Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Senin, 17 Desember 2012

Sejarah pemaksaan pemilikan emas oleh negara



Sepanjang sejarah, emas adalah "resep" bagi permerintah manapun. Rumah tangga di negara barat pernah dilarang untuk memiliki emas selama 30 tahun dan beberapa tahun  pasca Perang Dunia II. Selama 20 tahun sebelumnya, emas mereka  mengalami nasionalisasi atau dibeli paksa pemerintah.

1935: Mussolini menahan 35 ton of cincin kawin  wanita Italia
 "Gold Confiscation" (Pembelian paksa emas rakyat Amerika oleh Negara pada tahun 1933) adalah peristiwa populer, saat itu emas dibeli dengan harga $28/oz sebelum kemudian naik harganya menjadi $35.Saat itu emas masih menjadi basis moneter, sehingga banyak negara termasuk AS   terus menambah cadangannya dengan berbagai cara untuk mempertahankan standar moneternya.

Bulan Desember 1935 diktator Fasis Benito Mussolini menuntut pengorbanan para perempuan di Italia, memaksa mereka untuk mau menyerahkan cincin kawin mereka ke pemerintah untuk kemudian ditukar dengan cincin dari baja. Rabu 18 Desember, koran La Stampa menempatkan judul menggugah untuk peristiwa ini sbb :
·                  "The most noble rite of 'faith' joins all women in Italy in one heroic will"
·                  "The Queen lays down her wedding ring upon the Altar of the Homeland"
·                  "The proud and moving offer of the women in Turin"
Perempuan Italia benar-benar terdorong jiwa patriotiknya dengan berita ini, namun 50 tahun kemudian, mereka merasa dipermalukan ketika harus menyerahkan cincin kawin mereka ke Mussolini, dimana diktator tersebut mendapat 35 ton emas. Akhir hidupnya tragis, Mussolini tewas tergantung di atap pom bensin pada tiang penyangga daging.



1939: Nazi Jerman mencuri emas Cekoslowakia di London

Sedikit menengok sejarah, Nazi mencuri cadangan emas Cekoslowakia yang disimpan di Inggris sehingga menyebabkan kehebohan di media Inggris pada pertengahan 1939 dimana rakyat bersiap untuk perang setelah Jerman menginvasi Polandia pada bulan September.

The Bank for International Settlement didirikan pada tahun 1930 sebagai respon kolapsnya International Gold Standard. Berbasis di negara netral Swiss, dengan maksud bahwa tujuan pendiriannya tidak bersifat politis, dan walaupun staff seniornya adalah senior bankir di bank sentral negara asal, mereka secara elegan patuh pada kode etik yang sama. Mereka berusaha independen sehingga terlepas dari praktik kotor demokrasi dan diktator.

Jadi, ketika tanggal 20 Maret 1939, sesaat setelah Nazi menyerbu Praha, sebuah pesan dikirim ke BIS oleh  Czech National Bank (Bank Sentral Cekoslowakia), BIS kemudian meneruskan pesan tersebut. Isinya meminta Bank of England  (Bank Of England di kemudian hari menjadi titik utama kliring emas fisik  dunia) untuk memindahkan emas yang disimpan di akun BIS no.2 (cadangan emas Cekoslowakia) menjadi akun BIS no. 17 ( cadangan emas German Reichsbank-bank sentral Jerman).

Transfer dilakukan sebelum siapapun di luar bank sentral mengetahuinya, dan kemudian cadangan emas Ceko habis dijual hanya dalam waktu 10 hari.

1966:Inggris menuntut investor koin emas.

Dua dekade setelah perang berakhir, dan 35 tahun setelah Inggris menghentikan Gold Standard, para politisinya mulai ikut campur terhadap investasi emas. Karena Poundsterling jatuh di pasar uang. Maka orang membeli emas, mengirim uang ke luar negeri untuk membelinya dan memperparah defisit neraca perdagangan Inggris yang memang sudah terpuruk. Langkah ini tentu memukul Poundsterling untuk kesekian kalinya.

Sebagai upaya untuk membendungnya,pemerintah memblokade impor koin emas, dan melarang warga negara untuk memiliki lebih dari 4 koin emas.Siapapun yang memiliki koin lebih dari 4 keping, mesti lapor ke   Bank of England, dimana mereka akan memutuskan apakah seseorang itu murni investor atau spekulator.

Hingga bulan Juni 1967 4,847 orang berada dalam pengawasan Bank of England.Kontrol ini di hapus pada masa pemerintahan Thatcher pada 1979.

Wujudkan 1 dinar emas untuk UMR!!!!!



By : muhaimin iqbal - gerai dinar

Kisruh upah buruh di DKI nampaknya akan panjang, pasalnya adalah Upah Minimum Propinsi (UMP) yang ditetapkan untuk tahun 2013 sebesar Rp 2,200,000 ramai-ramai ditolak oleh kalangan pengusaha. Ratusan pengusaha sudah menyatakan keberatannya atas UMP yang naik sekitar 44% dari UMP 2012 tersebut. Apa yang salah sebenarnya ?

Bagi para buruh upah sebesar Rp 2,200,000 (sekitar 1 Dinar) per bulan wajar dianggap belum mencukupi untuk hidup di kota besar seperti Jakarta yang segalanya serba mahal.

Bagi para pengusaha tentu juga sangat berat bila dalam komponen biayanya ada yang melonjak sampai 44 % - karena akan sangat sulit mengimbanginya dengan pertumbuhan usaha mereka.

Walhasil bagi para pengusaha yang bener-bener tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya ini dengan pertumbuhan usaha yang memadai, keduanya akan dirugikan. Si pengusaha akan merugi dan akhirnya menutup usaha dan si buruh akhirnya kehilangan lapangan pekerjaan.

Lantas apa solusinya ? disitulah perlunya timbangan yang adil dalam muamalah. Timbangan yang adil akan baik bagi kedua belah pihak, sebaliknya timbangan yang tidak adil akan merugikan keduanya. Dengan timbangan yang adil orang akan bisa menimbang (melihat) segala sesuatu dengan yang sesungguhnya – bukan dengan yang semu.

Kebutuhan buruh adalah upah yang layak, cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Ketika pertumbuhan upah mereka dari waktu ke waktu kalah dengan inflasi, maka tentu kwalitas kehidupan mereka menurun terus – meskpikun angka pendapatannya naik. Dengan timbangan uang kertas, kemampuan memenuhi kebutuhan ini bias – upah sudah naik kok belum juga cukup ?

coba lihat di tulisan website ini sebelumnya di 
http://www.golddinarjameela.com/2012/11/memimpikan-ump-berbasiskan-dinar-emas.html

Kebutuhan pengusaha adalah pertumbuhan asset, bila pertumbuhan asset mereka lebih rendah dari pertumbuhan inflasi maka nilai usaha mereka menyusut dari waktu ke waktu. Bila pertumbuhan biaya melebihi pertumbuhan pendapatan – maka akan lebih cepat lagi menyusutnya usaha itu. Dengan timbangan yang semu, pengusaha tidak bisa secara riil mengetahui apakah assetnya sungguh-sungguh bertambah atau hanya angkanya saja yang naik mengiringi inflasi.

Dengan timbangan yang adil, maka keduanya dapat melihat secara objektif, apakah kebutuhan buruh semakin terpenuhi dan apakah asset perusahaan dapat bener-bener mengalami  pertumbuhan.

Saya gunakan tiga grafik dibawah untuk menjelaskan hal ini agar dapat lebih mudah dipahami secara visual.

Sejak tahun 2000 sampai sekarang, harga beras rata-rata dalam Rupiah telah mengalami kenaikan 222% dari Rp 2,624 (2000) ke Rp 8,459 (2012) – atau mengalami kenaikan sekitar 10% per tahun.

UMP DKI pada periode yang sama mengalami kenaikan 344% dari Rp 344,257 (2000) ke angka Rp 1,529,150 (2012) atau mengalami kenaikan rata-rata  sekitar 13 % per tahun.


Apakah selama ini berarti buruh mengalami peningkatan pendapatan riil dan meningkat kemakmurannya ? Alahamdulillah mestinya membaik. Ini bisa dilihat di grafik berikutnya di bawah.

Tidak sehebat angkanya dalam Rupiah, tetapi bila dikonversikan ke beras, memang lebih baik. UMP tahun 2000 setara 131 kg beras, kini setara 181 kg beras.


Penghasilan riil naik, cukup untuk membeli beras tetapi belum berarti makmur bila kita gunakan standar tolok ukur yang baku yaitu nisab zakat. Dengan timbangan emas yang kemudian saya konversikan menjadi universal unit of account (poin) yang nilainya setara 1 ¢¢ Dinar (1/10,000 Dinar), UMP buruh DKI ternyata malah turun dari 10,690 poin (2000) ke angka 7,017 poin (2012).


Untuk bisa dikatakan makmur, UMP perlu didongkrak bersama oleh pemerintah, pengusaha dan para buruh sendiri sehingga mencapai angka di atas 16,667 poin per bulan atau setara 20 Dinar per tahun. Bila dirupiahkan sekarang sekitar Rp 3.8 juta per bulan.

Apakah pengusaha akan mampu memakmurkan karyawannya sampai angka tersebut ? lha wong angka Rp 2.2 juta saja untuk tahun 2013 mereka sangat keberatan ?.

Itulah perlunya timbangan yang adil itu. Pengusaha dan buruh duduk bareng, menimbang bareng kemampuan perusahaan tumbuh dan kemampuan membayar ke buruh yang sesuai. Kemudian disepakati bareng, ayo kerja keras bareng - untuk mencapaibenchmark kemakmuran yang dicita-citakan bersama.




Kalau dahulu ada ungkapan ‘katakanlah dengan bunga’ , maka sekarang saya ganti dengan ‘katakanlah dengan poin’ – agar kita bisa ‘menimbang’ secara adil, agar buruh dan pengusaha punya benchmark yang sama ! InsyaAllah.

Jumat, 14 Desember 2012

Sistem Barter yang islami....



By: muhaimin iqbal-gerai dinar

Ketika jual beli menggunakan uang mulai dikenal masyarakat sekitar 2,500 tahun lalu, sejak saat itu uang menjadi solusi yang luar biasa dari masalah-masalah yang dihadapi di ekonomi yang sebelumnya berbasis barter. Uang menjadi prime mover (penggerak utama ) bagi ekonomi hingga jaman modern kini. Hanya saja perkembangan uang (kertas) setengah abad terakhir mulai menimbulkan masalah besar, yang bisa jadi lebih besar dari masalah yang diatasi oleh uang itu.

Masalah besar pertama adalah ketimpangan antar negara-negara di dunia. Negara yang kaya akan sumber daya alam, bisa jatuh miskin melalui uang kertas. Dia harus menukar hasil dari alamnya dengan uang kertas yang nilainya tergantung pada negara yang menerbitkan uang tersebut

.Uang kertas negeri lain yang terus disusutkan nilainya ini kemudian ditukar dengan produk-produk yang juga dari negara  yang mencetak uang tersebut. Maka melalui uang inilah negara yang kaya sumber daya alam sekalipun rakyatnya bisa menjadi miskin dan tergantung pada negara lain.

Masalah besar kedua adalah uang menjadi sumber pemiskinan kaum pekerja. Mereka bekerja keras berpuluh tahun, tetapi hasil jerih payahnya yang tersimpan dalam bentuk dana pensiun, asuransi, tunjangan hari tua dlsb. terus tergerus oleh inflasi. Ini yang membuat sekitar 9/10 pekerja tidak siap menyongsong pensiunnya – karena bekal financial mereka rata-rata tidak cukup.

Tergantung pada tingkat ketergantungan pada (uang) negara lain dan seberapa cepat uang meluruh nilainya melalui proses inflasi, dua hal ini saja sudah cukup untuk menimbulkan masalah yang lebih besar dari masalah yang berhasil diselesaikan oleh uang itu pada era ekonomi barter yang digantikannya.

Lantas apakah solusinya kita perlu melompat balik ke ekonomi barter ?, belum tentu juga demikian !. Ekonomi berbasis barter hanya akan bisa feasible bila dia bisa mengatasi 5 masalah yang selama tiga millennium terakhir bisa diatasi dengan uang.

Oleh karenanya ekonomi berbasis uang tetap menjadi solusi terutama bila uang itu bisa mengatasi dua masalah yang ditimbulkan tersebut di atas – yaitu ketimpangan antar negara dan inflasi. Namun karena realitanya selama setengah abad terakhir tidak ada tanda-tanda dua masalah besar tersebut bisa diatasi para pemimpin negara-negara di dunia, maka ekonomi berbasis barter bisa menjadi alternatif  yang patut dipertimbangkan.

Karena barter modern akan bersaing dengan ekonomi yang berbasis uang, maka barter modern-pun harus bisa mengatasi 5 masalah yang selama ini berhasil diatasi oleh ekonomi yang berbasis uang. Lima masalah tersebut adalah sebagai berikut.



1.   Coincidence of wants (keinginan yang kebetulan sama): masyarakat yang akan berbater harus saling membutuhkan barang yang dimiliki oleh pihak lain.
2.     Units of account (satuan nilai) : dua barang yang berbeda harus bisa dinilai secara adil oleh ‘timbangan nilai’ yang disepakati oleh kedua belah pihak. Ketika kambing mau ditukar dengan beras, apa satuannya ?
3.     Sum / Sub – Division (penjumlahan dan pembagian) : Kemudahan barang-barang untuk dijumlahkan atau dibagi. Ketika kambing mau ditukar dengan beras dan ayam, bagaimana menjumlahkan beras dan ayam dan bagaimana membagi bagian kambing yang sesuai untuk beras dan ayam ?
4.     Balance of Payment (kelebihan/kekurangan pembayaran) : Bagaimana menghitung kekurangan atau kelebihan bayar satu benda dengan benda lainnya. Ketika beras dan ayam tidak cukup ditukar dengan kambing, atau kambing berlebih untuk ditukar beras dan ayam – bagaimana kelebihan atau kekurangan ini ditangani ?
5.     Store of value (penyimpan nilai) : Bagaimana menyimpan hasil barter, pemilik kambing yang menukarnya dengan beras dan ayam – yang keduanya tidak segera dikonsumsi – akan memiliki masalah baru yaitu bagaimana menangani ayam dan berasnya tersebut. Masalah menjadi lebih besar ketika hasil barter berupa barang yang mudah rusak (sayur mayur dlsb) atau barang yang memerlukan perawatan khusus (kambing dan sejenisnya).

Bagaimana mengatasi masalah-masalah ini  di jaman modern ? selain teknologi informasi yang telah berkembang sangat jauh dewasa ini yang bisa menjadi solusi atas problem pertama – coincidence of wants, empat masalah lain bisa diatasi dengan dua solusi yaitu ‘timbangan yang adil’ dan pasar.

Solusi pertama yaitu timbangan yang adil dapat dikembangkan dari ungkapan Imam Ghazali bahwa : “Allah Yang Maha Besar telah menciptakan perak dan emas sebagai hakim dan perantara bagi seluruh komoditi sehingga harta kekayaan manusia bisa dinilai dengannya…perak dan emas adalah seperti cermin yang dirinya sendiri tidak memiliki warna, tetapi dia bisa menampilkan semua warna dari benda-benda yang ada”.

Timbangan yang adil atau bahasa ekonominya disebut unit of account bersama store of value adalah dua dari tiga sifat uang yang biasanya tidak diatur secara khusus di system hukum positif. Hukum positif hanya mengatur sifat yang ketiga dari uang yaitu medium of exchange atau alat tukar.

Jadi kalau Anda mengukur kekayaan Anda adalah setara 20 ekor kambing dan benar-benar Anda pelihara 10 ekor kambing, maka tidak ada hukum yang melarang Anda melakukannya demikian. Tetapi bila Anda berhutang sebesar Rp 2.5 juta, dan Anda memaksa bayar dengan seekor kambing besar – yang nilainya Rp 2.5 juta, maka Anda bisa dianggap melanggar hukum positif karena yang diakui sebagai alat bayar (legal tender) hanyalah uang kertas negeri yang bersangkutan.

Dengan timbangan yang adil berbasis emas seperti yang diungkapkan oleh Imam Ghazali tersebut, kita bisa menghadirkan unit of account yang berlaku dimana saja dan kapan saja  - karena universalitas dari emas yang memang bisa diterima dimana saja dan tidak mengenal expired atau kedaluwarsa. Karena sifatnya yang demikian maka unit of account yang berbasis emas saya sebut universal unit of account.

Dengan universal unit of account atau yang di http://www.indobarter.com saya sebut point, tiga dari lima masalah di system barter tersebut di atas sudah bisa diatasi. Masalah unit of account teratasi penuh, demikian pula dengan sebagian masalah di sum/sub-divisionbalance of payment dan sebagian masalah di store of value.

Solusi kedua yaitu pasar dapat mengatasi sebagian masalah yang tidak cukup diatasi dengan universal unit of account. Pasar barter yang bisa dikembangkan dengan multileg barter – barter dengan jumlah kaki (pihak) yang jamak bisa merangkai sejumlah pihak sekaligus untuk saling memenuhi atau mendekati coincident of wants-nya secara bersama-sama.

Dengan adanya pasar yang didukung system informasi yang canggih balance of payment dapat ditemukan pihak yang bisa mengisi/mengambilnya, dan bahkan masalah store of value akan dapat diisi oleh pihak-pihak yang memang bisa/sanggup menangani barang-barang yang mudah rusak nilainya atau barang yang menimbulkan biaya ekstra untuk menyimpannya.

Namun dengan tingkat kemudahan transaksi dengan uang yang lebih tinggi – meskipun ada dua kelemahan mendasar dari uang kertas yang saya sebutkan di awal tulisan di atas – harus diakui bahwa ekonomi dunia masih akan didominasi oleh ekonomi yang berbasis mata uang.  Tetapi transaksi perdagangan barter juga bukan berarti kecil, dua tahun lalu saja transaksi barter di dunia sudah mencapai US$ 3.7 trilyun.

Walhasil sebenarnya masyarakat modern ini masih bisa memiliki dua pilihan. Pilihan pertama berekonomi dengan basis uang seperti yang terjadi selama ini, mudah karena sudah terbiasa tetapi beresiko inflasi dan adanya ketimpangan antar negara yang satu dengan yang lain. Pilihan kedua adalah mencoba system barter, sedikit repot awalnya karena harus membiasakan diri – tetapi lebih aman dari inflasi dan kemakmuran lebih terjaga.


Barangkali karena alasan yang kedua inilah masyarakat di Nusa Tenggara Timur hingga kini masih terus mempraktekkan system barter mereka yang disebut  Du-Hope. Sebuah disertasi  Doktor  di Universitas Indonesia bahkan berhasil membuktikan bahwa system barter yang diterapkan oleh masyarakat  NTT tersebut mampu menjadi jaring pengaman sosial yang efektif – ketika uang tidak ada, orang masih bisa hidup dengan barter menggunakan barang-barang yang ada. Wa Allahu A’lam.

Kamis, 13 Desember 2012

Dinar islam adalah dinar emas..bukan dinar Irak yang berbasiskan uang kertas




Pada awal-awal kami mengenalkan Dinar Islam, tidak sedikit yang bertanya apakah ini Dinar Iraq, apakah ini bukan MLM, apakah ini semacam Pohon Mas, apakah ini sejenis yang dipakai judi dulu itu, dll. Satu per satu Insya Allah akan kami coba terangkan. Untuk kali ini kami ingin mengungkapkan lagi bahwa Dinar Islam bukan Dinar Iraq. Sebenarnya nama mata uang "dinar" juga di pakai di beberapa negara Timur Tengah, di antaranya: Kuwait, Oman, Bahrain, Yordania dan Iraq. Dinar-dinar ini adalah uang kertas biasa (atau uang koin biasa), sedangkan Dinar Islam adalah uang emas 22 karat 4.25 gram. (Dengan pemikiran tertentu ada juga yang mencetak Dinar Islam dengan emas 24 karat.),,baca tulisan kami di 

www.golddinarjameela.com/2012/12/dinar-emas-itu-22-karatbukan-24-karat.html



Tadi saat saya berselancar di internet, saya menemukan penawaran dinar Irak. berikut bunyinya:

Dinar Irak
Pecahan IQD 25, 000 dan dijual dalam bentuk paket.
 Harga agen Rp 9, 5, - per dinar dan dijual dalam pecahan terkecil IQD 25, 000.
 ( Khusus untuk Agen* * * ) 
 Untuk para investor perorangan dapat membeli minimal 1 paket IQD 25, 000 harga Rp 450, 000, - ( sudah termasuk ongkos kirim seluruh Indonesia). ( * * * Untuk Agen minimal pembelian IQD 1, 000, 000 harga Rp 9, 500, 000, -)
 Cara Pembayaran: Tunai
 Jumlah: 1 paket
 Kemas & Pengiriman: paket IQD 25,000.
 Gambar Dinar Irak adalah seperti ini:

(pecahan Dinar Iraq 10.000)

Saudara-saudara, Dinar Irak ini BUKANLAH Dinar Islam yang kita maksud. 

Dinar Islam 
Gambar dari dinar Islam yang kami maksud adalah sebagai berikut:

Agar kita mengenal Dinar Islam ini lebih dekat, kami petikkan uraian dari buku Muhaimin Iqbal "Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar dan Dirham" yang menjelaskan detail tentang Dinar Islam. 

 Di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924. 

 Standarisasi berat uang Dinar dan Dirham mengikuti Hadits Rasulullah SAW, ”Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah” (HR. Abu Daud). 

 Pada zaman Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 642 Masehi bersamaan dengan pencetakan uang Dirham pertama di Kekhalifahan, standar hubungan berat antara uang emas dan perak dibakukan yaitu berat 7 Dinar sama dengan berat 10 Dirham. 

 Berat 1 Dinar ini sama dengan 1 mitsqal atau kurang lebih setara dengan berat 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya . Dari Dinar-Dinar yang tersimpan di musium setelah ditimbang dengan timbangan yang akurat maka di ketahui bahwa timbangan berat uang 1 Dinar Islam yang diterbitkan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah 4.25 gram, berat ini sama dengan berat mata uang Byzantium yang disebut Solidos dan mata uang Yunani yang disebut Drachma. 

Atas dasar rumusan hubungan berat antara Dinar dan Dirham dan hasil penimbangan Dinar di musium ini, maka dapat pula dihitung berat 1 Dirham adalah 7/10 x 4.25 gram atau sama dengan 2.975 gram .



Sampai pertengahan abad ke 13 baik di negeri Islam maupun di negeri non Islam sejarah menunjukan bahwa mata uang emas yang relatif standar tersebut secara luas digunakan. Hal ini tidak mengherankan karena sejak awal perkembangannya-pun kaum muslimin banyak melakukan perjalanan perdagangan ke negeri yang jauh. Keaneka ragaman mata uang di Eropa kemudian dimulai ketika Republik Florence di Italy pada tahun 1252 mencetak uangnya sendiri yang disebut emas Florin, kemudian diikuti oleh Republik Venesia dengan uangnya yang disebut Ducat.

 Pada akhir abad ke 13 tersebut Islam mulai merambah Eropa dengan berdirinya kekalifahan Usmaniyah dan tonggak sejarahnya tercapai pada tahun 1453 ketika Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel dan terjadilah penyatuan dari seluruh kekuasan Kekhalifahan Usmaniyah. 

 Selama tujuh abad dari abad ke 13 sampai awal abad 20, Dinar dan Dirham adalah mata uang yang paling luas digunakan. Penggunaan Dinar dan Dirham meliputi seluruh wilayah kekuasaan Usmaniyah yang meliputi tiga benua yaitu Eropa bagian selatan dan timur, Afrika bagian utara dan sebagian Asia.

 Pada puncak kejayaannya kekuasaan Usmaniyah pada abad 16 dan 17 membentang mulai dari Selat Gibraltar di bagian barat (pada tahun 1553 mencapai pantai Atlantik di Afrika Utara ) sampai sebagian kepulauan nusantara di bagian timur, kemudian dari sebagian Austria, Slovakia dan Ukraine dibagian utara sampai Sudan dan Yemen di bagian selatan. Apabila ditambah dengan masa kejayaan Islam sebelumnya yaitu mulai dari awal kenabian Rasululullah SAW (610) maka secara keseluruhan Dinar dan Dirham adalah mata uang modern yang dipakai paling lama (14 abad) dalam sejarah manusia.

Selain emas dan perak, baik di negeri Islam maupun non Islam juga dikenal uang logam yang dibuat dari tembaga atau perunggu. Dalam fiqih Islam, uang emas dan perak dikenal sebagai alat tukar yang hakiki (thaman haqiqi atau thaman khalqi) sedangkan uang dari tembaga atau perunggu dikenal sebagai fulus dan menjadi alat tukar berdasar kesepakatan atau thaman istilahi. Dari sisi sifatnya yang tidak memiliki nilai intrinsik sebesar nilai tukarnya, fulus ini lebih dekat kepada sifat uang kertas yang kita kenal sampai sekarang .

 Dinar dan Dirham memang sudah ada sejak sebelum Islam lahir, karena Dinar (Dinarium) sudah dipakai di Romawi sebelumnya dan Dirham sudah dipakai di Persia. Kita ketahui bahwa apa-apa yang ada sebelum Islam ada yang dilarang dan ada yang tidak dilarang setelah Iaslam hadir. Dinar dan Dirham masuk kategori yang tidak dilarang bahkan digunakan.


Di Indonesia di masa ini, Dinar dan Dirham awalnya diproduksi oleh Logam Mulia - PT. Aneka Tambang TBK. Saat ini Logam Mulia-lah yang secara teknologi dan penguasaan bahan mampu memproduksi Dinar dan Dirham dengan Kadar dan Berat sesuai dengan Standar Dinar dan Dirham di masa awal-awal Islam.

Standar kadar dan berat inipun tidak hanya di sertifikasi secara nasional oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), tetapi juga oleh lembaga sertifikasi logam mulia internasional yang sangat diakui yaitu London Bullion Market Association (LBMA). Namun, untuk memenuhi kebutuhan dinar Islam yang semakin besar, Gerai Dinar bekerja sama dengan Perum Peruri untuk mencetak dinar dan dirham dengan spesifikasi yang sama.






Seperti di awal Islam yang menekankan Dinar dan Dirham pada berat dan kadarnya - bukan pada tulisan atau jumlah/ukuran/bentuk keping - maka berat dan kadar emas untuk Dinar serta berat dan kadar perak untuk Dirham produksi Logam Mulia dan Perum Peruri di Indonesia saat ini memenuhi syarat untuk kita sebut sebagai Dinar dan Dirham Islam zaman sekarang.



Seluruh Dinar dan Dirham yang diperkenalkan & dipasarkan oleh Gerai Dinar adalah produksi langsung dari Logam Mulia - PT. Aneka Tambang, Tbk. dan Perum Peruri.