Senin, 26 Agustus 2013
ketika kurs mata uang kita semakin tidak jelas,,,beralihlah ke mata uang emas
Barangkali
mayoritas ekonomi akan sepakat dengan pendapat
bahwa koin emas (dinar)
dan koin perak (dirham) merupakan
alternatif mata uang yang
lebih baik dibandingkan dengan mata uang kertas yang sehari-hari kita pakai
sekarang. Ada juga yang mempromosikan dua jenis mata uang tersebut dengan
landasan nostalgia masa kejayaan kekhalifahan Islam.
Tapi kerinduan historis itu tidak semestinya membuat kita lupa bahwa
sebetulnya tugas kita adalah menyusun dan menapaki masa depan yang lebih baik.
Masa lalu memang bisa menjadi guru, namun kalau terlalu lama menengok ke
belakang maka rintangan di depan terkadang tak pernah kita lihat dengan begitu
jelas. Akibatnya, kita bisa hanyut dalam suramnya masa depan karena terlalu
terlena dengan kejayaan masa lalu yang sebenarnya bukanlah milik siapapun yang
hidup sekarang.
Mungkin saking semangatnya mempromosikan dinar – dirham, ada yang menyebutnya
sebagai mata uang yang Islami, atau setidak-tidaknya merupakan warisan Islam.
Itu sah saja, karena memang mata uang tersebut digunakan dalam berbagai masa
kekhalifahan. Tapi, dinar merupakan terjemahan langsung dari denarius yang
merupakan jenis koin emas di masa Romawi. Artinya, bangsa Arab mewarisinya dari
kekaisaran Romawi.
Karena itu, pertanyaan mendasarnya adalah apakah koin emas dan perak bisa
mengatasi berbagai kelemahan mata uang kertas di masa sekarang dan akan datang.
Ada beberapa isu yang membuat dinar – dirham lebih unggul.
Pertama, mata uang kertas yang diterbitkan oleh masing-masing negara telah
berkembang menjadi sistem keuangan yang sangat kompleks. Akibatnya, transaksi
mata uang menjadi sebuah rangkaian yang panjang dan tidak efisien. Untuk bisa
membeli barang buatan Korea, rangkaian transaksi uang jauh lebih panjang
dibanding transaksi barang. Arus barang hanya meliputi tiga tahap saja yaitu
importer membeli dari produsen di Korea dan kemudian menyalurkan ke pengecer
yang selanjutnya dijual kepada konsumen. Transaksi uang yang menyertainya
setidaknya meliputi lima tahap:
(1) produsen dan importir bertransaksi dalam
bentuk dolar Amerika,
(2) produsen di Korea menukar dolar menjadi won Korea,
(3)
importir menukar rupiah menjadi dolar,
(4) pengecer menyetor rupiah kepada
importir, dan
(5) pengecer mendapatkan rupiah dari konsumen akhir.
Padahal ide
dasar penggunaan uang adalah untuk menyederhanakan transaksi di sektor riil.
Kalau seluruh dunia menggunakan dinar atau denarius maka rantai transaksi uang
akan sama dengan rantai perdagangan.
Kedua, dalam sistem kurs yang mengam bang, pelaku perdagangan antar negara
menghadapi ketidakpastian kurs. Untuk mendapatkan kepastian, mereka harus
melakukan hedge atau swap. Keduanya tentu menimbulkan biaya. Kalau seluruh dunia
mengadopsi dinar maka otomatis biaya ini akan hilang karena ketidakpastian kurs
menjadi tidak relevan.
Ketiga, inflasi di masing-masing negara cenderung sangat dipengaruhi oleh
kebijakan moneter. Negara yang mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar
cenderung mengalami inflasi yang lebih tinggi. Karena itu, tingkat inflasi di
berbagai negara cenderung berbeda. Kalau denarius menjadi mata uang tunggal
dunia, hampir bisa dipastikan bahwa inflasi di semua negara akan kurang lebih
sama. Yang menjadi pembeda adalah perkembang an harga di kelompok barang yang
non-tradable seperti sewa rumah, ongkos angkutan umum dan tukang cukur.
Keempat, penggunaan mata uang yang berbeda antar negara dapat menimbulkan
bahaya yang ditimbulkan oleh perang mata uang. Negara-negara yang menginginkan
keunggulan daya saing di pasar internasional dapat merancang strategi supaya
mata uangnya tetap under-value. Akibatnya, negara lain akan kalah dagang dan
mengalami masalah pengangguran yang akut. Hal itu kemudian dapat memicu perang
mata uang yang akan berujung pada instabilitas keuangan dunia.
Kalau saja dunia menganut satu mata uang, maka bahaya itu akan dapat
dihindarkan. Kelima, negara-negara yang mata uangnya dijadikan denominasi dalam
perdagangan internasional dapat dengan mudah “mengekspor” inflasi ke seluruh
belahan dunia. Kebijakan moneter yang longgar di Amerika Serikat dapat memicu
harga-harga di pasar dunia melonjak yang pada gilirannya memicu inflasi global.
Pemerintah Amerika mendapatkan pendapatan seniorage dari pencetakan uang, dan
ongkosnya harus ditanggung oleh penduduk di seluruh dunia. Amerika tidak mungkin
bangkrut walaupun utangnya menggunung karena seluruh dunia memberikan dana
talangan secara implisit. Kalau mata uang dunia adalah denarius, semua negara
memiliki derajat yang sama dalam bidang moneter.
Disamping berbagai keunggulan dinar seperti yang disebutkan di atas, ada
beberapa klaim yang cenderung misleading. Contohnya adalah bahwa dinar merupakan
mata uang yang anti inflasi, anti riba, anti spekulasi dan lainnya. Untuk
isu-isu tersebut, mungkin kami akan membahasnya dalam beberapa seri tulisan di
bulan-bulan mendatang. Tujuannya adalah supaya kita bisa memahami dinar-dirham
secara obyektif dan lurus. Disamping ada keunggulan, bukan berarti mata uang
tersebut tanpa cacat. Kita tunggu saja, apakah kita ditakdirkan untuk
memperjelas masalah ini.
Dr Iman Sugema, Dosen IE FEM IPB
M Iqbal Irfany,
Dosen IE-FEM IPB
Sumber : Ekonomiislami.wordpress.com
Jumat, 23 Agustus 2013
Ketika India dan Indonesia gagal menjaga mata uangnya
India and Indonesia terjebak dalam penurunan
mata uang mereka yang begitu cepat hari Senin lalu (19/8), dimana Rupee dan
Rupiah jatuh dengan tajam terhadap Dollar AS, diduga karena aksi lepas saham di
lantai bursa.
Rupee India terus menurun tanpa henti, menembus
angka terendah dalam sejarah terhadap Dollar AS dan menggagalkan rencana
pemerintah untuk menenangkan pasar keuangan yang rapuh.
Rupee menyentuh angka terendah Rs62.70 di siang
hari, turun di bawah level terendah sebelumnya hari Jumat di angka 1,7% . Pada
hari Senin indeks Sensex sebagai patokan nilai saham turun 2,3 %.
Rupiah Indonesia jatuh 2% , sehingga memicu indeks saham utama terkoreksi 5,6%. Data yang dirilis hari Jumat (16/8) oleh Bank Indonesia menunjukkan defisit neraca berjalan Indonesia semakin melebar di kwartal kedua sebesar 4,4% dari GDP. Sehingga dalam setahun ini saja Rupiah sudah turun 14% terhadap Dollar AS
Seperti India, Indonesia bergantung dari modal luar negeri untuk mendanai defisitnya. Namun investor internasional telah menarik dananya dari negara-negara berkembang sejak Mei lalu, di tengah harapan AS mulai melonggarkan kebijakan moneternya untuk membantu negara-negara berkembang.
Rupee India telah menyusul Dollar Australia dan
Yen Jepang di jajaran kinerja mata uang terburuk di kawasan Asia tahun ini,
dimana telah jatuh 12% terhadap Dollar AS. Di tingkat global hanya Real Brazil
dan Rand Afrika Selatan yang mencatat penurunan nilai yang lebih besar.
Rangkaian intervensi oleh Bank Sentral India di
pekan-pekan terakhir ini bertujuan untuk menjaga pasar obligasi mereka agar
tidak jatuh terlalu jauh.
Selama akhir pekan lalu sejumlah pejabat tinggi
negara termasuk PM India Manmohan Singh mencoba menenangkan kekhawatiran
investor dari dua hal yaitu melemahnya pertumbuhan ekonomi dan melebarnya jurang
defist neraca berjalan yang akan mendorong ekonomi India ke titik kritis.
Terlebih lagi, pemerintah melonggarkan kontrol
modal investor asing, yang diikuti dengan serangkaian peraturan yang membatasi
arus modal bagi institusi domestik sehingga menyebabkan pasar lebih
berhati-hati. Derasnya arus modal dari luar negeri (khususnya dalam Dollar AS)
akan segera menggerus mata uang domestik India.
"Saya tidak pernah melihat kepercayaan diri
ekonomi India sedemikian rendah, terutama pada perusahaan-perusahaan domestik."
kata seorang investor internasional pada sebuah institusi global yang tidak
ingin disebut namanya.
"Tetapi masalahnya adalah tidak ada yang
benar-benar bisa yang dilakukan oleh mereka (pemerintah) saat ini, mengingat
semua ini terjadi akibat pasar global...Pemerintah dapat menghindari situasi
yang makin memburuk dimana mereka gagal pekan lalu, namun sekarang semuanya
sudah amat terlambat untuk menghentikan ini. Jurang defisit neraca berjalan
sudah tinggi dan kepercayaan diri mereka telah hilang."
India saat ini menghadapi rangkaian pilihan
kebijakan yang rumit, mengingat setiap langkah untuk memperbaiki masalah yang
mendasar dari defisit neraca dapat menjadi bumerang, dan butuh beberapa bulan
baru bisa dilihat hasilnya, sementara kepercayaan pasar terus turun dengan
cepat, kata seorang analis.
"Turbulensi ini akan terus berlanjut dalam
jangka pendek, namun kekacauan yang terjadi Jumat pekan lalu benar-benar dipicu
oleh kekhawatiran bank sentral India (RBI) untuk melakukan kontrol modal asing,"
kata Shubhada Rao, ekonom senior Yes Bank di Mumbai. "Saya pikir hal ini
berlebihan...tetapi masalahnya adalah ketika India mencoba untuk memperbaiki
defisit neracanya dan ini butuh waktu lama, pasar sudah bereaksi cepat dengan
berita hanya dalam semalam."
Kita butuh kurs yang selalu adil...
by : muhaimin iqbal
Bahwa kurs konversi antar mata uang bisa membuat badan penduduk negeri ini pada menjadi kurus, itu benar-benar bisa terjadi kini. Mata uang Dollar yang kita butuhkan untuk mengimpor barang-barang kebutuhan, telah naik sekitar 14 % terhadap uang Rupiah kita dalam setahun terakhir. Tetapi hal ini mestinya bisa dicegah oleh kita semua, bagaimana caranya ?
Kebutuhan Dollar Amerika yang begitu tinggi untuk mengimpor barang-barang kebutuhan sehari-hari kita termasuk kebutuhan pokok pangan, membuat harga barang-barang yang diimpor secara umum menjadi lebih mahal. Kalau kenaikan ini terjadi pada barang-barang kebutuhan sekunder, masih bisa dihindari untuk sementara tidak membelinya.
Tetapi kalau barang-barang ini menyangkut kebutuhan primer seperti bahan pangan, maka biar harganya mahal dia tetap harus dibeli. Tempe-pun kini sudah semakin mahal karena kedelainya sebagian besar diimpor dan ini dengan Dollar yang lebih mahal. Demikian pula dengan gandum, bahan pangan yang sama sekali belum diproduksi oleh negeri ini sendiri.
Apalagi daging yang harganya sudah terkerek naik sejak beberapa bulan lalu, belum nampak adanya upaya yang bisa efektif dan efisien dalam menurunkan harganya.
Walhasil kenaikan harga tiga jenis bahan makanan kedelai, daging dan gandum ini saja sudah cukup untuk menguruskan badan rata-rata penduduk negeri ini.
Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa membebaskan diri dari problem yang klasik ini ? problem yang sama pernah memukul kita dengan begitu beratnya 15 tahun lalu dengan apa yang waktu itu kita sebut krisis moneter (krismon) .
15 tahun era reformasi nampaknya belum cukup untuk membuat kita sadar akan kelemahan arah pembangunan era-era sebelumnya dan kemudian memperbaikinya. Kita tetap bergantung begitu besar pada bahan pangan impor.
Padahal tidak kurang produk-produk pertanian lokal yang bisa dikembangkan untuk substitusi produk-produk impor tersebut. Koro pedang misalnya, bisa menggantikan kedelai impor bila dibudidayakan dan disosialisasikan dengan baik ke masyarakat serta dibangun industrinya. Kandungan protein keduanya cukup dekat yaitu koro pedang sekitar 27.4 % sedangkan kedelai 36.5 %. Kelebihan koro pedang adalah sifatnya yang bisa tumbuh di tanah marginal – bahkan bisa menjadi potensi untuk menyuburkan lahan-lahan gersang kita.
Sorgum yang memiliki kandungan protein dan karbohidrat (10.4% dan 70.7%) mirip dengan gandum (11.6% dan 71.0%), mestinya dapat menggantikan impor gandum yang telah berkembang hampir setengah abad di negeri ini. Memang sorgum tidak memiliki gluten seperti yang dimiliki oleh gandum, sehingga kurang cocok untuk dibuat roti dan mie yang memerlukan gluten tinggi. Tetapi kan roti dan mie memang mestinya bukan bentuk makanan pokok kita ? jadi kita musti bisa berkreasi dengan makanan-makanan yang lebih sesuai dengan kita dengan menggunakan bahan-bahan yang memang bisa kita produksi sendiri seperti sorgum ini.
Kelebihan sorgum dia bisa tumbuh hampir di mana saja termasuk di tanah yang marginal, kami sudah mencoba menumbuhkannya juga di Jonggol yang aslinya gersang dengan hasil yang baik.
Selain yang sifatnya ikhtiar dengan bekerja keras menanam sendiri tananam-tanaman untuk pemenuhan kebutuhan pangan yang sesuai seperti dalam contoh koro pedang dan sorgum tersebut diatas, ada hal lain yang bisa menjamin kecukupan kebutuhan pangan kita dengan hasil panen yang banyak dan dengan rasa yang ueenak.
Hasil panenan yang banyak dengan rasa yang enak seperti ini dijanjikan oleh Allah untuk negeri yang diberkahi sebagaimana ayat berikut :
“…Masuklah kamu ke negeri ini dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai …" (QS 2:58).
Yang dimaksud dengan ‘negeri ini’ yang memberikan hasil bumi yang banyak lagi enak pada ayat tersebut adalah Baitulmakdis – yang dalam ayat lain disebut secara spesifik sebagai negeri yang diberkahi (QS 17:1).
Kita memang tidak bisa menjadikan negeri kita Baitulmakdis atau bagian dari negeri Syam , tetapi kita penduduk negeri ini bisa menjadikan negeri kita negeri yang diberkahi – bila kita bisa memenuhi syaratnya, yaitu bila penduduk negeri ini beriman dan bertakwa (QS 7:96). Jadi kita sesungguhnya memiliki potensi ‘pupuk’ yang sangat unggul yang tidak bisa dihasilkan oleh pabrik pupuk manapun di dunia, yaitu pupuk yang dijamin memberikan hasil panenan yang banyak lagi enak – itulah ‘pupuk iman dan takwa’.
Dari rangkaian ayat-ayat inilah semuanya menjadi nyambung, bahwa bila kita bisa menjadikan diri-diri kita penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, Allah membukakan berkahNya dari langit dan dari bumi. Kita menanam bahan pangan apa saja hasilnya banyak dan rasanya enak. Negeri ini akan cukup makan dari hasil bumi kita sendiri dan menjadikan negeri ini Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur (QS 34:15).
Bila kita makan hasil bumi kita sendiri secara cukup, kita tidak perlu mengimpor bahan pangan dari negara lain – kurs konversi menjadi tidak lagi relevan untuk kita. Kurs konversi tidak akan bisa menjadikan badan kita kurus karenanya. InsyaAllah.
Jumat, 26 Juli 2013
Zakat Emas, Perak dan Uang
Hadist yang diriwayatkan dari Ali ra, dia berkata, telah bersabda Rasulullah
saw:
“Jika kamu mempunyai 200 dirham dan sudah cukup setahun maka zakatnya adalah
5 dirham, dan emas hanya dikenakan zakat
bila sudah mencapai 20 dinar dan sudah cukup setahun, maka zakatnya adalah ½
dinar setiap bertambah maka dengan hitungan tersebut. Tidak wajib zakat kecuali
sampai cukup masa setahun”. (H.R Abu Daud)
Kategori Zakat Emas dan Perak
Harta lain yang juga termasuk kategori emas dan perak :
1. Logam/batu mulia dan Mata uang
2. Simpanan seperti : Tabungan, deposito, cek atau surat berharga
lainnya
- Sampai nishob.
- Berlalu satu tahun.
- Bebas dari hutang yang menyebabkan kurang dari nishob.
- Surplus dari kebutuhannya.
- Jika perhiasan tersebut sebagai simpanan atau investasi, wajib
dikeluarkan zakatnya 2.5% dengan syarat nishob dan haul.
- Perhiasan yang haram digunakan dan terbuat dari emas & perak, wajib
dikeluarkan zakatnya.
- Jika perhiasan tersebut untuk dipakai dan dalam batas yang wajar, tidak
dikenakan zakat, jika berlebihan termasuk katagori pertama.
- Penentuan nishabnya adalah senilai dengan nishab emas 85 gram.
Nishab dan kadar zakat emas, perak dan uang
- Nishab emas 20 dinar, 1 dinar = 4,25 gram, maka nishab emas adalah 20 X 4,25 gram = 85 gram.
- Nishab Perak adalah 200 dirham, 1 dirham = 2,975 gram, maka nishab perak adalah 200 X 2,975 gram = 595 gram.
- Demikian juga macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam emas dan perak, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun bentuk lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak. Artinya jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena kewajiban zakat (2.5%).
Selasa, 23 Juli 2013
System standar harga emas..
Seperti yang kita ketahui standar emas telah mulai bisa diterima sebagai suatu sistem alat tukar pada negara-negara khususnya di Eropa sejak tahun 1870, sementara di Amerika Serikat sendiri untuk standar emas juga telah diterima sejak tahun 1879. Pada dasarnya standar emas itu adalah ketetapan nilai tukar dari mata uang pada suatu negara dengan berdasarkan nilai dari emas itu sendiri.
Di negara Inggris sejak tahun 1821-1914 juga sudah menetapkan pondsterling sebagai mata uang negaranya terhadap emas dengan harga £4,2474 per oz emas. Maksudnya, pemerintah Inggris mau untuk menjual atau membeli emas dengan nilai £4,2474 untuk tiap oz nya.
Suatu Negara atau pemerintah yang sudah menetapkan mata uang pada perekonomian negaranya terhadap emas juga harus selalu menjaga ketersediaan komoditi emas supaya dalam proses transaksi perdagangan baik itu jual beli emas bisa tetap terjamin. Apabila pemerintah dari negara lain juga turut menetapkan nilai tukar dari uangnya terhadap nilai emas, maka dengan demikian kurs di antara kedua mata uang negara tersebut yang pada dasarnya memiliki perbedaan lantas bisa kita tentukan.
Misalnya, contoh aplikasi untuk menghitung standar emas :
Pemerintah Amerika Serikat telah menentukan nilai Dolar berdasarkan nilai emas sekitar $ 20,67 per oz emas, Kemudian Inggris juga menetapkan mata uang negaranya pondsterling terhadap emas sekitar GBP 4,274 per oz. dengan demikian nilai tukar dari Dolar Amerika dengan mata uang pondsterling yaitu : ($ 20,67 per oz) / (GBP 4,274 per oz) maka konversi yang didapatkan dari dolar Amerika ke pondsterling yakni USD 4,867/ GBP.
Dari perhitungan di atas, artinya dalam satu pondsterling Inggris bernilai 4,867 Dolar Amerika dan itu sama artinya dengan tiap pembelian satu pondsterling memerlukan 4,867 Dolar Amerika. Untuk jangka panjangnya, nilai dari emas terhadap harga barang lain juga relatif tidak mengalami perubahan yang begitu besar. Jadi dengan mempergunakan standar emas, suatu pemerintah tidak bisa dengan mudahnya menambahkan atau mengeluarkan sejumlah uang yang beredar di dalam perekonomian negaranya karena ada peraturan yang telah disepakati. Hal ini dikarenakan ketersediaan uang itu harus berdasarkan dari suplai emas di negaranya.
Aturan dasar yang digunakan dalam sistem standar emas
Sebuah negara yang sudah menganut berdasarkan standar emas, maka diharuskan untuk menentukan harga emas untuk mata uangnya serta bersedia membeli dan menjual emas dengan harga yang sudah ditetapkan . Adanya aliran emas dari ekspor dan juga impor antar suatu negara juga harus tetap bisa dilakukan tanpa adanya hambatan dan halangan yang mempengaruhinya. Perdagangan emas secara bebas juga telah menjamin bahwa tidak akan ada penyimpangan kurs pasar dari kurs paritas artayasa. Sementara untuk otoritas moneter memang diharuskan untuk memegang suatu cadangan emas yang erat kaitannya dengan aturan pengeluaran uang kertas.
sumber : pakarinvestasi.com
Kamis, 18 Juli 2013
Prediksi Keruntuhan Uang Kertas yang Menakutkan
07.03
No comments
Neil Reynolds - www.theglobeandmail.com
Uang kertas, entah dolar, euro, yen, atau yang lainnya niscaya akan runtuh. Pertanyaannya tinggal mana yang akan hancur duluan?
Apa yang harus dilakukan oleh Ketua Federal Reserve AS Ben Bernanke selanjutnya? Ekonom yang berbasis di London Detlev Schlichter mengatakan, singkat saja: 'turun tahta.'
Apa yang harus Presiden AS Barack Obama lakukan selanjutnya? Mr Schlichter mengatakan, singkat: 'turun tahta.'
Oleh Schlichter, Anda tidak dibiarkan dengan banyak keraguan tentang posisinya. Dia mengatakan mata uang utama dunia ditakdirkan untuk hancur. "Dolar, euro dan yen terkunci dalam perlombaan menuju keruntuhan," tulisnya di website-nya, papermoneycollapse.com.
Satu-satunya pertanyaan adalah mata uang mana yang hancur pertama????
Schlichter berpendapat bahwa kita hanya bagian saja dari jalan melewati krisis pasar-dan bahwa keadaan yang terburuk masih akan datang. Seberapa lebih buruk? Jauh lebih buruk, katanya, dibandingkan peristiwa Great Depression.
Produksi industri AS sekarang 12 kali lebih tinggi daripada pada tahun 1929, katanya, tetapi jumlah dolar AS yang beredar saat ini 200 kali lebih tinggi. Hutang bersih AS 150 persen dari PDB pada tahun 1973, ketika Presiden Richard Nixon melepas standar emas, namun utang bersih mencapai rekor tertinggi pada tahun 2010: 370 persen. Amerika Serikat akan tersungkur lebih jauh, Schlichter menegaskan, karena harus tersungkur lebih lanjut.
Schlichter adalah seorang penulis kelahiran Jerman, yang berbasis di Inggris, penulis buku baru yang provokatif dan menohok, Paper Money Collapse: The Folly of Elastic Money and the Coming Monetary Breakdown. Sebelumnya dia merupakan seorang manajer investasi JPMorgan, Merrill Lynch dan Barat Asset Management selama 20 tahun, ia memutuskan berhenti, untuk menulis peringatan keras dari azab dolar yang akan datang ini.
Dari perspektif melankolisnya sendiri, ia berpikir krisis akan datang sedikit lambat - karena, katanya, bank sentral masih membayangkan bahwa mereka dapat menjaga mesin cetak uang terus bisa berjalan tanpa batas. Semakin lama tombol mesin ditekan, Schlichter mengatakan, semakin besar bencana yang akan terjadi. Dan Mr Bernanke belum juga memulai.
Schlichter ingat pernyataan terkenal Mr Bernanke pada tahun 2002 itu, dengan memiliki percetakan terbesar di dunia, Federal Reserve dapat menghasilkan 'seberapa banyak pun dolar praktis tanpa perlu ada biaya.' Schlichter mengatakan: "Dalam logika sistem saat ini, langkah yang akan dilakukan berikutnya [oleh bank sentral] harus melibatkan penggunaan mesin cetak untuk mendanai pengeluaran negara lebih lanjut, untuk membiayai pengeluaran perusahaan dan, akhirnya, untuk mendanai belanja konsumen." Dengan kata lain, bank sentral tidak akan menghentikan pencetakan uang sampai mereka secara kuantitatif meredakan kredit mobil dan kartu kredit masyarakat.
Analisis Schlichter bertumpu pada interpretasi Aliran Austria. ("Tidak ada cara untuk menghindari keruntuhan akibat booming yang dibawa oleh ekspansi kredit," tulis Ludwig von Mises pada tahun 1949 dalam buku Human Action. "Alternatifnya adalah hanya apakah krisis harus datang cepat...atau lambat sebagai akhir dan bencana total dari sistem mata uang bersangkutan.") Premis penting dari Aliran Austria adalah bahwa dolar kertas terus merosot, cepat atau lambat,"sampai tak sepeser pun."
Buku Paper Money Collapse menelusuri sejarah uang kertas yang bukan dijamin setidaknya sebagian oleh komoditas tetap (yang, untuk praktisnya, perak atau emas). Penemuan kertas dan tinta oleh orang Cina pada tahun 1000, Schlichter mencatat - telah menyebabkan dengan cepat penemuan uang kertas. Dia melacak uang kertas China melalui sejumlah dinasti. Kesimpulannya: Semua eksperimen ini berakhir dengan mata uang yang tak berharga. Orang Cina meninggalkan uang kertas pada tahun 1500 (tapi kembali lagi pada sistem ini, di bawah pengaruh Barat, pada 1800-an).
Mata uang kertas, katanya, tidak bernasib lebih baik di Barat. Dia mendefinisikan hiperinflasi sebagai kenaikan bulanan harga konsumen 50 persen atau lebih; abad ke-20, katanya, menunjukkan 29 hiperinflasi seperti yang melibatkan 'uang elastis'. Menurut Schlichter keruntuhan mata uang AS, Eropa dan Jepang akan merupakan yang terburuk dalam sejarah. Ini akan menjadi keruntuhan yang "menyejarah."
Schlichter tidak merekomendasikan suatu strategi investasi untuk 'kerusakan moneter yang tengah datang.' Dan emas, ia menegaskan, tidak boleh dianggap sebagai investasi. Emas adalah uang, alat tukar - dan merupakan bentuk yang paling sukses sepanjang sejarah. Tapi uang tunai di saku Anda tidak member bunga atau dividen, dan emas di saku Anda pun tidak juga.
"Keruntuhan uang kertas akan menjadi peristiwa penting," tulisnya. "Ini akan menghasilkan transfer kekayaan secara bersejarah." Tapi itu tidak berarti akhir dari peradaban. Semua kekayaan bukanlah ilusi. Dan kekayaan riil akan tetap bertahan.
Sumber: http://www.theglobeandmail.com/
Senin, 01 Juli 2013
Antara Optimisme dan pesimisme di dunia emas
By : muhaimin iqbal - gerai dinar
Setelah
penurunan beruntun harga emas dunia sejak April lalu, tidak dipungkiri bahwa
semakin banyak pihak yang pesimis dengan perkembangan harga emas kedepan. Pada
saat yang bersamaan tentu masih ada juga yang tetap optimis atau setidaknya
mengambil kesempatan dari harga emas yang terdiscount secara besar-besaran ini.
Siapa yang pesimis dan siapa yang optimis ?
Yang
pesimis ini jumlahnya sedikit, tetapi
mereka inilah yang perkasa di perdagangan emas dunia – terutama yang dalam
bentuk paper seperti ETF dlsb. Jadi meskipun jumlahnya sedikit mereka tetap
mampu mengguncang dunia perdagangan emas.
Lantas
siapa yang masih bisa optimism dan bahkan mengambil kesempatan dalam kejatuhan
harga emas dunia ini ? Mereka ini adalah masyarakat yang secara tradisi memang
menggunakan emas sebagai bagian dari lifestyle-nya. Masyarakat China dan
India yang penduduknya mewakili sekitar 40% dari penduduk dunia, kebutuhan emas
fisiknya mewakili sekitar 61 % dari pasar emas fisik dunia.
Pasca
kejatuhan harga emas di bulan April lalu, emas fisik di India rata-rata
diperdagangkan lebih tinggi sekitar US$ 40 /ozt diatas harga emas dunia per troy
ounce-nya. Dua pekan lalu sekitar 10,000-an orang di China rela ngantri di jalan
untuk memborong emas yang lagi jatuh harganya.
Di
sinilah ironinya, pasar emas fisik yang begitu besar seperti di India, China dan
bahkan juga Indonesia, dalam hal harga masih sangat terpengaruhi oleh pasar emas
non fisik. Sebaliknya Amerika dan Eropa dimana pasar emas fisiknya hanya sekitar
10% dari pasar emas fisik dunia, perdagangan bursanya yang di London dan New
York seolah menjadi penentu harga emas dunia.
Pasar Emas Fisik Dunia (Source : World Gold
Council)
Lantas
dimana posisi kita di antara kedua kelompok tersebut di atas ? Kita bukan George
Soros atau Goldman Sachs, tapi kita juga bukan India atau China. Kita
membutuhkan emas bukan sebagai investasi atau hanya sekedar lindung nilai, kita
membutuhkan emas untuk timbangan yang adil dalam muamalah, dan bahkan juga
membutuhkan emas untuk pelaksanaan sebagian syariat itu sendiri seperti
menentukan nilai untuk membayar zakat dlsb.
Bahkan
negeri ini sebenarnya juga butuh tambahan cadangan emas di bank sentral yang
kini tinggal sekitar 73 ton atau sekitar 24% lebih rendah dari cadangan emas
kita selama seperempat
abad antara tahun 1981 s/d 2006. Kalau tidak bisa
menambah, setidaknya kini kesempatan baik untuk membeli kembali emas yang pernah
kita jual di akhir 2006 – mumpung harga lagi
murah ! Belasan negara di dunia menambah cadangan emas di bank sentral-nya
sepanjang tahun lalu, mengapa tidak Indonesia ?
Bagi
negeri-negeri yang penduduknya mayoritas Islam, selain meningkatkan cadangan
emas bank sentralnya, mestinya bisa juga mengikuti apa yang dilakukan India dan
China – yaitu mendorong rakyatnya menguasai emas fisik dunia. Bukan untuk
ditimbun atau sekedar dijadikan perhiasan, tetapi agar kita punya timbangan yang
adil untuk muamalah itu kembali – mumpung harga emas dunia lagi murah. Wa Allahu
A’lam.


























