Minggu, 20 April 2014
Kebohongan IMF tentang ledakan ekonomi dunia
IMF belum lama ini mengumumkan bahwa masalah ekonomi dunia telah berhasil di atasi dan resiko krisis global berikutnya telah menjadi nol. IMF menekankan bahwa perbaikan ekonomi yang signifikan telah terjadi di Inggris dan AS. Benarkah?
Mari kita lihat Inggris.Inggris adalah negara dengan defisit anggaran struktural yang amat besar, begitu pula dengan defisit current account nya, dengan subsidi pasar perumahan yang bubble, dimana orang-orang biasa mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya. Hanya utang konsumen dalam jumlah besar saja yang membuat mereka bertahan.
Sektor kuat lainnya secara artifisial di Inggris adalah industri keuangan di kota London. Pencetakan uang dari seluruh dunia plus pasar gelap telah memberi keuntungan yang sangat besar bagi pajak pendapatan kota London dan Inggris . Namun pasar property dan sektor keuangan di Inggris sebagian besar adalah bubble yang pada akhirnya akan meledak.
Bagaimana dengan kekuatan ekonomi dunia lain menurut IMF yaitu Amerika Serikat (AS) ? Ini adalah negara yang telah meningkatkan utangnya dari $8 triliun menjadi $17 triliun dalam 8 tahun terakhir dan bank sentralnya telah mencetak uang senilai $3 triliun selama 8 tahun periode yang sama. Negara ini juga mengalami defisit anggaran dan current account dalam beberapa dekade.
Amerika juga negara dimana upah riil pekerjanya telah jatuh dalam beberapa dekade, dimana 50 juta penduduknya menerima kupon makanan, dan dimana angka pengangguran riilnya mencapai 23%. IMF tidak menyebutkan AS sebagai negara dimana GDP riilnya dengan menggunakan angka deflatornya, telah jatuh nilainya sejak 2008.
Pasar property juga benar-benar jatuh di AS. Tetapi orang-orang kaya di AS tentu menangguk keuntungan. Kini 0,01% orang terkaya di AS menguasai aset 11% dari perekonomian.
Dan di wilayah Eropa, Yunani baru saja menerbitkan obligasi senilai $3 milyar dengan tingkat bunga 5%. Ini adalah negara yang sedang bangkrut dan tidak mampu membayar utangnya dimana utangnya senilai 180% dari GDPnya.
Menilik negara-negara zona Eropa, rasio utang/GDPnya telah naik dari 70% menjadi 94% di Spanyol dalam 2 tahun terakhir, dan dari 120% menjadi 132% di Italia. Dan di Perancis, yang akan menjadi masalah besar berikutnya di zona Eropa, rasio utang/GDPnya meningkat dari 86% menjadi 94% dalam 2 tahun terakhir.Utang meningkat demikian cepat di zona Eropa karena tidak satupun masalah yang bermula tahun 2008 yang berhasil diselesaikan.
Jumat, 11 April 2014
Lebih enak Gajian dengan Kambing....bukan dengan uang
07.00
No comments
BY : Muhaimin Iqbal - Gerai dinar
Salah satu bukti kebenaran Islam itu terletak pada keadilan hukum-hukumnya sepanjang jaman. Sejak jaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam sampai sekarang, orang yang melanggar larangan haji dendanya (dam) tetap menggunakan standar kambing. Demikian pula untuk aqiqah ketika anak kita lahir, tetap menggunakan kambing. Bayangkan kalau denda itu berupa uang kertas, harus terus menerus direvisi karena nilainya yang terus menyusut.
Standar denda atau kewajiban berupa benda riil ini menjadikan manfaat denda atau kewajiban tersebut tetap dapat dirasakan - atau dengan kata lain tetap bernilai sepanjang jaman. Standar nilai terbaik berupa kambing atau domba ini juga dikuatkan dalam dua hadis berikut :
Dari Abu Said berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim)”. (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang diatasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang diatasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan sholat, memberikan zakat dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).
Berdasarkan dua hadits sahih tersebut kita menjadi paham kini bahwa kambing adalah harta muslim terbaik dan menggembalakannya adalah penghidupan terbaik setelah berjihad. Hal ini antara lain juga bisa difahami dari manfaat atau kegunaan kambing-kambing atau domba tersebut. Bila kambing atau domba tidak ada, dengan apa muslim mebayar dam-nya ?, dengan apa dia ber-aqiqah ? dengan apa dia ber-qurban ?
Syariat Islam akan terus tegak di muka bumi sampai akhir jaman, maka memelihara sarana untuk penegakannya – antara lain seperti memelihara ketersediaan kambing/domba tersebut – menjadi salah satu pekerjaan terbaik di muka bumi sampai akhir jaman.
Di jaman modern ketika uang dibuat dari awang-awang berupa uang kertas – yang nilainya terus menyusut, atau uang dibuat dari bit-bit digital seperti bitcoin dan sejenisnya yang semuanya tidak memiliki acuan nilai baku, maka menjadi semakin penting bagi umat ini untuk memiliki standar nilainya sendiri. Standar nilai itu bisa berupa Dinar dan Dirham seperti yang sudah diperkenalkan situs ini selama enam tahun terakhir, atau dengan standar kambing yang sedang kami persiapkan segala systemnya.
Keduanya memiliki kesamaan, Dinar dan Dirham mengacu pada nilai fisik emas dan perak. Sedangkan kambing mengacu pada nilai fisik kambing atau domba. Dinar dan Dirham bagi komunitas pembaca situs ini tentu sudah sangat familiar seluk beluknya, tetapi bagaimana dengan satuan kambing ?
Dalam sejarah Islam, kambing atau domba ternyata juga bukan hanya untuk qurban, aqiqah, membayar dam, dan memenuhi kebutuhan daging sehari-hari. Tetapi juga dipakai untuk standar gaji bagi para ulama, guru dan profesi-profesi lain, ini sangat bisa dipahami karena kambing atau domba dapat secara akurat merepresentasikan kebutuhan dan nilai yang berlaku di masyarakat pada masing-masing jamannya.
Lantas kalau sekarang kita sudah familiar memiliki tabungan dalam uang kertas – yang sebenarnya kita sadari nilainya terus berkurang, sebagian kita juga mulai mengenal uang digital – yang tidak memiliki nilai intrinsik – mengapa tidak kita juga mengenal simpanan berupa harta terbaik (berdasarkan hadis tersebut di atas) berupa kambing atau domba ?
Bayangkan kalau tabungan Anda berupa kambing atau domba, bertambahnya nilai tabungan Anda pun halal karena kambing atau domba secara hafiah dia tumbuh dan beranak ! Beranak-pinaknya tabungan Anda-pun menjadi halal karena berasal dari anak-pinak kambing-kambing Anda.
Tetapi betapa merepotkannya bila masing-masing kita mengelola kambing atau domba kita sendiri, belum lagi menyangkut keahlian menggembala yang tidak semua kita bisa tentunya. Maka kunci solusinya ada dalam hadits : “Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal lahan gembalaan, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745)
Kebun-kebun yang kami kelola misalnya, bisa menjadi lahan gembalaan yang kami syirkah-kan dengan Anda semua. Kami memiliki lahan gembalaan , lengkap dengan sarana dan prasarananya – Anda yang memiliki kambing lengkap dengan biaya pemeliharaannya. Hasil dari penggembalaan tersebut berupa pertumbuhan berat dan anak-anaknya dapat kita bagi dua, demikian pula dengan resiko-resikonya.
Dalam skala terbatas, program ini telah berjalan antara kami dengan beberapa orang. Bila eksperimen awal ini berjalan mulus, maka konsep ini insyaAllah bisa di – scale-up sampai tingkat berikutnya.
Konsepnya mirip dengan pengenalan Dinar dahulu, kami mulai dengan bersyirkah dalam bentuk Qirad dengan beberapa orang, kemudian kami perkenalkan versi scale-up-nya dengan M-Dinar.
Namanya bank tetapi bukan seperti bank finansial, dia lebih menyerupai bank fisik yang digunakan oleh misalnya teman-teman aktivis lingkungan dengan bank sampah-nya. Atau teman-teman aktivis kemanusiaan dengan bank darah-nya. Kita-kita para aktivis sosial ekonomi muslim secara global insyaAllah akan memiliki LambBank tersebut.
Persamaan dengan bank finansial hanyalah pada cara cara kerjanya. Di bank sampah Anda menyetor sampah, di bank darah Anda menyetor maupun mengambil darah, maka di LambBank Anda menyotor kambing/domba atau menarik kambing/domba. Bila di bank finansial dikenal nilai tukar, di LambBank dikenal harga jual-beli.
Menyetor kambing tidak berarti Anda harus menuntun kambingnya ke cabang LambBank terdekat – meskipun hal inipun dapat Anda lakukan – Anda dapat lakukan dengan menyotorkan uang Anda kemudian dikonversikan ke setara kambing pada harga jual saat itu.
Demikian pula ketika Anda akan mengambil kambing Anda, bisa Anda ambil dalam bentuk kambing fisik dan Anda tuntun ke rumah – atau kalau tidak mau repot ya bisa dicairkan dalam nilai rupiah dengan menjualnya ke pihak pengelola – yang kemudian dibeli pengelola dengan harga beli.
Bila di bank finansial asset itu berupa tumpukan uang kertas di brankas , deposit mereka di bank sentral dan bank-bank lain, Asset LambBank adalah kambing dan domba di lahan-lahan gembalaan yang dikelolanya dan juga kambing/domba yang dikelola oleh mitra-mitranya.
Kehadiran LambBank ini akan memiliki multiplier effects yang luar biasa. Selain memenuhi kebutuhan muslim yang terus tumbuh untuk berbagai pelaksanaan syariat tersebut diatas, memenuhi kebutuhannya akan protein hewani, melindungi nilai bahkan menumbuhkan nilai para ‘deposan’ pemilik kambing, juga akan membalik negeri ini dari defisit daging menjadi surplus daging.
Kok bisa ? bayangkan dalam kondisi pengelolaan peternakan seperti sekarang, siapa yang mau berternak kambing, domba atau sapi ? Nyaris tidak ada, kecuali beberapa konglomerat perdagingan. Petani tidak punya uang untuk mengembangkan ternaknya, orang kebanyakan kayak kita-kita tidak memiliki minat untuk beternak selain juga memang nyaris tidak tahu apa-apa tentang ternak ini. Dampak dari situasi ini membuat kita tidak bisa makan daging secara cukup dan generasi kita terus melemah.
Keberadaan LambBank akan membuat orang dapat beternak kambing atau domba semudah membuka account di bank. Bagi Anda yang sudah familiar dengan system M-Dinar, maka exactly seperti itulah Anda menyetor dan menarik kambing atau domba-domba Anda nantinya.
Lebih jauh konsep ini kita buat dalam bahasa Inggris LambBank karena dengan konsep ini pulalah kita ingin merubahpositioning perdagingan kita di kancah global. Selama ini industri perdagingan kita passive dan defensive, kebobolan terus dalam menghadapi serbuan dari pemasar-pemasar daging dan susu dari seluruh penjuru dunia.
Setelah adanya LambBank kebanyakan orang kayak kita-kita ini bisa beternak, dana ke industri peternakan kambing dan domba akan mengalir dalam skala besar. Bersamaan dengan itu terjadi perubahan mindset tentang lahan gembalaan, kebun-kebun, hutan, dan seluruh lahan hijau tiba-tiba menjadi potensi penggembalaan yang luar biasa – maka bisa dibayangkan dampaknya pada ketersediaan kambing dan domba di negeri ini. Tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi insyaAllah akan bisa kita gunakan untuk membanjiri pasar perdagingan global.
Bersamaan itu pula akan disosialisasikan bahwa daging kambing sesungguhnya lebih baik dari daging sapi bahkan juga lebih baik dari daging ayam berdasarkan tingkat kalori, lemak dan kholesterolnya menurut USDA (United States Department of Agriculture). Masalah ini sudah pernah saya angkat dalam tulisan lima tahun lalu dengan judul :“Swasembada daging Nasional Dari kambing, Mengapa Tidak…?”.
Maka sunnah seluruh nabi yang menggembala kambing atau domba ini, pasti mengandung kebaikan yang sangat banyak. Kini Anda bisa bener-bener belajar menggembala di lahan gembalaan kami, dan kalau inipun tidak sempat – insyaAllah dalam waktu dekat Anda sudah bisa memiliki account di LambBank atau bank kambing/domba Anda.
Bayangan saya, dalam waktu yang tidak terlalu lama karyawan-karyawan perusahaan akan rame-rame menuntut digaji dalam kambing – karena dengan itu tidak lagi dibutuhkan negosiasi alot setiap tahun tentang UMR ! Ditengah uang kertas yang terus runtuh nilainya, tidak bertambah nilainya kecuali bercampur dengan riba. Tabungan domba atau kambing secara harfiah akan tumbuh (domba dan kambing jadi besar) dan mereka juga akan terus beranak.
Jadi, mau digaji dengan kambing ? – tunggu tanggal mainnya setelah infrastruktur penggembalaan dan system kami siap. InsyaAllah.
Rabu, 12 Maret 2014
Belajar dari krisis financial....
Meskipun dampaknya yang sangat luas melanda seluruh dunia, nampaknya sangat sedikit orang yang memahami apa dan bagaimana krisis ini, dari mana dia berasal, apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasinya dst. Karena sedikit yang paham, maka lebih sedikit lagi yang bisa mengambil pelajaran.
Agar kita bisa mengambil pelajaran, marilah kita menjadi golongan yang sedikit tersebut dengan mencoba memahami krisis ini. Kita coba menuliskan dengan lebih sederhana berupa point-point pentingnya saja sebagai berikut :
- Krisis ini bermula di Amerika Serikat; penyebab awalnya adalah tindakan bank sentral mereka the Fed yang berusaha memulihkan ekonomi paska peristiwa WTC 9/11 dengan cara menurunkan suku bunga secra terus menerus.
- Rendahnya suku bunga memicu keluarga-keluarga di Amerika keranjingan meng-‘gadaikan’- rumahnya, menjadikan rumah-rumah mereka sumber duit untuk keperluan yang nggak terlalu penting sekalipun.
- Karena maraknya permintaan kredit perumahan ini, maka lahirlah opportunis-opportunis baru seperti Quick Loan Funding yang memberikan kredit bahkan ke orang-orang yang tidak layak menerima kredit, atau seperti Ownit yang memberikan kredit perumahan sampai 100% - tanpa pengaman uang muka !.
- Kredit atau pinjaman ke orang yang tidak seharusnya menerima yang kemudian disebut Sub-prime borrowers, inilah yang kemudian memicu gelombang krisis yang sangat besar dan luas dampaknya.
- Penyebar luasan kredit buruk ini difasilitasi oleh pasar modal kebanggaan Amerika – Wall Street – yang mem-package investasi-investasi ‘sub-prime’ menjadi seolah investasi yang menjanjikan. Investor diseluruh dunia membeli investasi buruk ini hanya karena melihat ini berasal dari Wall Street di Amerika – yang mereka selalu banyangkan sebagai ‘gurunya’ investasi.
- Situasi ini diperburuk dengan munculnya product-product dengan nama canggih seperti Collateralized Debt Obligations (CDOs) yang tidak hanya tidak dipahami oleh orang awam, tetapi gurunya bank sentral sekaliber Alan Greenspan – pun mengaku tidak memahami produk ini .
- Bukan hanya perorangan, atau investor tanggung yang membeli produk-produk investasi buruk tersebut. Bahkan institusi pemerintah-pun ikut-ikutan membeli.
![]() |
| Belajar dari Krisis Keuangan Dunia |
Karena banyaknya kredit yang macet, bank-bank mulai terkena dampaknya . Kepercayaan antar mereka menurun, pinjaman antar bank berkurang dan akhirnya likuiditas-pun menghilang dari pasar.
Ketika pemerintah-pemerintah dunia menyedari krisis ini telah terjadi dan telah menyeret sendi-sendi ekonomi secara luas, mereka mengambil berbagai langkah darurat. Namun sayangnya langkah-langkah yang mereka tempuh justru banyak yang akan menimbulkan potensi krisis jangka panjang – misalnya melalui penghancuran nilai mata uang melelaui program quantitative easing mereka.
Lantas apa pelajarannya dari krisis tersebut ? banyak, diantaranya :
- Jangan membangun ekonomi berbasis Riba; karena riba-lah yang mendorong institusi keuangan mencari untung dari bunga yang harus dipikul oleh orang-orang yang sebenarnya tidak mampu sekalipun.
- Jangan berhutang kecuali untuk hal-hal yang memang sangat dharurat. Berhutang, apalagi yang ribawi untuk keperluan yang tidak terpaksa – akan menjerat pelakukanya dalam lilitan hutang – yang kita diajarkan untuk berlindung darinya pagi dan petang.
- Bagi otoritas moneter, jangan menggunakan instrumen bunga (riba) untuk men-stimulir pertumbuhan ekonomi – pasti gagalnya (karena dimusuhi Allah dan RasulNya – QS 2 : 275-279)
- Untuk para investor, jangan investasi pada produk yang sulit dipahami. Investasikanlah pada hal-hal riil yang Anda mudah memahaminya.
Wallahu A’lam.
Selasa, 11 Maret 2014
Ketika sistem kapitalisme GAGAL!!!!
Sistem
Kapitalisme telah gagal! Setidaknya hal ini dinyatakan oleh Prof. Necati Aydin,
dari Florida State University dalam sebuah kuliah malam hari di Pascasarjana UI
Salemba, Senin 24 Mei 2010 silam. Topik
yang sama pernah dia sampaikan pada
"The Ninth Harvard University Forum on Islamic Finance" yang
berlangsung tanggal 27-28 Maret 2010.
Beliau
menyatakan bahwa para pakar ekonomi di AS gagal memprediksi tsunami financial
tahun 2008 yang dikenal dengan istilah Global Financial Crisis. Sejumlah ekonom
menyatakan krisis 2008 adalah yang terburuk setelah Great Depression 1930-an.
Mereka yakin bahwa sistem kapitalisme yang mereka usung sudah sempurna, dan
mereka bekerja keras dalam sistem itu. Namun krisis ekonomi 2008 membuat mereka
sadar bahwa ada yang salah dengan sistem ini. Salah satu kesalahan fatal itu
adalah tidak adanya unsur moral dalam kapitalisme. Sehingga pasca krisis
universitas-universitas di AS sibuk mengkaji unsur psikologis moral dalam sistem
ekonomi.
Yang
menarik beliau mengawali kuliahnya dengan membaca surat At Takatsur. Surat ini
menggambarkan dengan detail prilaku masyarakat Amerika. Dibawah naungan
kapitalisme mereka berkerja keras untuk menumpuk kekayaan dengan mengabaikan
bahwa ada hak-hak orang lain di sekitar mereka yang lemah. Sifat individualime
ekonomi inilah yang menyebabkan harta
terpusat pada orang-orang kaya saja. Padahal Allah swt dalam surat Al Hasyr : 7
mendorong agar harta itu tidak hanya berputar pada golongan kaya saja.
Perputaran
harta inilah yang dikehendaki oleh Islam, untuk menjamin ekonomi tetap berjalan.
Ketika harta bertumpuk pada golongan tertentu saja, maka fondasi krisis sedang
ditegakkan.
Maka
dia menyatakan bahwa kunci ekonomi dalam islam adalah sedekah, kenapa? Karena
sedekah adalah instrumen kunci agar harta tetap mengalir dan berputar sebagai
lawan dari riba.Allah SWT menjelaskan dalam surat Al Baqarah : 276 “Allah menghancurkan riba dan
menyuburkan sedekah.”
Penyakit kronis itu adalah krisis financial
Ketika Anda terkena flu dan bersin di ruang publik, besar
kemungkinan kerumunan orang di sekitar Anda akan ikut terkena flu. Seperti
inilah situasi pasar financial global di era teknologi informasi. Eropa yang
bersin-bersin beberapa tahun ini - terakhir hari-hari ini Ukraina – bisa membuat
negara-negara dalam ‘kerumunan’nya ikut terkena flu. Sama dengan ketika Thailand
bersin di tahun 1997 , yang kemudian terkena ‘sakit flu parah’ malah Indonesia.
Bagaimana wabah ini menyerang urusan finansial Anda dan bagimana Anda bisa
menghindarinya ?
Rata-rata orang
Indonesia mengalami dampak ‘flu berat’ Indonesia pada tahun 1997 tersebut.
Penghasilan kita bila dinilai dalam mata uang Dollar atau dinilai dengan emas
saat itu terpotong sampai kisaran 75 %. Tidak semua terkena memang, sama dengan
dalam setiap wabah penyakit – orang yang fit kondisinya dia bisa saja selamat
dari serangan wabah yang hebat sekalipun.
Siapa
orang-orang yang fit dan terbebas dari wabah finansial tersebut ?, dari
pengalaman tahun 1997 kita tahu bahwa mereka yang fit ini adalah mereka-mereka
yang mayoritas assetnya berupa benda riil atau terkait langsung dengan benda
riil yang dimiliki atau dihasilkannya.
Petani kakao,
cengkeh, kopi, sawit dlsb. yang orientasi produknya untuk ekspor menjadi
orang-orang yang beruntung saat itu. Dalam nilai Dollar penjualan ekspor mereka
tidak mengalami perubahan, namun karena Rupiah yang merosot tinggal ¼-nya
membuat income mereka melonjak 4 kalinya dalam Rupiah.
Kelompok pegawai
adalah yang paling rentan dalam menghadapi wabah financial seperti yang terjadi
pada krismon 1997 tersebut.
Pertama gaji mereka tidak mengalami banyak
perubahan, sementara barang-barang kebutuhan apalagi yang mengandung komponen
impor melonjak harganya.
Kedua jerih
payah mereka bertahun-tahun yang tersimpan dalam asuransi, dana pensiun,
tunjangan hari tua dlsb. tergerus nilainya tinggal seperempatnya. Ibarat
bongkahan batu karang, krismon 1997 adalah ombak besar yang menghanyutnya ¾
bongkahan batu karang tersebut. Kemudian sisa yang ¼-nya terkikis secara
perlahan tetapi pasti oleh apa yang disebut inflasi !.
Penyakit kronis
yang bernama inflasi ini-pun juga tidak kalah dasyatnya dalam menggerogoti asset
dan penghasilan pegawai.
Selama sepuluh tahun terakhir saja
harga barang-barang secara umum di
Indonesia naik sebesar 90 %, artinya bila akhir tahun 2004 sebuah barang
harganya 100, akhir 2013 harga barang tersebut menjadi 190. Harga makanan lebih
menyolok lagi, yaitu bahan makanan yang berharga 100 pada akhir 2004, menjadi
253 pada akhir 2013.
Inflasi 2005-20013 (BPS)
Lantas bagaimana
kita semua bisa melindungi asset dan penghasilan kita dari wabah finansial dan
penyakit kronis inflasi tersebut ? Asset-asset riil umumnya bisa melindungi kita
dari wabah maupun penyakit kronisnya.
Emas atau Dinar yang dalam beberapa bulan terakhir banyak dihindari orang justru ketika harganya lagi murah, sebenarnya malah terbukti selama 10 tahun terakhir mampu mengungguli seluruh inflasi harga-harga umum maupun harga makanan. Emas Anda yang berharga 100 pada akhir tahun 2004, menjadi 408 pada akhir 2013 !
Kenaikan Harga-Harga 2005-2013
Maka saya
mengulangi statement saya di tulisan sebelumnya, bahwa saat terbaik untuk
melakukan investasi adalah justru ketika orang kebanyakan rame-rame sedang
melupakannya. Statistik yang loud and
clear tersebut di atas, bisa menjadi dasar bagi yang berinvestasi karena
memang tahu – dan bukan karena ikut-ikutan. InsyaAllah.
Rabu, 05 Maret 2014
Antara Emas dan Perang...Afganistan diserang karena emasnya, bukan terorisme..
By: muhaimin iqbal- gerai dinar
Dalam hubungan sebab - akibat antara emas dan perang, emas bisa menjadi keduanya. Emas bisa menjadi penyebab perang, dan juga sebaliknya emas bisa menjadi akibat perang. Emas yang menjadi sebab perang yang masih terjadi hingga kini antara lain adalah di Afganistan. Menurut laporannya Global Research Canada, Amerika dan NATO memerangi Afganistan bukan karena alasan yang selama ini diberitakan sebagai upaya memerangi terorisme. Tetapi dibalik itu adalah apa yang mereka sebut profit driven – resources war.
Dalam hubungan sebab - akibat antara emas dan perang, emas bisa menjadi keduanya. Emas bisa menjadi penyebab perang, dan juga sebaliknya emas bisa menjadi akibat perang. Emas yang menjadi sebab perang yang masih terjadi hingga kini antara lain adalah di Afganistan. Menurut laporannya Global Research Canada, Amerika dan NATO memerangi Afganistan bukan karena alasan yang selama ini diberitakan sebagai upaya memerangi terorisme. Tetapi dibalik itu adalah apa yang mereka sebut profit driven – resources war.
Afganistan
ternyata sangat kaya dengan sumber daya alam berupa minyak, gas, mineral dan
juga tentu emas. Tidak heran mereka bersedia membiayai perang dengan dana
milyaran Dollar, karena dibalik itu mereka mengincar sumber daya alam yang
nilainya trilyunan Dollar. Maka itulah
disebut profit driven – resources
war, perang yang dilandasi motif keuntungan dari sumber daya
alam.
Emas yang menjadi
akibat perang adalah kenaikan harga emas yang meroket di masa perang yang terjadi karena dua hal utama. Pertama karena
ketidak pastian yang ditimbulkan oleh perang membuat orang mencari penyelamat
untuk aset-asetnya, emas menjadi perburuan karena ukurannya yang kecil mudah
disembunyikan dan mudah dijual kapanpun dan dimanapun.
Kedua karena
jumlah dana besar yang dibutuhkan oleh pemerintah yang membiayai perang, maka
cara yang paling mudah adalah dengan mencetak uang. Supply uang melonjak – yang
kemudian berdampak pada inflasi yang sangat tinggi.
Contoh klasiknya
adalah supply uang yang melonjak 40 kali di Amerika di masa perang civil.
Akibatnya harga-harga mengalami inflasi ribuan persen seperti dalam grafik di
bawah. Dalam situasi seperti ini tidak ada lindung nilai yang lebih efektif
ketimbang emas.
Supply Uang Di Masa Perang
Di era informasi
seperti saat ini, perang bisa disaksikan live dari tempat dan pada saat
kejadiannya. Seperti ketegangan ancaman perang di Ukraina hari-hari ini, maka
tidak mengherankan bila krisis di Ukraina ini bisa berdampak sangat luas pada
ekonomi Global termasuk diantaranya fluktuasi harga emas akhir-akhir
ini.
Ternyata bukan
hanya krisis di negara besar seperti Amerika dan China saja yang bisa menggoyang
stabilitas ekonomi global. Krisis di negara kecil yang selama ini tidak
diperhitungkan-pun ternyata bisa berdampak yang kurang lebih sama. Mengapa
demikian ?
Ya karena hubungan
sebab dan akibat tersebut di atas. Letak Ukraina yang menghubungkan Rusia dengan
Eropa membuat krisis di negeri itu bisa menggoncang ekonomi Eropa. Rusia men-supply 25 % kebutuhan gas Eropa dan
separuh diantaranya dialirkan melalui Ukraina , maka bisa dibayangkan kepanikan
Eropa dan negeri-negeri barat pada umumnya dengan apa yang terjadi di negeri
kecil ini.
Belum kejadian
yang sesungguhnya tetapi baru kekhawatiran saja sudah cukup untuk menggoncang
pasar, apalagi bila bener-bener terjadi perang di negeri itu.
Dalam ketidak
pastian inilah emas kembali menjadi safe-haven, tempat berlabuh untuk
mempertahankan nilai. Namun karena kepanikan pasar itu terjadinya serentak –
mayoritas orang bereaksi panik pada saat yang bersamaan - maka yang terjadi
adalah apa yang disebut Tragedy
of the Commons. Langkah baik yang dilakukan seseorang –
seperti mengamankan assetnya dengan emas ini, menjadi tidak baik bila dilakukan
serentak oleh sejumlah orang dalam waktu yang bersamaan – karena semuanya akan
membayar dengan harga yang tinggi.
Maka yang terbaik
dalam mengamankan asset Anda adalah bukan ketika orang rame-rame melakukannya,
tetapi justru ketika orang rame-rame (masih ) melupakannya.
InsyaAllah.




























