi koin emas dengan desain yang patut
dikagumi.
selain itu dengan memiliki dinar emas atau koin, kita menjalankan sunnah dari agama kita,,,untuk menjaga asset kita dengan dinar emas..
Wallahu alam bisshawab
selain itu dengan memiliki dinar emas atau koin, kita menjalankan sunnah dari agama kita,,,untuk menjaga asset kita dengan dinar emas..
Wallahu alam bisshawab
Rabu, 05 Desember 2012
Jangan naturalisasi pemain bola aja..hayoo naturalisasi uang anda ke emas
Inspirasi : Endy kurniawan- Think dinar
Mengapa pembelaan kita untuk penguasaan cadangan emas dunia kembali di pangkuan ibu pertiwi harus sama ngototnya dengan dukungan kita untuk Timnas yang sedang berjuang untuk nama baik bangsa di ajang AFF?...dari tahun 2010, ketika di final kita kalah oleh Malaysia...sekarang di babak awal,AFF 2012 lagi-lagi kita harus pulang kandang ,,lagi-lagi oleh Malaysia.....hayooo, kita ngotot juga, kembalikan uang kita dengan uang emas...
Karena kitalah yang paling berhak makmur dan sejahtera dengan cadangan harta hakiki itu. Ragam mineral dan komoditas tambang itu berserakan di muka tanah dan terpendam rapih tetap berharga di perut bumi nusantara. Mulai tembaga, alumunium, tembaga, emas kuning hingga emas hitam berupa minyak bumi. Di hamparan pulau-pulau yang tertata berderetan dengan indah tersedia lahan subur yang menghasilkan buah dari kebun-kebun, bulir dari sawah-sawah siap panen. Dari bagian lain yang kurang subur berdiri pabrik-pabrik yang siap berproduksi, lalu siap dikonsumsi seperempat milyar manusia penduduknya, yang selain jadi konsumen juga menjadi angkatan kerja yang besar sekali jumlahnya.
Hampir tak mungkin membicarakan emas sebagai isu geologi dan industri pertambangan semata. Tak mungkin membicarakan emas dan memisahkannya dengan penguasaan dan penjajahan ekonomi, motif politik global, bahkan agama. Jika topik diskusi kita semata soal nilai dan asal-usul emas, maka dialog ini seharusnya telah berhenti sejak lama. Emas adalah hasil tambang langka yang jadi lambang kekayaan mulai jaman pra sejarah, sudah jadi fitrah. Tak bisa dibantah.
Gold. Glory. Gospel. Tiga motif yang jadi simbol kick-off dimulainya perlombaan memangsa kekayaan Nusantara oleh Portugis dan Spanyol adalah fakta yang telah menjadi kesadaran sejarah. Motif primitif dan abadi yang menggabungkan nafsi penguasaan kekayaan alam dan ekonomi, kejayaan, serta agama. Dengan berbagai bentuknya kita bisa mudah mengenali dalam penjajahan abad modern, tiga motif ini menjelma kembali, termasuk – sekali lagi – terjadi bagai déjà vu di bumi Indonesia semenjak kita tunduk sepenuhnya pada aturan dan pengendalian barat, salah satunya semenjak tahun 1967 ketika kita menjadi anggota IMF.
Dari saat merdeka, kita hanya mampu mengkoleksi tak sampai 80 ton emas sebagai cadangan kekayaan negara, atau hanya 4.3% dari total cadangan devisa. Padahal per tahun, tambang kebanggaan kita di gunung tertinggi di Papua saja bisa mengeluarkan 300 ton dari dalam perutnya. Tak mungkin emas-emas itu menguap begitu saja. Harta berharga itu diangkut secara legal ke sebuah negara yang hingga sekarang menjadi adidaya karena 8.000 ton cadangan emasnya, sehingga kita tidak bisa apa-apa.
Negara-negara yang ‘sadar emas’ seperti Cina, sekarang makin rakus mengumpulkan emas sebagai cadangan. Mereka tak ingin jerih payah milyaran rakyatnya yang memproduksi barang-barang yang membanjiri pasar negara di seluruh dunia jadi mubazir dengan menyimpan produk-produk di sektor keuangan yang berbasis uang kertas.
Institusi apapun, dan negara manapun, biarpun sembunyi-sembunyi, tetap harus mengakui bahwa emas lah harta yang hakiki. Menyimpannya untuk pertahanan dan kekuatan cadangan. Melepasnya untuk mendapatkan suntikan dana segar berupa uang tunai. Demikian pula ketika IMF melepas 403 ton cadangan emasnya, semata untuk mempercantik kondisi keuangannya berupa penambahan dana segar sebesar USD 7,6 Miliar. Bank sentral India (dan juga kabarnya Cina), serta beberapa negara kecil di kawasan Asia adalah pihak yang membeli cadangan emas IMF ini.
Jika menengok ke belakang, sepanjang tahun 2010 yang akan segera berakhir ini tak ada peristiwa besar yang bisa menghentikan trend kenaikan harga emas. Investor tradisional di beberapa negara Asia adalah salah satu yang mendorong permintaan sangat tinggi sehingga membuat harga melonjak. Mereka memilih menyimpan logam mulia, jenis investasi ‘primitif’ tanpa deviden, tanpa terkena pengaruh bunga dan kebal inflasi.
Kembali ke poin pembuka : kalahnya Indonesia dari Malaysia.
Yang layak kita lakukan saat ini, mendoakan semoga di tahun-tahun mendatang kejayaan timnas di semua ajang , tidak cuma di AFF saja, sebuah hiburan yang jadi penghilang dahaga keringnya prestasi dalam jangka lama, juga pelipur atas berbagai luka dan duka yang mendera tiap sendi kehidupan di dalam negara.
Sebagaimana juga kita perlu doa dan ikhtiar untuk tercapainya sejahtera bagi masyarakat Indonesia. Kemakmuran yang ditandai berputarnya roda ekonomi dan seimbangnya sektor produksi dan konsumsi, juga tersimpannya dengan baik hasil jerih payah bangsa dalam bentuk cadangan emas yang memadai.
Kata zahab yang berarti emas di dalam Al-Quran disebut sebanyak delapan kali. Sejak awal, emas dalam Islam adalah penyimpan kekayaan sekaligus sebagai alat tukar yang asli dan hakiki. Dengan simpanan emas lah negeri-negeri Islam makmur dan berjaya.
Meskipun naturalisasi adalah istilah dalam konteks kewarganegaraan, layak saat ini kita juga mulai memikirkan untuk me’naturalisasi’ emas yang muasalnya adalah milik kita, untuk kembali ke pangkuan Indonesia...KEMBALI KE DINAR EMAS
Walllahu a’lam bisshawab...
Kiamat finansial buat Amerika...
By: Muhaimin iqbal - gerai dinar
Ada sekelompok masyarakat di Amerika Serikat yang meyakini bahwa ‘kiamat’ (dalam persepsi mereka) akan segera terjadi. Mereka melakukan segala macam persiapan dari mulai makanan kaleng sampai bunker bawah tanah. Bahkan kini mulai banyak situs-situs internet yang memunculkan berbagai produk untuk menyongsong hari ‘kiamat’ ini. Kelompok masyarakat yang mempersiapkan diri menghadapi hari ‘kiamat’ ini menyebut dirinya The Preppers.
Yang menarik adalah penyebab ‘kiamat’ yang mereka antisipasi untuk menghadapinya itu. Dari sejumlah penyebab seperti perang nuklir, aksi terrorism, krisis minyak sampai jatuhnya nilai Dollar Amerika – penyebab terakhir ini yang sangat banyak diyakini akan menjadi ‘kiamat’ di Amerika yang paling dekat.
Mengapa mereka meyakini bahwa Dollar Amerika akan mudah sekali jatuh dan bisa terjadi kapan saja ? Mereka punya alasan antara lain karena Amerika berhutang begitu besar ke dua negara ‘ musuh bebuyutan’-nya yaitu China dan Jepang.
Secara historis Amerika yang berideologi kapitalis berseberangan dengan ideologi China yang komunis, perang ideologi itu kini terwujudkan dalam perang dagang antara keduanya dan perang mata uang. Cilakanya China memegang kartu truf Amerika yaitu berupa hutang Amerika yang mencapai US$ 1.15 trilyun terhadap China. Di mata para preppers , begitu China menarik piutangnya ini kapan saja – akan langsung terjadi ‘kiamat’ di Amerika.
Bila China tidak melakukannya, ancaman kedua bisa datang dari Jepang yang pernah diluluh lantakkan Amerika pada Perang Dunia ke II, saat itu kaisar Jepang dihinakan untuk bertekuk lutut dihadapan jendral perang Amerika. Negeri Jepang itu kini juga memegang kartu truf Amerika, Jepang merupakan kreditor kedua terbesar Amerika dengan nilai pinjaman mencapai US$ 1.12 trilyun. Sama dengan China, Jepang juga mampu membuat ‘kiamat’ di Amerika bila Jepang menarik pelatuk piutangnya kapan saja.
Sama dengan the Preppers, kita umat Islam juga meyakini bahwa kiamat yang sesungguhnya bisa terjadi kapan saja. Hanya banyak sekali perbedaan mendasar antara The Preppers dengan kita.
Bila para preppers di Amerika bersusah payah menyusun Handbook for the Preparedness-nya mereka sendiri yang bolong disana-sini, kita beruntung sudah disiapkan dua pegangan yang akan menyiapkan kita menghadapi hari akhir itu. Karena yang membuat adalah Yang Maha Tahu langsung (Al-Qur’an) atau melalui wahyuNya yang kemudian diucapkan atau dilaksanakan oleh RasulNya (Sunnah), maka pegangan kita tersebut menjadi sempurna tanpa cela.
Perbedaan lain adalah ketika para preppers melakukan persiapannya dengan penuh kepanikan – karena mereka akan menghadapi sesuatu yang amat sangat buruk, kita umat ini menghadapinya dengan rasa optimis.
Bagaimana umat Islam di jaman ini bisa dengan optimis menghadapi scenario hari akhir itu ? karena antara lain adalah dunia belum akan kiamat sebelum bumi ini bisa kita subur makmurkan sekali lagi .
"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta zakatnya tetapi dia idak mendapatkan seorangpun yang bersedia menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai " (HR. Muslim).
Bahkan ketika rangkaian peristiwa kiamat sudah mulai dan di tangan kita masih memegang benih pohon, kitapun masih diperintahkan untuk menanamnya.
Perbedaan yang lain adalah The Preppers menyiapkan dirinya untuk sendirian siap menghadapi ‘kiamat’ yang mereka takutkan, bahkan di tayangan National Geographic beberapa hari lalu saya menyaksikan bagaimana mereka bersiap dengan segala macam senjata – untuk memproteksi diri dari jarahan orang lain yang tidak siap.
Sebaliknya kita, persiapan menghadapi kiamat yang sesungguhnya itu justru memperbanyak amal kebajikan yang manfaatnya bisa dinikmati oleh orang lain. Kita berusaha keras untuk menjadi pasukan Allah yang menyuburkan kembali bumi, menanam pohon – tanpa harus berfikir siapa nanti yang menikmatinya.
Dari perbedaan sikap dalam menghadapi krisis yang sangat besar seperti ‘kiamat’ ini saja, sebenarnya dunia sudah bisa memilih – siapa yang pantas menjadi pemimpin dunia itu ! mereka yang kapitalis individualistis – yang hanya memikirikan dirinya sendiri atau kelompoknya, atau umat yang rahmatan lil alamain – yang berjuang keras memakmurkan bumi untuk mempertahankan kehidupan bagi seluruh penghuninya, tanpa melihat batasan negara, bangsa dan bahkan agama. InsyaAllah.
Minggu, 02 Desember 2012
Strategi Pensiun dengan dinar emas>> Dana pensiun yang tidak cepat habis
21.06
No comments
By : muhaimin iqbal-gerai dinar
Cerita ini saya adopsi dari pengalaman salah satu nasabah Gerai Dinar. Tahun 2008 ketika dia berusia 65 tahun sudah merasa sangat lelah dengan pekerjaannya, dia ingin istirahat tidak lagi bekerja namun juga tidak ingin menjadi beban orang lain. Pada saat yang bersamaan dia ingin tabungannya mampu melawan inflasi sehingga dapat menopang kebutuhan hidupnya sampai akhir hayat. Yang dia lakukan ini bisa menjadi contoh bagi para pensiunan lainnya.
Pada pertengahan Oktober 2008 ketika harga Dinar berada di Rp 1,197,000 dia mengkonversi sebagian tabungan dan dana pensiunnya menjadi 1,000 Dinar atau setara Rp 1,197,000,000 saat itu. Sebagian yang lain dia pertahankan dalam Rupiah dan Dollar karena akan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan jangka pendek lainnya.
Uang tabungan dan dana pensiun yang tidak dikonversikan ke Dinar habis untuk mencukupi kebutuhannya selama tiga tahun kemudian yaitu sampai September 2011. Selama tiga tahun tersebut Dinar belum digunakan tetapi juga hanya bertambah sedikit saja yaitu menjadi 1,010 Dinar, bila dikonversikan menjadi Rupiah pada September 2011 Dinar tersebut telah menjadi Rp 2,248,000,000,- atau mengalami kenaikan sekitar 88% dalam tiga tahun.
Untuk mempertahankan standar kehidupannya, beliau ini kemudian sejak Oktober 2011 menjual 10 Dinar per bulan untuk membiayai kehidupan sehari-harinya. Berikut adalah analisa pembandingnya seandainya pada Oktober 2008 tersebut beliau memutuskan untuk semua uangnya di deposito-kan (tidak membeli 1000 Dinar).
Dengan tingkat bagi hasil rata-rata deposito 6 % per tahun, bila dibelanjakan dengan standar kwalitas kehidupan yang tetap – setara 10 Dinar per bulan, maka tabungan beliau bila ditaruh di deposito akan habis pada bulan April 2016 atau ketika beliau baru berusia sekitar 73 tahun.
Dengan Dinar yang mampu melawan inflasi, tabungan Dinar beliau insyaallah akan cukup mempertahankan kwalitas kehidupan dengan 10 Dinar per bulan sampai bulan Februari 2020 atau sampai usia beliau 77 tahun. Dengan dana pensiun berbasis Dinar ini beliau tidak perlu mencemaskan efek inflasi karena hasil penjualan 10 Dinar tersebut akan menyesuaikan atau bahkan mengungguli angka inflasi.
Bila trend kenaikan harga Dinar tahun-tahun mendatang mengikuti trend kenaikan yang sama di kisaran 1.5 % per bulan selama 4 tahun terakhir, nilai 10 Dinar per bulan yang sekarang sekitar Rp 22,000,000 akan menjadi skitar Rp 85,000,000 pada saat dana pensiun tersebut habis di bulan Februari 2020.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah dana pensiun yang tidak segera habis tersebut.
Pertama dengan pengelolaan berbasis Dinar yang kebal inflasi bahkan mampu mengunggulinya, para pensiunan akan mampu menjaga kwalitas kehidupannya untuk waktu yang lebih lama – ketimbang dana pensiun yang hanya di depositokan.
Kedua, meskipun dalam Dinarnya tetap - para pensiunan bisa menaikkan uang pensiunnya (dalam Rupiah) secara otomatis melawan inflasi. Pensiun dengan 10 Dinar per bulan (Rp 22,000,000) sekarang cukup – delapan tahun lagi 10 Dinar per bulan (Rp 85,000,000) insyaAllah juga tetap cukup.
Itulah yang saya sebut uang pensiun yang tidak segera habis itu ! InsyaAllah.


































