Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Selasa, 16 Oktober 2012

Insya Allah..anda adalah salahsatu dari 100.000 milyarder..5 taon ke depan



By : Muhaimin iqbal - gerai dinar 

Baru-baru ini Credit Suisse mengeluarkan laporan yang sangat detil dengan judul Global Wealth Report 2012. Laporan setebal 60 halaman lebih ini antara lain meng-high light Indonesia sebagai salah satu dari 25 negara di dunia yang akan mengalami pertumbuhan kemakmuran dalam 5 tahun mendatang sampai 2017. Bahkan menurut laporan ini di Indonesia akan lahir 100,000-an milyarder baru, Andakah salah satunya ?

Definisi aslinya adalah jutawan yaitu orang yang memiliki asset bersih US$ 1 juta ke atas, karena dalam Rupiah ini setara dengan sekitar Rp 9.6 Milyar – maka terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia saya buat sebagia milyarder dan bukan lagi jutawan.



Bila dilihat jumlahnya seolah banyak, tetapi dibandingkan dengan jumlah penduduk kita pertambahan 100,000 milyarder ini hanya sekitar 0.04% dari jumlah penduduk Indonesia. Bayangkan misalnya di Amerika pertambahan milyarder baru itu pada periode yang sama bisa mencapai  5.8 juta orang atau tumbuh sekitar 1.8% dari populasinya.

Yang juga menarik untuk pelajaran adalah negeri tetangga kita Singapore. Dengan penduduk yang hanya 5.2 juta orang, selama lima tahun mendatang akan menghasilkan jumlah milyarder baru yang hampir sama dengan Indonesia yaitu 97,000 orang atau sekitar 1.9 % dari jumlah penduduknya.

Dari mana datangnya generasi milyarder baru ini ?, Bila Anda pegawai yang berprestasi dan bisa sampai puncak karir di perusahaan yang lumayan besar – maka bisa jadi Anda termasuk salah satu milyarder baru itu. Tetapi akan lebih berpeluang menjadi milyarder bila Anda mampu membangun usaha Anda sendiri atau menjadi entrepreneur.


Penyebab lahirnya begitu banyak milyarder baru di Singapore dan Amerika Serikat adalah masih sejalan dengan tingkat kemudahan memulai usaha baru. Data yang dikeluarkan oleh World Bank dalam Doing Busssiness 2012, Singapore menempati urutan pertama dalam tingkat kemudahan usaha dan Amerika Serikat menempati urutan ke 4. Maka wajar bila di kedua negara tersebut entrepreneur baru mudah lahir dan berkembang yang kemudian akhirnya menyemai milyarder-milyarder baru dalam jumlahnya yang sangat banyak.

Indonesia yang berada pada urutan 129 dalam tingkat kemudahan usaha memerlukan orang-orang yang luar biasa untuk menjadi entrepreneur di lingkungan yang tidak mudah. Bila Anda termasuk salah satu dari 100,000 milyarder baru tersebut – dan Anda peroleh dengan cara yang benar ,  bisa jadi Andalah salah satu pahlawan yang melahirkan usaha baru itu.

Laporan-laporan seperti yang dikeluarkan oleh Credit Suisse tentang Global Wealth Report 2012 ataupun laporan World Bank tentang Doing Business 2012 ini, bisa jadi tidak akurat atau bahkan tendensius dengan kepentingannya masing-masing. Tetapi bukannya tanpa manfaat, kita tetap bisa menjadikan laporan tersebut untuk membuktikan sebaliknya misalnya.

Bahwa kita tidak seperti yang mereka sangkakan, bahwa tidak semuanya sulit di Indonesia yang kita cintai ini – kemudian ini menjadi tugas para pemegang otoritas untuk menciptakan peraturan , perijinan dlsb. yang kondusif bagi lahirnya usaha baru.

Rakyat seperti kita juga bisa membuktikan bahwa bukan hanya 0.04 % dari jumlah penduduk yang bisa lahir sebagai entrepreneur baru, kita pun bisa mencapai 1.8% atau bahkan lebih bila kita rame-rame berani dan mau terjun menanggung resiko untuk mulai usaha baru.

Lebih dari itu juga bukan banyaknya milyarder yang kita harus hasilkan, tetapi adalah banyaknya orang miskin yang bisa diangkat dari kemiskinannya. Tidak ada gunanya milyarder tumbuh pesat tetapi jumlah orang miskinnya juga bertambah banyak.



Jadi bila Anda termasuk warga negeri ini yang beruntung dan menjadi milyarder baru dalam lima tahun mendatang, jangan lupa bahwa di dalam harta Anda yang milyaran itu ada hak orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta. Harta Anda bukan hanya untuk Anda !.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi danmemberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya,mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS 2 : 177)

Gaya baru menabung



Saya memiliki cerita yang berkaitan dengan artikel yang ditulis oleh Pak Muhaimin Iqbal mengenai Hibernasi dan Fibonacci di pasar emas. Pada periode tersebut saya pun mengalami apa yang dikatakan masa hibernasi atau bisa dikatakan masa temporary bearish , harga emas tidak menunjukkan aktivitas kenaikan yang signifikan. Terus apa yang akan saya ceritakan ? Simpel saja saya akan menceritakan dua orang bapak yang mereka sama berinvestasi atau menabung emas.



Sebut saja pak Anwar dan pak Andi adalah dua orang yang memiliki tipikal atau pola pikir yang berbeda. Pak Anwar senang menabung untuk jangka panjang walaupun beliau menabung dengan menyisihkan sebagian kecil pendapatannya, maklum pak Anwar bukanlah seorang pengusaha besar, beliau hanyalah pedagang kecil , dengan keyakinannya beliau walaupun sebulan beliau hanya dapat membeli 1 gram emas tapi beliau istiqomah menjalani setiap bulannya menabung dengan rutin.

Berbeda dengan pak Anwar, pak Andi adalah seorang manager perusahaan terkenal, beliau adalah lulusan magister bisnis dari luar negeri, tentunya beliau sangat mengenal teori teori manajemen dan bisnis sebagainya. Pola pikir leveraging sangat dikuasai, bagaimana dengan kapital atau modal yang kecil didapatkan keuntungan yang sebanyak banyaknya. Begitu mengenal investasi emas dan pada saat itu dikenal dengan berbagai metode memperbanyak emas seperti kebun emas, future trading dan sebagainya, maka beliau mencobanya karena mindset beliau adalah leverage tersebut. Beliau setiap saat mengamati pergerakan harga kemudian mengambil keputusan kapan akan membeli dan menjual, kapan gadai emas dan kapan membeli kembali.


Apa yang terjadi kedepannya ?



Nasib pak Andi jauh dari ekspektasinya, alih alih mengambil keuntungan besar, yang ada adalah kerugian yang sangat besar. Modal yang disimpan dan dikembangkan di pasar berjangka habis tidak bersisa. Orang yg di pasar berjangka bisa saja mengatakan bahwa harga emas sedang dalam periode bullish secara teknikal tapi siapa yang dapat menjamin harga emas besoknya dapat turun drastis ?.

Kemudian kebun emasnya pun alih alih dapat memanen hasilnya, yang ada hanyalah bukan panen yang dihasilkan tapi puso, sehingga bukan keuntungan yang didapat tapi kerugian.

Anda dapat membayangkan betapa pak Andi bukan saja mengalami kerugian material tapi juga kerugian immaterial seperti emosi, depresi pun mengintainya.


Pak Anwar, yang dari kacamata investasi barat yg dikenal dengan leveragingnya, tentu banyak mencibir apa untungnya menabung 1 gram emas setiap bulannya, menabung receh seperti itu tidak memberikan imbal hasil yang besar. Belum nanti saat menjualnya, potongan emas batangan 1 gram kan besar dibanding membeli langsung dalam 100 gram.

Tapi pada kenyataannya pak Anwar lah yang pintar dalam berinvestasi atau menabung, beliau menabung pintar, dengan menabung secara berkelanjutan dan berpikir untuk jangka panjang maka dengan cara tersebutlah kekayaan dari hasil jerih payah beliau terlindungi dan pada akhirnya beliau ketika tidak bekerja atau pensiun dapat menikmati masa tuanya tanpa harus bergantung kepada orang lain.



Apa pesan dari cerita di atas ?

Jadilah penabung emas yang pintar, jangan terbawa euforia emas berlebihan. Rencanakan tabungan emas anda untuk jangka panjang, jangan sekali sekali bertaruh untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek karena emas bukan pilihan investasi jangka pendek, pilihlah sektor ril dengan berdagang dan berwirausaha dimana di dalam nya selain penuh keberkahan, keuntungan yang didapat melebihi perkembangan emas. Insya Allah.



Wallahu alam bisshawab..Have a gold day!!!

Senin, 15 Oktober 2012

Hati2..permainan dengan uang...Pelajari dan Fahami!!!


By : Muhaimin iqbal-Gerai dinar

Dalam Ilmu moneter dikenal ada empat jenis uang yaitu 
a. M0 untuk jumlah uang fisik ; 
b. M1 untuk M0 +demand deposit 
c. M2 untuk M1 + All time deposit, saving deposit dan non-institutional money-market funds
Dan yang paling luas disebut M3 yaitu M2 + semua large time deposits, institutional money-market funds, short-term repurchase agreements, dan termasuk segala bentuk larger liquid assets lainnya.

Uang yang paling luas yang disebut M3 inilah yang menimbulkan masalah besar dunia saat ini. Ironinya pangkal masalah ini seperti disembunyikan oleh pemerintahan dunia, di Amerika data resmi M3 tidak lagi dipublikasikan sejak 2006.  Untungnya ada lembaga independen seperti the Shadow Government Statistic yang tetap dapat melacak keberadaan datanya seperti dalam grafik tersebut diatas.

Dari grafik tersebut diatas kita tahu bahwa yang membuat kalang kabut dunia saat ini bukan karena uang US$ yang sesungguhnya (M0 atau M1), melainkan menyusutnya uang US$ yang semu (M3).



Kondisi ini membuat keuntungan yang luar biasa bagi Amerika karena mereka mencetak uang berapapun – dan mereka memang benar-benar melakukan ini seperti ditunjukkan dengan melonjaknya M1 – tanpa menimbulkan inflasi (untuk sementara !).

us$ Index
Sebaliknya bisa dilihat dari grafik disamping, bersamaan dengan menyusutnya uang M3 yang semu tersebut – nilai US$ yang tercermin dalam US$ Index melejit. Yang perlu kita sadari adalah sebagaimana melejit dengan sangat cepatnya US$ karena penyebab yang semu, maka kehancurannya yang dasyat juga akan di trigger oleh penyebab yang semu tersebut – yaitu ketika M3 kembali ke trend pembengkakannya yang semula.

Bila menyusutnya M3 menimbulkan bencana krisis finansial di seluruh dunia, maka ketika ia balik ke trend normalnya dalam waktu dekat – tidak kalah besar musibahnya yang akan ditimbulkannya yaitu inflasi atau bahkan hiperinflasi.

Inilah yang dikawatirkan oleh Ibnu Taimiyyah tersebut diatas, yaitu uang masyarakat akan tiba-tiba kehilangan daya belinya. Lagi-lagi inipun dampaknya akan mendunia, jadi kita yang di Indonesia-pun harus siap menghadapinya.

Lantas bagaimana agar kita tidak jadi korban atas permainan mereka ini, bahkan sedapat mungkin keluar sebagai pemenang ?.

Berikut tips sederhana yang bisa kita lakukan :

·       Tidak memegang atau menggunakan US$ kecuali terpaksa, seperti sedang bepergian ke Luar negeri dlsb.
·       Karena Rupiah juga akan tidak terlepas dari dampak US$, gunakan uang kertas kita ini (Rupiah) hanya sesuai fungsinya sebagai alat tukar.
·       Gunakan harta riil seperti Dinar, kebun, toko, unit usaha yang berjalan baik dlsb. sebagai store of value.



·       Untuk jangka panjang ajari anak-anak berdagang, berkebun, berternak dan terlibat kegiatan di sector riil lainnya.





Selain hal-hal yang sifatnya duniawi tersebut, tentu ada langkah yang paling aman bagi harta kita karena tidak akan ada siapapun yang bisa mempermainkannya – yaitu kita sedekahkan !, maka harta kita akan meningkat 700 kali atau lebih dan akan menjadi milik kita selamanya….:)


Wallahu alam bishawab..



Jumat, 12 Oktober 2012

Nabung dinar emas nyokkkk!!!



Ketika saya memilih untuk memulai terjun ke dunia bisnis emas, terutama dinar emas ternyata telah mendorong saya untuk lebih banyak mengobrak-abrik berbagai seluk beluk di dalamnya. Dan yang pasti ternyata memang masih banyak hal yang saya belum ketahui sebelumnya. Seperti halnya saat ini, ketika berulang kali saya menuliskan beberapa artikel mengenai tabungan dinar emas, ternyata banyak juga orang yang bertanya tentang bagaimana perbedaannya dengan tabungan emas biasa atau orang lebih menyebutnya emas batangan yang ada di bank?. Dan ini juga yang menginspirasi saya untuk kemudian mencari tahu, apa sih bedanya kedua tabungan ini?



Tabungan Emas v.s Tabungan Dinar Emas

Berikut saya akan tuliskan perbedaan keduanya untuk anda.

Meskipun sama-sama berupa emas, namun ternyata karena mungkin keberadaannya di negeri kita emas batangan lebih dulu dibandingkan koin dinar emas, telah menjadikan produk tabungan emas lebih dikenal di masyarakat. Sedangkan untuk tabungan dinar emas sendiri yang baru dikembangkan oleh jaringan Gerai Dinar melaui produk tabungan M-Dinar masih belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Saya berkesempatan untuk lebih mengetahui sistem tabungan emas yang ternyata sudah ada di salah satu bank syariah di Indonesia.

Berapa berat emas batangan yang akan anda beli melalui bank tersebut menjadi satu landasan untuk memulai sistem tabungan ini. Selanjutnya anda hanya akan dikenakan biaya sekian persen untuk membayar uang muka atas pembelian emas batangan tersebut. Sedangkan untuk sisanya tentu saja akan dibayar dulu oleh bank tersebut.


Lalu bagaimana cara kita menabung? Ternyata istilah tabungan disini menggantikan istilah cicilan. Jadi anda selanjutnya diharuskan untuk mencicil berapa sisa yang telah dibayar oleh bank tersebut dalam jangka waktu tertentu. Besarannya tentu saja disesuaikan dengan perjanjian waktu yang disepakati. Namun ada yang harus diketahui juga, ketika kita menabung emas atau membayar cicilan emas tersebut, kita juga akan dikenakan biaya administrasi yang diberlakukan per kontrak. Misalnya jika satu periode kontrak adalah 4 bulan lalu perjanjian tabungan kita adalah 1 tahun, maka kita akan dikenakan biaya administrasi sebanyak 4 kali dalam setahun tersebut.

Lalu apakah ada biaya lain lagi? Ya, selain itu anda juga akan dikenakan biaya Ijaroh atau biaya sewa tempat. Berapa besarannya tentu akan diberlakukan sesuai dengan kebijakan masing-masing bank.

Keuntungan dalam sistem ini adalah flat-nya besaran cicilan tabungan yang akan kita bayar dari setiap bulannya. Sehingga jika harga emas kemudian naik anda tidak usah khawatir harus membayar lebih mahal.

Lalu bagaimana dengan tabungan dinar emas?


Tabungan dinar emas adalah layaknya tabungan biasa, bukan tabungan berjangka yang dibatasi oleh waktu. Kapanpun anda bisa menabung tidak usah menunggu periode stiap bulan atau berapa lama.

Untuk besarannya juga tentu tidak akan diberlakukan nilai tertentu, anda terserah mau menabung berapa banyak juga karena ini murni tabungan, bukan cicilan. Saya kira ini lebih adil karena berapa banyak koin dinar emas yang kita tabung sesuai dengan kemampuan kita untuk menabungnya di waktu itu.

Kemudian, jika anda menabung dinar emas tidak ada istilah biaya administrasi, tidak ada potongan terhadap setiap transaksi maupun potongan biaya perbulan. Dan untuk biaya Ijaroh atau biaya penyimpanan, anda juga tidak usah khawatir, tidak ada biaya tersebut disini.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana tingkat keamanannya? Saat ini memang belum ada bank yang menyelenggarakan produk tabungan dinar emas, sehingga saat ini produk tabungan dinar emas tersebut diselenggarakan oleh Gerai Dinar, sebuah lembaga penyaluran dinar emas yang diproduksi oleh PT. Antam.



Untuk sistem keamanannya sendiri jika di bank ada Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sedangkan untuk dinar emas yang anda simpan di Gerai insyaAlloh meski tidak dijamin oleh LPS namun tetap diasuransikan. Jadi insyaAlloh simpanan anda tetap aman. Semoga bermanfaat



Selamat berinvestasi, semoga barokah,,,Wallahu alam bisshawab

Bamboo city, october 2012

Kamis, 11 Oktober 2012

Fulus penyebab krisis...



Allah Swt berfirman, “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya”. (Q.S. Al A’raaf 7 : 85)
“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)



Fulus (jamaknya: fals) artinya koin yang nilainya di bawah logam selain emas dan perak, umumnya perunggu atau tembaga, dalam bahasa Yunani di sebut follis.

Fulus Buatan Yahudi
Ketika Islam telah mencapai negeri Syam, para saudagar yahudi mendatangi Khalifah Umar bin Khatthab ra yang kala itu sedang muhibah ke Yerussalem, Palestina. Mereka memohon agar khalifah memberi kelonggaran bagi tradisi pasar yahudi yang menjadikan fulus sebagai uang. Beliau memberi izin diterbitkannya fulus, dan hanya boleh beredar di komunitas Yahudi di Palestina dan Syiria. Maka mereka mencetak koin fulus perunggu dengan desain tiruan dirham Sasanid yang ditambahi lafadz arab kuffi “Amirul Mu’minin”, pada tahun 16 Hijriah/637 Masehi. Dalihnya untuk menghormati khalifah. Namun mereka sepakat, bahwa untuk membayar jizyah dan kharaj, wajib menggunakan dinar atau dirham. Akhirnya fulus tersebut beredar juga di Mesir. Karena menyandang cap bertuliskan Amirul Mu’minin, orang-orang mengira bahwa koin itu resmi dicetak oleh pusat imarah (pemerintahan) Islam, sebab istilah Amirul Mu’minin diperkenalkan oleh Umar Ibn Khattab ra.



Di Mesir, koin fulus menjadi begitu populer di masyarakat golongan bawah, sedangkan di Palestina dan di Syiria, para saudagar yahudi mengekpornya ke luar wilayah karena yahudi kelas bawah sendiri kurang meminati koin ini. Sebab sejak dikuasai oleh Islam, tiga wilayah eks Romawi ini menjadi makmur, karena khalifah dan jajarannya menegakkan keadilan di sana sehingga membawa maslahat bagi semua orang.

Kaum yahudi yang umumnya pedagang meningkat taraf hidupnya, hingga mereka tidak membutuhkan fulus dan segera membuangnya dengan mengupah pekerja mereka berupa koin tembaga ini.

Mendengar kabar bahwa di Mesir banyak kaum muslimin menggunakan fulus untuk transaksi muamalah, khalifah menjadi cemas kalau nantinya fulus dapat menyusup masuk ke Haramain (Mekkah dan Madinah).

Untuk melarang fulus yang sudah terlanjur beredar di masyarakat tidaklah mungkin. Sebab akan sangat merugikan banyak orang terutama kaum dhuafa, karena merekalah sasaran utama yahudi dalam mengedarkan fulus buatannya.

Dengan bijak, khalifah Umar ra segera mencetak koin dirham Islam pertama pada tahun 20 Hijriah/641 Masehi, kemudian diekspor ke Mesir. Bersamaan dengan itu serpihan perak berukuran daniq turut pula diedarkan untuk meredam fulus hingga kebiasaan ini diikuti oleh khalifah berikutnya.

Umat Islam Ikut Yahudi hingga Lubang Biawak
Pertanyaan : Lebih berharga mana?
Uang logam Rp 2 tahun 1970 dengan uang logam Rp 100 Tahun 1990



Jawabannya pasti koin 100 karena kita terbiasa menghitung uang seperti token yaitu hanya melihat gambarnya, tidak perduli kadar zat dan beratnya. Padahal kalau kita lihat kedua koin di atas terbuat dari bahan yang sama.

Koin Rp 2 terbuat dari aluminium dengan berat 2,29 gram dan koin Rp 100 terbuat dari aluminium dengan berat 1,79 gram. Jadi, kalau melihat dari takaran (kadar zat) dan timbangan (berat) maka yang lebih berharga adalah koin Rp 2.

Biaya buatnya makin murah tapi angkanya makin ditambah. Kelihatannya makin makmur (angkanya makin banyak), padahal makin miskin (kadar zat dan berat uangnya semakin berkurang).

Krisis Mamluk Akibat Fulus
Pada masa Sultan Kamil Ayyubi, tahun 609 H, fulus resmi pertama kali dicetak oleh imarah (pemerintahan) Islam, yang diedarkan sebagai uang bantu atau recehan, setelah ratusan tahun diboikot oleh para khalifah sejak zaman Umar bin Khattab ra. Fals yang jamaknya fulus

Saat pertama kali diedarkan kembali, nilai tukar 1 Dirham = 6 daniq = 24 fulus. Kala itu ulama langsung memprotes kehadiran fulus meski koin tersebut menyandang stampel sultan sehingga fulus menjadi kurang populer di masyarakat.

Baru pada masa Dinasti Mamluk (Mesir), Sultan Zhahir Barquq dan anaknya, Sultan Faraj bin Barquq (1399 – 1412 M), fulus menjadi populer. Pencetakan uang fulus tembaga menjadi pemasukan utama kas kerajaan. Fulus diedarkan sebagai mata uang bantu (receh) pecahan dirham dan daniq. Dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pembuatan dinar dan dirham, pencetakan fulus lebih menguntungkan, karena nilai nominalnya lebih tinggi dari intrinsik bahannya atau yang lazim disebut Seigniorage, dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pembuatan dinar dirham

Untuk memproduksi fulus, kerajaan menarik semua Dinar Dirham lama dari peredaran, kemudian diekpor ke Eropa untuk membeli tembaga dalam jumlah besar, agar mendapatkan keuntungan yang berlimpah.

Memang dalam jangka pendek, dengan beredarnya fulus, kerajaan menjadi tampak lebih makmur, anggaran belanja militer dan segala proyek pemerintah yang dibiayai oleh koin-koin tembaga ini meningkat tinggi. Gaji tentara dan pegawai dinaikan, roda perekonomian bergerak lebih menggairahkan, karena uang berada di mana-mana, memicu rakyat untuk lebih produktif dalam membuat beraneka barang dan jasa.

Tapi di balik keberhasilan tersebut ada yang luput dari perhatian sultan, yaitu terjadinya inflasi nilai uang, dengan naiknya harga barang dan jasa. Pemerintah mengatasi hal ini dengan menaikkan gaji tentara dan pegawainya, bahkan memberi bantuan uang tunai langsung bagi kaum dhuafa.

Caranya dengan merevisi nilai fulus, yakni merubah stampel koin dari bernominal 1 fulus menjadi 2 fulus pada ukuran koin tembaga yang nyaris sama yang dilebur ulang. Jelas, ini adalah perampokan besar-besaran terhadap jerih payah rakyat yang disimpan dalam bentuk koin tembaga, karena sebagai logam beratnya nyaris sama tetapi harganya dibuat menjadi dua kali lipat dari koin semula.

Begitu pula seterusnya, pemerintah terus mencetak fulus dalam berbagai nominal. Penduduk diwajibkan untuk menilai fulus dari nominal yang tertera bukan dari bobot logamnya, yang disebut koin token atau uang tanda.

Inflasi mulai tak terkendali, sebab pemerintah terus memproduksi fulus, katanya untuk mengatasi lonjakan harga-harga. Sultan bahkan mulai menangkapi pedagang yang menaikan harga dagangannya, dan mereka dituding sebagai biang kerok rusaknya ekonomi.

Tapi rezim penguasa lupa, bahwa justru kebijakannya yang menjadi akar masalah dengan melimpahnya fulus. Karena uang fulus terus merosot nilainya, rakyat menjadi gusar, Dinar Dirham yang tersisa ramai-ramai dilebur menjadi perhiasan, bahkan menjadi pelana dan bejana.

Ketika kemarau panjang terjadi, menyebabkan kekeringan dan gagal panen, hewan ternak mati kehausan dan kelaparan, penduduk mendesak pemerintah untuk segera mengimpor bahan pangan dari luar negeri.

Tapi impor pangan terancam gagal total, lantaran kerajaan tidak memiliki emas perak yang cukup, karena kas negara hanya terisi oleh koin-koin tembaga yang dihargai sangat murah di mancanegara, itupun harus dijual dengan loakan secara timbang logam. Akibatnya pangan sulit didapat, kalaupun ada, harganya terus membumbung tinggi.

Untuk mengatasi keuangan negara yang kian kritis, sultan menaikan harga sewa lahan, padahal petani dan peternak sudah tak memiliki uang lagi – habis untuk mempertahankan hidup. Mulailah timbul pemberontakan di mana-mana, sementara rezim penguasa mengatasinya dengan tangan besi dan menuding mereka sebagai khawarij.

Padahal siapa yang memulai bencana ini? Kondisi semakin parah, sebagian rakyat di pedalaman meninggalkan desa-desa mereka, dan membiarkan ladang-ladang menjadi tandus tak terurus. Mereka terpaksa hijrah ke negeri muslim lainnya, karena terancam mati kelaparan dan tak sanggup lagi membayar sewa.



Para pengungsi Mesir banyak yang wafat di perjalanan, karena kehabisan bekal, terutama yang masih balita atau karena berusia lanjut. Setibanya di perantauan, sebagian dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan, langsung berprofesi menjadi pengemis dan gelandangan. Bagi mereka yang terlalu miskin, terpaksa harus bertahan di desanya, menikmati kelaparan, hidup dan mati sama saja bagi mereka. (Al Maqrizi, Iqhathat al Ummah bi Kashf al Ghummah)

Al Maqrizi mengungkapkan kelaparan ini dalam kitabnya Iqhathat al Ummah bi Kashf Al Ghummah. Beliau menerangkan penyebab utama inflasi keuangan yang mendorong naiknya harga-harga, adalah fenomena fulus yang menggantikan dirham sebagai hukum ekonomi : uang yang jelek menyingkirkan uang yang baik, yang dikenal dengan Hukum Gresham. Menisbatkan hukum ini kepada Gresham tidaklah benar, karena Al Maqrizi wafat tahun 1442 M sedangkan Gresham wafat tahun 1579 M, suatu rentang masa selama 150 tahun lebih.

Kesimpulan
Dari kesimpulan di atas maka sepertinya kita ini hidup makin makmur, padahal sebetulnya makin miskin karena angkanya semakin banyak tapi kadar dan berat zat uangnya semakin berkurang. Dengan memakai fulus maka riba tumbuh dengan subur dan mematikan infak.


Krisis dan azab akan terus berlangsung selama tidak mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Maka kalau ingin terhindar dari azab riba maka segeralah kembali kepada fitrah mata uang yaitu Dinar emas dan Dirham perak. (sumber: Thoriq/ IMN/2007)

Selasa, 09 Oktober 2012

Rahasia anti miskin >> Jaga Daya beli anda...



Di dunia ini selalu saja berpasang-pasangan, jika Alloh SWT menciptakan siang, pasti ada malam, jika ada laki-laki begitu pula pasti ada perempuan. Nah jika kita mengenal istilah kaya pasti andapun akan menyebutkan bahwa pasangan katanya adalah miskin.

Pembicaraan kita akan bermula dari sini. Sebetulnya apa sih kriteria orang itu dikatakan kaya atau miskin? apakah rumah mewah? mobil mewah? jabatan tinggi? Stop. Mari kita berhenti menilai semua itu. Karena ternyata hal mendasar yang memilah kedua istilah tersebut adalah bukan kriteria-kriteria tadi, melainkan hanya dua kata “daya beli“.



Orang dikatakan kaya (dalam bidang finansial) jika di saat tertentu, dia bisa membeli segala hal yang dia inginkan. Dan sebaliknya, orang juga akan dikatakan miskin jika dia tidak mampu membeli apa yang dia inginkan pula pada saat tertentu. Disini putaran waktu ternyata menentukan.

Anda mungkin masih ingat seorang Qarun? Seseorang yang kaya raya juga pelit nan kikir dalam sejarah Islam? Kekayaannya ternyata telah menenggelamkan dia kedalam perut bumi ini. Sehingga hingga kini istilah harta karun masih menjadi perbincangan di khalayak ramai. Namun bukan itu yang saya akan dibahas. Tapi saya akan membahas berapa banyak sebetulnya uang yang ia miliki saat itu? Banyak? Tentu. Tapi seandainya dia saat ini masih ada, apakah uang-uang tersebut masih akan memproteksi kemampuan daya belinya? Anda tidak usah menjawab pertanyaan tersebut saat ini. Kita akan masuk ke cerita kedua..

Beberapa tahun lalu saya menemukan sebuah tempat koleksi uang rupiah milik ayah saya. Satuan uang sepuluh ribu rupiah-an begitu banyak disana. Namun terlepas dari nilai sejarah jika dihitung ternyata jumlahnya seandainya kita kalkulasikan dan kita belikan barang di saat sekarang tidak mencukupi untuk membeli sepotong baju-pun. Loh kok bisa?



Ini yang saya katakan di awal, ternyata seiring waktu, daya beli kita tidak bisa bertahan seiring dengan kita mengumpulkan nilai-nilai tabungan dalam satuan mata uang. Tentunya anda juga mengetahui apa penyebabnya. Inflasi.



Sebuah solusi untuk mempertahankan daya beli kita dari masa ke masa adalah investasikan uang kita, dalam apapun itu. Saat sekarang banyak piliha bagi anda berinvestasi, dari mulai saham, tanah, hingga ke emas (logam mulia, perhiasan ataupun dinar emas). InsyaAlloh, beberapa tahun kemudian anda tidak akan miskin terhadap kemampuan daya beli dengan berinvestasi tersebut.

Dengan berdasar pada hadist Rasul;ullah SAW, bahwasannya 1 koin dinar emas cukup untuk membeli satu ekor kambing yang layak, maka harga tersebut 1500 tahun yang lalu..Insya Allah cukup hingga hari ini, besok dan hari ke depan nanti...dengan harga per kepingnya hari ini sekitar 2,4 juta rupiah Insya Allah kita bisa membeli seekor kambing yang layak....artinya harga jual emas tetap stabil dis epanjang masa...



Semoga bermanfaat.



Wallahu’alam bish-shawab

Senin, 08 Oktober 2012

Gue Harus Bilang WOUWWWW gitchuuu????



By : Muhaimin Iqbal _ gerai dinar..

Ungkapan ini mewabah di kalangan anak muda Jakarta untuk menggambarkan situasi seorang yang kalah namun berat untuk mengakui kelebihan pesaingnya. Bayangan saya orang terkaya no  3 dunia Warren Buffett yang dianggap ‘dewa’-nya investasi barat – juga akan bilang “Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu ?” seandainya dia membaca tulisan tentang kalahnya investasi saham warren buffet dengan dinar emas, yang mengungkapkan bahwa ternyata sejak 6 tahun terakhir  tidak pernah sekalipun investasi yang dikelolanya bisa mengalahkan diam-nya emas.



Bahkan bukan hanya Warren Buffett sebenarnya yang harus dengan berat hati mengakui keunggulan emas ini, tetapi juga seluruh pemain di bursa saham dunia. Perhatikan grafik Dow Jones di bawah sebagai buktinya.

 

Untuk bursa saham saya ambilkan data 10 tahun terakhir  Dow Jones Industrial Average (DJIA), yaitu index yang paling banyak dirujuk di dunia. Sepuluh tahun lalu, DJIA itu berada pada kisaran angka 7,850. Saat ini DJIA itu berada pada kisaran 13,610 atau mengalami peningkatan 73 %.

Sebagai pembanding saya gunakan grafik  harga emas yang saya ambilkan dari datanya Kitco – juga merupakan referensi yang paling banyak dirujuk. Kinerja emas pada periode yang sama dapat dilihat pada grafik di bawah.



Sepuluh tahun lalu harga emas berada di kisaran  angka US$ 320/Ozt, kini harga emas itu berada pada kisaran angka US$ 1,780/Ozt atau mengalami pertumbuhan lebih dari 450 %.

Dengan perbandingan ini, lagi-lagi saya tidak bermaksud men-discourage Anda yang berinvestasi di bursa saham baik langsung maupun tidak langsung (melalui dana asuransi, unit link , reksa dana dlsb).  Kaidah umum dunia investasi adalah jangan menaruh semua telur pada keranjang yang sama. Maka sebagian tetap di saham dan produk-produk turunannya, kemudian mulai sebagian kecil di emas terus bertambah sesuai dengan pemahaman dan pengalaman Anda.

Selain saham dan emas, investasi di sektor riil hendaknya menjadi fokus utama. Bukan hanya sektor riil ini memiliki dampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan juga menggerakkan putaran ekonomi di sekeliling Anda – hasil investasi sektor riil yang dikelola dengan baik umumnya juga lebih unggul, meskipun ada faktor resiko besar dalam proses mengasah keterampilannya.

Sebagai contoh salah satu investasi sektor riil itu saya ambilkan tanah yang ditanami tanaman sengon misalnya. Diluar harga tanah biaya tanam sengon sampai panen ( 5 tahun) berkisar Rp 20,000 – Rp 30,000 per pohon. Setelah lima tahun dipanen harga pohon tersebut berkisar antara Rp 200,000 s/d Rp 300,000/pohon atau memberikan hasil di kisaran 900 % per lima tahun atau 1,800 % untuk 10 tahun. Katakanlah dikenakan faktor resiko 50% sekalipun, maka hasil ini masih akan berada di kisaran 900 % atau masih 12 kali lebih tinggi dari saham-saham di DJIA dan masih di kisaran dua kali lebih tinggi dari apresiasi emas.



Bagaimana dengan faktor biaya tanah ?, Selain hasil dari panenannya, tanah yang produktif akan memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanah yang terlantar. Jadi tanahnya sendiri juga merupakan investasi yang tidak kalah menariknya bila dia bener-bener diproduktifkan. Belum dampak lain yang tidak ternilai dengan uang seperti mengamankan cadangan air jangka panjang, menunjang ketersediaan udara bersih, lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, dlsb.

Kalau saja Warren Buffett dan orang-orang sebangsanya yang terbiasa berinvestasi di dunia finansial, saham dan sejenisnya itu adalah anak-anak mudah Jakarta – kemudian mereka mau jujur mengakui kinerja emas dan juga kinerja sektor riil seperti contoh sengon tersebut diatas – mungkin mereka akan serentak berucap “Terus Gue Harus Bilang Wow Gitu ?”.


Choose u'r option, please...