Kamis, 04 April 2013
Belajar tentang ide mata uang dari Hugo Chavez
Seperti sejumlah tokoh revolusioner lainnya, Vladimir Lenin, Mau Zedong, dan Ho Chi Minh, jasadnya bahkan dibalsem dan tidak dikuburkan. Mendiang Hugo Chavez telah menjadi ikon warisan ideologi sosialis-revolusioner, dan anti-imperialisme, yang dalam dua dekade terakhir ini praktis telah mati. Langkah-langkah populis Chavez selama 14 tahun kekuasannya seolah telah membantah tesis pongah bahwa kapitalisme telah mengakhiri sejarah.
Lahir sebagai bocah miskin, berpendidikan militer, menganut Teologi Pembebasan, Chavez mereintrodusir falsafah politik Jenderal Simon Bolivar (1783-1830). Jenderal Bolivar adalah pembebas Venezuela dari Spanyol dan tokoh antiimperialisme. Ajaran Bolivar menekankan pentingnya pendidikan, kerjasama kekuatan militer-sipil, keadilan sosial, kedaulatan nasional dan, pada saat bersamaan, solidaritas regional dan integrasi Amerika Latin.
Chavez menyebut falsafah politiknya sebagai Bolivarianisme, dan menyatakan perbedaannya dengan paham konvensional sosialisme negara. Ia menekankan perlunya "demokrasi partisipatif", melalui institusi kerakyatan yang ia ciptakan yaitu "Dewan Komunal", sebagai bentuk keterlibatan akar rumput dan demokrasi pertisipatif. Satu hal yang jelas adalah tindakan ekonomi politik Chavez sangat melawan hegemoni Barat, sebuah sikap yang hari ini tampak "kadaluarsa". Jejak langkah Chavez sebenarnya mengingatkan kita kepada "Pemimpin Besar Revolusi" di negeri ini, Bung Karno, Presiden I RI, selama kurun 1950-1965.
Chavez, seperti Bung Karno, menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing dalam cakupan yang sangat luas. Perusahaan minyak dan gas, telekomunikasi, semen, enerji dan listrik, besi dan baja, bahkan perusahaan pengolah makanan dan hasil pertanian, ia ambil alih demi kepentingan rakyat Venezuela. Ini bertolak belakang dengan kebanyakan rezim negeri "Dunia Ketiga" lain, termasuk Indonesia, yang justru menjuali perusahaan-perusahaan negara kepada investor asing. Seperti juga Bung Karno, Chavez menyatakan Venezuela keluar dari IMF dan Bank Dunia, serta melakukan reformasi agraria.
Meski tidak disukai oleh kelas borjuis Chavez terbukti berhasil mengentaskan kaum miskin di negerinya sampai 75 persen. Kesenjangan kaya-miskin juga mengecil dengan Koefisien Gini 0.39, bandingkan misalnya dengan Brazil yang masih 0.52. Secara umum para pejabat di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) juga menyatakan Venezuela telah berhasil mencapai target Millenium Development Goals (MDGs), bahkan sebelum tenggat waktunya, yaitu 2015. Secara politik Chavez terus turut berupaya menciptakan kutub baru, bersama Cina, Brazil, Iran, dan Rusia.
Sayang Tuhan menentukan lain, Comandante Hugo Chavez harus mengakhiri langkahnya, karena ajalnya telah tiba. Meski demikian, sangat menarik bagi kita untuk mengetahui agenda Chavez yang masih tersisa, yang belum banyak terungkap di muka publik. Di kawasannya sendiri, Amerika Latin dan Karibia, Chavez tengah mengupayakan terbentuknya mata uang bersama, yang disebut sucre. Bersama beberapa negara yang telah disebut di atas ia melakukan perdagangan dengan cara imbal beli, untuk menghindari penggunaan dolar AS. Tujuan yang hendak dicapai oleh Chavez adalah memisahkan diri dari sistem perekonomian (kapitalisme) global. Langkahnya yang paling mutakhir, tapi terhenti karena ajalnya, adalah minatnya untuk mencetak dan menggunakan mata uang emas dan perak. Sebuah tindakan yang akan membuat cita-citanya pisah secara total dari sistem kapitalisme global menjadi kenyataan. Chavez telah memulainya sejak Agustus 2011 lalu dengan menarik tabungan emasnya dari bank-bank di Eropa. Dari total cadangan emas Venezuela sekitar 360 ton, lebih dari 352 ton telah ditarik pulang, hanya dalam waktu tiga bulan.
Tak lama kemudian, akhir 2011, Chavez telah meminta salah satu menterinya untuk mempelajari kemungkinan mencetak uang emas dan perak, merujuk pada telah kembalinya Dinar emas dan Dirham perak di kalangan umat Islam. Tarek al Aissami, Menteri Dalam Negeri dan Hukum Venezuela, yang beragama Islam, telah menghubungi Shaykh Umar I Vadillo, yang dikenal sebagai "Bapak Dinar" modern, di Kuala Lumpur. Atas nama Chavez Menteri Aissami menyampaikan undangan untuk Shaykh Umar agar mempresentasikan dan menjelaskan perkembangan Dinar dan Dirham. Rencana ini belum terwujud, Chavez mulai harus mengurus dirinya sendiri karena masalah kesehatannya, sampai terdengar kabar kematiannya.
Kini Chavez telah tiada. Namun, keinginan kuat untuk keluar dari kapitalisme global, bahkan menciptakan model sendiri dengan sistem mata uang berbasis emas dan perak tumbuh di mana-mana. India, Iran, dan Cina, mulai berdagang menggunakan emas sebagai alat tukar. Rusia, di bawah Dmitry Medvedev (2009), telah menggagas koin emas sassoli untuk Eropa. Sejumlah negara bagian di AS telah melegalkan kembali koin emas dan perak sebagai alat tukar yang sah. Cina, memasuki 2013 ini, tengah menyiapkan sistem pembayaran berbasis emas. Robert Mugabe, di Zimbabwe, yang saat ini bahkan tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan dolar AS, tengah menjajagi mencetak koin emas, dengan nama sovereign, untuk Uni Afrika.
Selamat jalan hai pejuang...
Selasa, 02 April 2013
1971 adalah awal dari Manipulasi Uang Kertas.
![]() |
| 1971 adalah awal dari Manipulasi Uang Kertas. |
Apa sih Bretton Woods ini ?, mari kita lihat kebelakang sejarahnya.
Cerita Bretton Woods ini bermula pada bulan July tahun 1944 ketika Amerika merasa telah memenangi sebagian besar Perang Dunia II, maka mereka memprakarsai konferensi di Bretton Woods yang kelak akan mengatur system keuangan dunia.
Inti kesepakatan Bretton Woods awalnya adalah janji Amerika Serikat untuk mendukung uang Dollar-nya secara penuh dengan emas yang nilainya setara. Kesetaraan ini mengikuti konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh Presiden Roosevelt yaitu US$ 35 untuk 1 troy ons emas. Negara-negara lain yang mengikuti kesepakatan tersebut awalnya diijinkan untuk menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap Dollar. Dengan kesepakatan ini seharusnya siapapun yang memegang Dollar dengan mudah menukarnya dengan emas yang setara.
Namun kesepakatan Bretton Wood yang digagas oleh Amerika ternyata juga diingkari sendiri oleh Amerika. Secara perlahan tetapi pasti mereka ternyata mengeluarkan uang yang melebihi kemampuan cadangan emasnya, bahkan secara sepihak mereka tidak lagi mengijinkan mata uang lain disetarakan terhadap emas , harus dengan Dollar.
Pemegang Dollar juga tidak bisa serta merta menukarnya dengan emas yang setara, tentu hal ini karena Amerika Serikat memang tidak memiliki jumlah cadangan emas yang seharusnya dimiliki setara dengan jumlah uang yang dikeluarkan – saat itu Amerika hanya memiliki 22% dari jumlah cadangan emas yang harusnya mereka miliki !.
Ketidakadilan ini mulai mendapatkan protes oleh sekutu Amerikat sendiri yaitu Generale De Gaulle dari Perancis. Pada tahun 1968 Degaulle menyebut kesewenang-wenangan Amerika sebagai mengambil hak istimewa yang berlebihan atau exorbitant privilege.
Tekanan dan ketidak percayaan terus berlanjut dan Negara-negara sekutu Amerika Serikat terus menukar Dollarnya dengan emas. Praktis saat itu hanya Jerman yang tetap mendukung Dollar dan tidak menukar dollarnya dengan emas.
Puncak kesewenang-wenangan Amerika terjadi pada tahun 1971 ketika secara sepihak Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan Dollar-nya dengan cadangan emas yang mereka miliki – karena memang mereka tidak mampu lagi !.
Kejadian yang disebut Nixon Shock tanggal 15 Agustus 1971 ini tentu mengguncang dunia karena sejak saat itu sebenarnya Dollar Amerika tidak bisa lagi dipercayai nilainya sampai sekarang.
Berdasarkan kesepakatan Bretton Woods seharusnya US$ 35 setara dengan 1 troy ons emas, sekarang atau 37 tahun kemudian perlu US$ 815 untuk mendapatkan 1 troy ons emas. Artinya Dollar Amerika saat artikel ini ditulis hanya bernilai 4.3 % dari nilai yang seharusnya apabila Amerika Serikat memenuhi janjinya dalam kesepakatan Bretton Woods yang diprakarsainya.
Dengan kegagalan Bretton Woods tersebut seharusnya badan-badan pelaksana konsep ini yaitu IMF dan Bank Dunia juga harus ditutup karena mereka telah gagal menjalankan fungsinya.
Ironisnya bukan ini yang terjadi, kurang lebih empat bulan setelah terang-terangan Amerika mengingkari janjinya di Bretton Woods, tepatnya tanggal 18 Desember 1971 mereka melahirkan apa yang disebut Smithsonian Agreement.
Perjanjian yang diteken di Smitsonian Institute bersama negara negara industri yang disebut G 10 ini lah yang menandai berakhirnya era fixed exchange rate dengan back up emas, menjadi rejim floating exchange rate yang diikuti oleh seluruh negara anggota IMF termasuk Indonesia sampai sekarang.
Sejak tahun 1971 tersebut praktis seluruh otoritas moneter dunia menggunakan kembali uang fiat murni yaitu uang yang tidak didukung oleh adanya cadangan emas. Uang fiat (dari bahasa latin yang artinya let it be done !, terjemahan bebas ke bahasa anak Jakarta-nya kurang lebih “emangnye gue pikirin…”) adalah uang yang dibuat dari barang yang tidak senilai dengan uang tersebut, bisa berupa kertas, catatan pembukuan semata (accounting entry) di bank, atau bahkan hanya bit binari dalam memori computer. Karena asalnya tidak bernilai, kemudian dipaksakan harus diakui nilainya – maka uang fiat ini nilai dan keabsahannya ditentukan oleh pihak yang berwenang dalam suatu negara – oleh karenanya juga menjadi pembayaran yang syah (legal tender) dalam perdagangan, pembayaran hutang dlsb.
System yang gagal ini yang mau dihidupkan kembali oleh para ekonom dan beberapa pemimpin negara. Saya sendiri pesimis kalau Bretton Wood II akan bisa terwujud. Seandainya toh ini terwujud, saya yakin Bretton Wood II akan mengulangi kegagalannya persis seperti yang dulu.
Mengapa saya demikian yakin, bahwa kalau toh ada Bretton Woods II pasti gagalnya ?. Keyakinan ini timbul tidak lain karena kita punya sumber berita yang valid sepanjang zaman. Yang memberitakan-pun adalah Yang Maha Tahu. Yang ditetapaknNya pasti terjadi.
Kita diberitahu oleh Yang Maha Mengetahui; agar kita hati-hati mempercayakan urusan keuangan kita pada Yahudi karena lebih besar kemungkinan mereka yang berkianat dibandingkan yang tidak, bahkan mereka menganggap kita sebagi orang-orang umi yang harta kita bisa diambil mereka secara sepihak. Ayatnya sebagai berikut :
”Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: "Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang umi”. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui” (QS 3 : 75).
Nixon Shock 1971 adalah salah satu bukti pengkhianatan mereka atas kepercayaan Dunia terhadap mereka.
Berita lainnya yang sudah sering sekali saya kutip adalah berita bahwa ekonomi yang dibangun atas dasar Riba, pasti dimusnahkanNya (QS 2 :276).
Mungkin timbul dibenak Anda bahwa bukankah Bretton Woods menggunakan emas sebagai dasar untuk pencetakan uang; Dinar juga menggunakan emas sebagai uang. Lantas apanya yang berbeda ?.
Dalam Islam, uang hanya sebagai alat atau timbangan agar muamalah bisa berjalan secara adil – Dinar memerankan sebagai timbangan yang adil tersebut.
Agar timbangan tersebut tetap selalu ada di masyarakat yang membutuhkannya – agar muamalah selalu bisa berjalan secara adil; maka serangkaian aturan syariah yang ketat harus ditaati oleh umat ini; antara lain :
- Larangan menimbun.
- Larangan riba.
- Larangan menggunakan emas sebagai tempat makan dan sejenisnya.
- Larangan laki-laki menggunakan perhiasan emas.
- Dorongan agar harta selalu berputar – tidak hanya pada golongan yang kaya.
Jadi yang memungkinkan system Dinar berjaya dulu (dan juga insyaallah kelak) bukan semata-mata Dinarnya saja, tetapi seluruh system keadilan berjalan.
Apabila sekarang yang akan dilakukan hanya menggunakan Emasnya saja sebagai referensi; tetapi system penunjangnya secara keseluruhan masih sangat mungkar – riba dan spekulasi masih meraja lela – maka emas sendirian – tidak akan banyak membawa perubahan.
Terlepas bahwa kecil kemungkinan Bretton Woods II bisa terwujud apalagi bisa sukses, sebenarnya ada hikmah lain yang bisa kita ambil dari mulai dibicarakannya Bretton Woods oleh para ekonom dan pemimpin dunia. Hikmah ini adalah pengakuan mereka dalam tindak - bahwa emas-lah sesungguhnya uang yang seharusnya selalu menjadi rujukan.
Wallahu A’lam.
from : rumahdinar
Minggu, 17 Maret 2013
Transformasi perkembangan dinar dan dirham
Tanpa terasa sudah lebih dari lima tahun situs ini hadir sejak kemunculannya pertama dalam bentuk blog akhir 2007. Awalnya dimaksudkan untuk meng-edukasi masyarakat tentang Dinar – Dirham, Investasi dan Ekonomi Syariah. Namun dalam perkembangannya, mayoritas tulisan di situs ini berubah menjadi tentang entrepreneurship dan dunia usaha pada umumnya. Tentu ini bukan karena kebetulan, tetapi memang sudah seharusnya kesanalah kita menuju.
Transformasi ini juga sejalan dengan tulisan kami hampir dua tahun lalu tentang “Aset dan Kemakmuran : Reducing, Preserving or Producing…”. Ketika mulai menulis lima tahun lalu, kami jumpai tabungan/investasi yang ada di masyarakat umumnya bersifat wealth reducing assets – yaitu aset-aset yang menurunkan tingkat kemakmuran pemiliknya. Ini adalah seluruh bentuk dana tabungan, deposito dlsb. yang pertumbuhannya pada umumnya kalah cepat dengan inflasi.
Lalu melalui situs ini kami perkenalkan proteksi nilai atau aset bentuk baru yang disebut wealth preserving assets – yaitu aset-aset yang mampu mempertahankan kemakmuran pemiliknya, itulah antara lain Dinar dan Dirham.
Tentu kita semua tidak puas hanya bertahan, kita pingin aset kita bisa pro-aktif mampu meningkatkan kemakmuran dari waktu ke waktu. Itulah yang disebut wealth producing assets. Bentuknya apa ?, bentuknya adalah kegiatan usaha produktif yang dikelola dengan baik.
Masalahnya adalah tidak semua orang bisa atau siap untuk berusaha sendiri, disinilah peran situs ini untuk memberi motivasi, semangat, kiat-kiat dan bahkan juga pelatihan langsung di lapangan. Agar lebih banyak lagi kemakmuran terbangun dan lapangan kerja tersedia.
Agar kita semua bisa mengikuti jejak dakwah para wali “ wong kang udo klambenono…,wong kang ngelak ombenono…, wong kang kudanan payungono” . Dakwah dengan hal yang konkrit menjawab kebutuhan masyarakat yang mendasar seperti sandang, pangan dan papan.
Apakah ini mudah dilakukan ?, tentu tidak mudah. Setelah lima tahun bekerja keras-pun belum banyak yang kami hasilkan. Tetapi bukan berarti tidak banyak yang bisa kami syukuri, sangat banyak. Justru dari pengalaman-pengalaman yang tidak semuanya mulus inilah insyaallah kita akan lebih siap menyongsong masa depan itu.
Konkritnya seperti apa ? bersamaan dengan transformasi situs ini menjadi Business and Entrepreneurship Free Education – sebagaimana tercermin dari komposisi artikel-artikel dalam grafik di atas, kami akan lebih banyak mengajak masyarakat untuk belajar berusaha bareng secara riil dan langsung.
Konsepnya bisa seperti yang sudah kami perkenalkan sebelumnya seperti Pesantren Wirausaha, Kepemilikan Kebun Produktif (KKP), Syirkah Private Equity dan berbagai bentuk usaha riil bareng lainnya. Bersama sejumlah pihak, kami juga sedang menyiapkan start-up centre – yaitu pusat bisnis bagi pemula. Bentuknya berupa perkantoran yang bisa disewa/dibeli dengan berbagi ukuran, baik berupa real office ataupun virtual office – lengkap dengan jasa-jasa notaris, accountant, consultant pajak, secretarial, pendampingan usaha, akses capital, akses pasar, akses sumber daya dlsb.
Prinsipnya adalah dengan ‘nyemplung langsung’ ke ‘kolam renang’ – pemula mungkin harus mengalami glagebandahulu, tetapi dengan banyaknya pendamping yang juga nyebur di kolam yang sama – insyaAllah akan ada yang bisa membantu dan berbagi pengalaman sehingga akhirnya bisa berenang bersama.
Lantas dengan gerakan ke sektor riil ini apakah Dinar ditinggalkan ?, oh tentu tidak – justru Dinar akan tetap menopang aset-aset idle Anda sehingga untuk aset yang lagi tidak berputar-pun tetap mampu mempertahankan nilai/daya belinya. Selain itu Dinar akan menjadi timbangan yang adil - unit of account - dalam transaksi-transaksi modal, kerjasama permodalan/syirkah, pinjam-meminjam dlsb.
Selasa, 12 Maret 2013
Fenomena Wealth Transfer---Transformasi Kemakmuran
By : muhaimin iqbal-gerai dinar
Tulisan saya kali ini saya ambilkan dari isi buku berjudul “Guide to Investing in Gold and Silver” karya Michael Maloney yang diterbitkan oleh Business Plus – Hachette Book Group (2008).
Penulisnya sendiri adalah tokoh penting dalam duniaemas, perak dan berbagai bisnis metal lainnya. Dia bahkan juga penasihat investasi yang mendorong orang sekaliber Robert Kiyosaki mengalihkan sebagian besar investasinya ke perak. Robert Kiyosaki bahkan memberi pengantar pada buku ini dengan menyebut penulis sebagai orang yang pandai merangkai titik-titik menjadi informasi yang bermakna – sementara orang lain mungkin hanya dapat melihat sebagi titik-titik yang tidak bermakna.
Banyak sekali isi dari buku ini yang mirip dengan buku saya “Mengembalikan Kemakmuran Islam dengan Dinar dan Dirham” (Spriritual Learning Center, 2007); khususnya yang menyangkut pandangan tentang uang dan mengapa uang hanya bisa diperankan secara sempurna oleh emas dan perak. Bahkan di awal tulisannya Michael berusaha meluruskan salah kaprah dalam pemahaman tentang Currency dan Money di masyarakat.
Menurutnya apa yang disebut ‘uang’ oleh masyarakat sekarang sebenarnya hanyalah Currency – yaitu alat tukar yang hanya berlaku sesaat. Currency tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan nilai (store of value) yaitu prasyarat untuk dapat disebut sebagai uang (Money).
Sebaliknya uang yang sesungguhnya atau Money, selain dia dapat digunakan sebagai alat tukar (medium of exchange) ; dia juga berperan sebagai penyimpan nilai (store of value). Jadi Money pasti juga berupa Currency, sedangkan Currency belum tentu berupa Money.
Menurut Michael, hanya emas dan perak-lah yang dapat berperan sebagai Money sejak dahulu sekarang dan masa yang akan datang. Nampaknya pendapat ini Fitrah, karena pendapat serupa sudah dinyatakan oleh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin sekitar 900 tahun lalu. Kalau Imam Ghazali mendasarkan pendapatnya ini pada pemahaman yang sangat dalam tentang syariah emas dan perak; Michael Maloney mendasarkan pendapatnya pada alasan-alasan ekonomi.
Menurut Michael , berikut adalah alasannya mengapa hanya emas dan perak-lah uang yang sesungguhnya (money) itu :
1. Selama lebih dari 5,000 tahun, hanya emas dan perak yang terbukti sebagai asset yang tidak pernah gagal. Ini karena emas dan perak adalah tangible assets yang secara inherent membawa nilai-nya sendiri.
2. Emas dan perak adalah asset yang bisa sepenuhnya private dan tidak merupakan bagian dari system financial – dia tidak akan terganggu oleh kegagalam system financial manapun.
3. Emas dan perak adalah asset yang tidak merupakan liability pihak lain. Sebaliknya uang kertas, saham, obligasi dlsb. adalah asset yang merupakan liability pihak lain. Uang kertas adalah liabilitydari negara yang mengeluarkannya, demikian pula saham dan obligasi adalah liability bagi yang mengeluarkannya. Apa jadinya bila yang memiliki liability tersebut gagal memenuhi kewajibannya ?, maka uang kertas, saham, obligasi dlsb. menjadi tidak ada nilainya.
4. Emas dan Perak dapat sepenuhnya dimiliki secara pribadi.
5. Emas dan Perak berfungsi sebagai safe-haven atau jaring pengaman investasi dikala terjadi gejolak ekonomi.
6. Emas dan Perak terbukti aman dikala inflasi tinggi maupun deflasi.
7. Emas dan perak memiliki value density yang tinggi, mudah disimpan dan mudah bergerak dengan nilai yang tinggi.
8. Nilai jual dan beli yang umumnya memiliki spread yang rendah – pemiliknya tidak kehilangan nilai yang berarti ketika melakukan jual beli; beda dengan real estate misalnya yang ongkos transaksinya bisa sangat tinggi oleh berbagai sebab seperti notaris, pajak, legal audit dslb.
9. Karakteristiknya jelas , emas 24 karat yang satu sama nilainya dengan emas 24 karat lainnya meskipun bentuknya berbeda-beda.
10. Emas dan perak secara fisik – adalah uang dengan sendirinya – tanpa perlu pengakuan oleh pihak manapun bahwa dia uang.
Dengan sepuluh alasan tersebut, penulis buku diatas sekarang sibuk meng-edukasi masyarakat dunia akan suatu phenomena besar yang sedang dan akan terus terjadi yang dia sebut sebagaiWealth Transfer atau perpindahan kemakmuran.
Karena hampir seluruh mayoritas masyarakat dunia baik bersifat individu, korporasi maupun negara menyimpan ‘kemakmurannya’ dalam bentuk asset berupa currency, stock, bond dan sejenisnya – yang sejatinya tidak dapat berperan sebagai penyimpan nilai atau store of value; maka asset dari masyrakat dunia tersebut akan dengan mudah menurun atau bahkan hilang sama sekali nilainya.
Lantas kemana nilai-nilai asset tersebut berkurang atau menghilang ?, ke benda lain yang yang bisa menyimpan nilai dengan sempurna tentu saja. Yang paling mudah salah dua-nya ya emas dan perak itu tadi. Ketika uang kertas nilainya turun, pastilah emas dan perak nilainya melonjak. Pada saat itu, dengan emas dan perak yang sedikit saja – Anda akan dapat menguasai berbagai asset lainnya. Disitulah letak Wealth Transfer yang dikatakan oleh Michael Maloney ini.
Phenomena Wealth Transfer ini bisa terjadi secara sangat cepat seperti yang sungguh nyata terjadi di Indonesia tahun 1998, atau secara gradual yang terjadi di seluruh belahan dunia dalam dekade terakhir dan insyaallah masih akan terus terjadi.
Untungnya dengan phenomena ini adalah pilihan sebenarnya ada pada diri kita; kita bisa mempersiapkan diri ketika proses Wealth Transfer ini terjadi – kemakmuran meninggalkan kita atau kemakmuran yang menuju ke kita – kuncinya adalah emas dan perak ada pada siapa saat phenomena tersebut terjadi. Wa Allahu A’lam.
Senin, 04 Maret 2013
Dinar adalah investasi emas yang aman
Dalam dunia investasi ada ungkapan “if it is too good to be true, it may not be true…” bila suatu tawaran investasi itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan, mungkin memang tidak nyata. Ungkapan inilah yang menjadikan banyak orang menjadi korban penipuan investasi emas dan perbagai investasi lainnya yang ramai di media akhir-akhir ini.
Maraknya pemberitaan masyarakat yang tertipu dalam investasi emas ataupun investasi lainnya tidak jauh dari ungkapan tersebut. Kalau Anda cermati beritanya, Anda bisa deteksi bahwa suatu investasi itu “…too good to be true…” atau media menyebutnya investasi ‘bodong’ antara lain Anda akan menemukan setidaknya 5 poin berikut :
1. Menjanjikan untung yang pasti…
2. Menjanjikan bagi hasil yang sangat besar…
3. Menjual dengan harga yang melebihi kewajaran…
4. Investasi dengan tidak ada barangnya…
5. Produk investasi yang dijual dengan persuasive (gambaran indah yang melebihi kenyataannya) …
Sebaliknya, lima poin ini misalnya Anda tidak akan temukan di investasi Dinar dari Gerai Dinar.
1. Gerai Dinar tidak pernah menjanjikan untung yang pasti, bahkan sering kita ingatkan di situs ini untuk tidak berspekulasi dengan emas/Dinar.
2. Kalau toh ada hasilnya, Gerai Dinar tidak menjanjikan hasil yang besar.
3. Untuk harga, Anda bisa bandingkan harga Dinar dari Gerai Dinar dengan harga di produsen yang mencetaknya seperti Logam Mulia (www.logammulia.com) insyaallah harga Gerai Dinar tidak lebih mahal dari harga di tingkat produsen ini. Bisa juga di cek kewajarannya dengan harga emas fisik di pasaran.
4. Gerai Dinar menekankan penjualan sedapat mungkin secara fisik, hanya bila karena satu dan lain hal Anda tidak mau atau tidak comfortable menyimpannya sendiri saja boleh dititipkan dan dapat diambil kapan saja Anda perlukan fisiknya.
5. Gerai Dinar melarang jaringan penjualnya baik agen maupun sub agen untuk menjual Dinar secarapersuasive – memberi gambaran yang melebihi kenyataannya. Bahkan panduan keagenan Gerai Dinar adalah utamanya untuk kepanjangan tangan Gerai Dinar dalam meng-edukasi masyarakat – masyarakat yang paham tetapi tidak membeli lebih baik dari yang membeli tetapi tidak paham. Oleh karena itulah situs ini tidak memberikan link atau panduan cara untuk membeli Dinar, karena kami tidak ingin masyarakat yang belum paham buru-buru dan rame-rame membeli Dinar.
Selain hal-hal tersebut di atas, ada baiknya juga masyarakat selektif dalam memilih jenis investasi apapun baik itu emas, deposito, asuransi dlsb. Jangan menganggap semuanya aman, tetapi juga jangan gebyah uyah mengganggap semuanya tidak aman. Bahwasanya ada kasus deposito yang tidak aman di Bank Century yang bermasalah misalnya, lantas tidak berarti bahwa bank-bank lain juga tidak aman. Bahwasanya ada klaim-klaim di perusahaan asuransi tertentu yang tidak dibayar yang seharusnya atau sulit dicairkan, tidak berarti berurusan dengan perusahaan asuransi itu semuanya sulit. Demikian pula dengan emas, bahwa ada investasi emas yang menipu – tidak berarti pula bahwa seluruh investasi emas itu menipu.
Emas telah menjadi instrumen investasi dan perlindungan nilai sejak jaman kakek – nenek kita, dengan adanya beberapa kasus yang marak di media masa akhir-akhir ini – tidak lantas menjadikan investasi emas itu tidak lagi aman. Perhatikan kuncinya antara lain di lima poin di atas .
Lebih dari itu semua, dalam perbagai tulisan di situs ini – bahkan menjadi kategori tulisan terbanyak (entrepreneurship), sering kita ungkapkan bahwa investasi terbaik itu adalah investasi di sektor usaha riil yang Anda jalankan sendiri dengan baik. Tidak mudah memang, dan bahkan dalam proses membangunnya sering Anda harus bermandikan keringat sampai berurai air mata – tetapi ada hasil investasi yang tidak bisa Anda peroleh di tempat lain, tidak harus hasil yang sifatnya materi – tetapi kepuasan bahwa Anda telah berusaha…! InsyaAllah.
























