Kapal- kapal ini benar-benar dipilih agar aman selama perjalanan, tapi dalam sejarah, sebagiannya tidaklah beruntung. Menurut estimasi di seluruh dunia ada 3 juta bangkai kapal yang memuat harta karun teronggok di dasar laut. Odyssey Marine, sebuah perusahaan Amerika yang tercatat di bursa efek NASDAQ menghabiskan sejumlah besar uang untuk mencari emas tersebut. Tetapi selalu ada resiko untuk menghadapi klaim dari negara yang merasa memilikinya.
Rabu, 15 Mei 2013
The Secret world of Gold
The Secret World of Gold adalah film dokumenter yang mengupas secara mendalam tentang kekuasaan dan politik dalam emas, sebuah logam mulia yang mempunyai daya tarik dan pesona lebih dibanding yang lainnya. Nilainya yang stabil, keindahan dan kelangkaan, bahkan orang rela berbohong, mencuri , dan membunuh atas nama emas.
Untuk membiayai negara Jerman Nazi memburu emas Eropa. Maka supaya aman negara-negara sekutu menyimpan cadangan emasnya di luar negeri. Dalam bulan pertama dari perang dunia ke 2, emas Inggris dan Perancis secara rahasia dikapalkan menuju penyimpanan emas di kota Montreal, Ottawa dan New York.
Kapal- kapal ini benar-benar dipilih agar aman selama perjalanan, tapi dalam sejarah, sebagiannya tidaklah beruntung. Menurut estimasi di seluruh dunia ada 3 juta bangkai kapal yang memuat harta karun teronggok di dasar laut. Odyssey Marine, sebuah perusahaan Amerika yang tercatat di bursa efek NASDAQ menghabiskan sejumlah besar uang untuk mencari emas tersebut. Tetapi selalu ada resiko untuk menghadapi klaim dari negara yang merasa memilikinya.
Di tahun-tahun terakhir ini, ketidakpastian ekonomi menyebabkan emas menjadi daya tarik dalam finansial dunia. Dimana di setiap safe deposit bank ada emas koin atau batangan yang tersimpan di seluruh dunia. Banyak investor yang mengambil keuntungan dari bersinarnya emas. Tapi emas jumlanya memang tidak banyak, bila seluruh emas di dunia di lebur, jumlahnya cukup diletakkan di kolam renang standar Olympic.
Ada beberapa klaim bahwa sejumlah besar emas di simpan di the Bank of Canada, the Bank of England, the Federal Reserve dan Fort Knox telah hilang — dari setiap 100 ounce emas yang diperdagangkan, hanya ada satu ounce saja yang riil, emas dalam artian fisik. Jadi dimana emas, dan siapa sebenarnya yang memilikinya?
Disutradarai oleh Brian McKenna untuk Galafilm dengan CBC-TV.
Senin, 13 Mei 2013
Wag the dog >> harga emas
By : muhaimin iqbal
Ada Joke yang dimulai dengan pertanyaan : ‘mengapa anjing suka mengibaskan ekornya ?’, jawabannya adalah ‘karena anjing lebih cerdas dari ekornya’. Kalau saja si ekor lebih cerdas dari anjingnya maka bisa jadi si ekorlah yang mengibaskan anjing – bukan sebaliknya. Perandaian ini yang kemudian dalam bahasa Inggris memunculkan idiom ‘Wag the Dog’ – si ekor yang mengibaskan anjingnya. Fenomena penurunan harga sangat tajam yang terjadi di pasar emas global dalam beberapa hari terakhir adalah fenomena yang mirip dengan ‘Wag the Dog’ ini.
Dalam bahasa Inggris idiom ‘Wag the Dog’ adalah untuk menggambarkan pengelabuan perhatian secara sengaja dari sesuatu yang besar dan nyata kearah sesuatu yang direkayasa dan tidak nyata.
Idiom tersebut bahkan diangkat menjadi sebuah film komedi terkenal di tahun 1997 dengan judul ‘Wag the Dog’. Film ini tentu saja fiksi tetapi nampaknya terinspirasi oleh beberapa kejadian sesungguhnya di Amerika dalam suatu era pemerintahan beberapa tahun sebelumnya. Diceritakan disitu bahwa bagaimana seorang incumbent president yang sedang akan mencalonkan kembali untuk periode kedua kalinya, melakukan segala cara untuk sekedar memperbaiki namanya yang telah rusak oleh skandal perempuan.
Agar perhatian publik beralih dari skandal yang dialaminya, sang presiden menunjuk team khusus untuk membuat serangkaian berita yang dapat mengalihkan perhatian publik. Lebih dari itu berita ini harus bisa membalik arah membuat sang incumbent president menjadi pahlawan bagi negerinya.
Maka team khusus tersebut mendekati seorang produser di Hollywood untuk memalsukan sebuah perang. Dipilihlah negeri kecil yang jauh antah berantah sebagai musuhnya – yaitu Albania. Dibuatlah alasan perang dadakan ini bahwa Albania seolah menjadi sarang teroris sehingga perlu diserang secara tiba-tiba.
Tetapi perang, kejadiannya, tokoh-tokoh-nya semua rekaan Hollywood dan dibuat di dalam sebuah studio film. Ketika film ‘berita perang’ ini kemudian didistribusikan di media masa, semua media memuatnya lengkap dengan berbagai bumbu-bumbu seolah kejadian perang tersebut bener-bener nyata, dan publik-pun mempercayainya.
Message-nya adalah, bahkan ‘sebuah perang’ bisa dibuat dalam studio dan cukup untuk membalik arah dari tokoh yang sebenarnya tidak lagi layak pilih karena kelakuannya, tiba-tiba berubah menjadi pahlawan nasional yang layak untuk memimpin negeri. Sebuah cerita reka-an yang mampu menggerakkan publik utuk memilih presiden – yang sesungguhnya sudah tidak lagi layak memimpin.
Lantas apa kaitannya cerita ‘Wag the Dog’ tersebut dengan runyamnya harga emas beberapa hari terakhir ?. Coba seandainya Anda merem dan menutup telinga. Tidak melihat/membaca berita dan tidak pula mendengarnya melalui radio. Kemudian di hadapan Anda disajikan fakta yang sesungguhnya yaitu sebongkah emas fisik dan segepok uang kertas Dollar. Mana yang Anda pilih ?, hampir pasti kebanyakan orang akan memilih emas.
Tetapi sekarang buka mata dan telinga Anda, baca seluruh berita dan analisa. Kemudian disajikan kembali kepada Anda sebongkah emas fisik dan segepok uang kertas Dollar. Maka untuk saat ini mungkin pilihan Anda akan berubah, Dollar akan mengkin menjadi pilihan Anda saat ini. Mengapa ?
Karena somewhere di luar sana ada yang lagi membuat ‘film perang di dalam studio’ – ada yang lagi membuat ‘Wag the Dog’. Segelintir pemain yang membuat skenario kejatuhan harga emas dunia untuk kepentingan mereka – menutupi kondisi ekonomi dan moneter dunia yang sesungguhnya. Dan sayangnya ketika ‘film dari studio’ ini diputar – seluruh pasar mempercayainya – sehingga harga emas bener-bener jatuh !.
‘Film dari studio’ ini bercerita tentang dihentikannya Quantitative Easing dari the Fed-nya Amerika, tentang Cyprus yang harus menjual cadangan emas negerinya untuk bisa sekedar survive dari keterpurukannya, negeri-negeri lain yang seolah akan harus mengikuti jejak Cyprus untuk menjual cadangan emasnya dlsb.dlsb. semua ceritanya lengkap dan cukup untuk ‘Wag the Dog’ seluruh pasar emas dunia.
Tetapi apakah semua pemain pasar akan termakan propaganda tersebut ? Nampaknya tidak. Pemain sekaliber HSBC misalnya, di tengah kepanikan jual di pasar emas kemarin merilis pernyataan tentang posisinya bahwa emas tetap menjadi portfolio yang menarik untuk diversifikasi aset dan pelindung terhadap skenario inflasi tertentu.“Terlepas dari jatuhnya harga emas ini, kami tidak akan meniadakan pentingnya emas dalam portfolio aset keseluruhan kami. Kami tetap mempertahankan 8 % posisi emas taktis di dalam alokasi aset kami” kata mereka di HSBC.
HSBC rupanya tidak ikut terkibaskan oleh skenario ‘Wag the Dog’-nya segelintir pemain yang ‘mengatur’ kejatuhan harga emas dunia ini. Dengan pandangan jernih pula, insyaAllah kita tidak akan ikut 'terkibaskan' oleh skenario yang sama - kita tahu siapa yang sesungguhnya layak memimpin dunia dalam jangka panjang - emaskah ? atau Dollar ?.
Jumat, 10 Mei 2013
Yamashita's gold: Ketika presiden marcos pun menyimpan emas
Yamashita's gold, atau harta karun Yamashita adalah nama harta rampasan perang yang diambil tentara Jepang selama PD II di Asia Tenggara dan disembunyikan di gua-gua, terowongan dan ruang bawah tanah di Philipina. Nama Yamashita sendiri diambil dari nama jendral Jepang Tomoyuki Yamashita, yang mempunyai nama panggilan "The Tiger of Malaya". Karena berdasar catatan harta karun tersebut masih disembunyikan di Philipina, telah memikat para pemburu harta dari seluruh dunia selama 50 tahun, walaupun keberadaannya tidak diyakini para pakar. Rumor yang beredar harta karun tersebut telah menjadi gugatan hukum dan telah diajukan di pengadilan negara bagian Hawai pada 1988 yang melibatkan Rogelio Roxas, pemburu harta karun Philipina dan presiden Philipina saat itu Ferdinand Marcos.
Pendapat yang terkemuka mengenai keberadaan Yamashita's gold adalah Sterling Seagrave dan Peggy Seagrave, yang telah menulis dua buku mengenai hal ini : The Yamato Dynasty: the Secret History of Japan's Imperial Family (2000) dan Gold Warriors: America's Secret Recovery of Yamashita's Gold (2003). The Seagraves berpendapat bahwa rampasan emas Jepang itu diorganisir dalam skala yang luas, oleh 2 pihak yaitu mafia yakuza seperti Yoshio Kodama, dan masyarakat kelas atas Jepang, termasuk kaisar Hirohito. Pemerintah Jepang bermaksud membiayai perang dengan harta rampasan itu. The Seagraves menyatakan bahwa Hirohito menunjuk saudaranya, pangeran Yasuhito Chichibu, untuk memimpin organisasi rahasia yang bernama Kin no yuri ("Golden Lily"), untuk memenuhi maksudnya. Menurut sebuah pengakuan banyak dari mereka yang mengetahui lokasi harta rampasan itu dibunuh selama perang, dan di kemudian hari mereka yang terlibat dituduh sebagai penjahat perang oleh sekutu untuk kemudian dieksekusi dan ditangkap.Yamashita sendiri dieksekusi oleh tentara AS untuk kejahatan perangnya pada 23 Februari 1946.
Properti yang dicuri menurut laporan terdiri dari berbagai macam benda yang diambil dari bank, brankas, candi, gereja, masjid, museum, dan rumah pribadi. Rampasan ini membawa nama Jendral Tomoyuki Yamashita, yang dianggap memerintahkan angkatan perang Jepang melakukannya di Philipina tahun 1944.
Menurut berbagai catatan, rampasan ini awalnya disimpan di Singapura, dan kemudian di bawa ke Philippina. Jepang ingin membawa rampasan ini dengan kapal ke negerinya setelah perang berakhir. Pada perang pasifik, angkatan laut AS dan kapal perang sekutu banyak menenggelamkan kapal kargo Jepang dalam jumlah besar. Beberapa kapal tersebut membawa rampasan Jepang dan tenggelam.
The Seagraves dan beberapa orang lainnya telah mengklaim bahwa intelijen militer AS melakukan beberapa operasi di lokasi tenggelamnya kapal ; mereka berkonspirasi dengan Hirohito dan tokoh senior Jepang lainnya untuk menyembunyikan keberadaannya, dan mereka menggunakannya untuk membiayai secara rahasia selama perang dingin. Rumor ini telah memberi inspirasi para pemburu harta karun, tetapi sebagaian besar pakar dan sejarahwan Philipina mengatakan tidak ada bukti yang kredibel dibalik klaim tersebut.
Pada tahun 1992, Imelda Marcos mengklaim bahwa Yamashita's gold termasuk salah satu warisan harta suaminya Ferdinand Marcos.
Banyak individu dan konsorsium baik dari Philipina atau pun luar Philipina terus melanjutkan upaya pencarian rampsan tersebut. Sejumlah insiden kematian, kecelakaan, dan kerugian finansial yang dialami para pemburu terus dilaporkan.
Saat ini, the Mines & Geosciences Bureau of the Department of Natural Resources of the Philippines adalah perwakilan pemerintahan Phillipina yang mengurus perizinan pencarian harta karun tersebut.
Professor Rico Jose dari University of Fhilippines mempertanyakan teori bahwa harta karun dari daratan asia tenggara itu dikirim dengan kapal ke Philipina : "Sejak tahun 1943 Jepang sudah tidak lagi memiliki kontrol di lautan...Adalah tidak mungkin membawa sesuatu yang berharga jika Anda tahu bahwa akan kalah perang dari Amerika. Hal yang lebih rasional adalah membawanya ke Taiwan atau Cina.
Direktur National Historical Institute Philipina dan sejarahwan Ambeth Ocampo memberi komentar: “Dua mitos kekayaan yang selalu saya hadapi adalah harta karun Yamashita dan gosipCojuangco fortune yang ditemukan di dalam tas yang penuh berisi uang…” Ocampo juga mengatakan : "Selama 50 tahun terakhir banyak orang baik dari Philipina dan luar Philipina, telah menghabiskan banyak waktu dan energi dalam mencari harta Yamashita......tetapi mereka tidak menemukan apapun.
Pada bulan Maret 1988, pemburu harta asal Philipina Rogelio Roxas mengajukan gugatan hukum ke pengadilan negera bagian Hawai melawan mantan Phipina Ferdinand Marcos dan istrinyaImelda Marcos atas tuduhan pencurian dan pelecehan kemanusiaan. Roxas menyatakan bahwa di kota Baguio pada tahun 1961 dia bertemu anak lelaki dari mantan tentara Jepang yang memberi dia peta lokasi harta karun Yamashita . Roxas menyatakan bahwa dia adalah orang kedua, yang bertugas sebagai penterjemah Yamashita selama PD II, dia bercerita kepadanya sebuah kunjungan ke ruang bawah tanah yang menyimpan emas dan perak dan juga bercerita kepadanya tentang patung emas yang disimpan di biara dekat ruang bawah tanah tersebut. Roxas menyatakan bahwa beberapa tahun berikutnya dia membentuk sebuah kelompok untuk melakukan pencarian harta tersebut, dan memperoleh izin pencairan dari kerabat presiden Ferdinand, yaitu hakim Pio Marcos. Pada tahun 1971, Roxas menyatakan , dia dan kelompoknya membongkar sebuah ruang yang tertutup disebuah pulau dekat kota Baguio dimana dia menemukan bayonet, pedang samurai, radio, dan kerangka yang masih mengenakan seragam militer tentara Jepang. Juga ditemukan di ruang itu , patung emas Budha setinggi 0,9 meter dan sejumlah peti yang bertumpuk-tumpuk di sebuah ruang seluas 6 kaki x 6 kaki x 35 kaki. Dia menyatakan, dia mencoba membuka satu peti, dan dia menemukan penuh dengan emas batangan. Dia membawa sebuah patung emas Budha yang dia perkirakan beratnya 1.000 kg, dan sebuah kotak penuh emas batangan 24 karat dan menyembunyikannya di rumahnya. Dia menyatakan mensegel ruangan tersebut untuk, hingga dia mengatur rencana untuk membawa peti-peti yang masih tersisa, yang dia duga penuh pula dengan batangan emas. Roxas berkata dia menjual 7 batang emas dari salah satu peti yang dia buka dan mencari calon pembeli potensial untuk patung emas Budha. Dua orang calon pembeli mencoba menguji kadar emas di patung tersebut, Roxas berkata ternyata patung tersebut terdiri dari emas 20 karat. Segera setelah peristiwa itu, Roxas berkata, presiden Ferdinand Marcos, mempelajari penemuan Roxas dan memberi perintah penahanan terhadap dirinya, penyiksaan, dan harta temuannya pun disita. Roxas menduga ini akibat penemuan harta karun tersebut, akhirnya Roxas pun ditahan selama setahun.
Menyusul pembebasannya, Roxas menahan tuntutannya terhadap Marcos hingga Marcos lengser dari kursi presiden tahun 1986. Tetapi pada tahun 1988, Roxas dan the Golden Budha Corporation, yang memegang hak kepemilikan terhadap harta karun Roxas menyatakan bahwa Marcos telah mencuri harta Roxas, dan mengajukan tuntutan terhadap Ferdinand Marcos dan istrinya Imelda di pengadilan negeri Hawai. Roxas meninggal pada malam persidangan, tetapi sebelum kematiannya, dia memberi sebuah kesaksian yang direkam, yang nantinya digunakan sebagai bukti di pengadilan. Pada tahun 1996 perwakilan Roxas dan the Golden Budha Corporationmenerima keputusan pengadilan dimana mereka menerima uang kompensasi terbesar dalam sejarah senilai $22 miliar dan naik menjadi $40,5 miliar. Pada 1998, pengadilan tinggi Hawai menyatakan bahwa ada cukup bukti untuk mendukung keluputusan Hakim yang menyatakan bahwa Roxas yang menemukan harta tersebut dan Marcos telah mengambil alih kepemilikan harta. Namun mengenai uang kompensasi pengadilan tinggi menilai yang bahwa yang diajukan pengadilan sebelumnya terlalu besar karena terlalu spekulatif, akhirnya putusan final pengadilan adalah the Golden Budha Corporation mendapat $13,275,848.37 dan perwakilan Roxas mendapat $6 juta sebagai klaim pelanggaran HAM.
Putusan pengadilan ini pada akhirnya mensimpulkan bahwa Roxas lah yang menemukan harta karun tersebut, walaupun pengadilan negeri Hawai tidak menjelaskan bahwa itu adalahYamashita’s gold, namun kesaksian yang disimpulkan pengadilan mengarah pada emas Yamashita itu. Roxas diduga menelusuri peta yang diberikan anak dari tentara Jepang ; Roxas diduga berbekal petunjuk dari penerjemah Yamashita; dan Roxas akhirnya menemukan pedang samurai, dan kerangka tentara Jepang di ruang harta karun tersebut. Semua ini menuntun pengadilan banding AS ke sembilan kalinya mensimpulkan putusan akhir bahwa : harta karun Yamashita ditemukan oleh Roxas dan kemudian dicuri dari Roxas oleh orang-orang Marcos.
Kesimpulannya : tetap saja untuk simpanan jangka panjang,,mereka mengalihkannya ke emas
sumber : aviesienadinar
Rabu, 24 April 2013
Harga emas dalam perspektif jangka panjang
By : Muhaimin Iqbal
Harga emas turun tajam – paling tajam sejak saya mulai mengamati langsung pergerakan harga emas dunia lima tahun terakhir. Dalam situasi seperti ini, pasti banyak pertanyaan dari masyarakat pengguna emas atau Dinar. Ada apa sebenarnya ?, apa yang harus dilakukan ? kemana arah selanjutnya ? dlsb. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan lebih mudah dijawab bila kita lihat harga emas ini dalam perpektif jangka panjang dan dalam perspektif ekonomi yang lebih luas.
Sumber : BPS, IDX, Kitco & GeraiDinar
Saya akan gunakan data dua puluh tahun terakhir dan belajar juga dari luar pasar emas, yaitu dengan saudara-nya yang mirip - pasar saham. Untuk era modern ini pasar saham lebih mateng dari pasar emas karena para pemainnya adalah korporasi-korporasi besar dunia. Bila di Indonesia ya perusahaan-perusahaan besar Indonesia.
Selama dua puluh tahun terakhir, setidaknya saya melihat tiga kali penurunan besar di pasar saham yaitu selama krisis 1997-1998 (turun 38%), krisis di awal reformasi tahun 2000 (turun 42%) dan terakhir pengaruh krisis finansial global tahun 2008 (turun 51%).
Pada periode yang sama, harga emas atau dalam hal ini saya setarakan Dinar mengalami dua kali penurunan besar yaitu tahun 1999 (turun 27%) dan yang sekarang sedang terjadi (sudah turun 14% dari harga tertingginya 2011).
Apa Penyebabnya ?
Kenaikan harga saham mestinya sejalan dengan pertumbuhan perusahaan-peusahaan yang tercatat di bursa saham. Karena yang tercatat di bursa saham umumnya perusahaan-perusahaan besar yang memegang peran penting pada ekonomi suatu negara, maka pertumbuhan bursa saham mestinya juga seiring dengan pertumbuhan ekonomi negeri yang bersangkutan.
Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata misalnya 6 %, tetapi Index Harga Saham Gabungan melonjak jauh di atas angka ini, maka bisa jadi kenaikan ini bukan karena faktor fundamental – tetapi lebih karena faktor sentimen pasar yang dengan mudah akan terkoreksi bila sentimen tersebut berbalik arah. Itulah umumnya yang terjadi pada setiap penurunan besar di bursa saham yang tercermin dalam grafik tersebut di atas.
Bila saham mestinya seiring dengan pertumbuhan ekonomi, tidak demikian dengan harga emas. Emas berada di pasar komoditi dan emas juga merupakan cermin dari harga barang-barang. Oleh karenanya kenaikan harga emas, seharusnya mencerminkan kenaikan harga barang-barang pada umumnya. Atau dengan kata lain kenaikan harga emas mestinya sejalan dengan inflasi.
Bila kita asumsikan inflasi rata-rata itu juga hanya 6 %, maka kenaikan harga emas yang terlalu tinggi - seperti yang sempat mencapai kenaikan 53 % dari 2010 ke 2011- bukan merupakan kenaikan yang didukung oleh faktor fundamental yang wajar. Pendorongnya lebih banyak karena faktor sentimen pasar.
Dalam hal harga emas sentimen pasar yang melonjakkan harga emas itu adalah kebijakan Quantitaive Easing (QE) dari the Fed-nya Amerika Serikat. Kebijakan QE 1 yang dilakukan Amerika tahun 2008 membuat harga emas melonjak 33 % di tahun 2008, QE 2 yang dilakukan tahun 2010 membuat harga emas melonjak 53 % di tahun 2011. QE 3 di tahun 2012 belum sempat mengangkat pasar ketika isu dihentikannya program QE mulai merebak di pasar.
Sebagaimana sentimen QE melonjakkan harga emas selama 2008- 2011, maka ketika sentimen QE ini menghilang, harga emas seperti roket yang terhempas jatuh karena hilangnya daya dorong - itulah yang terjadi saat ini di pasar emas dunia tidak terkecuali Indonesia !
Lantas Apa Yang Perlu Kita Lakukan ?
Lagi-lagi kita bisa belajar dari saudara tua pasar emas yaitu pasar saham. Para pemain baru – yang umumnya individu – di pasar saham, mereka panik ketika harga saham jatuh. Dalam kondisi ini mereka justru menjual saham dan meninggalkan pasar saham, mereka inilah yang paling merugi karena yang tadinya baru potential loss (ketika harga saham jatuh) diubah menjadi actual loss (ketika saham dijual pada saat harga jatuh).
Pemain-pemain yang bersifat long term – umumnya perusahaan-perusahaan yang memiliki track record panjang di bursa saham – mereka mencatat dan memperhitungkan potential loss ini – tetapi mereka tidak meng-actual-kan loss-nya karena mereka tidak menjual ketika harga saham jatuh. Karena perpektifnya yang lebih jauh, mereka-mereka inilah yang diuntungkan ketika terjadi rebound di pasar saham seperti yang terjadi dalam 5 tahun terakhir – sejak kejatuhannya di tahun 2008.
Maka demikian pula yang bisa dilakukan oleh para pengguna emas atau Dinar. Penurunan yang significant sekarang tentu menjadi potential loss bagi emas atau Dinar Anda (terutama yang membelinya ketika harga tinggi di tahun 2011 dan sesudahnya), tetapi potential loss ini baru akan menjadi kerugian yang sesungguhnya – actual loss – bila Anda menjual selagi harga emas rendah seperti sekarang ini.
Bila Anda bertahan sekarang untuk perspektif jangka panjang, maka ketika harga emas rebound – InsyaAllah Anda pula yang akan diuntungkan.
Apakah Harga Emas Masih Akan Turun Terus ?
Untuk jangka pendek kemungkinan itu tentu ada karena seperti roket yang kehilangan daya dorong tersebut di atas. Namun sama dengan harga saham yang jatuh berkali-kali-pun tetap bisa bangkit kembali karena sejauh ekonomi suatu negara tetap tumbuh, harga saham mestinya juga tetap bisa tumbuh (kembali) – sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
Demikian halnya dengan harga emas, sejauh inflasi atau kenaikan umum harga barang-barang masih terjadi di suatu negeri – maka emas tidak terkecuali, dia akan ikut naik sejalan dengan inflasi itu.
Meskipun saya gunakan pembelajaran dengan harga saham untuk memahami penurunan harga emas kali ini, tidak berarti lantas saya menganjurkan investasi saham dan produk-produk turunannya meskipun sekarang lagi sangat menggiurkan hasilnya. Karena bila koreksi itu terjadi seperti yang pernah terjadi 3 kali dalam dua dasawarsa terakhir, maka koreksi itu akan menyakitkan – sebagaimana yang kita alami kini untuk koreksi harga emas.
Tetapi apakah emas lebih baik ?, mungkin ini subjektif tetapi agar tidak subjektif silahkan perhatikan kinerja keduanya di grafik tersebut di atas – dan Anda bisa tarik kesimpulan Anda sendiri. Saya tidak pernah mengatakan bahwa investasi emas itu adalah investasi terbaik, karena emas bukan instrumen investasi yang sesungguhnya – emas lebih merupakan instrumen untuk mempertahankan nilai.
Lantas Apakah Investasi Terbaik Itu ?
Yang terbaik adalah investasi yang tidak hanya berorientasi untung rugi, yang tidak terbatas pada penciptaan nilai (value creation) , yang terbaik adalah investasi yang membawa misi dan membangun nilai-nilai. Seperti apa bentuk konkritnya ?.
Bayangkan kalau Anda berinvestasi pada lahan, kemudian di atas lahan tersebut Anda tanami dengan tanaman pangan yang akan dibutuhkan untuk umat sekarang dan yang akan datang. Setiap Anda datangi lahan tersebut dan menyirami tanaman diatasnya, Anda niatkan untuk memberi makan di hari kelaparan – memberi makan bagi dunia. Maka seperti inilah investasi terbaik itu, jenisnya bisa sangat banyak dan ada di berbagai bidang – tidak harus pertanian.
Intinya adalah sektor riil yang menciptakan lapangan kerja, meng-create produk, memberi solusi atas masalah yang ada di masyarakat, memenuhi segala kebutuhan manusia di jaman ini dan nanti. InsyaAllah.
Senin, 08 April 2013
Runtuhnya Uang Kertas
Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Pernyataan ini mengacu pada sistem uang kertas, yang telah menggantikan uang emas (Dinar) dan uang perak (Dirham), yang kini memperlihatkan keruntuhannya. Hadis ini mendapatkan realitasnya dalam kurun empat puluh tahun terakhir ini.
Runtuhnya uang kertas terjadi pada hakekatnya yakni nilainya yang semakin susut. Uang kertas adalah pengkhianatan atas takaran nilai atau harga, yang diwujudkan sebagai alat tukar, dari fitrahnya semula berupa komoditas bernilai menjadi semata-mata simbol numerik. Akibatnya transaksi yang semula tunai bukan saja jadi tertunda tapi juga menggelembung semu. Keduanya, penundaan dan penggelembungan, adalah dua pilar riba. Dalam Qur'an sudah ditegaskan "Allah, subhanahu wa ta'ala akan meruntuhkan riba."
Metamorfosa Uang Kertas
Untuk memahami substansi dan posisi hukumnya sebagai riba perlu dimengerti asal muasal uang kertas. Untuk sampai pada bentuk yang kita kenal hari ini uang kertas bermetamorfosa seiring zaman. Setidaknya ada tiga tahap.
Pertama, uang kertas lahir sebagai kuitansi (bukti utang), yang dikeluarkan para pandai emas dan perak, dan dapat ditebuskan kembali oleh pemiliknya. Dalam syariat Islam janji utang ini dikenal sebagai dayn, yang haram dipakai sebagai alat jual-beli, karena pembayaran dengannya berarti tidak kontan. Pada satu titik pemerintah memberikan hak monopoli penerbitan surat utang itu kepada satu pihak saja yaitu bank sentral. Maka, janji utang yang semula bersifat privat (antara pemilik harta dan pihak yang dititipinya) kini menjadi publik, dan dipaksakan berlaku umum. Ini terjadi pada abad ke-17.
Kedua, para bankir yang sekarang memonopoli itu secara sepihak mengubah uang kertas tadi dari janji utang (promissory note) menjadi bank note, yaitu uang kertas tadi tidak lagi bisa ditebuskan jadi koin emas atau perak oleh pemiliknya. Meski setiap kali mencetaknya para bankir tetap menjaminnya dengan emas atau perak batangan. Ini disebut sebagai sistem standar emas, berlaku pada abad ke-20.
Di Amerika perubahan itu terjadi pada 1933, pasca depresi hebat. Rakyat Amerika dilarang memiliki emas dan harus menyerahkannya kepada The Federal Reserve, perusahaan swasta pemegang monopoli dolar AS. Rakyat boleh kembali memiliki emas dengan cara membelinya sebagai batangan, tapi dengan harga lebih mahal. Ketika dirampas oleh bank sentral AS (1933) emas dibeli 20 dolar AS/oz, setelah uang kertas dolar AS yang baru diterbitkan (1934), hanya bisa dimiliki kembali seharga 35 dolar AS/oz. Artinya dolar AS didevaluasi (40%). Emas tak lagi sebagai uang, tapi jadi komoditi.
Kemudian sejak 1944 Sistem Bretton Wood berhasil dipaksakan sebagai sistem internasioal. Intinya satu-satunya uang kertas yang didukung emas hanya dolar AS (kurs 35 dolar AS/oz), seluruh mata uang kertas lain dikurs tetap terhadap dolar AS. Perubahan kurs hanya bisa dilakukan oleh pemerintah nasional atas izin IMF (international Monetary Fund) yang didirikan bersama berlakunya sistem ini. Ini juga bermakna dolar AS ditetapkan sebagai standar dan berlaku internasional. Ini berlangsung sampai 1971.
Ketiga, pada Agustus 1971, Richard Nixon, Presiden AS yang hampir bangkrut karena Perang Vietnam, secara sepihak mengakhiri Bretton Wood, mencabut ikatan emas atas dolar AS. Maka, bank sentral dapat mencetak uang kertas sekehendaknya. Uang kertas bernilai dan diterima sebagai alat tukar sepenuhnya atas dasar paksaan undang-undang. Kurs antarauang kertas pun tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah, melainkan oleh para pedagang uang. Uang kertas jadi komoditas dan seluruh sistem moneter sepenuhnya dikendalikan oleh spekulan.
Kisah Rupiah
Lahir sebagai negara fiskal baru, 1946, Republik Indonesia mengadopsi model yang sama. BNI 46 ditetapkan sebagai Bank Sentral, menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), dengan janji tiap Rp 2 bernilai satu gram emas. Bankir internasonal menolaknya. Setelah menyerah dalam Konferensi Meja Bundar (1949), sebagai syarat pengakuan atas RI, BNI 46 diganti oleh De Javasche Bank (mulai 1951 diubah jadi Bank Indonesia), ORI diganti dengan UBI (Uang Bank Indonesia).
Begitu diakui (1949) rupiah dipatok Rp 3.8 per dolar AS. Saat ORI jadi UBI (1952) rupiah melorot ke Rp 11.4 per dolar. Sepanjang waktu kemudian rupiah terus melorot sampai Rp 45 (1959), sempat melesat ke Rp 0,25 (1965), berkat sanering (Rp 1000 menjadi Rp 1) oleh Presiden Soekarno. Selama Orde Baru atas order IMF dan Bank Dunia rupiah berkali-kali didevaluasi. Pada 1970 jadi Rp 378, 1971 jadi Rp 415, 1978 merosot lagi 55%, jadi Rp 625; didevaluasi lagi pada September 1983, 45%, jadi Rp 970 per dolar AS. Pada 1986 bertengger di Rp 1.660/dolar AS.
Dari waktu ke waktu nilai tukar rupiah terus terdepresiasi, mencapai Rp 2.200 per dolar AS sebelum "Krismon" 1997. Rupiah kemudian "terjun bebas" pertengahan 1997, dan sejak itu terus terombang-ambing � lagi-lagi atas kemauan IMF dan Bank Dunia - dalam sistem kurs mengambang, dengan titik terendah Rp 16.000, awal 1998. Saat ini fluktuatif di Rp 9.500-Rp 10.000. Sementara dolar AS sendiri, yang berlaku sebagai jangkar, telah kehilangan lebih dari 95 persen daya belinya sejak berlaku pada 1913. Rupiah telah kehilangan 99 persen daya belinya sejak 1946.
Belakangan para bankir menemukan teknik baru, bukan untuk menghentikan, tapi menyembunyikan, proses keruntuhan uang kertas. Namanya redenominasi. Pembuangan beberapa angka 0 adalah untuk memberi efek psikologis masyarakat untuk tidak merasakan semakin miskin. Realitas sejatinya tidak bisa dikelabui. Dalam rentang dua tahun terakhir saja sejak isu redenominasi dilontarkan 2010 lalu, diukur dengan nilai telor ayam saja, rupiah telah kehilangan lebih dari 25% daya belinya. Dua tahun lalu Rp 100.000 dapat 7 kg telor ayam, hari ini cuma dapat 5 kg. Tidak ada bedanya rupiah diberi lima angka 0 (Rp 100.000) atau digunduli hanya dengan dua angka 0 (Rp 100). Daya belinya sudah tergerus 25%.
Redenominasi bukan solusi. Solusinya adalah ikutilah Nabi, kembali kepada Dirham perak dan Dinar emas, yang sudah terbukti bebas dari inflasi.
Jumat, 05 April 2013
Dinar dan Dirham pada Zaman Nabi Adam Alaihis Salam
Oleh : Nurman Kholis - Peneliti Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI
Emas dan perak memang ditakdirkan sebagai benda bernilai dengan fungsi sebagai alat tukar. Telah digunakan sejak Nabi Adam AS.
Dalam kitab Qishash al-Anbiya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh al-Hajj Azhari al-Khalidi (tanpa tahun: 28-29) disebutkan bahwa dinar (uang emas) dan dirham (uang perak) sudah ada sejak zaman Nabi Adam 'alaihi salam. Hal ini sebagaimana tertulis dalam kitab tersebut:
"Hai Bapak kami, berilah akan kami suatu perbuatan akan belanja kami dan perniagaan kami", maka kata Nabi Adam "segala anakku sabarlah kamu dahulu lagi akan kupohonkan kepada Allah ta'ala".
Arkian maka Nabiyullah Adam ialaihi as-salam pun minta do'a kepada Allah ta'ala "Ya tuhanku bahwasanya Engkau jua Tuhan yang amat mengampuni akan hal segala hamba-Mu bahwa kehendak mereka itu dunia ini yang fana ini daripada negeri akhirat, maka jika Kau anugrahai harta dan belanja dan perniagaan akan mereka itu niscaya gururlah mereka itu akan dunia mereka itu dan jika tiada kau anugrahkan mereka itu sebagai lah? Ia mintai belanja dan dengan supaya berniaga mereka itu inilah bagi hamba-Mu memohonkan karunia-Mu".
Arkian maka jibril pun turun kepada Nabiyullah Adam membawa segenggam perak uang maka ujar jibril: "Ya Adam bahwa Tuhanmu berfirman kepada-Mu: "inilah emas segenggam dan perak segenggam anugrah daripada Allah ta'ala akan segala anak cucunya tuan hamba", maka sahut Nabi Adam: "Ya Jibril bagaimana segala anak cucu hamba emas dan perak yang segenggam ini karena mereka itu amat banyak", maka ujar Jibril: "Ya Adam bahwa firman Tuhan-Mu jangan Kau sangka demikian itu bahwasanya Tuhan seru alam amat kuasa, hendaklah tuan hamba hantarkan emas dan perak itu pada suatu bukit niscaya dianugrahakan Tuhan datang kepada anak cucu tuan hamba mengambil dia hingga datang kepada hari kiamat pun tiada akan habis. Bahwasanya Allah jua Tuhan yang kuasa pada membanyak kan dia hatta".
Maka diambil Nabi Adam lah emas dan perak itu lalu dihantarkannya pada suatu bukit antara beberapa hari maka datang pula segala anak cucunya Nabiyullah. Adam menghadap, maka ujar mereka itu "Hai Bapak mana belanja dan perniagaan agama kami?", maka sahut Nabi Adam "ambillah oleh kamu pada bukit itu emas dan perak dianugrahakan Allah ta'ala akan kamu sekalian." Maka pergilah mereka itu mengambil emas dan perak kepada bukit itu.
Menurut Hamdan Hassan sebagaimana dikutip oleh Liaw Yock Fang (2011: (238-240), cerita-cerita Nabi-nabi yang paling terkenal ialah Qishash al-Anbiya yang disusun oleh al-Kisa'i sebelum abad ke-13. Ia adalah diakui sebagai tukang cerita yang ulung. Ia tidak membatasi sumbernya pada al-Quran dan tafsirnya saja. Ia juga menimba bahannya dari cerita setempat dan cerita-cerita khayalan seperti yang terdapat dalam Cerita Seribu Satu Malam.
Cerita al-Quran dalam bahasa Melayu terkenal dengan nama Kisah al-Biya. Naskahnya banyak sekali dan terdapat di perpustakaan-perpustakaan di Leiden, London dan Jakarta. Di Perpustkaan Nasional Jakarta terdapat enam naskah Kisah al-Anbiya. Empat dari naskah itu, yaitu kitab Ahlu Tafsir (vd. Wall 66), Qisasul-Anbiya (v.d. Wall 67), Hikayat Fir'aun (v.d. Wall 68) dan Anbiya (Cohen Stuart 122) telah dikaji oleh seorang sarjana Belanda yang bernama D. Gerth Van Wijk (Wijk, 1893: 239-245). Namun tidak dapat diketahui bila dan oleh siapakah naskah-naskah itu ditulis. Yang diketahui ialah Qisasul Anbiya disalin oleh Encik Husain, seorang Bugis yang tinggal di Kalang, Hikayat Fir'aun disalin oleh Encik Mohammad Syam yang berasal dari Lingga.
Suratul Anbiya pula asalnya adalah sebuah naskah yang dimiliki oleh seorang bernama Baharuddin, tinggal di di Gang Trunci, Kampung Norbek. Di dalam halaman pertama dinyatakan bahwa hikayat itu memerlukan waktu delapan bulan untuk menyalinnya. Seperti hadis juga, Kisas al-Anbiya selalu mulai dengan isnad yaitu daftar nama orang yang menurunkan cerita. Di antara nama yang sering disebut ialah Abdullah ibn Abbas (wafat 687), Muhammad al-Qalbi, Ka'ab al-Ahbar (wafat 652), Wahab Ibn Malik dan Sa'bi (wafat 1059).
Kisah al-Anbiya yang diterjemahkan oleh Hai Azhari Khalid dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu itu mempunyai jalan cerita yang sama dengan Suratul Anbiya (Cohen Stuart 22). Mungkin sekali keduanya berasal dari suatu sumber yang sama. Sayang sekali tahun penerjemahan dan penerbitan tidak disebut. Hanya disebut bahwa kitab itu pernah dibetulkan oleh Muhammad Tahir al-Indunisia, tukang tashih kitab Melayu di Mesir. Kitab ini pernah berkali-kali diterbitkan oleh berbagai penerbit, seperti Sulaiman Mar'i di Singapura, Darul Ma'arif di Pulau Pinang dan Menara Kudus di Jakarta. Menurut Muhammad Hasan, penerbit buku agama di Mesir seperti Mustafa al-babi al-Habi wa Awladihi di Mesir juga pernah menerbitkan Kisah al-Anbiya pada tahun 1348 H/1929 M (Hamdan Hassan, 1982: 72).
Kisah serupa juga sejalan dengan hasil penelusuran Soni Farkhani dari kitab Nashaih al-'Ibad yang hingga kini masih dikaji di pesantren-pesantren yang mengajarkan kitab kuning. Di dalam kitab karya Syaikh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (lahir 1230 H di Banten dan meninggal pada tahun 1314 H di Mekkah) yang merupakan syarah kitab al-Manbaĥatu 'ala al-Isti'dad li yaum al-Mi'ad karya Ibn Hajar al-'Asqalani ini ditulis:
"Setelah Allah menurunkan Nabi Adam as. Dari syurga ke arcapada (dunia), maka sesungguhnya segala sesuatu mendampinginya, kecuali emas dan perak. Kemudian Allah berfirman kepada benda tersebut," Aku mendampingi engkau dengan hamba-Ku, kemudian hamba itu Aku lepas dari sampingku dan semua pihak yang semula mendampinginya, merasa susah karenanya kecuali engkau berdua. "Maka keduanya menjawab, "Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui, bahwa justru membuat kami berdua berdampingan dengannya selagi ia menaati-Mu, maka kami tidak merasa susah atas nasib selanjutnya." Lalu Allah berfirman kepada keduanya," Demi kitinggian-Ku dan keagungan-Ku, niscaya Aku akan membuatmu berharga, sehingga tidak dapat di peroleh segala sesuatu melainkan denganmu berdua."
Kisah tentang uang emas dan uang perak yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam juga ditulis oleh Taqiyuddin Ahmad ibn Ali al-Maqrizi dalam Ighathat al-Ummah bi Kashf al-Ghummah. Di dalam kitab ini dinyatakan orang pertama yang mencetak uang emas (dinar) dan uang perak (dirham) adalah Nabi Adam a.s yang bersabda bahwa kehidupan ini tidak akan menyenangkan tanpa mata uang dinar dan dirham. Al-Maqrizi mengutip hal ini dari kitab Tarikh Dimashq yang ditulis Hafidh Ibn Asakir (Allouche, 1994: 55-56).
Di dalam Injil, menurut Bates (1998: 103 & 107) juga dijelaskan bahwa di awal-awal kehidupan manusia, emas dan perak merupakan barang bernilai yang tinggi dan Injil selalu mencatat emas dan perak sebagai uang.

































