Bila ada satu institusi yang akhir-akhir ini paling banyak dikambing hitamkan di seluruh dunia untuk kelesuan ekonomi, jatuhnya harga saham, jatuhnya nilai tukar mata uang dan juga bahkan jatuhnya harga emas dunia – maka institusi itu pastilah the Fed – bank sentralnya Amerika. Anda bisa baca di seluruh media ekonomi dunia, maka seolah the Fed adalah aktor tunggal dari gonjang-ganjing bursa saham, pasar modal dan pasar uang itu. Seandainya toh benar bahwa the Fed itu adalah kambing hitam ekonomi dunia, pertanyaannya adalah lha kok mau kita dipermainkan oleh mereka ?
Inilah ekonomi
kertas itu, ketika kinerja ekonomi bukan diukur oleh kemampuan riil suatu negara
dalam memberikan kemakmuran rakyatnya, kemampuan riil dalam memproduksi
bahan-bahan kebutuhan pokok, kemampuan riil menjawab problema yang nyata di
masyarakat – tentang air, energy, udara dlsb., maka kinerjanya seolah hanya
tercermin pada pasar modal, pasar uang dan sejenisnya.Lha kalau jatuh bangunnya harga saham yang dipicu oleh rapat-rapat bulanan the Fed – bukan merupakan ukuran kinerja ekonomi kita, mengapa para pelaku ekonomi kita rela pontang-panting dibuat pusing oleh setiap kebijakan the Fed ?
Di situlah masalahnya, selama kinerja kita didominasi oleh ukuran yang bernama harga saham, nilai tukar mata uang dlsb. maka kebijakan-kebijakan the Fed tetap akan bisa membuat gonjang-ganjing ekonomi sejagat.
Si petani-pun tidak akan pusing memikirkan apa yang akan diputuskan the Fed dalam rapat bulanannya, petani akan focus berinovasi pada bagaimana meningkatkan hasil panennya. Tidak ada resources terbuang hanya untuk merespon kebijakan the Fed. Dan si petani tidak perlu mengkambing hitamkan the Fed atau siapapun ketika hasil panenannya turun.
Maka seperti si petani itulah cara kita menghindarkan diri dari pengaruh buruk si kambing hitam global yang bernama the Fed tersebut. Fokuslah kita pada bagaimana menggarap sektor riil khususnya yang sumber dayanya ada di negeri ini sendiri. Lebih khusus lagi pada upaya-upaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat seperti FEW (Food, Energy and Water).
Lantas bagaimana Dinar dan Emas yang harganya juga ikut di-gonjang-ganjing-kan oleh kebijakan the Fed ? sama dengan sektor riil tersebut solusinya. Ketika membeli Dinar atau emas dengan harapan untuk memperoleh gain jangka pendek – maka kita akan selalu dipusingkan oleh hasil rapat-rapat the Fed.
Tetapi bila kita membeli Dinar atau emas sebagai bagian dari strategi untuk membangun ketahanan ekonomi, mempertahankan daya beli jangka panjang atas hasil jerih payah kita bekerja – maka kebijakan bulanan the Fed tidak akan berpengaruh pada strategi ketahanan ekonomi kita tersebut.
Konkritnya seperti apa strategi ketahanan ekonomi atau mempertahankan daya beli dengan Dinar atau emas ini ? sederhananya adalah membeli Dinar atau emas pada saat kita memiliki kelebihan uang kertas, dan menjualnya saat kita membutuhkan Dinar/emas tersebut untuk modal usaha sektor riil, membeli kebutuhan pokok dan kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat jangka panjang.
Bila lawan (penggunaan) Dinar atau emas kita adalah benda riil atau kebutuhan riil, tidak harus berarti kita membayar dengan Dinar atau emas – tetapi menggunakan dana pencairan emas/Dinar – segera setelah pencairannya – untuk membayar benda atau kebutuhan riil ini , maka insyaAllah kita akan terbebas dari pengaruh gonjang-ganjing-nya the Fed.
Sebaliknya dengan Dinar atau emas-pun kita bisa menjadi korban kambing hitam – manakala kita berspekulasi jangka pendek dan sekedar mempertukarkan Dinar atau emas kita dengan uang kertas tanpa didasari suatu keperluan yang riil.
kambing hitam itu begitu perkasanya sehingga mampu mengaduk-aduk ekonomi negeri-negeri sejagat, tetapi kita bisa menghindari pengaruhnya – baik secara pribadi maupun sebagai negeri. Kerja keras kita di sektor riil dan sikap kita terhadap ketahanan ekonomi antara lain yang akan membebaskan kita dari pengaruh buruk kambing hitam ini.




























