Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Rabu, 04 Juli 2012

Hibernasi dan Fibonacci di Pasar Emas


By : Muhaimin Iqbal- Gerai dinar pusat

Istilah hibernasi berasal dari dunia hewan ketika seekor binatang tertentu menurunkan aktivitas tubuhnya, termasuk pernafasan dan metabolisme – untuk menghemat energy ketika makanan langka. Istilah ini kemudian digunakan luas, termasuk ketika Anda tidak sedang menggunakan computer Anda – tetapi juga tidak ingin mematikannya. Istilah ini kemudian juga digunakan di pasar – seperti pasar emas global – yang kini disebut sedang mengalami hibernasi



Hibernasi di pasar adalah  ketika tidak ada aktivitas yang significant baik dari sisi volume jual beli maupun fluktuasi harga. Ini biasa terjadi setelah aktivitas tinggi yang terjadi sebelumnya. Di pasar emas global dalam empat tahun terakhir, aktifitas pernah memuncak selama kwartal terakhir 2008 s/d kwartal pertama 2009.  Kemudian juga berulang selama kwartal kedua sampai kwartal ketiga 2011.



Setelah aktifitas puncak tersebut terjadi, periode hibernasi terjadi selama kurang lebih satu tahun yaitu akhir kwartal pertama 2009 sampai kwartal pertama 2010. Pada periode tersebut harga emas dunia mengalami penurunan sekitar 10 %.



Bila mengikuti pola yang sama dengan periode hibernasi 2009-2010; maka hibernasi yang sedang kita alami ini masih bisa berlangsung sampai kira-kira awal kwartal terakhir tahun ini yaitu sekitar awal Oktober 2012. Dari sisi penurunan harga karena puncak yang lalu berada di kisaran Rp 550,000/gram ; akhir periode hibernasi kemungkinan harga akan berada di kisaran Rp 500,000/gram.


 
Selama periode hibernasi saya tidak banyak menulis tentang emas ini karena memang tidak banyak perubahan yang terjadi di pasar. Harga memang bergejolak, tetapi bergejolak ringan dan ini-pun karena sentimen tarik ulur penyelesaian krisis di Eropa yang berdampak pada kekuatan US$. Lebih dari itu tidak ada perubahan yang fundamental di emas atau Dollar itu sendiri yang merupakan representasi ekonomi dari negara pemilik mata uang US$ yaitu Amerika.

 
Lantas apa yang terjadi setelah periode hibernasi berakhir ?, pasar bergerak aktif dengan fluktuasi tajam yang didorong oleh demand yang tinggi. Di akhir periode hibernasi kwartal pertama 2010, pasar emas aktif bergerak sampai sekitar 20 bulan kemudian yaitu sampai September 2011. Selama periode ini yang terjadi adalah peningkatan harga mengikuti deret Fibonacci, yaitu bilangan 1.618 yang bertebaran di berbagai fenomena alam dan manusia. Lihat penjelasan Fibonacci ini di film documenter yang saat ini saya tampilkan di  vidvideo clip situs ini dan juga di  http://www.Hijrah.tv  dengan judul “Why is Kaaba in Makkah” untuk memudahkan pembaca memahami fenomenanya.

 
Apa pengaruh Fibonacci ini di pasar ?, ketika pasar bergerak mengikuti mekanisme supply and demand secara sempurna – tingkah laku harga dipengaruhi oleh tingkah laku manusianya, sedangkan manusianya bergerak dan mengambil keputusan berdasarkan reflek alaminya sebagai manusia. Maka tidak heran yang terjadi juga angka-angka alami yang tidak jauh dari angka di angka Fibonacci tersebut di atas.

 
Bila Anda kalikan periode harga rendah selama pasar mengalami hibernasi 2009-2010 di kisaran Rp 340,000/gram dengan angka Fibonacci 1.618 ; maka akan ketemu kisaran angka Rp 550,000/gram dan itulah harga emas di puncak aktifitas transaksinya (September 2011) sebelum pasar kelelahan dan mengalami hibernasi berikutnya.
Bila logika ini berulang, akhir periode hibernasi sekarang di kisaran bulan Oktober 2012 nanti, harga kemungkinnya tidak jauh dari angka sekarang yaitu sekitar Rp 500,000,-. Bila setelah itu pasar akan aktif kembali sampai satu setengah tahun berikutnya ( atau sekitar 20 bulan = 12 bulan hibernasi x 1.618 Fibonacci) , maka harga emas tertinggi berikutnya kemungkinan akan terjadi awal 2014 di kisaran harga  Rp 800,000/gram.
Berulangkali dalam berbagai tulisan saya menganjurkan agar tidak berspekulasi dengan harga emas jangka pendek, dan fokus pada jangka panjang – karena fungsi emas sebagai proteksi nilai memang proven dalam jangka panjang, bukan jangka pendek. Uraian tentang hibernasi dan Fibonacci ini mengkonfirm bahwa view jangka panjanglah yang seharusnya menjadi fokus, bukan jangka pendek.



Gunakan emas atau Dinar untuk mengamankan masa depan biaya sekolah putra-putri Anda, biaya kesehatan hari tua, dana pensiun dlsb. Tetapi jangan gunakan emas untuk mencari keuntungan jangka pendek, Anda bisa menyesal karenanya.



Penggunaan emas jangka pendek yang dianjurkan adalah menggunakannya sebagai instrument jual beli, sebagai uang, sebagai timbangan untuk muamalah yang adil, pinjam meminjam dlsb.Wa Allahu A’lam.

Selasa, 03 Juli 2012

Apakah menabung di bank membuat untung???


Anda nasabah Bank? Menabung/punya deposito di Bank? Coba diingat2 bagaimana sih Bank mempromosikan produk tabungannya kepada Anda? biasanya ada 3 keuntungan yang ditawarkan bank yaitu:

1. Uang Anda aman
2. Uang Anda bertambah (bunga/bagi hasil)
3. Ada hadiahnya (Mobil, uang, Umroh, dll dll)

Apa yg salah dengan ke-tiga poin di atas? Ada yg aneh? Rasanya sih tidak ada. Tapi, coba perhatikan poin 2 (poin 1 dan 3 tidak saya bahas).

"Uang Anda bertambah", entah itu karena bunga/bagi hasil. Benarkah? Benar. Terus apa yang salah? Nahh,..Pernahkan pihak Bank (CS-nya misalkan) memberitahu Anda seperti ini : "Pak/Bu, uang Anda jika ditabung di sini akan bertambah karena bunga/bagi hasil, tapi maaf, NILAI UANG-nya sendiri berkurang karena INFLASI".

Pernah kah ilmu tentang INFLASI diajarkan kepada masyarakat umum/awam yang hendak menabung di Bank? Inflasi merupakan racun turunan dari uang kertas. Tentu saja Bank tidak akan mau memberitahukan informasi tersebut kepada masyarakat. Kalau masyarakat awam tahu, protes lah mereka

Coba kita tengok konsep tabungan bank yang ada di kita sekarang ini dan kita jawab sendiri pertanyaan pertanyaan ini. Ketika kita menyetor uang di bank…katakanlah 1 juta rupiah untuk kita simpan sebagai dana cadangan selama 5 tahun, kemudian kita tanyakan kepada diri kita sendiri :
- masih utuhkah uang kita yang 1 juta ketika kita mengambilnya 5 tahun lagi ?
- apakah uang yang 1 juta itu bertambah selama 5 tahun?
- apakah nilai uang yang 1 juta itu masih akan sama dengan nilai uang 1 juta saat ini ?

Jika anda menjawab TIDAK kepada 3 pertanyaan yang anda lemparkan ke diri sendiri..lalu kenapa kita masih MAU menyimpan uang kita di bank yang notabene justru membuat uang yang kita simpan semakin tak bernilai karena nilainya terus berkurang karena biaya biaya yang timbul untuk pemeliharaan rekening, potongan, denda dan pengaruh inflasi yang ada ?

Menabung ternyata buntung?..

Percayakah dengan pernyataan di atas. Hmm pasti banyak yang percaya dan banyak yang tidak percaya.. Baiklah kita coba jabarkan satu persatu ya.

Sejak kecil kita diajarkan menabung karena uang kita akan berbunga dan mendapatkan untung, bahkan Presiden Soeharto dulu menggalakkan Tabanas dan Tapelpram bagi pelajar dan pramuka. Tujuannya ya itu tadi, untuk membeli sesuatu di masa yang akan datang. Tapi benarkah menabung dapat membuat si penabung untung dan bisa membeli barang yang dia idam-idamkan di masa yang akan datang? Jawabannya sama sekali tidak. Malah tabungan kita di Bank bisa hilang lho. Percaya? percaya saja lah. Saya akan perjelas hal ini satu persatu di bawah.

Uang Bisa Hilang Kalau Ditabung

Menabung dengan cara tradisional, dengan menitipkan sejumlah uang ke bank ternyata terbukti mengandung banyak kerugian. Sistem dan aturan main tabungan bank bisa menggerogoti nilai dari tabungan kita.

Setelah krisis moneter 1998, bank-bank negeri ini menggeser penghasilan utamanya dari bunga kredit ke fee based income hal ini berarti bank memaksimalkan pendapatannya dari pengelolaan rekening nasabah serta jasa transfer yang bisa dikutip langsung dari nasabah. Pada saldo tertentu, tabungan kita di bank tidak menghasilkan apa-apa. Bagi hasilnya NOL

Saat ini pada banyak bank, jika saldo di bawah 1 juta maka bunganya nol. Artinya jika kita menyimpan Rp500.000 di bank lalu kita diamkan, maka 4 tahun ke depan uang kita akan menjadi NOL. Kenapa? Timbul pertanyaan. Karena tiap bulan kita dikenakan biaya administrasi Rp10.000/bulan dan tidak ada bunga. Belum lagi jika menghitung inflasi. Misal kita menabung dalam bentuk deposito dengan maks bunga 8% sedangkan inflasi rata-rata tahunan sudah mencapai 10% bisa dihitung kan untung atau buntung? Jadi sudah tidak tepat lagi kalau dikatakan menabung di bank menguntungkan.

Bandingkan dengan emas yang memberikan tingkat hasil hingga 25% rata-rata per tahun, dengan minimal 20% .. Seandainya Rp500.000 tersebut digunakan untuk membeli emas , maka nilainya akan meningkat setiap tahun.

Oleh karena itu…mari kita ubah mindset kita tentang konsep menabung mulailah berusaha untuk memilih jenis tabungan yang benar benar menjaga “value” asset kita, supaya tidak sia sia kita menabung dalam rangka menamankan aset kita untuk keperluan di masa depan

Have a gold day!!!...

Senin, 02 Juli 2012

Bertebaranlah di muka bumi.....cari rezeki yang halal...


By : muhaimin iqbal -gerai dinar

Dua hari lalu saya seharusnya melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk melihat langsung prestasi petani singkong di sana. Di tengah jalan saya terpaksa putar balik tidak jadi melanjutkan perjalanan karena selepas pintu tol macet total, selama satu seperempat jam mobil hanya bergerak sekitar 3 km. Hari itu saya gagal melaksanakan perintah ‘bertebaranlah di muka bumi...’, padahal ini terkait langsung dengan dua perintah berikutnya yaitu ‘ carilah karunia Allah…’ dan ‘ingatlah Allah banyak-banyak…’. Ketika perintah gagal dilaksanakan, maka hasil berupa ‘…agar kamu beruntung’ juga gagal diperoleh.



Perintah dan reward-nya tersebut di atas terangkai dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10. Kegagalan saya melaksanakan perintah tersebut pada hari itu membuat saya kehilangan ‘keberuntungan’ untuk bisa melihat dan belajar langsung dari para petani yang berhasil di sana. Bukan hanya saya, tetapi juga para petani, pemilik lahan, warung-warung di sekitar lokasi dlsb. semuanya terpengaruhi keberuntungannya.



Sementara ini saya masih trauma untuk melakukan perjalanan lagi ke sana, niat untuk menyewa lahan dan bertani di daerah tersebut terpaksa harus dialihkan ke daerah lain yang lebih terjangkau atau lebih baik infrastruktur jalannya. Kalau dalam kasus ini saya memiliki pilihan  untuk berbalik arah, karena memang masih banyak daerah lain yang bisa ditanami singkong – maka ini pulalah yang kurang lebih terjadi mengapa investor-investor asing tidak banyak yang mau berinvestasi di negeri ini.



Ketika mereka datang hendak berinvestasi disini dan menjumpai infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara udara, perijinan dlsb. yang rata-rata ruwet dan mengalami kemacetan di sana-sini – mereka juga akan dengan mudah memutuskan untuk balik arah, tidak jadi berinvestasi di negeri ini dan mengalihkan investasinya ke negeri-negeri lain yang lebih baik infrastruktur-nya dlsb.



Itu bagi yang punya pilihan, bagaimana dengan jutaan orang yang tidak punya pilihan ?. Setiap hari harus bekerja ke kantor sementara setiap hari pula kemacetan terus bertambah parah. Maka tidak heran bila sampai ada dua warga Jakarta yang menuntut gubernurnya dan sekaligus presidennya karena masalah kemacetan yang tidak kunjung teratasi ini.



Dua warga Jakarta yang mengajukan tuntutannya melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut bahkan siap dengan berbagai data yang sudah diriset lumayan baik – antara lain sebagai berikut :



·       Setiap tahun warga Jakarta dan sekitarnya membelanjakan Rp 55 trilyun untuk bahan bakar, 10 % diantaranya menjadi pendapatan daerah.

·       Setiap tahun warga Jakarta menghabiskan waktu di jalan yang setara dengan 1 bulan penuh !.

·       Setiap tahun warga Jakarta menghabiskan waktu di jalan yang setara dengan tiga bulan waktu kerja efektif !.



Maka dari data-data di atas sekarang dapat kita lihat lebih jelas kaitan langsung antara kelancaran manusia untuk bisa ‘bertebaran di muka bumi’ dengan ‘keberuntungannya’. Betapa banyak kita kehilangan keberuntungan kita karena kita gagal melakukan perjalanan untuk ‘…bertebaran di muka bumi…’ dengan lancar.



Siapa yang layak bertanggung jawab untuk masalah ini ?, utamanya tentu para pemimpin. Gubernur DKI Jakarta dan Presiden seharusnya berterima kasih dengan adanya tuntutan masyarakat tersebut di atas, ini menjadi pengingat bagi mereka selagi masih di dunia.



Pertanggung jawaban di akhirat akan lebih berat sebagaimana yang diungkapkan oleh Umar bin Khattab : “seandainnya ada keledai yang jatuh dari atas gunung di kawasan Irak sehingga patah kakinya, pasti Allah swt meminta pertangungjawaban saya (Umar) karena tidak membuat jalan untuk dilintasi keledai tersebut”; dan dalam kesempatan lain Umar juga mengungkapkan “kalau kambing tersasar dan hilang di pingiran sungai Efrat, maka Umar akan bertanggung jawab pada hari akhirat”.



Mungkin para pemimpin negeri ini merasa kemacetan lalu lintas yang melanda di hampir seluruh daerah adalah hal biasa, mungkin juga masyarakat dianggap sudah terbiasa dengan hal ini, bisa jadi pula mereka menyerah dengan permasalahan yang ada. Tetapi mereka tetap tidak bisa mengelak dari tanggung jawab ini. Siapa lagi kalau bukan mereka yang bisa memimpin masyarakat untuk mengatasi masalahnya ?, merekalah yang berwenang untuk membuat kebijakan dan berwenang mengawasi implementasinya di lapangan sampai sedetil-detilnya.



Untuk kemacetan di Sukabumi seperti kasus saya tersebut diatas misalnya, tidakkah ada kebijakan dari pemerintah daerahnya untuk mengatasinya ?. Tidakkah ada polisi yang ditugasi untuk mengawasi setiap ruas jalan dan khususnya pada persimpangan yang rawan macet ?. Tidakkah ada kebijakan untuk melarang pedagang pasar meluber sampai ke bahu jalan ?. Di jaman teknologi ini, bahkan polisi pasti bisa memonitor ruas-ruas jalan yang rawan macet secara real time dan mengambil tindakan tepat yang diperlukan untuk menguraikannya.



Well , itu kan pendapat kita rakyat yang menuntut semuanya harus serba bisa dilakukan. Para pemimpin dan aparatnya pasti juga punya alasan bahwa semua sudah dilakukan dan pasti mereka merasa sudah berbuat maksimal. Tetapi realitanya kemacetan terus bertambah buruk bukan sebaliknya, masyarakat terkendala untuk bisa melakukan perjalanan ‘bertebaran di muka bumi’ dengan lancar, sehingga keberuntungan mereka-pun menjadi tambah seret karenanya.



Masih ada satu lagi jalan, yaitu berbuat yang kita bisa. Baik ini dalam skala individu maupun dalam skala komunitas, skala perusahaan , institusi dlsb. Saya memutar balik pada perjalanan tersebut di atas karena saya merasa ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan saya – saya tidak harus ke Sukabumi, saya juga berharap bahwa hari itu berkurang satu mobil dalam antrian panjang.



Bayangkan kalau sebagian masyarakat terus mengambil sikap yang sama, setiap diri kita bisa menjadi faktor pengurang masalah yang ada, dan syukur-syukur kalau malah bisa menjadi bagian dari solusinya.



Hampir seluruh pekerjaan bisa dilakukan dengan  menggunakan teknologi di jaman ini, maka ‘bertebaran di muka bumi’ itu kini sebagiannya bisa dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Tinggal kemauan kita untuk mulai melakukannya. Bila kesadaran ini nantinya meluas, maka yang ada di jalan-jalan seharusnya hanya yang memang benar-benar memerlukan kehadiran fisik seperti pengiriman logistic, layanan kesehatan dlsb.



Bila sebagian masyarakat mau ‘bertebaran di muka bumi’ melalui teknologi, sebagian lain yang memang harus melakukannya dengan fisik  insyaallah bisa  lancar – karena berkurangnya kepadatan lalu lintas.



Bisakah ini dilakukan ?, insyaallah bisa – bila ada kemauan pasti ada jalan, man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan mendapatkannya.

Have a gold day...wassalam

Kamis, 28 Juni 2012

Kapitalisme : Yang kaya semakin kaya..yang miskin bertambah miskin


By : Muhaimin iqbal ( Gerai dinar )

Seandainya pemerintah kita punya program yang seolah populer setiap bulan memberi santunan misalnya Rp 100 ribu per keluarga miskin di seluruh Indonesia, percayakah Anda bahwa dalam waktu yang sangat cepat – kurang dari sepekan hampir semua uang yang ditebarkan ke rakyat miskin itu akan tersedot balik ke Jakarta ke kantong-kantong orang kaya di ibu kota ?. Lho kok bisa ?, itulah salah satu sisi kapitalisme ketika mayoritas produk dan jasa disupply oleh segelintir kelompok – penguasa ekonomi yang rata-rata berada di ibu kota atau pusat perekonomian negara.

Fenomena penyedotan uang keluarga miskin ini dapat digambarkan kurang lebih begini :

Setelah menerima santunan Rp 100,000 per keluarga; maka uang tersebut akan segera habis dibelanjakan untuk kebutuhan dasar mereka. Berikut adalah kurang lebih daftar belanjaan mereka :

·       Mie instant
·       Beras
·       Minyak goreng
·       Gula
·       Garam
·       Tahu Tempe
·       Ikan, Telor, Daging
·       Pulsa
·       Obat-obatan
·       Peralatan sekolah
·       Dlsb.dlsb.

Anda bisa bayangkan, mana di antara produk-produk tersebut yang kemungkinannya adalah produk masyarakat setempat ?. Tidak akan mudah Anda untuk memperoleh salah satunya adalah produk masyarakat setempat.

·       Mie instant mayoritasnya produk segelintir perusahaan di ibu kota, siapapun dan dimanapun membelinya – uang akan balik ke produsennya.
·       Kecuali bila Anda tinggal di daerah lumbung padi, beras-pun kemungkinannya didatangkan dari daerah lain dan bahkan sebagian di impor. Otomatis uangnya akan mengalir ke segelintir pedagang besar beras dan para importir.
·       Minyak goreng, sebagian besarnya produk industry besar. Uangnya tentu mengalir ke mereka.
·       Gula-pun sudah jarang yang mengkonsumsi gula merah produk industri kecil setempat, otomatis mayoritas pembelian gula juga uangnya lari ke para pengusaha dan pedagang besar gula.
·       Garam meskipun tersedia melimpah di daerah tertentu, mayoritas masyarakat perlu membelinya. Otomatis uangnya juga balik ke para pedagang dan pengusaha garam.
·       Tahu- tempe; dahulu biasa diproduksi dari kedelai local yang diproduksi masyarakat setempat. Kini mayoritasnya menggunakan kedelai impor – jadi lagi-lagi uang tahu-tempe juga mengalir ke para importir dan pedagang besar.
·       Ikan, telor dan daging ; semuanya mudah diproduksi oleh rakyat mestinya. Tetapi lagi-lagi mayoritas sumber protein hewani ini ternyata berujung di segelintir perusahaan besar dan bahkan sebagiannya juga harus diimpor. Jadi kemungkinan besarnya uang ikan, telur dan daging inipun larinya ke segelintir pengusaha dan pedagang besar dibidangnya.
·       Pulsa, ini dia kebutuhan sekunder atau bahkan tersier yang kini bergerak menjadi kebutuhan primer. Sangat bisa jadi (sebagian) uang santunan-pun berujung untuk pembelian pulsa telpon – yang tentu saja hanya bisa disediakan oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang ada di ibu kota.
·       Obat-obatan, sangat sedikit yang menggunakan sumber daya masyaraat setempat – kemungkinan lebih besarnya juga harus diproduksi oleh perusahaan besar farmasi dan didistribusikan juga oleh pedagang besar farmasi. Ujung-ujungnya uang obat juga berakhir di ibu kota.
·       Peralatan sekolah, buku- pensil – seragam – semuanya produks siapa ?, siapa yang memproduksi kertas, kain dlsb ?. lagi-lagi mayoritasnya akan balik ke segelintir perusahaan/pedagang raksasa yang berujung di ibukota.

Well, aliran ini tentu tidak searah. Aliran baliknya juga ada, diluar santunan ‘imaginer’ tersebut di atas. Uang dari pusat baik yang dari swasta maupun pemerintah , mengalir dalam bentuk upah tenaga kerja, gaji pegawai dlsb. yang kemudian terkirim jauh sampai ke seluruh pelosok negeri.

Hanya saja aliran upah atau gaji ini pada umumnya kalah deras dibandingkan dengan aliran kebutuhan konsumsi masyarakat. Walhasil gap antara yang kaya –dengan yang miskin menjadi semakin jauh dan semakin jauh.

Ketika industri-industri besar yang berperan secara dominan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat, maka dampaknya tentu produksi masyarakat setempat  - yang mewakili masyarakat yang lebih luas - menjadi turun. Ketika produksi masyarakat secara umum turun, maka masyarakat akan cenderung bergeser menjadi masyarakat konsumen dan masyarakat buruh.

Maka untuk mengangkat kemakmuran masyarakat secara massal dan berkelanjutan, program utamanya tentu bukan memberi mereka santunan tunai – karena ini ujung-ujungnya hanya menguntungkan para produsen yang rata-rata konglomerat tersebut di atas.

Juga bukan hanya menciptakan lapangan kerja melalui projek-project industri besar, karena kalau hanya ini yang dilakukan – yang terbentuk adalah masyarakt buruh yang semakin jauh gap-nya dengan para pengusahanya.

Yang justru sangat penting dilakukan adalah membuka dan mendorong kesempatan berusaha seluas-luasnya. Inilah yang akan melahirkan pengusaha sekaligus lapangan kerja, ini pula yang akan melahirkan produk-produk berupa barang dan jasa dari masyarakat untuk masyarakat.

Langkah-langkah ini ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri seperti pelatihan dan pembinaan untuk membangun entrepreneurship skills, penyiapan sebagian aspek permodalan dan juga penyiapan sebagian aspek pengelolaan sumber daya. Tetapi ada peran yang mutlak harus dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah, yaitu aspek perijinan, pajak, perbaikan infrastruktur dlsb.

Intinya yang kaya maupun yang miskin boleh dan akan tetap ada sampai kapan-pun dan dimanapun, tetapi menjadi tugas para pemimpin untuk menjamin peluang yang miskin untuk terus bisa meningkatkan kemakmurannya – bukan sebaliknya membuat yang miskin tambah miskin dan yang kaya bertambah kaya. Lebih penting membuat rakyat menguasai produksi dan pasar secara berkelanjutan,  ketimbang menciptakaan pemenuhan kebutuhan sesaat yang malah secara tidak langsung juga menciptakan ketergantungan pada pemerintah pusat. Wa Allahu A’lam.

Senin, 25 Juni 2012

Uang kertas adalah sihir dajjal



Dajjal mengelabui manusia dengan menampakkan air sebagai api dan api sebagai air. Ia juga menampakkan uang kertas takbernilai sebagai harta bernilai.

Salah satu pertanda dekatnya hari kiamat adalah merajalelanya Dajjal serta Ya'jud dan Ma'jud di muka bumi ini. Terlepas dari berbagai macam tafsiran akan bangsa Ya'jud dan Ma'jud serta Dajjal ini, Rosulullah Muhammad sallalahu alayhi wa sallam telah memberikan kabar bahwa salah satu ciri dari Dajjal ini adalah bahwa mereka membawa/menawarkan surga dan neraka, membawa sungai api dan sungai air. Tapi, sebenarnya surga yang ditawarkan adalah neraka sedangkan yang neraka adalah surga. Demikian juga halnya sungai api adalah sungai air sedangkan sungai air adalah api.

Demikian diungkapkan oleh Maulana Muhammad Ali dalam terbitan Darul Kutubil Islamiyah Jakarta setelah diterjemahkan oleh H.M. Bachrun dalam buku yang berjudul Dajjal, Ya'jud dan Ma'jud. Dalam kitab Shahih Muslim No.5227 disebutkan, Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah sallalahu alayhi wa sallam. bersabda: Inginkah kamu sekalian aku beritahukan tentang Dajjal, suatu keterangan yang belum pernah diceritakan seorang nabi kepada kaumnya? Sesungguhnya ia buta sebelah mata, ia datang dengan membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Maka apa yang dikatakannya surga adalah neraka dan aku telah memperingatkan kalian terhadapnya sebagaimana Nabi Nuh telah memperingatkan kaumnya.'

Siapa Dajjal?
Maulana Muhammad Ali juga menuliskan bahwa mengalahkan Dajjal adalah dengan dalil. Itulah salah satu cara membentengi diri. Masih menurut Maulana Muhammad Ali, bahwa Dajjal bukanlah satu mahluk melainkan segolongan bangsa. Kamus Lisanul Arab menyebutkan beberapa pendapat mengenai hal ini, mengapa disebut namanya sebagai Dajjal. Kata Dajjal sendiri bersal dari kata dajala yang artinya menutupi (sesuatu).

Beberapa pendapat yang dikemukakan dalam kamus tersebut antara lain bahwa ia disebut Dajjal karena ia pembohong yang menutupi kebenaran dengan kepalsuan. Pendapat lain menyatakan karena ia menutupi bumi dengan bilangan atau jumlahnya yang sangat besar. Pendapat lain mengemukakan bahwa karena ia menutupi manusia dengan kekafiran maka ia disebut Dajjal. Adapula yang mengatakan karena mereka tersebar dan menutupi seluruh muka bumi.

Pendapat terakhir menyatakan bahwa dajjal itu bangsa yang menyebarkan barang produksinya, barang buatannya keseluruh dunia. Artinya ia menutupi dunia dengan barang dagangannya dan ia mentupi maksud hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata palsu dan tipu muslihat.

Uang Kertas Sihir Dajjal
Membaca ulasan Bapak Marsono, Al Wakil Wakala At Tawazun dalam artikelnya, Uang di Dunia Matrix, bahwa selama ratusan tahun kita terbelenggu dengan kesejahteraan semu dengan penggunaan uang kertas tanpa kita menyadari bahwa dengan sistem moneter tersebut, secara pasti kesejahteraan kita terampok oleh inflasi dan tatanan kehidupan kita rusak karena riba yang merajalela. Menurut A Riawan Amin dalam Satanic Finance: True Conspiracies, uang kertas terutama dalam wujud dollar adalah komoditi ekspor yang sangat laku. Padahal ini uang yang tak bernilai sama sekali.

A Riawan Amin juga mengungkapkan bahwa sistem moneter dunia saat ini didasarkan atas tiga pilar setan yang salah satunya adalah konsep system fiat money. Apa bila diistilahkan maka fiat money alias uang kertas tidak lain adalah uang semu yang sama sekali tidak memiliki daya beli. Uang yang sayang sekali adalah pegangan hampir seluruh manusia dibumi dimasa ini.

Inilah salah satu bentuk muslihat yang dibawa oleh Dajjal. Mereka membawa sungai air, yang dalam hal ini adalah uang kertas yang tiada memiliki nilai, tidak memiliki harga yang materiil. Dengan uang ini manusia dibuai dengan kekayaan, dengan uang semu ini pula ummat Islam dicederai dalam pelaksanaan agamanya. Ummat Islam dibuai bahwa kepraktisan uang kertas akan memudahlan dalam menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta'ala. Menghitung segala bentuk infaq, menentukan zakat, shodaqoh dan lain sebagainya dengan uang kertas. Maka Ummat Islampun kehilangan ruh dari pelaksanaan syariat. Ummat islam menjadi terbiasa dengan hitungan hitungan semu dan diperdaya oleh akad-akad penuh tipu muslihat dan kecurangan dalam setiap muamalahnya. Dan hasilnya adalah kekalahan secara ekonomi pada masa kontemporer ini.

Rasululloh Muhammad sallalahu alayhi wa sallam telah berpesan untuk melawan dajjal dengan dalil, maka untuk melawan sungai air yang ditawarkan oleh golongan dajjal dalam sistem ekonomi ini, sudah tentu harus kembali pada nuqud nabawiah, mata uang surgawi dalam istilah A Riawan Amin. Mata uang yang dicontohkan Nabi Muhammad sallalahu alayhi wa sallam dalam kehidupan sehari-hari beliau, mata uang nabawiyah. Penerapan kembali uang emas dan perak seperti pada masa Rosululloh Muhammad sallalahu alayhi wa sallam dalam perekenomian internasional adalah suatu keharusan. Mengembalikan kembali tatanan perekonomian yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Kesimpulan
Mempraktekkan kembali penggunaan nuqud nabawiyah, dinar dan dirham dengan standar yang benar dalam kehidupan sehari-hari seperti dalam kewajiban berzakat, ketentuan tentang diyat dan hudud, serta sunnah Nabi, sallalahu alayhi wa sallam, seperti pembayaran mahar, sedekah, maupun ketentuan dalam muamalat seperti shirkat, qirad, dan lain sebagainya adalah suatu keharusan. Pelaksanaannya dengan sebaik-baiknya akan menjadikan perekonomian Ummat Islam kembali kuat dan sekaligus membentengi diri dari pengaruh Dajjal. Tidak akan ada lagi istilah krisis moneter yang tak lain akibat dari sistem uang kertas, yang sepenuhnya berbasis pada riba. Dinar dan Dirham adalah jawabannya, solusi perbaikan ekonomi Ummat.

sumber : wakalanusantara

Belajar dari negara Iran


Ini adalah sebuah  Negara di Timur  Tengah yang begitu kekehnya mempertahankan kedaulatan negerinya untuk terus membangun program nuklirnya yang oleh Barat dikatakan sedang mengembangkan senjata Nuklir, padahal menurut Para petinggi Iran sendiri mereka membangun fasilitas nuklir untuk tujuan kemanusian seperti membangun pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Hal yang nyata  adalah Negara mereka sendiri punya senjata Nuklir yang jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan, sekutu mereka   juga memiliki senjata Nuklir sebut saja para Anggota Nato, Israil bahkan Pakistan. Kenapa Negara2 tersebut tidak dipermasalahkan ?.

Negara ini salah satu negara yang yang mempunyai mata uang yang lebih rendah dari mata uang tercinta milik kita yaitu Rupiah.  Dalam daftar mata uang pada sebuah situs yang saya search dari mbah Google ada Daftar Kurs sekitar 55 Negara, maka nilai terendahnya di tempati Rial punya Iran, kemudian terendah kedua adalah Rupiah milik Indonesia, saya nggak tau kenapa mata uang Vietnam tidak tercantum, barangkali belum begitu banyak diperdagangkan di Pasar uang. Padahal seingat saya Mata uang Vietnam dan Zimbabwe  juga rendah.   Saat ini untuk  US$1 = IRR12.271 dan US$ 1 = IDR 9.322, kita masih bisa tersenyum kan ?. kenyataannya kita lebih tinggi. Eits…… nanti dulu. Kenapa IRR (Iran Rial) bisa serendah itu padahal Negeri yang kaya minya di Timur Tengah tersebut bukankah tergolong mampu dan biasanya Negara-Negara Jazirah Arab memiliki mata uang yang kuat.

Sekitar 10 tahun atau pada May 2002 yang lalu saat kurs US$ terhadap Rupiah sekitar 9000-an, maka kurs US$ terhadap IRR dikisaran 1700, dan namun begitu penentangan Barat terhadap Negara tersebut pada program nuklirnya  kurs IRR merosot tajam. Bahkan puncak tertingginya pada Maret lalu menjadi IRR19.000 untuk US$1. Hal ini akibat kengototan Amerika untuk mengembargo ekonomi bagi Negaranya Presiden Ahmadinejad itu.  Lalu apa langkah Iran untuk mengamankan Kursnya dari ambang kehancuran?. Sikapnya sedikit melunak dengan kembali membicarakan masalah nuklirnya yang berakibat kurnya menurun menjadi 16.000 dan kemudian dikisaran 12.000.

Disamping langkah melunaknya tersebut, ternyata Iran meningkatkan impor emasnya, terutama dari Dubai dan Turki, Seperti apa yang disampikan oleh Turki Statistik Institute bahwa ekpor emas Turki meningkat menjadi 9ton pada Bulan Maret 2012, dari hanya 289Kg pada tahun sebelumnya.  Dan hal ini selaras dengan publikasi dari kantor berita Iran IRNA bahwa Iran akan menambah cadangan emas pertahunnya 300ton, namun karena kurangnya data di Iran hal ini akan sulit diukur.

"Tidak akan salah untuk mengatakan Iran memilih Turki untuk impor emas karena embargo," kata Gokhan Aksu, wakil ketua Kilang Emas Istanbul, salah satu perusahaan emas terbesar di  Turki. "Iran lebih memilih perhiasan dan batu mulia untuk melindungi nilai uang mereka dan melarikan diri dari ketidakstabilan," katanya kepada Reuters.

Kita bisa belajar dari Fenomena Negara lain ini dari keterpurukan, agar mata uangnya  kuat dan negaranya stabil ekonominya maka perlu menambah cadangan emas, karena emas akan menjadi buffer yang mempertahankan nilai  kekayaan saat mata uangnya  terpuruk.  Apakah ini bisa diterapkan dalam setiap Individu  di Negeri ini ?. Jawabannya pasti bisa. Rubah mindset menabung  konvensional kita menjadi tabungan yang bisa menjaga dari keterpurukan mata uang. Dan saat ini mudah sekali dalam mewujudkan jerih payah kita menjadi sesuatu yang nilainya terus abadi sepanjang masa. “Emas”

So...starts from gold....invest u’r asset to gold...>>>> Have A Gold Day!!!!

Rabu, 20 Juni 2012

Etos kerja ..antara bebek dan kambing...


By: muhaimin iqbal-gerai dinar

Suatu pagi seekor bebek berjalan berdampingan dengan seekor kambing di pasar desa. Melihat ada tumpukan telur bebek yang dijual oleh seorang pedagang, sang bebek berkata ringan ‘wek wek wek, wek wek wek…’ yang artinya kurang lebih ‘itulah karyaku, itulah karyaku…’. Sambil terus berjalan keduanya kemudian melihat ada pedagang lain yang sedang menggantung karkas kambing yang baru dipotongnya. Dengan suaranya yang berat dan bergetar, sang kambing berkata ‘mbek, mbeek, mbeeek…’, yang artinya kurang lebih ‘itulah pengorbananku, pengorbanan keluargaku, pengorbanan bangsaku…’.

Bagi seekor bebek menghasilkan telur adalah pekerjaannya sehari-hari, dia melakukan rutinitas bertelur ini dengan ringan – tanpa beban dan tanpa perlu komitmen yang besar. Situasinya sangat berbeda bagi kambing, menghasilkan daging adalah suatu perwujudan pengorbanan dan  komitmen yang luar biasa. Kambing hanya bisa menghasilkan daging dengan mengorbankan dirinya !.

Dalam bekerja ataupun berusaha, kita juga mengalami suatu kondisi yang seperti telur bebek dan daging kambing tersebut. Ada yang melaksanakan pekerjaannya hanya sekedar rutinitas harian, pagi pergi ke kantor melaksanakan apa yang harus dilaksanakannya sesuai job description yang dia miliki – kemudian sore hari pulang. Begitu seterusnya hari demi hari dilalui sebagai rutinitas, ringan, tanpa beban dan tanpa komitmen pengorbanan yang besar.

Tetapi ada pula orang-orang yang bekerja atau berusaha di segala bidang dengan total commitment, dia memperjuangkan nilai atau sesuatu yang lebih dari sekedar bekerja untuk mendapatkan penghasilan, bahkan dia rela untuk mengorbankan dirinya untuk ini.

Di segala bidang pekerjaan, selalu ada orang yang masuk kategori pertama maupun kategori kedua. Bahkan di kelompok pengusaha atau yang ingin disebut dirinya pengusaha-pun ada yang seperti bebek tersebut, sekedar melaksanakan rutinitas – tanpa komitmen apalagi pengorbanan.

Saya mengenal ada seorang dokter kandungan yang luar biasa, dia bekerja siang malam tidak mengenal lelah. Dia selalu siap dipanggil jam berapapun – bila pasiennya membutuhkannya, dan bahkan rela meninggalkan liburan bersama keluarganya untuk menolong pasiennya yang akan melahirkan. Baginya bekerja lebih dari sekedar mencari nafkah, dia tidak mengenal lelah untuk bekerja karena setiap saat berangkat menolong kelahiran jam berapapun (24/7/365) – dia niatkan saat itu dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk bisa membantu menyelamatkan dua nyawa sekaligus, nyawa si bayi dan nyawa si ibunya sendiri.

Kita juga mengenal sangat banyak melalui media, bahwa di tengah tanggung jawab besar untuk menyelamatkan rakyat dari kemiskinan dan keterpurukan, wakil-wakil terhormat kita malah malas bersidang. Kalau toh mereka hadir sidang, mereka asyik bercengkerama satu sama lain, browsing internet, chatting, baca koran, tidur dan bahkan ada yang tertangkap basah sedang nonton video porno. Mereka punya tanggung jawab besar, tetapi disikapinya tanpa komitmen apalagi pengorbanan – bagi mereka pekerjaan itu adalah rutinitas semata, berangkat kantor, menunggu (membuang ) waktu, menikmati fasilitas dan tanpa beban. Tentu tidak semuanya demikian, tetapi citra demikian mudah kita peroleh dari berbagai media dan berita.

Yang bisa kita ambil pelajaran adalah bahwa baik yang bekerja sekedar melaksanakan rutinitas maupun yang bekerja dengan full commitment dan pengorbanan, waktu yang tersedia itu sesungguhnya sama. Hanya saja yang bekerja melaksanakan rutinitas semata akan merasa waktu itu panjang, maka dia berusaha membuang waktu dengan membaca koran, chatting dan sejenisnya.

Sebaliknya yang bekerja dengan full commitment seperti dokter kandungan yang saya ceritakan di atas, waktu terasa tidak pernah cukup baginya. Dia hanya sempat membaca pesan-pesan penting dari hp-nya, jangankan chatting atau browsing yang nggak perlu – baca koran-pun dia jarang sempat.

Hanya diri kita sendiri yang tahu, termasuk pekerja yang mana kita ini. Kita semua mempunyai waktu yang sama, tergantung kita untuk memanfaatkannya. Apakah akan kita buat rutin dan longgar sehingga waktu terasa lama dan membosankan. Atau kita isi dengan penuh komitmen dan pengorbanan sehingga waktu terasa padat dan bahkan terasa tidak pernah cukup.

Lebih dari itu semua, Di mata Allah niat yang akan membedakannya sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut : “Pada suatu hari, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedang berjalan bersama dengan para sahahat, tiba-tiha mereka menyaksikan seorang pemuda yang nampak gagah perkasa sedang bekerja keras membelah kayu bakar. Dan beberapa sahahat pun berkomentar: “Celakalah pemuda itu. Mengapa keperkasaannya itu tidak digunakan untuk Sabilillah (jalan Allah)?” Lantas, Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian berkata demikian. Sesungguhnya bila ia bekerja untuk menghindarkan diri dari meminta-minta (mengemis), maka ia berarti dalam Sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka iapun dalam Sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam Sabilisy syaithan (jalan setan)””.

Mudah-mudahan ini bisa menyemangati kita dalam bekerja, sekaligus meluruskan niat – agar pekerjaan ini bisa masuk kedalam kategori Fi Sabilillah. Insyaallah.