Pergerakan dinar

Tabungan M-Dinar

Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Owner Gold Dinar Jameela

Gold Dinar Jameela...Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat. Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Gold Dinar Jameela

Kunjungi kami di Mila Salon Jl.Kota Bambu Raya RT 008 RW 04 No:7 Kota Bambu Selatan-Jakarta Barat Belakang RS.Harapan Kita dan RS.Dharmais-Slipi 021-5653390 Mobile-phone:085880957788.

Rabu, 21 November 2012

Bingung yaa?..mau LM atau Dinar emas...baca dulu yaa




Oleh Ahmad Gozali (http://ahmadgozali.com/)

Banyak pertanyaan yang masuk “lebih baik emas dalam bentuk Dinar atau LM?”, walaupun sudah dibahas beberapa kali di Twitter, namun nampaknya pertanyaan ini tidak akan pernah selesai ditanyakan. Untuk itu ada baiknya kita bahas secara tuntas di sini agar bisa mendapatkan jawaban yang lebih komprehensif. 


Logam Mulia yang dimaksud di sini adalah emas batangan produksi PT Antam dengan kadar 24 Karat 99,99%. Tersedia dalam berbagai ukuran, yaitu: 1gr, 2gr, 2,5gr, 3gr, 4gr, 5gr, 10gr, 25gr, 50gr, 100gr, 250gr, dan 1000gr. Harga patokan yang digunakan sebagai tolok ukur adalah harga emas per gram untuk pecahan 1000gr, harga pecahan yang lebih kecil akan lebih mahaL per gramnya. 



Untuk mengetahui berapa harga emas LM setiap harinya, kita bisa lihat dihttp://www.logammulia.com Harga yang terpampang di halaman muka web ini adalah harga patokan per gram untuk pecahan terbesar yaitu pecahan 1000gr. 

Di toko emas, kadang disebutkan dengan harga per gram, ditambah dengan “biaya cetak” atau “biaya sertifikat” yang berbeda untuk setiap pecahan. Makin kecil pecahannya, makin besar biaya cetaknya. 


Walaupun harga jual dari Antam berbeda untuk setiap pecahan, namun harga beli kembalinya sama per gram. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa lebih efisien membeli LM dalam pecahan besar daripada dalam pecahan kecil. Karena makin kecil pecahan LM yang dibeli, akan makin besar pula selisih antara harga jual dan harga belinya kembali. Dalam tabel di atas, selisihnya adalah 3,9% – 12,9% untuk pecahan terbesar sampai pecahan terkecil. 


Sedangkan Dinar yang dimaksud adalah koin emas produksi PT Antam yang dicetak khusus sesuai dengan standar mata uang pada masa Kekhalifahan Islam yaitu 4,25gr dengan kadar emas 22K atau 91,7% emas dengan campuran 8,3% perak. Di Indonesia, Dinar ini didistribusikan oleh dua atau tiga distributor utama. Sebagai patokan, kita akan gunakan harga dari Gerai Dinar yang bisa dilihat di http://geraidinar.com/ atau di www.golddinarjameela.com



Hanya ada 1 pecahan untuk Dinar, yaitu koin 1 Dinar sehingga tidak sulit untuk melihat harganya. Membeli 1 Dinar atau 10 Dinar sama saja harga per keeping Dinar. Kecuali jika ada ongkos kirim, tentunya berbeda. 

Dan jika diperhatikan selisih antara harga jual dan harga beli, selisihnya adalah 4%. 


Betulkah Dinar dikenakan PPN 10% sehingga membuatnya lebih mahal? Pada dasarnya Dinar sebagaimana perhiasan adalah adalah barang yang dikenakan PPN, beda dengan LM yang tidak kena PPN. Tapi perdagangan Dinar yang bersifat personal atau usaha kecil membuatnya tidak kena PPN lagi setelah beredar di masyarakat. PPN hanya sekali dikenakan pada saat Dinar keluar dari PT Antam. Sedangkan transaksi di masyarakat tidak lagi dikenakan PPN karena biasanya individu atau usaha kecil yang menjual Dinar berstatus Non-PKP (Pengusaha Kena Pajak) yang tidak diwajibkan untuk memungut PPN. Bisa dibilang, PPN ini hanya berpengaruh untuk distributor utama yaitu Gerai Dinar, dan tidak berpengaruh kepada transaksi di masyarakat.

Kembali ke permasalahan pokok, mana yang kita pilih untuk investasi, LM atau Dinar?

Jika strategi investasi kita adalah cukup sering beli dan jual kembali, setiap ada uang lebih dibelikan emas, lalu jika perlu sesuatu atau harga sudah naik kita jual lagi emasnya sesuai kebutuhan, saya lebih sarankan untuk investasi dalam bentuk Dinar. Karena untuk menjual kembali, Dinar lebih mudah mengingat pecahannya yang kecil. Misalnya, kita memiliki Dinar sebanyak 10 keping dan perlu uang Rp 3,5 juta. Kita bisa dengan mudah menjualnya cukup 2 keping saja, dan menyimpan 8 keping sisanya. Namun jika kita memiliki LM 1 keping 50gr, dan perlu uang Rp 3,5 juta, kita tidak bisa menjual hanya 10gr dan menyimpan sisanya yang 40gr. Karena LM tidak bisa dipotong begitu saja dan dijual sebagian. 




Untuk pembelian dalam pecahan kecil, di bawah 25gram, saya lebih sarankan untuk membeli dalam bentuk Dinar. Karena jika membeli LM dalam pecahan lebih dari 25gram, misalnya 10gr, 5gr atau 2,5gr maka selisih harga jual dan harga beli kembali cukup besar mencapai 5%-7%. Tapi Dinar saat ini tidak populer di toko emas, hampir tidak ada toko emas yang menjual Dinar. Karena saat ini Dinar lebih banyak didistribusikan melalui system keagenan yang bersifat personal. Di satu sisi, hal ini memudahkan kita karena bisa mendapatkan pelayanan yang bersifat personal (nego, delivery, konsultasi) namun di sisi lain kita tidak bisa melakukan transaksi seperti di toko emas yang bisa dengan mudah dijumpai di pasar-pasar. 


Tapi kalau kita memiliki strategi untuk menyimpan emas dalam pecahan besar dan tidak berencana untuk menjualnya sedikit-sedikit, setidaknya 25gram, maka membeli batangan Logam Mulia akan lebih efisien. Sebagaimana dilihat di tabel harga, dibandingkan dengan harga jualnya kembali, LM akan lebih efisien jika dibeli dalam pecahan yang lebih besar. Namun yang paling populer adalah pecahan 25gr sampai dengan 100gr karena jika lebih dari 100gr akan lebih sulit untuk menjualnya kembali ke konsumen langsung mengingat harganya yang mencapai sekitar 100juta untuk pecahan 250gr dan 400juta untuk 1000gram. 


Dari sisi pergerakan harga, baik koin Dinar maupun batangan LM memiliki pergerakan harga yang seragam, karena patokannya harganya sama. Jika LM naik, jelas Dinar juga naik, dan sebaliknya. Maka untuk tujuan investasi jangka panjang, sebetulnya keduanya sama baiknya. Yang membedakan hanya dari segi penyimpanan pecahan, dan kenyamanan dalam bertransaksi.



Selamat berinvestasi..have a gold day




Selasa, 20 November 2012

Ada apa di Swiss--Kota Basel



By : Muhaimin iqbal

Pada musim dingin di awal tahun 1999 saya naik kereta sekitar satu jam perjalanan dari Zurich ke Basel, sebuah kota kecil yang dingin di Swiss. Meskipun dia adalah kota ke 3 terbesar di Swiss – jumlah penduduknya hanya kurang dari 170,000 orang – tidak lebih dari penduduk satu kecamatan dimana saya tinggal di Depok. Kota kecil yang dingin itu, bisa jadi akan memanaskan keuangan dunia awal tahun 2013 nanti. Apa yang terjadi di sana ?

Di kota kecil Basel ini ada sekelompak orang yang sangat exclusive, sangat rahasia dan sangat perkasa di dunia keuangan. Markas mereka konon di design memiliki perlindungan yang cukup menghadapi perang nuklir sekalipun. Mereka adalah bank sentral-nya bank sentral dunia. Apa yang mereka katakan menjadi kerangka kerjanya bank-bank sentral dunia.

Mereka sangat irit ‘bicara’ , mereka baru ‘bicara’ tiga kali sejak pembentukannya 38 tahun lalu (1974). Tahun 1988 mereka ‘bicara’ tentang Basel I, tahun 2004 mereka ‘bicara’ lagi tentang Basel II dan di tahun 2012 ini mereka ‘bicara’ tengantang Basel III. ‘Pembicaraan’ mereka yang irit inipun cukup membuat perbankan dunia gonjang-ganjing untuk menyesuaikan dengan ‘pembicaraan mereka’.

Karena saya bukan orang bank, saya tidak terlalu tertarik untuk mendalami apa yang mereka ‘bicarakan’ kecuali terhadap satu hal yaitu emas. Pada Basel I dan Basel II mereka sengaja mendiskreditkan emas sebagai asset tingkat III – bukan asset yang sesungguhnya. Kalau dijadikan cadangan hanya dinilai separuh dari harga pasarnya. Saat itu yang dianggap asset tingkat I  atau uang yang sesungguhnya adalah government bond, mortgage backed securities,  cashdan sejenisnya.



Tetapi banyak sekali hal terjadi dalam beberapa tahun terkhir, asset yang semula mereka anggap tingkat I sepertimortgage  - kini banyak yang malah menjadi asset yang sangat beracun (toxic assets). Bahkan banyak pula government bond di negara-negara Eropa yang hancur mendekati nilai sampah (junk). Lantas kemana mereka akan berpaling ?

Kemana lagi kalau bukan emas ?, asset yang mereka coba discredit-kan selama hampir empat dasawarsa terakhir ini ternyata malah berhasil membuktikan dirinya sebagai asset yang tetap perkasa di segala cuaca, mampu melalui krisis demi krisis tanpa kehilangan nilainya yang sesungguhnya.


Maka mereka-pun harus mengakui keperkasaan emas ini dalam pembicaraan mereka terakhir yang disebut Basel III. Basel III yang rencananya mulai diimplementasikan awal 2013 nanti, menempatkan emas pada posisi yang seharusnya yaitu asset tingkat I.

Dengan pengakuan ini, maka sebenarnya secara diam-diam emas telah kembali ke system keuangan dunia, emas menjadi asset yang sesungguhnya dan dapat digunakan sebagai cadangan dengan 100 % nilai pasar.

Apa ini dampaknya ?, bayangkan bila bank-bank sentral dunia mulai berburu emas kembali karena pilihan cadangan mereka yang kini head to head antara bond, mortgage, emas dlsb. Ketika emas dilihat sebagaimana seharusnya, bersaing secara bebas dengan asset-asset yang lainnya – maka dengan mudah emas ini akan menjadi asset yang setidaknya pasti tidak kalah menarik dibandingkan dengan berbagai asset lainnya seperti bond, mortgage dan bahkan dibandingkan dengan cash sekalipun.

Dibuka dengan ‘pembicaraan’ di Basel III ini, dunia toh akhirnya akan mengakui kembali bahwa emas itulah uang yang sesungguhnya. Uang yang mampu mempertahankan nilai ketika yang lain menjadi racun (toxic assets) atau menjadi sampah (junk). Uang yang tahan segala cuaca !.



Maka dari kota kecil yang dingin, sekelompok orang-orang yang dingin dan irit bicara tersebut di atas dengan suka ataupun tidak suka harus mengakui bahwa akses masyarakat pada nilai assets yang sesungguhnya itu tidak bisa mereka setir.  Pengakuan mereka  ini-pun bisa jadi akan ‘memanaskan’ system keuangan dunia dan bisa menjadi pemicu bull market berikutnya untuk kenaikan harga emas di tahun-tahun mendatang. Wa Allahu A’lam.

Jumat, 16 November 2012

Prajurit perang pun bersenjatakan koin emas untuk penyelamatan diri




Ada bagian menarik dari buku-buku sejarah perang Dunia II yang jarang menjadi perhatian, bagian ini adalah yang membahas perbekalan standar para pilot tempur kala itu yang konon berlanjut sampai sekarang.

Bekal apa kiranya yang harus ada pada checklist para pilot tersebut sebelum terbang on mission memasuki wilayah musuh ?, ternyata salah satu bekal wajibnya adalah sejumlah koin emas dan kadang juga dilengkapi cincin emas.

Mengapa koin/cincin emas menjadi menu wajib di bekal para pilot ini ?, sederhana alasannya yaitu bila sang pilot tertembak jatuh di wilayah musuh – koin atau cincin emas inilah yang selalu bisa menjadi survival kit yang laku ditukar barang apa saja di wilayah manapun di seluruh dunia.

Foto di atas misalnya adalah survival kit yang disebut United States Government Escape and Evasion Barter Kit. Koin-koin dan cincin emas ini ditaruh dalam kotak kotak karet hitam dan di segel. Diluarnya ditulis ‘If Found Return to ComNavAirLant (CNAL 34) Norfolk, Virginia’.



Para war strategist nampaknya tahu betul bahwa hanya emas yang berlaku universal bahkan di pedalaman wilayah musuh sekalipun. Untuk memudahkan para pilot, bentuk koin dan cincin dipilih karena satuannya yang relatif kecil – namun nilai tukarnya tinggi sehingga cukup untuk bekal hidup para pilot yang jatuh di wilayah musuh sampai mereka bisa diselamatkan.
Kita memang bukan pilot tempur dan kita juga tidak lagi berperang, namun survival kit tersebut juga kita perlukan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi krisis yang tidak kita harapkan.

Krisis ini bisa bersifat umum seperti krisis moneter – yang kita alami tahun 1997/1998 dan krisis hiper inflasi yang kita alami di tahun 1965; bisa pula bersifat pribadi seperti krisis kehilangan pekerjaan, anak sakit dlsb.

Bentuk krisis atau kondisi daurat-nya bisa berbeda, namun koin emas tetap dapat menjadi bagian dari survival kit yang sangat berguna pada saat diperlukan. Dengan daya belinya yang terjaga sepanjang waktu, koin emas seperti Dinar insyallah bisa mendampingi Anda melalui masa krisis yang tidak Anda harapkan.


Jadi bukan hanya kotak PPPK yang seharusnya ada di setiap rumah; survival kit berisi beberapa koin emas bisa sangat membantu di masa sulit – Insyallah.


Rabu, 14 November 2012

The matrix sesungguhnya adalah uang kertas...SEMU...SEMU..



Anda pernah menonton film Matrix? Film fiksi tahun 1999 yang dibintangi oleh Keanu Reeves tersebut memang tergolong menarik. 


Dalam film tersebut digambarkan seorang Neo (Keanu Reeves) yang tiba-tiba merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan dunia yang dia jalani. Merasa ada sesuatu yang salah , tetapi tidak tahu apakah itu. Perasaan itulah yang membawa Neo bertemu dengan Morpheus. Morpheus berusaha untuk meyakinkan Neo bahwa dunia yang selama ini dijalani hanyalah tampilan yang disajikan di hadapan mata untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Morpheus memberinya pilihan, meminum pil merah atau biru. Ketika Neo memilih, hidupnya pun berubah. Dia akhirnya mengetahui bahwa kehidupan yang dijalani selama ini adalah palsu. Semua itu ternyata perbuatan sebuah mesin raksasa dengan programnya yang bernama Matrix.

Ternyata kehidupan Neo selama ini sebagai orang kantoran hanya semu belaka. Fakta sesungguhnya adalah bahwa fisik Neo dihubungkan dengan chip dan peralatan yang membuat dirinya seakan-akan hidup dalam kehidupan nyata yang nyaman. Padahal, dirinya selama ini terpenjara dalam mesin raksasa. Boro-boro dia menjalani kehidupan normal seperti pergi ke kantor, untuk bergerak saja dia tidak bisa karena dirinya terhubung dengan kabel-kabel besi yang menjeratnya.

Kelompok pejuang yang dipimpin Morpheus akhirnya bisa melepaskan semua kabel-kabel yang menyandera tubuh Neo dan mengamankan Neo ke markas pejuang. Akhirnya, Neo bergabung dengan para pemberontak untuk menghadapi penjajahan kaum mesin. Dengan kesadaran barunya, Neo menghadapi kenyataan pahit dalam dunia nyatanya. Akan tetapi dia lebih memilih hal tersebut daripada terjajah oleh mesin dan hidup dalam imajinasi.

Film Matrix tentu saja hanyalah fiksi semata. Akan tetapi, bila kita renungkan, ada sisi kehidupan kita yang mirip dengan dunia 'matrix'. Selama ratusan tahun kita terbelenggu dengan kesejahteraan semu dengan penggunaan uang kertas tanpa kita menyadari bahwa dengan sistem fiat money tersebut, secara pasti kesejahteraan kita terampok oleh inflasi dan tatanan kehidupan kita rusak karena riba yang merajalela.

Uang Bernilai Nyata

Orang berargumen bahwa uang kertas itu nyaman tetapi sebenarnya ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan. Uang yang seharusnya bernilai intrinsik sehingga nilainya ada di dalam uang tersebut, bukan di luar uang, tergeserkan oleh kertas yang nilainya dipaksakan oleh kekuatan perundangan. Ratusan tahun kita telah terperdaya dengan sistem uang kertas sehingga kita sudah tidak ingat lagi sejarah uang yang sesungguhnya. Uang sejak zaman sebelum Nabi Muhammad , sallalahu alayhi wa sallam terbuat dari logam mulia dan juga dari komoditas lainnya. Begitu kejayaan Islam runtuh, mulailah muncul uang yang terbuat dari kertas yang kini benar-benar berupa kertas tanpa kaitan dengan cadangan emas.



Ketika ada sekelompok orang yang mengingatkan bahwa sistem uang kertas hanya membawa kesengsaraan, susah bagi kita untuk menerimanya. Seperti susahnya Neo untuk menerima penjelasan Morpheus pada awalnya. Itu karena tipuan yang telah begitu lama telah menutupi pandangan kita sehingga kita tidak bisa lagi berpikir jernih. Beberapa orang mengilustrasikan kondisi uang kertas saat ini seperti kisah 'Baju Baru Kaisar'. Setiap orang menyangka Sang Kaisar memakai baju yang sangat indah, padahal nyatanya dia tidak memakai baju. Hingga ada seorang anak kecil berteriak,'Lihat, Kaisar tidak memakai baju!'. 

Hal yang sama terjadi pada uang kertas. Kita diberitahu bahwa uang kertas adalah kesejahteraan, karena ada nilai di dalamnya, hingga ada yang berkata,'Ini hanyalah kertas biasa, tidak ada nilai sebesar itu di dalamnya'.

Untuk membuktikan hal tersebut, cobalah menyobek uang Rp 100.000,- menjadi dua, maka uang tersebut menjadi tidak laku, yang berarti uang tersebut telah lenyap. Ajaibnya, ketika keduanya disatukan dengan perekat, uang tersebut bisa laku kembali, alias menjadi ada lagi. Tentu saja kondisi tersebut bukanlah yang seharusnya. Uang sejati tidak bisa dengan mudah menghilang dan muncul hanya dengan cara disobek/direkatkan.


Imran N Hosein, ulama Trinidad menyebutkan bahwa uang dalam Islam haruslah:
  1. Berupa logam berharga (emas dan perak) atau komoditas lainnya seperti gandum, tepung, kurma dan garam yang tersedia secara bebas di pasar dan tahan lama;
  2. Bernilai intrinsik; dan
  3. merupakan ciptaan Alloh dengan nilai yang sudah Alloh tentukan kepadanya.
Dengan kondisi di atas, uang yang seharusnya adalah dinar dan dirham (emas dan perak) serta komoditas lainnya.



Kita Punya Pilihan
Sistem fiat money saat ini diterima begitu saja sebagai satu-satunya sistem yang terbaik, padahal sistem tersebut tidak bisa bertahan, tidak adil dan akan collapse. Lihatlah bahwa Rupiah Indonesia telah mengalami penurunan daya beli tiap tahunnya. Setiap orang yang menyimpan uangnya dalam bentuk Rupiah (dan uang kertas lainnya) akan mengalami penurunan daya beli dari tahun ke tahun. Hasil kerja keras kita yang kita simpan dalam wujud rupiah bisa tiba-tiba menghilang daya belinya ketika terjadi krisis moneter. Bahkan dolar pun yang selama ini menjadi acuan, daya belinya juga telah melorot tajam.

Kita harus menyediakan sistem alternatif yang lebih baik daripada itu. Kalau kita berlarut-larut dalam sistem uang kertas maka lama kelamaan kita tidak bisa keluar dari sistem itu, dan kita hidup dalam penjara seperti kehidupan Neo sebelum bertemu dengan Morpheus. Kehidupan semu di dunia matrix yang kelihatannya nyaman tapi sebenarnya memenjarakan. Kesejahteraan yang dibawa oleh uang kertas sebenarnya adalah kesejahteraan semu dan uang kertas adalah uang semu yang terasa manfaaatnya hanya di dunia 'matrix'. 

Kita punya dua pilihan: keluar dari dunia matrix uang kertas lalu berjuang melawannya atau membiarkan diri kita selamanya terjajah dan hidup dalam imajinasi uang di dunia matrix. Silahkan memilih.

Have a gold day


Marsono - Al Wakil Wakala At Tawazun

Selasa, 13 November 2012

Bukti Bahwa Uang Kertas Itu Memiskinkan Dunia…




By: Muhaimin iqbal - gerai dinar

Konon ada kekuatan di dunia ini yang menghendaki mayoritas umat manusia itu harus miskin dan membiarkan segelintir orang saja yang bisa kaya, maka kekuatan itu telah berhasil mengimplementasikan strateginya dengan sangat baik dalam setengah abad terakhir. Strategi yang digunakan tersebut adalah – apa yang sangat digemari umumnya manusia, yaitu uang kertas ! berikut buktinya.

Untuk bisa memahami apakah manusia didunia tambah makmur atau tambah miskin, pertama kita harus menyepakati dahulu tolok ukurnya. Bila tolok ukurnya yang digunakan adalah uang kertas – yaitu yang digunakan di dunia saat ini, maka betul seolah telah terjadi lompatan kemakmuran di dunia.

GDP per capita masyarakat di dunia telah melonjak dari US$ 2,756 tahun 1950, menjadi US$ 11,071 tahun 2011 lalu. Ini rata-rata dunia, rata-rata Indonesia masih kurang dari 1/3 rata-rata dunia atau di kisaran US$ 3,250 tahun 2011. Fokus tulisan kali ini adalah masyarakat dunia karena untuk masyarakat Indonesia sudah saya buat tulisannya melalui tulisan http://www.golddinarjameela.com/2012/11/kita-tidak-akan-pernah-makmur-di-system.html 

Masalahnya adalah ketika tahun 1950 rata-rata orang di dunia bisa membeli 581 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya, kemudian tahun 2011 hanya mampu membeli kurang dari 1/10-nya yaitu hanya mampu membeli  52 ekor kambing dari pendapatan per tahunnya – apa bisa dikatakan mereka tambah makmur ? tentu tidak, malah yang sebaliknya yang terjadi – rata-rata mereka bertambah miskin !.




Penglihatan itu semakin jelas manakala kita sandingkan antara kacamata Dollar dengan kacamata Dinar – saya gunakan Dinar karena harga emas datanya tersedia selama dua abad terakhir, sedangkan harga kambing kurang lebih mengikuti harga emas ini selama lebih dari 1400-tahun.



Saya selalu ingin menyandingkan Dinar dengan kambing ini, supaya orang tidak berargumen bahwa telah terjadi bubble yang tidak wajar di harga emas. 1 Dinar tetap hanya cukup untuk membeli seekor kambing besar, tidak cukup untuk membeli sapi atau unta. Dia juga tidak turun sehingga hanya cukup untuk membeli sate, membeli ayam atau telur – sebagaimana yang terjadi pada uang kertas.



Sekarang perhatikan pada grafik disamping yang menggambarkan bagaimana kinerja pendapatan penduduk dunia sejak tahun 1950. Saya tarik ke tahun 1950 supaya Anda bisa melihat – bahwa pasca Perang Dunia II sampai tahun 1970 memang terjadi peningkatan kemakmuran di dunia – baik dari kacamata Dollar maupun kacamata Dinar.

Tetapi mulai tahun 1971 ketika Amerika mulai mengingkari perjanjian yang dipimpinnya sendiri – perjanjian Breton Woods , dimana semua uang yang kertas seharusnya dikaitkan dengan emas tetapi mulai tahun 1971 uang kertas tidak lagi dikaitkan dengan emas – maka sejak saat itu pulalah kacamata dunia menjadi bias manakala melihat kemakmuran.

Dan siapa yang sengaja membiaskan penglihatan manusia di dunia ini ? bersyukurlah kita semua yang mendapatkan petunjuk langsung dari uswatun hasanah kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melalui sabdanya : “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal mengenai dajjal ? suatu yang belum pernah dikabarkan oleh seorang nabipun kepada kaumnya : Sesungguhnya dajjal itu buta sebelah matanya, ia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Dan sungguh aku memperingatkannya atas kalian sebagaimana Nabi Nuh mengingatkannya atas kaumnya” (HR. Muslim)



Dan siapakah dajjal itu ?, dijawab pula melalui hadits beliau lainnya : “…bahwa ia (dajjal) itu adalah Yahudi…” (HR Muslim).

Dunia yang mengira bahwa selama ini telah teradi pertumbuhan ekonomi – karena diukur dalam US$, ternyata tidak mampu meningkatkan kemakmuran penduduknya kecuali terhadap sedikit orang yang memang dimungkinkan dalam system yang mereka buat.


Bila grafik sebelumnya memperlihatkan pendapatan per capita penduduknya, grafik disamping memperlihatkan Gross World Product yang mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia, dunia mengira tumbuh padahal susut – lha memang itulah yang dikehendaki dajjal !.

Belajar dari sudut pandang ini, maka dibidang apapun, bukan hanya dari urusan ekonomi, tetapi juga dalam urusan pendidikan, budaya, politik, system hidup, peradaban dst – umat ini memang harus mengembangkan tolok ukurnya sendiri. Jangan terkecoh tolok ukur dajjal yang seolah mengajak penduduk dunia ke surga kemakmuran padalah sesungguhnya mereka telah menjerumuskan penduduk dunia ke neraka kemiskinan.

Kita diajari untuk berlindung dari dajjal, maka selain menghafal sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi – kita juga harus bisa memahaminya dan mengimplementasikannya dalam bentuk perlindungan dari segala system yang mereka paksakan di dunia ini. InsyaAllah kita bisa, insyaAllah !.





Senin, 12 November 2012

Gold Wars >> Perang terhadap emas



Tulisan ini saya sarikan dari buku Gold Wars : The Battle Against Sound Money As Seen From Swiss Perspective , karya Ferdinand Lips (Foundation for Advancement of Monetary Education, 2001). Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang Swiss Banker - yang bahkan sempat mendirikan bank sendiri menggunakan namanya – yang sangat tahu seluk beluk permainan terhadap emas dunia.
Menutut Lips ini perang terhadap emas dimulai tahun 1933 ketika President Amerika waktu itu Franklin D Roosevelt menyita seluruh emas yang dimiliki warga negaranya, dan menaikan harga emas di negeri itu dari US$ 20.67/ounce ke US$ 35.00/Ounce. Perang ini menjadi semakin serius sejak ditinggalkannya Breton Woods Agreement 1971 – dimana sejak saat itu praktis tidak ada satu uang-pun di dunia yang dikaitkan dengan emas – kecuali Swiss.
Swiss merupakan negara yang bertahan mengkaitkan uangnya dengan emas sampai tahun 1992 – itulah sebabnya sampai tahun tersebut mata uang Swiss yaitu Swiss Franc adalah yang paling kuat di dunia. Swiss dahulu juga merupakan surga bagi warga dunia yang ingin mengamankan asetnya.
Namun sejak tahun 1992, Swiss juga menjadi anggota IMF, dan sebagai anggota IMF mereka wajib tunduk pada aturan-aturan IMF yang antara lain melarang anggota IMF mengkaitkan uangnya dengan emas. Uang boleh dikaitkan dengan hasil-hasil peternakan, pertanian dan lain sebagainya atau apapun tetapi tidak boleh dikaitkan terhadap emas.
Lantas mengapa bank-bank sentral dunia dalam koordinasi IMF ini memerangi emas ?. Menurut Ferdinand Lips ini adalah karena emas merupakan barometer standar yang dengan mudah dapat mendeteksi bila ada yang salah dalam system keuangan yang ada di dunia – dan para otoritas keuangan dunia tentu tidak suka kesalahannya mudah dibaca hanya dengan melihat harga emas !.
Dia mencontohkan apa yang terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Awal kesalahan system keuangan negeri itu terbaca dari naiknya harga emas dari US$ 35/Ounce ke US$ 40/Ounce pada masa pemerintahan Kennedy. Situasi kemudian memburuk pada akhir dasawarsa 60-an tersebut ketika Amerika terjerumus dalam perang yang tidak pernah bisa dimenangkannya yaitu perang Vietnam.
Puncaknya tahun 1971 ketika Amerika benar-benar tidak bisa mengendalikan system keuangannya dan terpaksa melepaskan kaitan antara US$ dengan emas. Hari-hari yang mencekam dalam system keuangan Amerika yang belakangan menular keseluruh dunia ini – terekam dari cerita para pelaku langsung yang ditulis oleh Ferdinand Lips ini sebagai berikut :
Pada tanggal 10 Agustus 1971 sekolompok bankers dan economist berkumpul membicarakan krisis moneter yang genting di negeri itu, termasuk diantara yang hadir adalah Paul Volker yang saat itu menjabat Under-secretary of the Treasury for Monetary Affairs.
Ada dua opsi solusi yang saat itu dibicarakan; pertama menaikkan suku bunga atau menaikkan harga emas – namun nampaknya Paul Volker tidak mengambil salah satunya. Dia mengambil solusi yang tidak terbayangkan waktu itu yaitu meninggalkan emas sama sekali dari referensi uang US$ Amerika. Sepekan kemudian keputusan ini dimumumkan oleh presiden AS saat itu Nixon yang kemudian menimbulkan kejadian yang mengguncang dunia yang dikenal sebagai Nixon Shock 1971.”
Sejak saat itu perang terhadap emas semakin hari semakin meningkat yang digambarkan digambarkan oleh Lips (meninggal 2005, konon meninggal tidak wajar karena terlalu banyak tahu !) antara lain sebagai berikut :
Dengan bantuan pemerintahan-pemerintahan dunia, di tahun 1990-an, perang terhadap emas memasuki fase yang sangat destructive. Bank-bank central menjual atau meminjamkan emasnya untuk menghancurkan harga emas...”.
Bila ‘perang’ yang diungkapkan oleh Ferdinand Lips tersebut benar adanya – kemungkinannya memang begitu karena sebagai ‘orang dalam’ dari system perbankan dunia tentu apa yang ditulisnya memiliki dasar yang kuat – maka dalam ‘perang’ ini hanya ada dua pihak, yaitu system uang yang adil berbasis emas dan system uang yang destructive yang berbasis uang kertas. Hati kecil kitalah yang bisa menjawab, system yang mana yang seharusnya kita bela...Wa Allahu A’lam. (M. Iqbal)

Kamis, 08 November 2012

Emas ibarat kaca...yaitu adil terhadap dirinya sendiri..



Sekitar sembilan abad yang lalu Imam Al Ghazali (1058-1111) dengan kejernihan pemikirannya mengungkapkan bahwa sejatinya emas sebagai timbangan yang adil, dirinya sendiri ibarat cermin yang dengannya barang-barang dapat ditentukan nilainya dengan akurat.
Sekarang saya akan gunakan cermin Imam Ghazali ini untuk melihat krisis yang sekarang sedang menghebohkan dunia. Kita lihat krisis tersebut dari kacamata harga emas yang mencerminkan daya beli uang negara-negara di dunia. Saya ambil case negara kita dibandingkan negara yang menjadi epicentrum krisis sekarang ini yaitu Yunani secara khusus dan European Union secara umum.
Dari kacamata kenaikan harga emas ini kita bisa tahu bahwa krisis yang melanda Yunani beberapa tahun terakhir memang sangat parah, sehingga daya beli uangnya terhadap emas anjlog sekitar 30 % (100%/141%). Karena emas ini cerminan harga barang-barang di sekitarnya – maka daya beli uang mereka terhadap barang-barang juga turun kurang lebih pada persentase yang sama. Bisa dibayangkan penderitaan rakyat negeri itu sebagai dampak dari penurunan daya beli uangnya ini.

Namun ternyata Yunani tidak sendirian mengalami krisis ini, secara bersama-sama negara-negara yang tergabung dalam European Union – juga lagi tenggelam bersama. Ini bisa dilihat dari kenaikan harga emas dalam Euro bahkan lebih tinggi ketimbang dalam Drachmas – yaitu mencapai 44%, atau daya beli Euro mengalami penurunan sekitar 31%.
Kita yang di Indonesia, juga tentu tidak terlepas dari masalah  ini; tetapi dalam Rupiah rata-rata harga emas setahun terakhir hanya naik sekitar 16% saja. Maka bersyukur memang sudah sepatutnya bahwa ekonomi kita lagi perkasa, namun untuk berbangga dengan kinerja kita – ini yang tidak boleh.
Selain berbangga menimbulkan kesombongan yang dilarang agama, kenyataannya memang belum ada yang bisa kita banggakan. Mengapa demikian ?, coba kita bercermin kembali dengan cerminnya Imam Ghazali tersebut diatas – sekarang kita lihat harga emas sepuluh tahun terakhir.
Emas Ibarat Cermin...










Dalam sepuluh tahun terakhir,hingga tahun 2010 di Yunani yang menjadi epicentrum krisis saja - harga emasnya hanya naik sebesar 253% (dalam Drachmas) ; dalam Euro kenaikan ini hanya 249 % ; dalam Rupiah kenaikan ini mencapai 800%. Bila pada Januari 2000 kita bisa membeli emas 1 gram sehargaRp 66,000,- ; kini harga emas tersebut di tahun 2012 menjadi Rp 550,000 per gram.
Maka bercermin dengan cermin yang utuh kita perlu – agar kita tahu seperti apa kinerja kita sesungguhnya; dengan cermin itu pula kita bisa memperbaiki diri – agar dari waktu-kewaktu semakin indah wajah kita.
Jangan pula sampai terjadi ‘Buruk Muka Cermin Dibelah’ ; bahwa bank-bank central dari negara-negara di dunia memerangi emas karena ingin membelah cermin ini; mereka tidak mau wajahnya terlihat buruk di depan cermin yang adil. Wa Allahu A’lam. (Muhaimin Iqbal)