Selasa, 08 Januari 2013
Kembalinya mata uang sejati ke kehidupan kita
By : Muhaimin iqbal - gerai dinar
Bila tahun 2010 Anda memiliki uang sebesar Rp 6,518,- Anda sudah bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Dua tahun kemudian 2012, uang yang sama bila Anda belikan beras tinggal memperoleh 0.86 kg. Tahun 2012 Anda perlu uang sebesar Rp 7,550,- untuk bisa membeli 1 kg beras kwalitas rata-rata. Begitu banyak kita diingatkan untuk menegakkan timbangan, tetapi justru instrumen perdagangan utama manusia modern yaitu uang kertas secara amat gamblang dan terus menerus mengurangi timbangan itu.
Takaran dan timbangan yang paling banyak digunakan untuk jual beli manusia modern bukan untuk menakar volume atau menimbang berat, tetapi untuk menentukan nilai. Lantas bagaimana bila penentu nilai itu sendiri berubah-ubah nilai atau daya belinya dari waktu ke waktu, tidak ada standar yang sama di antara satu negeri dengan negeri lainnya ?.
Jawabannya adalah seperti menakar dengan takaran yang volumenya terus mengecil, seperti menimbang dengan anak timbangan yang terus bertambah ringan. Hasil yang bisa ditakar atau ditimbang menjadi semakin sedikit. Uang kertas kita adalah takaran yang volumenya mengecil atau timbangan yang anak timbangnya terus bertambah ringan tersebut.
Dampak yang lebih luas dari tidak adanya takaran atau timbangan yang baku adalah perdagangan di dunia modern seperti orang-orang yang berjalan di lorong gelap, hanya yang membawa lampu sendiri yang tahu sedang berjalan kemana – sementara mayoritas orang tidak tahu sedang ke arah mana dia berjalan.
Pemerintah-pemerintah dunia mungkin tahu apa yang sedang mereka lakukan, tetapi mayoritas rakyat tidak sadar atau tidak tahu bahwa hasil jerih payah mereka bekerja bertahun-tahun –terus menyusut bila untuk menakar/menimbang (baca : membeli) barang-barang kebutuhan seperti dalam contoh beras tersebut di atas.
Bagaimana era kegelapan timbangan ini membuat manusia kehilangan arah dapat diilustrasikan dari kasus berikut :
Pada musim qurban 2010, harga seekor kambing super (sekitar 40 kg) harganya di kisaran Rp 1,700,000. Pada tahun 2012 kambing qurban dengan berat yang kurang lebih sama, harganya di kisaran Rp 2,500,000,-. Mana yang lebih mahal ? dari sisi angka Rupiah tentu tahun 2012 lebih mahal 47% dari harga tahun 2010.
Kita bandingkan lagi dengan harga kambing di Amerika pada tahun-tahun tersebut. Untuk kambing dengan berat yang kurang lebih sama, tahun 2010 harganya US$ 100,- dan tahun 2012 harganya di kisaran US$ 150,-. Harga kambing di Amerika dari tahun 2010 ke tahun 2012 mengalami kenaikan sedikit saja lebih tinggi dari harga kambing di kita yaitu di kisaran 50%.
Dengan timbangan Rupiah dan Dollar selain kita tidak tahu apakah harga tahun 2012 benar-benar lebih tinggi dan seberapa besar lebih tingginya, kita juga tidak bisa langsung membandingkan mana yang lebih mahal harga kambing di Indonesia dalam Rupiah atau kambing di Amerika dalam Dollar.
Sekarang mari kita coba gunakan timbangan yang bersifat universal atau saya sebut universal unit of account berupa Dinar atau Point ( 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar). Untuk memudahkan penggunaan Dinar atau Point ini, mulai hari ini Kalkulator Dinar saya pasang di www.geraidinar.com (kalau kesulitan mencarinya lihat di menu paling atas ataumenu paling bawah) dan Kalkulator Point saya pasang di www.indobarter.com
Baik Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point dapat digunakan untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke seluruh mata uang utama dunia atau sebaliknya dari seluruh mata uang utama dunia ke Dinar atau Point. Untuk US$ maupun Rupiah bahkan bisa untuk menghitung konversi Dinar atau Point ke mata uang dan sebaliknya, untuk waktu mundur sampai 1970.
Dengan langkah yang sama saya ulangi untuk tahun 2012, maka harga kambing super Rp 2,500,000,- ternyata setara dengan 1.1357 Dinar. Sekarang kita bisa membandingkan dengan timbangan yang adil itu, harga kambing 2012 ternyata memang lebih mahal tetapi hanya naik sekitar 4.7 % dalam dua tahun.
Maknanya adalah dengan Dinar-pun harga kambing bisa naik, yaitu manakala demand melebihi supply. Ketika orang yang mampu membeli qurban kambing super lebih banyak dari pertambahan supply-nya – maka harganya memang akan naik. Tetapi kenaikan karena demand yang melebihi supplyini, dalam jangka panjang akan menuju kestabilan karena akan menarik bagi yang akan men-supply kambing qurban berikutnya.
Dengan mengetahui bahwa kenaikan harga kambing riilnya hanya 4.7% selama dua tahun 2010 ke 2012, lantas mengapa dengan uang Rupiah naiknya sampai 47% ?. Itulah kenaikan karena inflasi harga kambing dalam Rupiah selama dua tahun terakhir.
Bila kita sederhanakan misalnya kenaikan harga itu hanya dipengaruhi oleh dua sebab yaitu faktor inflasi dan faktorsupply and demand atau saya formulasikan KENAIKAN HARGA = F(Inflasi)*(1+ Kenaikan Karena Supply and Demand), maka 47% = F(Inflasi)* (1+4.7%). Dari ini kita akan ketemu bahwa inflasi Rupiah saja telah menaikkan harga kambing qurban kelas super sebesar 44.89% dalam dua tahun dari 2010 ke 2012.
Kalkulator yang sama bisa kita gunakan untuk menghitung kenaikan harga kambing dengan ukuran yang kurang lebih sama di negeri Paman Sam. Harga kambing US$ 100 pada tahun 2010 setara dengan 0.5814 Dinar, harga kambing US$ 150 pada tahun 2012 setara dengan 0.6383 Dinar. Jadi dalam Dinar kenaikan kambing di AS dari 2010 ke 2012 adalah 9.8%.
Karena dalam Dollar naiknya sampai 50 % ( dari US$ 100 ke US$ 150), maka sebenarnya kenaikan karena faktor inflasinya adalah 50% = F(Inflasi)*(1+9.8%). Jadi Faktor inflasi-nya saja mempengaruhi kenaikan harga kambing 45.54% di Amerika antara tahun 2010 ke 2012.
Setelah menggunakan timbangan yang sama, kita juga bisa mengetahui bahwa kambing qurban kelas super yang di Indonesia tahun lalu berharga 1.1357 Dinar jauh lebih tinggi dari kambing dengan berat yang kurang lebih sama di Amerika yang hanya 0.6383 Dinar. Apa penyebabnya ?, lagi-lagi antara lain ya karena supply and demand tadi, ongkos produksi dan lain sebagianya – tetapi bukan karena faktor inflasi, karena faktor inflasi dalam artian penurunan daya beli uang-nya sudah kita eliminir.
Lagi-lagi perhitungan di atas membuktikan akan adanya suatu alat tukar atau suatu timbangan yang stabil daya belinya sepanjang jaman. Bila di jaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam harga kambing qurban di kisaran 1 Dinar, setelah lebih dari 1,400 tahun perhitungan-perhitungan diatas menunjukkan 1 Dinar yang sama tetap dapat untuk membeli kambing kwalitas super sekarang.
Bandingkan dengan uang kertas dalam rentang 33 tahun terakhir saja misalnya, dari 1979 harga kambing kelas super yang wajar Rp 25,000-an – naik 100 kali menjadi Rp 2,500,000,- tahun 2012. Dengan pendekatan yang sama menggunakan Kalkulator Dinar di atas, kita bisa tahu bahwa tahun 1979 kambing super berharga 0.9259 Dinar sedangkan tahun 2012 seharga 1.1357 Dinar atau hanya mengalami kenaikan riil 22.65 % selama 33 tahun.
Bahwasannya dalam Rupiah pada rentang waktu 33 tahun itu harga kambing super naik menjadi 100 kalinya atau naik 9,900 % itu karena ada inflasi uang kertas sebesar 8,071.75% !.
Bagaimana dengan beras dalam awal tulisan ini yang saya jadikan sebagai contoh kasus ‘pengurangan timbangan’ yang kita hadapi sehari-hari dalam jual beli kita ?. Bisa juga kita timbang dengan Kalkulator Dinar yang sama, hanya saja karena satuan Dinar yang bernilai jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai 1 kg beras, ini ibarat menimbang berat badan Anda dengan jembatan timbang yang biasa digunakan untuk menimbang truk. Bisa, tetapi menjadi kurang akurat.
Untuk bisa menimbang barang-barang yang nilainya kecil, timbangan Dinar tersebut perlu diperkecil sampai mendekati ukuran yang sesuai peruntukannya. Dalam hal ini Dinar saya pecah menjadi 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ Dinar atau saya sebut 1 Point. Kalkulator yang sudah saya perkecil menjadi Kalkulator Point inilah yang dapat dilihat diwww.indobarter.com.
Efek inflasi Rupiah terhadap harga beras 2 tahun terakhir menjadi 15.83% = F(Inflasi) * (1-19.05%), atau inflasi Rupiah membawa kenaikan harga beras sampai 19.56% dalam rentang waktu tersebut. Kenaikan karena inflasi ini sebagian ‘tersembunyikan’ oleh penurunan harga riilnya.
Dengan contoh-contoh perhitungan menggunakan Kalkulator Dinar maupun Kalkulator Point tersebut di atas, insyallah kita sekarang bisa menemukan kembali timbangan untuk jual-beli yang adil itu. Yang oleh Imam Ghazali sudah diingatkan hampir 1000 tahun lalu bahwa ‘hanya emas dan perak-lah timbangan yang adil untuk penentu harga-harga itu’.
Timbangan yang adil adalah ibarat lampu yang menerangi jalan, kita bisa tahu arah yang benar apakah fitrah mekanisme pasar supply and demand yang mempengaruhi harga-harga kita, atau karena faktor lain seperti utamanya inflasi ini. Bayangkan kalau kenaikan harga karena inflasi seperti harga beras 2010-2012 tersebut kita kira karena kelebihan demand terhadap supply, kita akan salah mengambil keputusan.
Karena penyebabnya inflasi bukan karena supply yang tidak mencukupi demand, maka yang harus diperbuat para pemimpin adalah mengendalikan inflasi ini jangan sampai terjadi – agar rakyat bisa tahu arah yang benar – berapa seharusnya tingkat produksi yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya.
Saya tahu mungkin tidak banyak yang akan mau menggunakan ‘lampu’ timbangan yang adil dalam bentuk Kalkulator Dinar dan Kalkulator Point ini, tetapi ibarat berjalan di lorong yang gelap – apapun yang bisa menerangi jalan seharusnya kita ambil dan gunakan. Wa Allahu A’lam.
Sabtu, 05 Januari 2013
System ekonomi monyet
by : muhaimin iqbal-gerai dinar
Ketika seekor anak kucing dalam bahaya, ibunya mengamankannya dengan menggigit lehernya untuk dibawa menjauh dari bahaya. Ketika anak monyet dalam bahaya, induk monyet lari dahulu kemudian anaknya mengejar dan nggemblok di punggungnya. Anak kucing pasif dan ibunya yang aktif, sedangkan anak monyet aktif meskipun ibunya tidak peduli. Dari keduanya, mana yang lebih dekat dengan system ekonomi kita saat ini ?
Ekonomi rakyat kita sesungguhnya dalam bahaya karena setelah 67 tahun merdeka pendapatan rata-rata kita baru di kisaran US$ 3,500 atau sekitar 15 Dinar atau sekitar 75 % dari nishab zakat. Hidup di negeri yang berlimpah sumber daya alam dan manusia-manusia cerdas di dalamnya, pencapian ini mestinya patut direnungkan.
Kira-kira apa penyebabnya ? ada dua area yang menurut saya sendiri menjadi penyebab utamanya – dan ini adalah dua unsur utama ekonomi, yaitu sisi penguasaan produksi dan sisi penguasaan pasar.
Untuk produksi kita masih dijejali dengan berbagai produk orang lain, sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Bangun tidur kita langsung mencari HP produk Amerika, Canada, Finlandia, Jepang, Korea ataupun yang dari China.
Duduk di meja makan, sarapan pagi kita makan mie atau roti yang bahan baku terigunya 100% impor. Well kadang makan nasi pakai tempe, tetapi sebagian beras dan kedelainya juga impor.
Begitu seterusnya menjelang tidur noton berita dahulu dari televisi produksi Jepang, Korea atau China lagi. Berselimut di kamar yang sejuk dengan AC produksi Jepang, Korea atau China lagi. Ironinya ketika kedinginan, kemulan dengan selimut tebal juga dari China.
Tidak masalah memang menggunakan produk impor, tidak juga haram karena memang kita diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal – dan tentunya juga saling bermuamalah. Masalahnya adalah ketika muamalah itu lebih berat ke satu arah, maka negeri yang kaya sumber daya alam bisa ketinggalan jauh dalam hal kemakmurannya.
Penguasaan pasar yang canggih oleh bangsa lain dalam system perdagangan internasional yang membuat ekonomi kita lebih condong pada ekonomi konsumsi ketimbang ekonomi produksi, inilah yang membuat keunggulan sumber daya alam maupun sumber daya manusia kita menjadi tidak terolah secara optimal.
Dengan laut kita yang sangat kaya, bumi kita yang sangat subur lengkap dengan manusianya yang banyak yang cerdas-cerdas – mestinya kita berpeluang untuk menjadi negara yang makmur – lha wong dari dulu kita tahu bumi kita ini adalah bumi yang gemah ripah loh jiawi, tongkat dan kayupun jadi tanaman, sungai dan lautannya adalah ‘kolam susu’ ?.
Tetapi kalau realitanya rata-rata penduduk negeri ini berpenghasilan dibawah nishab zakat, pasti ada yang salah dalam pengelolaan kekayaan yang melimpah di sekitar kita – yang membuat kita seperti itik yang merana di lumbung padi.
Lantas siapa yang bisa membuat perubahan atas situasi ini ? Disinilah relevannya peribahasa anak kucing dan anak monyet di awal tulisan ini. Nampaknya kita bukan ibarat anak kucing yang induknya ‘care’ dan menyelamatkan kita ketika kita dalam bahaya.
Ibarat kita lebih mendekati ibarat anak monyek yang induknya berlari dahulu menyelamatkan diri ketika melihat bahaya datang. Paling tidak dari media koran, televisi dan internet – kita menyaksikan betapa para pemimpin kita di eksekutif, legislatif dan yudikatif – umyek dengan kegaduhannya sendiri.
Dari sibuk memperebutkan kekuasaan, sibuk memupuk pundi-pundi untuk perebutan kekuasaan, korupsi sampai intrik-intrik politik yang tiada henti. Lantas siapa yang menyelamatkan rakyat ini dari kesulitan demi kesulitan ?, dari ekonomi yang didominasi oleh produk asing ataupun konglomerasi dalam negeri ? ya rakyat ini sendirilah yang harus aktif menyelamatkan diri lha wong ‘induk’ kita nampak tidak peduli dan bahkan pada berlarian sendiri-sendiri.
Tahun ini dan tahun depan, para elit negeri ini akan disibukkan oleh gonjang-ganjing politik di arena pemilu legislatif dan eksekutif. Pada saat yang bersamaan, ekonomi dunia yang lagi belum sembuh benar dari krisis sejak 2008 – mungkin akan terus berlanjut dan bahkan juga mungkin ada trigger krisis ekonomi baru oleh perubahan geopolitik dunia seperti meningkatnya ketegangan China dengan Jepang dlsb.
Rakyat seperti kita-kita, harus bisa proaktif menyelamatkan urusan ekonomi kita sendiri, dengan memulai dari orang-orang yang kita kenal di lingkungan atau komunitas kita. Dengan membuka hati dan tangan kita untuk saudara kita, bagaimana kita bisa saling membantu. Bagaimana kita bisa saling membeli atau bertukar produk-produk kita sendiri.
Mulai dari lingkup yang kecil, ketika roda-roda gigi itu saling memutar – maka dia akan sanggup memutar roda gigi yang lebih besar dan seterusnya. Dengan ekonomi yang berbasis silaturahim kerakyatan ini, insyaAllah kita akan bisa selamat meskipun ‘induk-induk’ kita sibuk berlarian menyelamatkan diri sendiri. Wa Allahu A’lam.
Jumat, 04 Januari 2013
Pentingnya pendidikan finansial buat semua orang
01.39
No comments
Oleh Muhaimin Iqbal (geraidinar.com)
Ketika akhir 2007 saya menulis teori Deret Fibonacci untuk menggambarkansequel kehancuran uang kertas, saat itu harga Dinar dalam Rupiah berada pada angka Rp 1,096,900 dan berdasarkan teori tersebut saya tulis akan mencapai kisaran Rp 1.8 juta untuk puncak berikutnya – puncak ini kemudian benar-benar terlampaui dalam waktu kurang dari 3.5 tahun. Dalam US$ saat itu harga Dinar di kisaran angka US$ 116, kini berada di kisaran US$ 214 – jauh diatas puncak Fibonacci berikutnya yang saya prediksi dalam tulisan tersebut US$ 200. Bagi Anda yang belajar financial ini bersama saya di situs ini dan mengambil langkah konkrit sejak saat itu, insyaallah asset hasil kerja keras Anda sudah terproteksi dari kehancuran nilai – inilah kekuatan bagi orang-orang yang mau belajar memahami fenomena financial.
Bagaimana di tahun 2013 ini?
sungguh mencengangkan bahwasannya di awal tahun ini , dinar emas sudah mencapai harga 2,3 hingga 2,4 juta rupiah,,,artinya ada kenaikan lebih dari 100 persen di bandingkan 4 tahun lalu...selamat buat para penggiat dinar yang sudah menikmati dan mengambil langkah beralih ke dinar emas..
Dalam hal financial education untuk mengajak masyarakat faham fenomena financial ini, di dunia ada penulis kondang yang beberapa bukunya sudah saya ulas di situs ini yaitu Robert T Kiyosaki – yang bukunya selalu laris dalam skala global - temanya hampir seragam yaitu pendidikan financial. Buku terbaru dia bahkan lebih gamblang lagi ‘menelanjangi’ ketidak adilan system financial global saat ini, buku ini berjudul Unfair Advantage : The Power of Financial Education (Plata Publishing, Scottsdale-AZ, 2011).
Mirip dengan apa yang saya tulis tiga setengah tahun lalu tersebut diatas, di introduction dari buku Robert terbaru ini Robert mengungkapkan kekonyolan-kekonyolan system financial dan ekonomi global saat ini. Dia misalnya mempertanyakan mengapa pemerintahnya (AS) tetap tidak mengakui adanya inflasi yang tinggi, padahal harga emas dalam sebelas tahun melambung nyaris lima kali lipat dari US$ 282/Oz (4/01/2000) menjadi US$ 1,405/oz (30/12/2010).
Sinyalemen kehancuran US$ yang mulai sering diungkap penulis sekaliber Robert T Kiyosaki ini, sesungguhnya makin hari makin nampak jelas buktinya – ya antara lain terlihat dari harga emas tersebut diatas. Bahkan dalam dua hari terakhir ini dunia financial juga diguncang oleh bukti lain yang selama ini ‘lebih diakui’ oleh para praktisi business modern – yaitu penilaian lembaga rating Standard and Poors (S & P) terhadap kemampuan AS untuk membayar hutang.
Seolah mengingatkan masyarakat dunia, S & P dua hari lalu menurunkanstandard rating hutang Amerika dari AAA (paling aman) menjadi tetap AAA (masih paling aman) tetapi memiliki outlook negatif – artinya bisa anjlok kapan saja !. Bagi saya sendiri penilaian S & P terhadap hutang Amerika (yang juga berarti terhadap US$) adalah semacam konfirmasi atau pembenaran terhadap teori-teori dan statistik seperti yang saya ungkap di awal tulisan ini – bahwa uang kertas US$ dan juga uang kertas-uang kertas lainnya memang dalam posisi trend penurunan nilai yang membahayakan.
Lantas bagaimana kita mengajak masyarakat untuk belajar masalah ini sehingga mereka bisa faham fenomena financial dan tidak menjadi korban dari ketiak adilan ?. Robert T Kiyosaki dalam bukunya tersebut diatas berusaha meng-edukasi masyarakat dunia untuk memahami lima bentuk ketidak adilan – yang akan membedakan apakah kita jadi korban atau menjadi pihak yang diuntungkan.
Ketidak adilan pertama adalah dalam hal pengetahuan (knowledge). Tanpa pendidikan yang membuat orang faham financial orang akan cenderung mengambil risiko lebih besar dan memperoleh hasil yang lebih rendah.
Menurut Robert, tanpa faham financial ini orang akan secara tradisional berinvestasi di rumah (yang tidak produktif ), stocks (saham), bonds (surat utang), mutual funds dan tabungan di bank. Jenis-jenis investasi ini menurut dia adalah investasi yang paling berisiko dari sisi penurunan nilai, thesis S2 yang pernah saya muat di situs ini juga sejalan dengan penilaian tersebut dalam hal saham.
Ketidak adilan kedua adalah masalah pajak. Masyarakat pekerja akan cenderung membayar pajak lebih tinggi, ketimbang masyarakat pengusaha ( apalagi yang besar-besar) yang memahami betul system perpajakan dan mengambil untung dari ketidak adilan system.
Ketidak adilan ketiga adalah masalah hutang. Masyarakat yang awam menanggung beban hutangnya sendiri dengan hal-hal yang konsumtif, dan juga menanggung hutang negaranya dalam bentuk beban inflasi. Sebagian kecil masyarakat yang memahami ini, memanfaatkan hutang untuk memupuk asset yang tumbuh diatas beban hutang – karena inflasi beban pembayaran hutang relatif bertambah murah dibandingkan dengan asset produktif yang tumbuh melampaui inflasi.
Ketidak adilan keempat adalah tentang risiko. Masyarakat kebanyakan yang rata-rata pekerja sebenarnya menghadapi risiko yang paling tinggi karena job security yang selama ini dianggap sebagai jaminan keamanan penghasilannya – justru bisa hilang kapan saja – oleh karenanya pekerjaan bukanlah asset. Kalau toh sebagian besar masyarakat ini mampu mempertahankan pekerjaannya sampai pensiun, mereka sesungguhnya menghadapi risiko yang pasti – yaitu penurunan daya beli penghasilan dan dana pensiunnya karena faktor inflasi – lagi-lagi lihat ilustrasi penurunan daya beli uang kertas di awal tulisan ini.
Ketidak adilan kelima adalah masalah compensation atau penghasilan. Masyarakat kebanyakan fokus pada upaya untuk memperoleh penghasilan yang cukup – padahal kebanyakannya ini tidak pernah tercapai. Lebih banyak masyarakat yang menuntut hak ketimbang yang berbuat lebih dan memberi lebih untuk juga dapat menerima lebih.
Lantas bagaimana agar kita tidak menjadi korban ketidak adilan systemictersebut ?. berikut summary-nya :
- Fahami fenomena financial seperti inflasi, beban pinjaman, system perpajakan dlsb. yang merupakan pengetahuan dasar financial yang akan berdampak langsung pada kesejahteraan Anda.
- Jangan terlibat hutang yang konsumtif, bila harus berhutang gunakan untuk aktifitas produktif yang mampu mengalahkan beban hutang.
- Lawan risiko-risiko ancaman terhadap job security dengan investasi pada diri sendiri – asset Anda adalah diri Anda dan bukan pekerjaan Anda.
- Proteksi hasil jerih payah Anda dari ancaman inflasi dan penurunan nilai, emas atau Dinar hanya salah satu saja – yang lebih konkrit adalah investasi pada growing asset yang produktif seperti lahan yang ditanami, properti yang disewakan atau digunakan untuk dagang, dan yang ideal adalah usaha riil yang berjalan dengan baik.
- Berbuat banyaklah untuk hal-hal yang baik sehingga Anda bisa ‘memberi banyak’ pada masyarakat sekeliling Anda, maka Anda juga insyaAllah akan menerima banyak. Robert T. Kiyosaki belajar hal terakhir ini dari sekolah meinggu dia (gereja), saya sependapat karena ini juga janji Allah dalam Al-Quran, dalam berbagai tulisan saya sebelumnya dan bahkan salah satu nilai yang kami tumbuh kembangkan di Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin adalah hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan – tidak ada balasan atas suatu kebaikan selain kebaikan pula.
Setelah begitu banyak bukti statistik dan ilmunya begitu banyak ditulis orang dari berbagai latar belakang, maka seharusnya kita bisa perkasa melawan fenomena ketidak adilan financial – bila kita mau belajar. InsyaAllah.
Kamis, 03 Januari 2013
Antara Cinta dan was was di pasar emas
06.18
No comments
By : Muhaimin iqbal - gerai dinar
Ada dua faktor penggerak utama di pasar emas dunia saat ini yang disebut love yaitu faktor cinta dan yang satu lagi fear yaitu faktor takut. Faktor cinta utamanya terwakili oleh demanddari dua negara besar yang rakyatnya menggandrungi emas yaitu China dan India. Sedangkan faktor takut utamanya datang dari dunia investasi.
Faktor fear umumnya datang dari dunia investasi yang membeli emas dalam bentuk ETF (Exchange –Traded Fund) dan sejenisnya. Memang ada yang membeli emas secara fisik juga karena didorong rasa takut, tetapi di dunia investasi global yang lebih banyak berperan adalah perdagangan emas dalam bentuk paper gold seperti ETF dan sejenisnya. Jumlahnya pada quarter lalu mencapai 136 ton atau 12.5 % dari demandemas dunia.
Meskipun jumlahnya hanya 12.5 % dari demand, faktor takut ini sangat mudah menyebar dan mudah sekali mempengaruhi harga emas dunia. Apa yang mereka takutkan sehingga mereka membeli investasi dalam bentuk emas ?, mereka takut terhadap uang kertas yang jatuh nilainya, takut dengan resesi, takut dengan fiscal cliff, takut dengan ulah Ben Bernanke yang getol mencetak uang dari awang-awang dlsb.
Sebaliknya faktor cinta karena bersifat budaya umumnya di China dan India yang rame-rame membeli emas pada perayaan tertentu, budaya ini tidak mudah menyebar. Jadi meskipun kebutuhannya sangat besar – dari dua negara ini saja membutuhkan 55% dari 68% demand atau 37 % dari demand emas dunia, dampaknya terhadap pergerakan harga tidak immediate – tidak se-fluktuatif faktor takut yang di drive oleh dunia investasi.
Karena faktor cinta dan faktor takut bekerja pada situasi ekonomi yang berbeda – maka secara umum interaksi keduanya membuat harga emas dunia relative stabil terhadap harga barang-barang lain kebutuhan manusia. Faktor cinta bekerja pada saat ekonomi baik, penghasilan masyarakat baik – mereka memiliki uang lebih untuk dibelikan emas.
Faktor takut bekerja sebaliknya yaitu pada saat situasi ekonomi memburuk, orang takut kehilangan daya beli uang simpanannya sehingga berupaya mengamankan uangnya dalam bentuk emas atau investasi yang terkait dengan emas, ETF dlsb.
Walhasil dengan adanya dua faktor love and fear tersebut di atas, selalu ada waktu yang tepat untuk membeli emas – yaitu ketika Anda ada uang lebih dan tidak segera digunakan, emas-lah salah satu solusi yang paling aman itu. Wa Allahu A’lam.
Rabu, 02 Januari 2013
Fakta yang salah tentang dinar emas dan dirham perak
06.27
No comments
Berikut beberapa fakta yang terjadi di masyarakat kita...dan TIDAK TEPAT
1. Dinar dan Dirham adalah mata uang dari Arab Saudi.
Dinar dan Dirham bukan mata uang Arab Saudi atau negara Timur Tengah. Dinar adalah koin emas seberat 4,25 gram dengan kadar 22 K dan Dirham adalah koin perak murni seberat 2,975 gram. Mata uang Arab adalah real, uang kertas (fiat money, uang hampa) juga
2.Dinar adalah Dinar Irak.
Dinar Irak adalah uang kertas (fiat money, uang hampa) juga. Tidak ada hubungannya dengan Dinar Emas dan Dirham Perak.
3.Harga Dinar dan Dirham ‘selalu’ naik.
Pada hakikatnya nilai Dinar dan Dirham adalah stabil terhadap nilai komoditas lainnya. Sebagai perbandingan pada masa kehidupan rasulullah (16 Abad yang lalu), 1 dinar senilai dengan 1 atau 2 ekor kambing dan 1 dirham senilai dengan 1 ekor ayam. Artinya Dinar dan Dirham adalah ukuran nilai harta/uang yang hakiki (sama seperti meter yang menjadi satuan ukuran panjang atau kg yang menjadi satuan ukuran berat).
Apabila uang hampa (fiat money) nilainya fluktuatif terhadap Dinar dan Dirham, nilai, berat dan kadar Dinar dan Dirham adalah tetap. Tidak ada masalah dengan Dinar dan Dirham, yang bermasalah adalah uang hampa itu sendiri.
Jadi jika umum melihat nilai Dinar dan Dirham ‘selalu’ naik, pada kenyataanya itu adalah nilai uang hampa nya yang ‘selalu’ turun.
4.Dinar dan Dirham adalah urusan duniawi. Saya mau konsentrasi ke agama dan akhirat saja.
Dinar dan Dirham adalah urusan Muamalah dan Illahiah. Hubungan langsung dengan Allah adalah Dinar dan Dirham merupakan element terpenting bagi Hukum Zakat, tanpa Dinar dan Dirham mustahil zakat bisa ditunaikan sesuai syariat Islam.
Dinar dan Dirham sangat penting bagi Muamalah dalam Islam yang sangat berkaitan erat dengan hukum-hukum Islam yang pertanggungjawabannya dunia dan akhirat.
5.Tidak punya kecintaan pada negara nasionalisme dan menentang negara
Justru memperjuangkan Dinar dan Dirham merupakan bentuk kecintaan kita kepada tanah air kita tercinta. Saat ini dengan mudahnya harta, kekayaan alam berupa emas, perak, besi, minyak, hasil pertanian, perkebunan bahkan sumber daya manusia dirampas oleh pihak asing. Hanya di tukar dengan secarik kertas bergambar, harta nyata kita melayang ke negara lain, sementara negara lain tersebut selalu mengumpulkan emas dan perak dan kekayaan nyata lainnya.
Jutaan bahkan milyar dollar sebagai cadangan devisa negara kita tidak akan ada artinya ditengah krisis ekonomi apalagi jika sampai terjadi peperangan. Milyar dollar itu nilainya akan terus menyusut bahkan hilang sama sekali dan hanya akan menjadi uang mainan monopoli, tidak lebih.
6.Dinar dan Dirham tidak cukup untuk transaksi dan perdagangan diseluruh Dunia.
Emas dan Perak cukup untuk transaksi nyata dan perdagangan diseluruh dunia. Pertumbuhan emas dan perak setara dengan pertumbuhan rata-rata produksi dunia. Saat ini justru transaksi terbesar adalah transaksi dipasar uang (forex), bukan transaksi nyata.
7.Dengan Dinar dan Dirham berarti harus membawa emas dan perak sebesar ‘bagong’ kemana-mana.
Justru ukuran dinar dan dirham lebih kecil dan mudah dibawa kemana-mana daripada tumpukan uang kertas.
8.Profesi saya guru, dokter, PNS (atau prosesi lainnya). Saya bukan orang ekonomi, jadi tidak ada perlu mengetahui tentang Dinar dan Dirham.
Seluruh manusia apapun profesinya pasti berkepentingan langsung dengan ilmu muamalah (salah satu cabang ilmu muamalah mirip seperti ilmu ekonomi), berkaitan langsung dengan ‘ekonomi’. Baik itu untuk menyelamatkan harta jerih payah masing-masing dari ‘siluman’ perampok harta yaitu inflasi. Maupun untuk muamalah dan kestabilan ‘ekonomi’ itu sendiri.
9.Dinar dan Dirham adalah uang zaman dulu, tidak relevan lagi dengan zaman sekarang.
Uang zaman sekarang yang baru berusia 100 tahun telah gagal dan menimbulkan kehancuran dimana-mana hanya dalam periodenya yang sangat singkat. Emas dan Perak, sepanjang peradaban manusia sebelum menggunakan yang modern telah mampu menjalankan peranannya dengan baik.
Dalam sudut pandang islam, sejak permulaan islam hingga runtuhnya kekhalifahan terakhir pada 1924. Uang ummat islam adalah Dinar emas dan Dirham perak.
10.Transaksi dengan Dinar dan Dirham sulit.
Transaksi dengan Dinar dan Dirham sebenarnya mudah, yang membuat sulit adalah alam fikiran kita yang telah rusak akibat sistem ribawi. Asal mau mencoba, insha Allah sangat mudah. Lagipula, Dinar dan Dirham dilengkapi oleh Fulus untuk transaksi dengan pecahan yang sangat kecil.
11.Saya non muslim, tidak perlu Dinar dan Dirham.
Islam, Dinar dan Dirham adalah rahmat untuk seluruh alam. Dengan Dinar dan Dirham harta seluruh manusia selamat dari pencurian ‘siluman’. Saat ini bahkan di Rusia, Amerika dan belahan dunia lainnya rindu dan selalu menyuarakan untuk kembali ke sistem currency emas dan perak.
12.Menyimpan atau memegang Dinar Emas dan Dirham Perak tidak aman, takut dicuri.
Memegang Dinar atau Dirham, ada kemungkinan hilang ataupun dicuri. Sama halnya dengan menyimpan uang hampa di rumah. Ada kemungkinan hanya probabilitas (teori kemungkinan), bisa iya bisa tidak. Namun menyimpan uang hampa dimanapun SUDAH PASTI dicuri, setiap hari ,setiap menit, setiap detik.
Semoga ada manfaatnya. Dan semoga Allah selalu menambahkan ilmu bermanfaat kepada siapapun yang terus mencarinya.





























